Teriakan Rissa mengalihkan semua perhatianku dan Inggrid. Acara mengagumi perubahanku seketika sirna begitu saja. Puluhan semut berbondong-bondong bergerak ke arah kami, dari berbagai penjuru.
Selama kami tidak memperhatikan Azel dkk, mereka sudah mulai bergerak menghabisi ratusan semut hanya demi menembus pertahanan mereka untuk mencapai Darwin.
Aku dan Inggrid segera berdiri. Tidak ada waktu untuk mengagumi apa yang terjadi padaku. Lebih baik fokus dengan apa yang ada di depan saat ini.
“Aku tidak bisa sihir penyerangan, Ra. Kau bisa melakukannya? Aku akan membantumu dari belakang.” Inggrid selangkah mundur di belakangku.
Jika dulu, mungkin aku tidak bisa. Tapi, sekarang rasanya aku bisa melakukannya. Meskipun ini akan memberikan efek pada tubuhku yang baru pertama kali terikat kontrak dengan roh sihir.
“Kau bisa melakukannya, Vinnea?” Aku memandang ke arah Vinnea yang berdiri di sebelah kananku.
Vinnea tersenyum. “Sesuai dengan perintah anda.” Perlahan dia menghilang, mengganti keberadaannya dengan sebuah tongkat sihir.
Apa dia ingin aku mengendalikan sihirnya?
Baiklah, mari kita coba.
Aku mengarahkan tongkat sihir ke arah kerumunan semut yang terbang ke arah kami. Bisa dikatakan kalau rombong semut menyerang kami dari berbagai penjuru. Beberapa teknik penyerangan yang bisa dilakukan, menenggelamkan mereka atau menghujani mereka secara bersamaan.
“Kiryuu.”
Lingkaran sihir dengan berbagai tulisan kuno berputar di depan tongkat yang aku pegang. Sinar birunya terlihat kontras di tengah-tengah gelapnya malam. Di waktu yang bersamaan lingkaran sihir yang sama muncul dengan ukuran yang lebih besar.
Layaknya gelapnya malam yang terbelah karena lingkaran itu. Berikutnya, ratusan pedang air muncul dari dalam lingkaran itu, menghujani mereka yang berada di bawahnya.
Apa kau tahu? Roh sihir yang memiliki kekuatan di bawah ratu kurang lebih dia memiliki kekuatan hampir sebanding dengan ratu. Karena Vinnea dulunya adalah ratu, jadi kekuatannya harusnya sebanding dengan Ratu Resha.
Meskipun sekarang dia sudah tidak menjabat sebagai ratu lagi, namun dia dan kekuatannya masihlah sehebat ketika menjadi ratu. Tidak banyak roh sihir yang memiliki sihir tingkat tinggi, bisa dibilang jumlahnya kurang dari sepuluh.
Pedang-pedang itu menghunus tepat di tubuh gerombolan semut. Serangan yang akan langsung menembus tubuh lawannya dan seketika menghancurkannya. Sihir yang sangat mengerikan jika diarahkan ke manusia.
Jika sihir yang digunakan sehebat ini, maka jumlah mana yang dipakai pun sangatlah banyak. Hanya dengan sekali menggunakannya, aku sudah mulai kelelahan. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu dengan jumlah manaku. Apa mungkin karena aku tidak bisa membangkitkan sihirku?
Ahh kesadaranku mulai hilang… apa hanya segini yang bisa kulakukan? Benar-benar payah.
“Kiara? Hei, kau kenapa?!”
Aku mendengar suara Inggrid. Setelah itu, apa? Aku tidak ingat. Semuanya kembali gelap dan dingin. Rasanya hampir mirip seperti waktu itu. Bahkan ketika aku membuka mata, aku tidak melihat apapun kecuali hitam. Berada di tempat yang sama untuk yang kedua kalinya. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Rasanya berat harus menjalankan misi ini.”
Mendengar suara Darwin, aku seketika menoleh. Tepat di seberangku, Darwin berdiri dengan tangan kanannya yang membeku.
Apa ini ingatannya? Tapi es itu milik Azel! Mungkinkah ini ingatan Azel?
“Aku tidak berniat untuk menolongnya waktu itu. Tapi rasa kemanusiaan dalam hatiku menggerakkanku untuk menolongnya. Vinnea bahkan membantuku, dengan syarat. Bersamanya aku merasa bisa terbebas dari kegelapan. Tapi, ternyata tidak. Malroch muncul di depanku, memaksaku menelan sesuatu dan dia bisa mengendalikan tubuhku. Aku tidak memiliki waktu untuk menyesal. Dia memintamu untuk tidak membunuhku, kan? Tapi kau akan tetap melakukannya.”
Figur Azel muncul di depan Darwin, bersama pedang es di tangan kanannya. “Semua ini karena kau melukainya, kau bahkan membuatnya merasa menyesal mengenalmu. Aku tidak akan mengampunimu.”
“Kau benar. Jalannya tidak akan mulus. Banyak hal mengerikan yang akan dilihatnya, banyak kejadian tidak diduga yang akan dihadapinya, bahkan semua kegelapan pun akan mengincarnya. Meskipun begitu, kau tetap akan bersamanya?” Sedikit demi sedikit tubuh Darwin membeku.
“Tujuanku bertambah kuat adalah demi dia. Sejak awal aku tahu kalau jalan yang akan dia lewati berbeda bahkan orang biasa pun tidak sanggup melewatinya. Meskipun begitu… aku akan tetap melakukannya. Berjalan di jalan yang sama seperti yang dilewatinya. Beban berat yang akan dipikulnya, aku akan ikut memikulnya.”
Darwin tersenyum sambil memejamkan matanya. “Kau benar-benar, ya. Setelah kematianku, Malroch akan menyerang kota. Dia menjadikanku alasan untuk menyerang. Saat itu terjadi, jaga dia karena iblis setingkat dengannya akan mengincarnya.”
“Tanpa kau beri tahu pun, aku akan melindunginya.”
Es yang merambat membungkus tubuh Darwin kini sudah sampai di wajahnya.
“Sampaikan maafku padanya. Pada Vinnea juga.”
Seluruh tubuh Darwin membeku, kemudian hancur.
Bisa kusimpulkan kalau Malroch yang bertanggung jawab atas semua ini. Jadi, memang sejak awal para iblis itu sudah mengawasi tempat tinggal manusia lebih lama dibandingkan yang aku pikirkan.
Menghindari pertumpahan darah sepertinya mustahil.
“…Akan ada invasi ke kota.” Ucapan Ratu Resha waktu itu dan ekspresi seriusnya. Jika ditambah dengan apa yang dikatakan Darwin, maka hanya butuh waktu sebelum kota dihantam pertarungan.
Karena aku tidak bisa melindungi semua orang, maka pilihan tepat adalah membiarkan mereka untuk bergerak melindungi diri mereka sendiri.
-o0o-
Berapa lama aku tidak sadarkan diri?
Akhir-akhir ini aku terlalu sering pingsan dan untuk kedua kalinya, aku melihat sesuatu yang aneh.
Aku mencium parfum milik Azel. Sangat menenangkan. Tunggu! Bukankah memang aku bertemu dengannya?!
Mataku seketika terbuka lebar dan menegakkan tubuhku. Aku menatap sekitar dan hanya ada puing-puing bangunan. Masih belum meninggalkan tempat yang sama. Juga, sebuah selimut menutupi kakiku.
“Apa kepalamu masih sakit?”
Mendengar suara Azel, spontan aku menoleh. Aroma parfum yang kucium sebelumnya, benar-benar miliknya dan saat ini dia duduk di sebelahku.
“…Meskipun begitu… aku akan tetap melakukannya. Berjalan di jalan yang sama seperti yang dilewatinya. Beban berat yang akan dipikulnya, aku akan ikut memikulnya.”
“Anda masih belum menyadarinya? Dia selalu berada di dekat anda, Puteri.”
Orang yang diperintah Ratu Resha, orang yang disebut olehnya. Rambut perak, manik biru, senyum yang sangat mirip dengan Ratu Resha. Bagaimana aku bisa telat menyadarinya… kalau Azel adalah anak tunggal Ratu Resha. Dengan kata lain, dia itu Pangeran Muda Azel Traeliorn.
“Setelah ini jangan menghindar dariku lagi, Ra.” Azel menyentuh puncak rambutku, sesekali mengusap rambutku dengan jempolnya.
Sejak pertama kali bertemu, aku seperti pernah bertemu lebih awal daripada itu. Tapi, aku tidak mengingatnya. Ingatanku tentangnya tidaklah banyak, bahkan bisa dibilang sangat sedikit. Harusnya aku bisa menjaga sikap di depannya. Tapi, waktu itu aku malah mendorongnya dengan kasar kemudian menghindarinya.
“M-Maaf, Pangeran.” Aku berucap lirih. Aku bahkan tidak berani menatapnya.
“Kiara, tatap aku.”
Dengan perasaan malu, aku memberanikan diri menatapnya. Ya, dia sedang tersenyum sekarang. Karena hanya ada cahaya kunang-kunang di sekitar kami, wajah Azel terlihat temaram. Tetap saja masih dengan ketampanannya dan juga rambut peraknya.
“Kalau kau memanggilku seperti itu, aku juga akan melakukan hal yang sama padamu, Putri. Seperti itu maumu?” Azel menarik tangan kananku kemudian mengecup ruas tanganku.
Aku yang sudah mati-matian menahan malu, kini malah makin memerah. Bercampur panik jika ada orang lain yang melihatnya. Anehnya saat ini hanya ada kami di tempat ini. Di tengah-tengah padang rumput dengan dikelilingi puing-puing bangunan. Binatang malam mulai terdengar lagi, bahkan kunang-kunang pun mulai berterbangan rendah.
“Tidak. Jangan lakukan itu. Semuanya akan sia-sia,” lirihku sambil menarik kembali tanganku dari genggamannya. Apapun yang akan aku lakukan, dia pasti akan membalas hal yang sama.
Azel hanya tertawa pelan lalu menyandarkan punggungnya.
Sesekali aku melirik ke arahnya karena aku ingin melihatnya, wajah bahagia Azel. Dia mendongak, menatap langit malam.
Kapan ya aku terakhir kali bertemu dengannya? Kenapa aku tidak ingat sama sekali? Lalu kenapa hanya dia yang mengingatku?
“Apa aku setampan itu, Ra? Sampai menatapku seperti itu,” goda Azel dengan senyum menyebalkannya.
Cepat-cepat aku segera mengalihkan wajahku dan menutupkan telapak tanganku ke wajahku. Reaksi Azel tetaplah tertawa dan itu membuatku semakin malu.
“Kau makin cantik loh, Ra.” Azel menggodaku lagi.
Aku yang kesal, meletakkan telapak tanganku ke wajahnya dan mendorongnya lebih jauh.
Dia masih digenetik yang sama dengan Ratu Resha, kan? Lalu kenapa Ratu Resha yang anggun itu memiliki anak super menyebalkan seperti ini!?
Teringat sesuatu yang harus kulakukan padanya, aku menarik kembali tanganku perlahan dan Azel menatapku.
“Kenapa, Ra?”
“Kau belum meminta maaf padaku, kak. Kau melakukan sesuatu yang membuatku menjauhimu. Jadi, aku menagih permintaan maafmu.” Aku menatapnya kesal.
Saat bertemu setelah sekian lama, kenapa dia tidak meminta maaf lebih dulu padaku.
Azel memperbaiki duduknya, kemudian membungkukkan badannya ke arahku. “Aku minta maaf atas perbuatanku waktu itu. Aku sudah membuatmu tidak nyaman dan secara tidak langsung menyeretmu ke dalam masalah dengan Darwin. Maafkan aku,” sesalnya.
Pertama kalinya melihat orang yang disegani satu akademi membungkukkan badannya padaku. Jika ada orang lain yang melihatnya, apa Azel akan tetap melakukannya? Tapi, mengingat apa yang diucapkannya pada Darwin, aku rasa dia akan melakukan apapun untukku.
“Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi, kak,” tukasku.
“Iya.” Azel mengangkat wajahnya, menatapku dengan wajah memelas. “Kau tidak akan marah lagi, kan, Ra?”
Aku menggeleng. “Tidak.”
Azel tersenyum. “Boleh aku memelukmu, Ra?”
“TIDAK!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments