“Kau lihat rambutnya Kiara tadi, Zel?” Inggrid memulai pembicaraan dengan binar kekaguman.
Saat ini kami bertujuh sedang duduk mengelilingi api unggun. Olin mengatakan jika kapal akan menjemput kita semua jam sembilan pagi. Jadi, mau tidak mau kami semua harus menginap di antara reruntuhan.
“Hanya sekilas. Apa kau berniat mengubah warna rambutmu, Ra?” Azel yang duduk di seberang api unggun membalas dengan nada menggodaku.
Meskipun wajahnya masih senantiasa tanpa ekspresi, namun melihat ke arah matanya dia terlihat senang menggodaku.
“Tidak. Aku suka rambutku yang sekarang,” jawabku singkat. Menggenggam lebih erat gelas kaca berisikan cokelat panas buatan Rissa.
Claud melemparkan potongan kayu ke dalam api unggun, membuatnya berkobar lebih lama. “Siapa sangka kita kembali seperti ini setelah misi yang waktu itu,” ujarnya.
Letupan api yang membakar kayu terdengar samar. Hanya api di depan kami yang menjadi penerangan di tengah-tengah reruntuhan.
Tiga tenda sudah didirikan dengan kokoh. Satu tenda untuk perempuan, diapit dua tenda milik laki-laki. Inggrid menjelaskan kalau mereka sering menginap di luar ketika misi mereka di tempat yang gersang atau tidak ada pemukiman.
“Setelah ini, kau akan gabung tim kita, kan, Ra?” Inggrid mencondongkan tubuhnya, menatapku dengan mata berbinar-binar.
Apa dia hanya ingin melihat transformasi rambutku?
“Lagipula, Azel juga ada di tim ini. Jadi, kau tidak perlu menggunakan kekuatanmu sendiri karena dia ini pasti akan melindungimu.” Gideon menepuk pundak Azel yang ada di sebelahnya sambil menatapnya dengan senyum mengejek.
Olin mengulurkan tangannya, sedikit lebih dekat dengan api unggun. Sesekali menariknya lagi untuk menggesek-geseknya, kemudian kembali memanjangkan tangannya.
“Selain di tim ini, tidak ada jaminan kau bisa berkembang lebih jauh hanya dengan menjalankan misi-misi kecil. Kau harus bisa mengendalikan sihirmu, bukan? Gabung di tim kita tidaklah buruk.”
Bukan berarti sihir milik Vinnea jadi milikku. Aku hanya meminjamnya seperti halnya Sylvatica. Tapi, kalau dipikir lebih jauh lagi, aku rasa itu bukan tawaran yang buruk.
Tidak ada diantara kami semua yang membicarakan tentang Darwin. Seolah kepergiannya memang seharusnya begitu. Seakan mereka sudah tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena itu mereka tidak perlu membahasnya lagi.
“Masih ada enam jam lagi. Aku akan berjaga lebih dulu. Kalian bisa tidur.” Azel mengakhiri pembicaraan dan menyuruh kami semua untuk tidur.
Olin dan Gideon segera mengemasi bungkus makanan mereka kemudian masuk ke tenda mereka. Disusul Claud yang juga masuk ke tendanya. Kali ini dia harus tidur duluan karena Azel memilih berjaga.
“Yuk, Ra.” Inggrid berdiri, membawa serta selimut yang digunakannya untuk menghangatkan kakinya.
Aku mengangkat gelas di tanganku yang masih sisa setengah cokelat hangat. “Aku akan menyusul. Kalian duluan aja.”
“Baiklah. Jangan memaksakan diri.” Rissa berjalan masuk ke dalam tenda yang ada di belakang kami. Menyisihkan sepatunya lebih dulu sebelum masuk ke dalam tenda. Inggrid memeluk selimut lantas menyusul Rissa.
Rasanya aku tidak mengantuk sama sekali. Apa mungkin karena aku pingsan tadi? Banyak hal yang ingin aku bicarakan, terutama dengan Vinnea. Aku berdiri sambil membawa gelas di tangan kiriku.
“Istirahatkan tubuhmu, Ra.” Azel menyahut.
“Aku ingin bicara dengan Vinnea. Jangan ikuti aku.” Aku memotong, sebelum Azel berjalan mengikutiku. Instingnya pasti memperingatkannya untuk selalu dalam jangkauan untuk melindungiku. Tapi, untuk kali ini aku ingin sendirian.
Azel berjalan mendekat. “Rapatkan jaketmu dan jangan terlalu lama.”
Sesuai dengan instruksinya, aku menarik ke atas resleting jaket kemudian mengenakan tudung jaket dengat rapat.
Azel tersenyum puas. Dia menyempatkan mengusap puncak kepalaku. “Anak baik. Karena sudah larut malam, jangan terlalu lama.”
“Iya.” Aku segera berlalu meninggalkannya. Rasanya memalukan ketika dia mengusap kepalaku. Sudah berapa kali dia melakukan seperti itu, ya?
Berjalan sendirian di jalan setapak yang lebarnya bahkan kurang dari satu meter. Rerumput beberapa terlihat menjalar melewati jalan setapak. Saking lamanya tidak dihuni, rumput-rumput itu menyelimuti puing bangunan yang hampir rata dengan tanah.
Dilihat dari bahan puing-puing tersebut, bisa disimpulkan kalau pulau ini dulunya pernah dihuni oleh manusia, namun mungkin karena suatu hal mereka semua harus meninggalkan pulau.
“Vinnea.”
Vinnea muncul di sampingku dengan gaun biru sederhananya. Sepertinya dia bisa mengubah penampilannya sendiri tergantung situasi. Dia berjalan di sampingku, selangkah di belakangku.
Kami berjalan dalam diam, mengikuti ke arah mana jalan setapak ini membawa kami. Meninggalkan semak dan juga puing-puing bangunan, kami tiba di sebuah padang rumput dengan hanya ada beberapa reruntuhan.
Bulan yang bersinar terang menyinari seisi padang rumput. Cahaya dari tubuh kunang-kunang, menghiasi padang rumput di depanku.
Aku berhenti di samping puing bangunan yang tingginya di atasku. “Kau berhutang penjelasan padaku, Vinnea. Kalau saja kau bilang lebih awal, aku bisa melakukan sesuatu padamu. Kenapa kau merahasiakannya?”
Aku mendapatkan penjelasan dari Azel kalau Darwin memiliki timnya sendiri, berjumlah lima orang. Misi pertama mereka berjalan lancar hingga misi ketiga. Tepat ketika mereka menjalankan misi keempat. Mereka harus berhadapan dengan iblis tingkat ke-10 yang mana kelima anggota Darwin dibantai.
Bukan dibantai oleh iblis itu, melainkan Darwin sendiri yang melakukannya.
Darwin melaporkan pada kepala sekolah bahwa teman-temannya semuanya dibantai oleh iblis itu. Dia menyembunyikan fakta kalau dia sendirilah yang membunuh teman-temannya.
Azel yang berada di tempat yang sama dengan Darwin, tidak memberikan kesaksiannya melainkan, dia menyebarkan berita itu ke satu sekolah.
Mereka semua tidak ada yang percaya pada berita itu meskipun berita itu adalah fakta. Namun berkat itu, hampir mayoritas murid tidak ingin satu kelompok dengan Darwin dengan alasan keamanan masing-masing.
Hingga akhirnya, Master Ellen meminta Darwin untuk menjalankan misi ringan karena dalam satu tim hanya ada dia.
Vinnea berdiri tidak jauh dariku. Mengaitkan kedua jari jemarinya di depan tubuhnya. Dia menatap lurus hamparan rumput di depannya. “Karena iblis itu membuat saya tidak bisa mengatakan apapun. Saya bersusah payah untuk memberitahukan pada Master Gensha. Dia bahkan mencoba membuka segelnya, tapi tidak berlangsung lama. Meskipun begitu, saya berhasil menyampaikan padanya.”
“Kau kehilangan hampir setengah dari kekuatanmu. Kau juga terputus dari kerajaanmu. Jika kau memang tahu sejak awal, harusnya kau bertindak lebih cepat.” Aku menggerutu pelan. Sedikit kesal dengan ketidaktahuanku tentang dia lebih awal.
“Maafkan saya,” lirih Vinnea.
“Sepulang dari sini, aku akan meminta Master Gensha untuk memeriksa kondisimu. Mungkin kau harus kembali ke lautan untuk beberapa waktu.”
-o0o-
“Apa yang harus kita katakan ke kepala sekolah?” Aku berdiri di samping Azel, tepat di depan pintu besar yang mana di balik pintu itu adalah ruangan kepala sekolah.
Beberapa jam yang lalu kami kembali ke Pulau Gramgramilo dan langsung menuju ke akademi. Sedangkan Rissa, dkk, kembali ke asrama masing-masing. Sekarang, jarum jam menunjukkan pukul 11 siang. Aku membawa tugas melaporkan hasil misi kemarin malam, begitu juga dengan Azel.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Kepala sekolah kita, tidak bisa dibohongi.” Azel mengulurkan tangannya berniat mengetuk pintu, namun aku lebih dulu menahannya dan segera menariknya sedikit menjauh dari pintu.
“Kenapa, Ra?” tanya Azel dengan polosnya.
“Kau bilang dia tidak bisa dibohongi? Kalau begitu, dia bakal tahu siapa aku?” sergahku panik.
Azel mendengkus pelan, kemudian mencubit pipiku. Dia malah tersenyum. “Tidak semudah itu. Yang jelas, kau harus bilang apa yang sebenarnya terjadi. Atau kalau sulit, tinggal ikuti ucapanku. Paham?”
Aku menyingkirkan tangannya dari pipiku dan mengangguk. “Iya.”
“Kita akan masuk.” Azel mendahului, kembali ke depan pintu ruangan. Dia mengetuk pintu tiga kali dan mendapat sahutan pelan dari pemilik ruangan.
Dengan hati-hati, Azel mendorong masuk pintu di depannya.
“Permisi.” Dia melangkah masuk dan melirikku untuk segera mengikutinya.
Ini pertama kalinya aku masuk ruang kepala sekolah. Karena sebelumnya aku cukup melapor pada master yang menjadi pembimbing di kelas tiga. Tapi karena misi kali ini memakan korban jiwa, kami harus melaporkannya langsung ke kepala sekolah.
Pintu tertutup secara otomatis. Aku dan Azel sudah berada di ruangan kepala sekolah yang luas. Dua pilar berdiri dengan kokoh menopang langit-langit ruangan. Tepat di seberang kami, seorang pria yang sudah beruban, bahkan alis dan kumisnya sudah memutih.
Tubuhnya tidak bisa dibilang kurus karena dia terlihat bugar. Meskipun penampilannya mirip orang yang sudah hampir 80 tahun, namun dia memiliki tatapan yang teduh. Dia bernama Thandazani, berumur 70 tahun.
Melihat kami masuk, dia meletakkan semua kertas di tangannya dan menatap ke arah kami. “Bisakah aku menyimpulkan kalau di misi kalian terjadi sesuatu?”
Azel mengangguk. “Ya, pak.”
“Ceritakan padaku.”
Sekali lagi, Azel mengangguk kemudian mulai bercerita. Sesekali Thandazani mengangguk dan bertanya. Dia tidak terkejut sama sekali, seakan meninggalnya siswa akademi adalah hal yang wajar.
Meskipun suara yang dimiliknya sangat nyaman didengar, tapi aku merasa aneh dengannya. Tak jarang dia mengeluarkan aura dingin yang membuatku merinding, bahkan di saat dia bicara dengan tenang namun auranya memperlihatkan hal lain.
“Baiklah. Sepertinya dia memang sedang dikendalikan iblis seperti yang kau ceritakan. Lalu, kau, Kiara? Azel bilang kalau kau bisa bicara dengan roh sihir. Itu benar?” Sorot mata teduhnya beralih menatapku.
Aku merasa ada kobaran di dalam mata itu. Kobaran api ungu. Tanpa sadar, tanganku bergerak menarik pelan jubah seragam bagian belakang milik Azel.
Aku hanya bisa mengangguk.
“Bagaimana kau bisa melakukannya? Apa mungkin itu dari sihirmu?” Thandazani bertanya ramah. Dia melipat tangannya di atas meja, masih dengan menatapku.
Aku menggeleng pelan. “Tidak semuanya bisa saya dengar. Kebetulan roh sihir yang meminta tolong, dia juga yang menolong saya waktu itu. Jadi, tidak susah untuk bicara dengannya.”
“Lalu, roh sihir itu sekarang menjalin kontrak denganmu?”
“Sebagai ucapan terima kasih dan juga karena pemiliknya yang sebelumnya melakukan hal buruk padanya, jadi kontrak akan diserahkan ke Kiara.” Azel menjawab untukku. Dia masih senantiasa menjaga nada bicaranya. Meskipun lawan bicaranya terlihat tidak suka dengan jawaban itu.
“Baiklah. Aku menerima laporan kalian. Untuk kedepannya, ikuti master kalian. Sebelum kalian pergi, bisakah kalian meminta orang tua atau wali kalian untuk datang besok pagi?” Thandazani mengambil dua kertas, kemudian menandatanganinya. Kertas yang isinya tentang surat undangan ke sekolah. Dia mengulurkan surat itu ke Azel.
“Kalian bisa istirahat.”
Azel menerima dua kertas tersebut kemudian pamit. “Kami permisi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments