Aku bisa membekukan tangannya atau malah membakarnya. Tapi jika aku melakukannya, apa yang akan dilakukannya pada Vinnea. Itu yang membuatku mengambil langkah ekstrem.
Tapi, apa yang harus kukatakan padanya?
“Kau masih tidak mau bicara? Bagaimana kalau begini?” Darwin mengangkat tangan kanannya yang memegang belati kemudian mengarahkannya ke mata kananku.
Senyum ramah yang pernah kulihat seketika hancur dengan seringai lebar. Sangat berbanding terbalik dengan orang ramah yang menolongku.
Kenapa? Apa dia menyembunyikan kepribadiannya?
“Kau bisa kehilangan satu matamu, Kiara. Sebaiknya kau menjawab dengan jujur padaku. Kau ini siapa? Aku akan mengampunimu jika kau menjawab yang sebenarnya.” Darwin menggerakkan tangannya semakin dekat dengan mataku.
“Biar kutanya satu hal padamu, kak. Apa tujuanmu untuk tahu tentangku? Kau butuh uang?” Aku mencoba menahan tangannya, agar belati itu sedikit menjauh dari mataku.
Cengkraman di leherku semakin menyakitkan. Aku mulai kesusahan bernapas, mataku jadi panas. Apa aku menangis?
“Kau tahu hidup di dunia bawah itu penuh tekanan. Menjalankan misi dengan mengorbankan nyawa hingga mendapatkan perlakuan tidak adil. Aku berhasil keluar dari sana, namun misi lainnya sudah menungguku. Karena aku tidak mau mengorbankan diriku sendiri, aku harus menyerahkan nyawa teman-teman timku agar bisa selamat. Siapa sangka tiba hari ini, aku mendapatkan Vinnea yang menguasai lautan lalu atasanku memerintahku untuk membunuhmu di depannya. Aku akan menggunakan kemarahannya untuk menghancurkan akademi dan seluruh pulau, menyeret mereka ke dalam kegelapan. Bukankah itu ide yang bagus?”
Kegelapan yang masih ada dipermukaaan, dipimpin oleh iblis yang bisa mengendalikan serangga. Kalau begitu, Sortin dan iblis di atasnya masih berada di dalam kegelapan yang paling dalam.
Ribuan tahun yang lalu, iblis terbagi menjadi dua belas. Yang ada di permukaan kegelapan adalah iblis ke dua belas beserta anak buahnya. Itulah yang diceritakan Master Gensha padaku, sedikit tentang struktur kekuatan iblis.
Aku tahu iblis itu. Perwujudannya seorang wanita dengan bagian bawah tubuhnya adalah ular. Rambutnya hitam yang terbuat dari rumput laut. Dan nama iblis kedua belas itu adalah…
Aku tertawa mengejek di sela sakitnya cengkraman di leherku.
“Apa yang lucu, Kiara?!” Darwin melotot ke arahku, sambil mendorong tangannya.
“Aku sedang tidak bercanda,” geramnya.
“Jadi, atasanmu itu adalah Malroch? Wanita pengecut yang selalu bermain kotor itu? Kau melayani wanita seperti itu? Apa mungkin---”
Cepat-cepat aku menahan belati itu sebelum mengenai tepat di mataku dengan telapak tanganku. Darah dari telapak tanganku menetes dengan deras ke pipiku.
“Apa itu kata-kata terakhirmu? Dan bukan permintaan maaf?” Darwin mencoba mendorong tangan kanannya dan aku terus mencengkram belati itu agar tidak bergerak lebih jauh lagi.
Tanganku mati rasa. Jika terus seperti ini aku akan kehilangan kelima jariku. Tapi, dengan ini, semuanya berjalan lancar.
“Harusnya aku yang mengatakan hal itu padamu. Karena sepertinya wanita di belakangmu sudah siap untuk menusuk jantungmu,” gumamku. Menahan belati sambil memulihkan luka sangat menguras tenaga.
Vinnea yang muncul di belakang Darwin mengangkat tinggi sabit kematian di kedua tangannya. Senyumnya memudar, tatapannya jauh lebih tajam dari sebelumnya. Aku tahu, dia sedang menahan amarahnya.
Darwin spontan memutar tubuhnya dan menggunakan tangan kirinya untuk menahan kapak itu sebelum menebas kepalanya. “Apa yang kau lakukan, Vinnea? Kau milikku. Kenapa kau mengarahkan senjatamu padaku?”
“Perjanjian itu batal.” Vinnea hanya menjawab singkat.
Darwin menautkan alisnya. Perubahan di wajahnya benar-benar drastis. Dari senyum ramah, seringai menakutkan, hingga wajah serius. “Kau tidak mungkin bisa membatalkannya. Segel juga itu tidak mungkin bisa kau hancurkan.”
“Kenapa kau masih belum menyadarinya. Kau sendiri yang merusak segelnya, kak.” Aku menyahut dengan kekehan lemah, karena sepertinya tenagaku mulai habis.
Tatapan terkejut tergambar jelas di wajah Darwin yang menatapku dengan mata membulat. “Apa maksudmu, huh?”
Karena tangan di leherku sudah tidak ada, aku bisa menarik napas dengan leluasa. “Kau mengijinkanku ditemani Vinnea tadi di kapal. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan aku melepas segelnya? Hanya ada satu syarat untuk melepas segelnya, yaitu dengan darahku. Dan sekarang, semuanya sudah terpenuhi. Bagaimana menurutmu?”
Darwin menarik kedua tangannya dan segera menyingkir dari atas tubuhku. Sebuah anak panah es melesat mengejarnya. Dia berhasil menghancurkan anak panah itu hanya dengan belatinya. Aku terlepas darinya dan Vinnea pun menarik kembali sabitnya.
“Aku sudah cukup menahan diriku untukmu. Menyakitinya lebih dari ini, kau tidak akan kubiarkan hidup.” Azel muncul di sampingku.
“Kiara! Bertahanlah!” Inggrid berjongkok di sebelahku.
Teman-teman yang lain pun kini sudah berdiri di samping Azel.
Rissa membantuku duduk. Sedangkan, Inggrid memegang tangan kiriku dan mulai mengobati tanganku yang terluka sangat dalam. Dia bahkan sampai meringis begitu melihat banyaknya darah di tanganku.
“Bagaimana kalau kalian semua mati di tempat ini? Aku sudah muak dengan kalian.” Darwin mengangkat wajahnya, menatap dingin ke arah kami. Auranya semakin menakutkan. Dia menunjukkan semua pasukannya yang terdiri dari semut raksasa berwarna hitam.
“Aku benci serangga. Dan kau mengingatkanku pada kebencianku.” Claud menyentuh kacamatanya, sedikit kesal dengan apa yang sedang mengelilingi mereka.
“Aku suka serangga!!” sahut Gideon.
“Sihirku tidak bisa menyembuhkanmu secara total, Ra!!” pekik Inggrid panik.
Berpikir kalau dia orang yang tenang, namun nyatanya malah sebaliknya. Dia panik melihat luka di telapak tanganku yang sama sekali tidak tertutup dan bahkan sihir penyembuhnya tidak menyembuhkan apapun.
Aku menghargai usahanya yang berniat menyembuhkanku. Tapi sepertinya belati yang dipakai Darwin mengandung terlalu banyak sihir kegelapan sehingga sihir penyembuh milik Inggrid tidak memberikan kesan apapun.
“Lukanya tidak begitu dalam. Kalau begitu, pasti dari senjata yang dipakai laki-laki itu.”
Olin berjongkok, memperhatikan tanganku yang masih berlumuran darah. “Kalian tetaplah berada di dalam jangkauan kami. Agar kami bisa melindungi kalian.”
“Aku ingin ikut membantu,” sergahku.
“Tidak! Minggirlah dan sembuhkan lukamu.” Azel menegaskan. Dia melirikku sekilas kemudian kembali menatap ke depan. Dia berucap dengan sedikit penekanan. Dia terlihat sangat kesal atau tepatnya dia marah.
“Kita harus menepi, Ra.” Inggrid segera berdiri dan membantuku untuk pindah tempat.
Dengan hati-hati, aku berdiri dengan bertopang pada pundak Inggrid. “Bisakah kau tidak membunuhnya, kak? Aku ingin menanyakan beberapa hal padanya.”
Tanpa menatapku, Azel menjawab. “Maaf. Aku tidak bisa. Membiarkan orang yang berniat membunuhnya tetap hidup adalah kesalahan. Aku akan mengakhirinya dengan cepat. Jadi, menjauhlah.”
Inggrid segera bergerak membawaku bersamanya. Pergi ke pinggiran yang dekat dengan puing-puing. Karena suasananya berubah, di atas rumput sudah tidak ada lagi kunang-kunang atau bahkan suara binatang malam. Inggrid menurunkan tanganku pelan membiarkanku bersandar di bebatuan.
“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu? Seperti yang kau lakukan waktu itu? Jika terus seperti ini, kau akan kehilangan banyak darah,” keluh Inggrid.
“Kondisi tubuhku tidak memungkinkan untuk melakukannya. Jika memaksa, aku bisa jatuh pingsan,” balasku pelan.
Kepalaku mulai terasa pusing. Tapi aku bersyukur bisa membebaskan Vinnea dari laki-laki itu, meskipun harus mengorbankan diriku sendiri. Jika aku memaksa memakai Sylvatica, seluruh tenaga dan mana ku akan terkuras. Akan tetapi, kalau tidak aku lakukan, darah di tanganku tidak mau berhenti.
“Saya bisa membantu.”
Vinnea tiba-tiba muncul mengagetkan Inggrid yang sedang berusaha untuk menyembuhkanku dengan sihirnya.
Inggrid yang melihat keberadaan Vinnea tidak bisa mengatakan apapun. Mungkin ini pertama kalinya, dia melihat roh sihir yang berwujud manusia.
Penampilan Vinnea jauh lebih baik sekarang. Rambutnya kembali sejernih pertama kali kami bertemu. Wajahnya kembali seperti wanita dewasa. Dia hanya kehilangan senyumnya.
“Maukah anda mengikat kontrak dengan saya?”
“Lakukan. Aku tidak mau kau menghilang.” Aku mengangkat tangan kananku padanya. Jika kontrak roh sihir dengan pemilik sebelumnya terputus secara sepihak, roh sihir itu akan menghilang. Itu pun berlaku pada Vinnea.
Vinnea meletakkan tangannya di bawah tanganku. Gelombang sihir bergerak mengelilingi kedua tangan kami. Perjanjian kontrak setiap roh sihir beragam. Ada yang menandai pemiliknya dengan sebuah simbol, namun ada juga yang memakai perwujudan benda.
Sebuah gelang mutiara melingkar di pergelangan tanganku, lima mutiara berwarna biru yang bersinar. Motif di mutiara tersebut beragam, mulai dari riak air, bintang laut, bunga daisy, mutiara putih dan yang paling besar hanya mutiara biru jernih yang bahkan bisa memantulkan kulitku.
Ini pertama kalinya aku menjalin kontrak dengan roh sihir. Rasanya seperti ada sesuatu yang dingin yang mengalir bersamaan dengan darahku. Lebih mengejutkan lagi, bagaimana bisa Vinnea berubah penampilan?
Gaun birunya kini berganti pink dengan outer biru muda yang mana bagian bawahnya bermotif riuk air. Bahkan outernya sepanjang lengan tangannya dan itu sedikit transparan. Rambut panjang berganti warna menjadi gradasi antara putih dan biru. Beberapa kepangan terlihat di dalam rambut panjangnya. Bahkan di rambut itu masih dihiasi oleh beberapa mutiara dan pernak-pernik bintang laut.
“Wow…” Inggrid berdecak kagum, mewakili aku yang tidak bisa berkata apapun.
Apa penampilan roh sihir bisa berubah segampang itu? Atau mungkin menyesuaikan pemiliknya? Karena ketika dia bersama dengan Darwin, penampilannya tidak seperti ini.
Aku berganti menatap tangan kiriku yang sudah tidak ada lagi darah atau bahkan kulit yang terbuka. Terlalu banyak hal mengejutkan tepat setelah aku mengikat kontrak dengan Vinnea. Tapi, satu hal yang aku tahu, aku bisa menggunakan kekuatan milik Vinnea. Yang mengalir dalam tubuhku adalah kekuatan milik Vinnea.
“Astaga! Kiara, rambutmu!” Inggrid tiba-tiba memekik terkejut, membuatku ikutan terkejut.
Dia menunjuk rambutku.
Aku menarik mendekat rambutku dan ini sangat mengejutkan karena rambutku ikut berubah warna.
Bagaimana bisa? Apa ini wajar? Rambut pirangku berganti warna menjadi biru terang.
Aku pindah memeriksa bagian tubuhku yang lain namun tidak ada yang berubah selain rambutku.
Bagaimana bisa?! Aku butuh penjelasan!!
“Yang di sebelah sana!! Serangganya mengarah ke kalian!!”
“KIEEEEKKKKK!!!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments