Master Gensha tersenyum. “Ya. Dia melaporkan sesuatu pada saya.”
Aura sihirnya terasa familiar tapi karena aku lebih dulu pingsan, aku tidak tahu siapa dia. Mungkin saja aku akan bertemu dengannya lain waktu.
“Ah, iya, siang tadi Vinnea datang berkunjung. Dia ingin bertemu dengan anda.” Master Gensha mendekat, meraih teko the hangat kemudian menuangkannya perlahan ke cangkir.
“Apa mungkin dia ingin kembali ke laut? Aku sangat mencemaskannya yang pindah ke daratan.” Aku menyeruput sedikit teh hangat yang disuguhkan.
Master Gensha meletakkan teko kemudian melangkah mundur dua langkah. “Vinnea datang tepat waktu menyelamatkan anda, mungkin dia ingin membicarakan sesuatu dengan Anda.”
Aku berdeham panjang, melanjutkan makanku.
“Omong-omong, Nak Azel juga datang sore tadi.”
“Uhuk! Uhuk!” mendengar nama Azel, aku seketika tersendak makanan yang sedang aku kunyah. Master Gensha mengambilkan segelas air putih kemudian menyerahkannya padaku.
“Anda baik-baik saja?” Master Gensha mengusap punggungku pelan.
Aku menengguk habis segelas air kemudian mengusap dadaku. “Tenggorokanku sedikit sakit.”
“Cukup untuk makan malam hari ini, Putri. Anda tidak harus menghabiskan semuanya.” Master Gensha membawa sisa makanan ke pantri.
Sesekali terbatuk pelan, aku mencoba mengatur napasku. Sambil menatap Master Gensha yang mengemasi makanan yang tersisa. Perkataan Master Gensha membuatku memikirkan apa yang dilakukan Azel di rumah ini dan apa yang dikatakan olehnya pada Master Gensha.
“Apa dia mengatakan sesuatu, Master?”
Sedikit menoleh ke arahku, Master Gensha tersenyum dengan mata menyipit. “Hanya titipan permintaan maaf. Anda harus bertemu dengannya agar dia bisa menyampaikan permintaan maafnya secara langsung. Apa kalian sedang dalam masalah?”
Aku memilih diam. Apa tindakannya harus aku ceritakan pada Master Gensha? Bahkan Azel pun hanya titip maaf tanpa menjelaskan padanya. Terlalu memalukan untuk mengatakannya.
“Lain waktu aku akan bicara dengannya.”
-o0o-
Sisa satu hari libur. Aku menghabiskan waktu di kamarku, duduk di kursi menghadap meja belajar dengan sebuah buku tebal di depanku.
“Rasanya tubuhku masih berat. Ada apa denganku?” Aku menarik tanganku ke atas, merenggangkan otot punggung. Namun rasanya masih saja lelah.
Tok! Tok!
“Putri, anda di dalam?”
Kuturunkan tanganku kemudian menoleh.
“Ya. Masuklah.”
Gagang pintu berputar ke bawah kemudian daun pintu terbuka ke dalam. Master Gensha dengan masih memakai pakaian hitam-putihnya melangkah masuk. Dia tersenyum ketika menatapku.
Apa? Kenapa?
“Ada yang ingin bertemu dengan anda, puteri.”
“Siapa?” Aku beranjak dari duduk dan melangkah mendekat.
“Sebelum itu, saya akan memasang barrier lebih dulu.” Master Gensha mengangkat tangan kirinya. Tidak ada yang terjadi tapi aku merasa sebuah kubah menyelimuti kamarku.
Siapa yang datang? Kenapa harus memasang barrier— Mungkinkah!!
Cahaya yang menyilaukan muncul di tengah-tengah kamarku. Dari tingkat padatnya mana, aku tahu siapa yang datang ke kamarku. Seseorang yang sangat penting di kerajaan, yaitu Ratu Resha.
Sebuah kilauan cahaya perlahan mulai berkumpul di depan tempat tidur. Cahaya tersebut membentuk figur seorang wanita dengan gaun berwarna hijau.
Aku dan Master Gensha segera berlutut di hadapannya.
Cahaya yang berkumpul menghilang, memperlihatkan seorang ratu dengan mahkota berliannya dan rambut peraknya. Wajahnya tidak pernah menua dan selalu cantik seperti biasanya. Karismanya benar-benar berbeda.
“Selamat datang, Ratu Resha. Maaf karena kami tidak menyambut kedatangan Anda.”
“Bisa tinggalkan kami, Gensha?”
“Sesuai perintah anda, ratu.” Master Gensha berdiri kemudian melangkah keluar kamar.
Ratu Resha melangkan pelan, membuat gaun panjangnya bergerak mengikuti langkah kakinya. Dia duduk di tepi tempat tidur, menatapku yang berdiri di sebelah kanannya.
“Duduklah. Pembicaraan kita mungkin akan lama.” Ratu Resha menepuk-nepuk ruang di sebelahnya sambil menatapku.
Dengan keraguan aku melangkah mendekat dan duduk di sebelahnya dengan tetap menjaga jarak. Berapa tahun aku tidak duduk di sampingnya dan bercerita berjam-jam?
Bagiku dia sudah seperti ibu keduaku. Dia yang selalu harus duduk di belakang meja, hanya bisa mendengar cerita dari para bawahannya yang diutusnya untuk menjalankan tugas. Dia sendiri harus mengurus dokumen dan urusan kerajaan agar tidak terjadi konflik internal.
Perlahan aku memberanikan diri menatap ke arah beliau. “Apa yang membuat Anda datang menemui saya seorang diri, Ratu?”
Ratu Resha tersenyum. “Maaf, ya, aku tidak langsung mengunjungimu setelah kejadian malam itu. Aku mendapat kabarnya dari Gensha. Kau pasti mengemban beban berat. Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?”
Aku mengangguk. “Jauh lebih baik.”
“Sudah lama aku tidak mendengar ceritamu, Ra. Apa saja yang kau lakukan setelah pindah ke pulau ini?” Ratu Resha sekali lagi tersenyum.
Aku yang melihatnya merasa pernah melihat senyum yang sama pada orang lain.
“Tapi ini bukan cerita yang menyenangkan.” Aku membalas pelan.
“Tidak apa. Aku akan mendengar semuanya.”
Melihat antusias di mata Ratu Resha, mau tidak mau aku bercerita padanya. Tentang bagaimana keseharianku di tempat baru. Ratu Resha sesekali tertawa pelan, menimpali kalimat yang membuat kami saling tertawa.
Siapa sangka, wanita ini adalah ratu agung yang memimpin kerajaan terbesar roh sihir. Umurnya sudah lebih dari tiga ribu tahun. Namun karena wajahnya tidak berubah, dia terlihat seperti wanita dua puluh tahun.
Serangkaian adat akan dilewatinya untuk bisa hidup lebih lama dalam kurun waktu tertentu.
Banyak hal yang aku ceritakan padanya termasuk misiku yang menyebabkan aku harus tidur lebih dari seharian penuh.
“Jadi, dia bersikap ramah padamu?”
Aku menggeleng. “Saya rasa tidak. Karena pertemuan pertama kami, dia menendang saya ke dinding rumah warga.”
Ratu Resha menyentuh dagunya, berpikir. “Mungkinkah dia ingin membuatmu tidak sadarkan diri setelah itu membawamu, Ra?”
“Saya tidak menjamin hal itu. Tapi, dia pergi begitu saja. Mungkin di dunia iblis sedang mengalami konflik internal, Ratu. Karena sepertinya tindakan yang dilakukan iblis yang berniat membunuh saya malam itu, tidak diketahui oleh iblis tingkat lima yang saya temui beberapa hari yang lalu.”
“Mereka terbelah dan akhirnya bertindak sesuai keinginan atasan masing-masing?” Ratu Mia mengusap rambut panjangnya yang dikepang di atas pundaknya. Rambut peraknya selalu memukau, seakan memiliki sihir pemikat.
“Bagaimana menurutmu, Ra?” Ratu Resha melempar pertanyaannya padaku, menjauhkan tangannya dan meletakkannya di atas pangkuannya.
“Karena kita hanya memiliki asumsi dan belum bisa dipastikan, jadi lebih baik untuk selalu berjaga-jaga, Ratu. Melihat dari sikap iblis tingkat lima, saya rasa iblis dengan tingkat lebih tinggi memiliki sikap yang bisa dibilang lebih baik dibandingkan iblis tingkat rendah. Kita akan kerepotan jika tiba-tiba iblis-iblis rendah itu membuat ulah di mana-mana.”
“Saat itu benar-benar terjadi, mereka akan mengincarmu, Ra. Aku berpikir untuk menambahkan satu penjaga lagi untukmu. Bagaimana?”
Aku menggeleng pelan. “Saya rasa Master Gensha sudah cukup, Ratu.”
Ratu Resha berdiri, menatap sebentar ke arah langit-langit ruangan. “Ah, iya, dia juga ada di tempat ini, ya. Kalau begitu, aku tidak perlu cemas. Tujuanku datang ke sini adalah untuk memberitahukan bahwa kemungkinan akan ada invasi ke kota ini. Untuk lebih jelasnya, aku sudah menjelaskannya ke Gensha. Jadi, jika memungkinkan, tetaplah di dalam rumah untuk keselamatanmu.”
Aku hanya bisa mengangguk. “Akan saya usahakan untuk menjaga diri saya, Ratu.”
Ratu Resha tersenyum kemudian berdiri. “Gensha.”
Dia? Siapa yang ratu maksud? Apa baru saja Ratu membicarakan orang lain?
Pintu kamar terbuka dan Master Gensha melangkah masuk.
“Anda akan pulang, Ratu?” Master Gensha bertanya ramah. Dia berdiri di dekat pintu, tersenyum ke arah sang ratu yang selalu diabdinya.
“Ya, aku hanya pamit untuk beberapa jam. Aku pergi sekarang ya, Ra. Lain waktu kita cerita lagi.” Ratu Resha melambaikan tangannya pelan dibarengi dengan hilangnya tubuhnya secara perlahan. Cahaya redup menyinari seisi ruangan, hanya sebentar hingga keberadaan Ratu Resha menghilang dari kamarku.
Aku kembali duduk di tepi tempat tidur dengan helaan napas panjang. Sebuah peringatan dari Ratu Resha, aku pikir itu bisa saja terjadi kapan pun.
“Anda ingin makanan ringan, Puteri?”
Aku menggeleng. “Tidak. Aku akan tidur malam ini.”
Master Gensha menarik kembali barriernya, kemudian mengangguk. “Silakan nikmati tidur anda, Putri. Selamat malam.”
“Malam.”
-o0o-
Pagi harinya. Aku kembali ke sekolah seperti biasanya. Inggrid pernah mengatakan padaku kalau jeda misi berikutnya sekitar kurang lebih sebulan. Dan tim berikutnya tidak menjamin akan sama dengan tim yang sebelumnya.
“Kau baik-baik saja, Ra?” Luna memeluk buku paket di tangannya, menatapku cemas.
“Aku baik,” jawabku dengan seulas senyum.
Saat ini kami sedang menuju ke perpustakaan untuk belajar bareng. Aku menceritakan ke Luna kalau misiku membutuhkan lebih dari seminggu untuk diselesaikan dan lihatlah bagaimana reaksi cemasnya.
“Lain kali, pilih tim yang hanya mengambil misi ringan, Ra,” tuturnya.
Aku mengangguk. “Ya. Aku tahu.”
Beberapa siswa melintas di sekitar kami. Aku tidak memedulikan mereka, sekalipun beberapa dari mereka menatap ke arahku. Kabar tentangku yang masuk tim milik Azel pasti sudah menyebar dengan luas.
Dan sekarang, Azel dan dua teman laki-lakinya berjalan berlawanan denganku. Mengingat apa yang dilakukannya, aku akan menjaga jarak dengannya lebih dulu.
Dia sempat memandang ke arahku namun aku enggan untuk membalas tatapannya. Hanya dengan mengingatnya, aku sudah merinding. Apa dia benar-benar Azel yang aku kenal? Dia datang ke rumah dan menyampaikan permintaan maafnya pada Master Gensha. Apakah itu menunjukkan kalau dia menyesal dengan apa yang dilakukannya?
Entah menyesal atau tidak, aku akan menjaga jarak dengannya lebih dulu dan melihat bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan maaf dariku.
“Kalau bisa jangan terlibat lagi dengan timnya Azel, Ra. Aku sudah memperingatkan dua kali,” tegas Luna.
Aku tertawa canggung dan berhenti di depan pintu perpustakaan yang tinggi. “Iya. Aku masuk tim mereka juga bukan karena keinginanku sendiri.”
“Kalau mereka memaksa, tolak aja. Masih banyak tim yang mau menerimamu, Ra.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Panthom
yang kutunggu
2023-09-05
0