MoD #15 - Dia juga Darwin (?)

Tibalah hari ini, menjalankan misi bersama Darwin. Hampir sama seperti yang sebelumnya, kami harus naik kapal terbang untuk sampai di pulau tujuan kami. Yang membedakan adalah waktu keberangkatan kami yang terbilang sangat awal. Jam 12 malam.

“Apa ini misi darurat atau semacamnya?” Aku berdiri di samping Darwin, menunggu awak kapal menyiapkan jembatan untuk kami.

“Aku rasa seperti itu.” Darwin menjawab singkat.

Di pelabuhan hanya ada kami. Tidak ada siswa lain seperti saat pertama kali aku menjalankan misi bersama Azel. Kali ini benar-benar sepi.

Azel, ya... beberapa hari terakhir, aku sangat menghindarinya. Memilih jalan lain ketika akan berpapasan dengannya. Segera menghindar jika dia mengajakku berbicara.

Bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja? Atau tepatnya bagaimana caraku menghadapi hal itu? Aku sudah cukup tertekan dengan semua ini. Mengabaikannya sangat membuatku tertekan.

Aku ingin segera memperbaiki suasana ini.

“Kita naik, Ra.”

Suara Darwin menarikku kembali ke kenyataan. Aku segera mengikutinya yang berjalan mendahuluiku. Seperti yang terlihat, hanya ada kami berdua di kapal ditemani tiga awak kapal dan dua nahkoda yang selalu ada di ruangannya.

“Lokasinya tidak begitu jauh. Jadi, aku rasa hanya butuh satu jam.” Darwin berdiri di bagian dek kapal. Dia tidak berniat untuk istirahat di kamar sama sekali.

Kapal baru saja berlayar, meninggalkan Pulau Gramgramillo menuju ke Pulau Samoza. Angin di atas langit selalu bertiup kencang. Meskipun kapal ini tidak bergerak sangat cepat, namun angin yang menerpa berhembus kencang. Aku sedikit merinding karena kedinginan.

“Apa masalah di tempat itu? Muncul monster?”

“Mungkin.”

Kenapa dia tidak tahu? Kita berangkat dengan misi yang jelas, bukan?

Ekspresi Darwin sangat sulit untuk aku pahami. Kedua alisnya tertaut, sorot matanya terlihat lebih gelap dibandingkan sebelumnya. Dia pun tidak melepas cengkraman di tas yang dibawanya di tangan kanannya.

Aku perlu bicara dengan seseorang.

“Aku akan istirahat di kamar, kak. Kau tidak apa sendirian?”

Darwin mengedipkan matanya kemudian menoleh. “Ya. Tentu. Kau mau Vinnea menemanimu?”

Vinnea muncul di sampingku. Rambut panjangnya yang digerai sedikit lusuh. Meskipun pakaiannya masih tetap sama. Dia terlihat sedikit berubah dibandingkan terakhir kali kami bertemu.

“Jika boleh.” Aku menatap Vinnea dan dia hanya tersenyum.

“Tentu saja, tidak masalah.”

“Kalau begitu, kami permisi. Katakan padaku kalau kita akan tiba.” Aku berjalan menggendong tas ranselku, ditemani Vinnea di sampingku. Karena hanya ada kami, aku memilih istirahat di kamar yang tidak jauh dari dek kapal.

Aku masuk kamar kemudian menguncinya dengan rapat. Sedikit melirik ke arah Vinnea yang berdiri di belakangku sebelum aku mengangkat tanganku menulis sesuatu di udara.

Barrier Shield.

Sesuatu yang hangat melintasi tubuhku dan berhenti tepat di setiap ujung ruangan. Aku merasa ada yang aneh dengan Vinnea. Dia dan penampilannya terasa berbeda jauh. Pesan dari Master Gensha sebelum aku berangkat menjalankan misi.

“Sepertinya Vinnea membutuhkan bantuan anda, puteri. Pemiliknya mengikatnya dengan segel yang aneh yang membuatnya terputus dari kerajaannya. Bisakah anda membantunya?”

Kalau itu benar...

“Sekarang sudah aman. Vinnea, kau baik-baik saja?” Aku memutar tubuhku menghadap ke arah Vinnea.

Senyum yang dipertahankannya kini mulai luntur. Kaki yang awalnya kuat berdiri kini mulai roboh. Aku melangkah cepat mendekat tubuhnya yang tiba-tiba tersungkur ke depan.

Perawakan wanita dewasa kini perlahan mulai menyusut. Aku yang tidak bisa mempertahankan keseimbanganku, mau tidak mau harus terduduk di lantai kayu dengan Vinnea di dekapanku.

Tubuhnya menyusut menjadi seumuran dengan remaja. Rambut panjangnya mulai memutih dan bahkan beberapa mulai rontok. Aku belum pernah melihat Vinnea dalam keadaan seperti ini. Dia terlihat menahan sesuatu yang menyakitkan di tubuhnya. Ekspresi wajahnya memperjelas semua penderitaannya.

Dengan hati-hati aku menggeser tubuh Vinnea, memindahkannya agar dia tiduran di pangkuanku. Kita masih memiliki satu jam. Aku harus melakukan sesuatu padanya.

“Kau bisa mendengar suaraku, Vinnea? Apa tubuhmu panas?”

Vinnea mengangguk. Mengerang kesakitan dengan tangan mencengkram erat tanganku.

Sepertinya ini sudah melebihi perkiraanku.

Hanya ada satu cara untuk membebaskannya.

“Kita tidak memiliki banyak waktu. Jadi, dengarkan aku, Vinnea.”

-o0o-

Pulau Samoza. Berpikir kalau pulau ini dihuni oleh manusia, namun nyatanya tidak. Bisa dibilang pulau ini hanya berisi reruntuhan yang sudah mulai diselimuti oleh rumput dan lumut. Sejauh mata memandang, di bawah gelapnya malam dan temaramnya cahaya rembulan, hanya ada puing-puing rumah dan semak belukar.

Perjalanan kami hanyalah satu jam lebih lima belas menit dan di atas kami langit tengah malam yang gelap. Aku merasakan sesuatu yang janggal.

“Kita akan berkeliling, Ra. Jangan jauh-jauh dariku.” Darwin melangkah mendahului.

Ada hal yang membuatnya terasa berbeda. Dia berbeda dari terakhir kami bertemu. Sesuatu di dalam dirinya membuatku tidak nyaman. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah hampir dipenuhi rumput yang merambat.

Suara binatang malam terdengar sangat keras, mengiringi langkah kami. Beberapa kunang-kunang terbang di atas rerumputan, menjadi cahaya alami di sepanjang jalan. Udara dingin di sekitarku terasa menakutkan. Bukan dingin dari kurangnya mana, melainkan sesuatu yang lain.

“Berhenti!” Darwin menghentikan langkahnya, membuatku ikut berhenti di belakangnya. Dia menunjuk ke arah jalan yang bersimpangan di depan kami. Ada sebuah cahaya yang bergerak mendekat.

Darwin tidak mengajakku bersembunyi sama sekali. Dia justru ingin menunjukkan keberadaannya pada sesuatu yang bergerak keluar dari jalan persimpangan.

Berpikir bahwa itu adalah monster, ternyata salah besar. Karena yang muncul di seberang kami adalah manusia. Tepatnya enam siswa dengan seragam akademi sama sepertiku dan Darwin.

“Kiara? Apa yang kau lakukan di sini?”

Seseorang dari mereka membagi penerangan kemudian melangkah mendekat.

Dari suaranya itu milik Azel. Kalau begitu, lima orang yang berjalan mengikutinya adalah timnya.

“Kak Azel, kau kah itu?” Aku berniat menghampirinya, namun Darwin lebih dulu menahanku dengan tangan kirinya.

“Jangan berpikir dia temanmu, Ra. Tidak ada orang lain selain kita. Dengan kata, lain mereka bisa saja monster atau iblis yang menyamar menjadi temanmu,” ucap Darwin padaku.

“Hei! Apa maksudmu?! Kau menganggap kami ini monster?” pekik Rissa. Suara nyaringnya sangat khas miliknya.

“Kenapa kalian ada di sini? Kami baru saja selesai membunuh monsternya.” Olin menyahut. Aku tidak bisa melihat mimik wajahnya, namun dari suaranya dia terlihat kesal.

“Mana mungkin iblis mengaku! Berhentilah bersandiwara. Atau ini tidak akan berakhir dengan baik.” Darwin menggerakkan tangan kanannya dan sebilah belati muncul di dalam genggamannya.

Gideon mulai terpancing emosi. “Bajingan satu ini, sangat menyebalkan. Haruskah aku menghajarnya, Azel?” geramnya.

Azel menahan Gideon untuk tidak bergerak lebih jauh. “Tunggu. Beri kami alasan kenapa kau ada di sini.”

“Kami—”

“Aku tidak bertanya padamu, Darwin!” Azel memotong dengan tegas. Terdengar menyentak bahkan membuatku terkejut.

Untuk pertama kalinya, aku mendengar suara Azel yang sedang marah. Bahkan Darwin pun dibuat bungkam olehnya.

“Jawab aku, Kiara,” lanjut Azel dengan lebih lembut. “Kenapa kau ada di sini?”

Berapa lama aku tidak mendengar suara ramahnya. Rasanya sangat lama.

“A-Aku tidak tahu detailnya. Karena kami diminta untuk menjalankan misi di tempat ini.” Aku menjawab dengan hati-hati, karena memang aku tidak tahu apapun bahkan tugas kami di tempat ini pun aku tidak tahu.

“Tidak dapat detailnya? Hei, kau yang di sebelah Kiara. Kau ingin menjebaknya seperti kau menjebak teman-temanmu, hah?” Aura Azel lebih menakutkan dibandingkan sebelumnya.

Aku merasa seperti berada di tengah-tengah tumpukan salju, sangat dingin.

Tunggu dulu! Menjebak?! Apa maksudnya itu?

Darwin memainkan belatinya, seakan tidak takut apapun yang akan terjadi. Dia seakan sengaja memancing amarah Azel.

“Siapa yang menjebak? Aku menjalankan misiku dengan baik selama ini. Jangan bicara seolah kau tahu semuanya, Azel.”

“Tidak. Tidak pernah ada catatan kalau kau menyelesaikan misimu dengan benar. Jika memang misimu selesai, lalu di mana anggota satu timmu?” Kali ini Claud menyahut. Mereka semua bicara seolah mereka sudah tahu semuanya dan aku yang tidak tahu apapun.

Bukan karena semua tim sudah genap, melainkan memang tim Darwin sudah tidak ada lagi. Tapi bagaimana bisa?

“Anggota timku? Kalian ingin tahu? Mereka berakhir seperti ini!” Darwin tiba-tiba berbalik dan mencengkram leherku kemudian membanting tubuhku ke tanah.

Berapa kali aku mendapatkan perlakuan seperti ini. Dibanting ke tanah, dipukul, diancam. Jika oleh musuhku aku pikir itu sedikit wajar. Tapi kali ini, kenapa dilakukan oleh orang yang menolongku waktu itu. Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?

“Sialan! Lepaskan tanganmu darinya!” teriak Azel dengan emosi yang meluap. Dia dengan busur dan sebuah anak panah siap dilepasnya kapan pun ke arah Darwin.

Darwin yang menindih tubuhku, menoleh ke arahnya. “Kau mendekat, aku akan menyayat lehernya. Kau mau? Orang yang kau sukai ini tidak bisa memanggil namamu lagi?”

Dia mencengkram leherku lebih kuat. Aku yang mencoba melepaskan tangannya dengan kedua tanganku, tidak memiliki tenaga sebanding dengannya. Leherku sakit, aku kesusahan bernapas.

“Lagipula aku hanya memiliki urusan dengan Kiara. Aku ingin dia mengatakan sejujurnya tentang siapa dia.” Darwin kembali menatapku. Bibirnya tertarik ke atas, membentuk seringai yang mengerikan.

“Aku sudah mencoba bertanya pada Vinnea tapi dia tidak mau mengatakan apapun. Bahkan setelah aku menyiksanya pun, dia tetap bungkam. Dia malah menggigit lidahnya sendiri dan tidak mau mengatakan apapun.”

Jadi, itu alasannya perubahan fisik Vinnea? Sialan!

Darwin mencengkram lebih kuat membuatku semakin kesakitan. Mencoba untuk mendorong tubuhnya namun tidak berhasil sama sekali. Bagaimana orang yang sebelumnya terlihat begitu lemah, kini memiliki tenaga sekuat ini?

“Jawab aku, Kiara. Aku hanya butuh jawaban darimu. Apa yang akan kulakukan padamu itu tergantung jawabanmu.”

“Jangan menguji kesabaranku. Lepaskan dia!” teriakan Azel terdengar di telingaku, tapi harus fokus untuk mempertahankan kesadaranku karena rasa sakit di leherku.

“Apa—tujuanmu, kak?”

Darwin justru makin menyeringai, sepasang mata merahnya terlihat semakin berkobar.

“Menurutmu apa?”

Episodes
1 MoD #1 - Aku
2 MoD #2 - Gramgramillo
3 MoD #3 - Pertemuan pertama
4 MoD #4 - Master Gensha
5 MoD #5 - Azel
6 MoD #6 - Tim Azel
7 MoD #7 - Manis
8 MoD #8 - Pulau Domase
9 MoD #9 - Ghalagg
10 MoD #10 - Sortin
11 MoD #11 - Bolehkah..?
12 MoD #12 - Mimpi yang aneh
13 MoD #13 - Ratu Resha
14 MoD #14 - Misi berikutnya
15 MoD #15 - Dia juga Darwin (?)
16 MoD #16 - Kontrak Baru
17 MoD #17 - Maaf
18 MoD #18 - Thandazani
19 MoD #19 - Kisah itu
20 MoD #20 - Si Kembar
21 MoD #21 - Hubungan
22 MoD #22 - Wind Breaker
23 MoD #23 - Awal
24 MoD #24 - Emosi
25 MoD #25 - Zukol
26 MoD #26 - Pertarungan (1)
27 MoD #27 - Pertarungan (2)
28 MoD #28 - Pertarungan (3)
29 MoD #29 - Dia yang dirindukan
30 MoD #30 - Iblis ketiga, Darzi
31 MoD #31 - Pertemuan itu
32 MoD #32 - Pertemuan kedua
33 MoD #33 - Memantau
34 MoD #34 - Ellen
35 MoD #35 - Saat itu
36 MoD #36 - Rencana berikutnya
37 MoD #37 - Jalan-jalan
38 MoD #38 - Menyambut sejarah
39 MoD #39 - Pengorbanan
40 MoD #40 - Sejarah Baru
41 MoD #41 - Selamat tinggal, Luna
42 MoD #42 - Bagaimana Jika(?)
43 MoD #43 - Codename 'Ota'
44 MoD #44 - Koloseum
45 MoD #45 - Tamu
46 MoD #46 - Siapa kau?
47 MoD #47 - Kesepakatan
48 MoD #48 - Guncangan emosi
49 MoD #49 - Kondisi Warga
50 MoD #50 - Wind of Heal
51 MoD #51 - Dunia yang kau inginkan
52 MoD #52 - Desa Yafga
53 MoD #53 - Kondisi ratu
54 MoD #54 - Jarak
55 MoD #55 - Bagaimana caraku menghiburmu?
56 MoD #56 - Bukankah kita sama?
57 MoD #57 - Suasana Mencekik
58 MoD #58 - Jangan mendekat
59 MoD #59 - Suho
60 MoD #60 - Berkumpul
61 MoD #61 - Tolong dia
62 MoD #62 - Di luar perkiraan
63 MoD #63 - Keluarga
64 MoD #64 - Rumit
65 MoD #65 - Laporan
66 MoD #66 - Curhat
67 MoD #67 - Hari yang seperti biasa
Episodes

Updated 67 Episodes

1
MoD #1 - Aku
2
MoD #2 - Gramgramillo
3
MoD #3 - Pertemuan pertama
4
MoD #4 - Master Gensha
5
MoD #5 - Azel
6
MoD #6 - Tim Azel
7
MoD #7 - Manis
8
MoD #8 - Pulau Domase
9
MoD #9 - Ghalagg
10
MoD #10 - Sortin
11
MoD #11 - Bolehkah..?
12
MoD #12 - Mimpi yang aneh
13
MoD #13 - Ratu Resha
14
MoD #14 - Misi berikutnya
15
MoD #15 - Dia juga Darwin (?)
16
MoD #16 - Kontrak Baru
17
MoD #17 - Maaf
18
MoD #18 - Thandazani
19
MoD #19 - Kisah itu
20
MoD #20 - Si Kembar
21
MoD #21 - Hubungan
22
MoD #22 - Wind Breaker
23
MoD #23 - Awal
24
MoD #24 - Emosi
25
MoD #25 - Zukol
26
MoD #26 - Pertarungan (1)
27
MoD #27 - Pertarungan (2)
28
MoD #28 - Pertarungan (3)
29
MoD #29 - Dia yang dirindukan
30
MoD #30 - Iblis ketiga, Darzi
31
MoD #31 - Pertemuan itu
32
MoD #32 - Pertemuan kedua
33
MoD #33 - Memantau
34
MoD #34 - Ellen
35
MoD #35 - Saat itu
36
MoD #36 - Rencana berikutnya
37
MoD #37 - Jalan-jalan
38
MoD #38 - Menyambut sejarah
39
MoD #39 - Pengorbanan
40
MoD #40 - Sejarah Baru
41
MoD #41 - Selamat tinggal, Luna
42
MoD #42 - Bagaimana Jika(?)
43
MoD #43 - Codename 'Ota'
44
MoD #44 - Koloseum
45
MoD #45 - Tamu
46
MoD #46 - Siapa kau?
47
MoD #47 - Kesepakatan
48
MoD #48 - Guncangan emosi
49
MoD #49 - Kondisi Warga
50
MoD #50 - Wind of Heal
51
MoD #51 - Dunia yang kau inginkan
52
MoD #52 - Desa Yafga
53
MoD #53 - Kondisi ratu
54
MoD #54 - Jarak
55
MoD #55 - Bagaimana caraku menghiburmu?
56
MoD #56 - Bukankah kita sama?
57
MoD #57 - Suasana Mencekik
58
MoD #58 - Jangan mendekat
59
MoD #59 - Suho
60
MoD #60 - Berkumpul
61
MoD #61 - Tolong dia
62
MoD #62 - Di luar perkiraan
63
MoD #63 - Keluarga
64
MoD #64 - Rumit
65
MoD #65 - Laporan
66
MoD #66 - Curhat
67
MoD #67 - Hari yang seperti biasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!