Senin, pukul sembilan pagi.
Semua murid di kelasku berada di ruangan dengan tempat duduk menyerupai tribun, namun ruangan ini sering disebut sebagai Ruangan Pengenal Sihir. Master Ellen mengajak kami semua ke auditorium untuk memeriksa sihir kami.
“Lingkaran sihir di atas meja akan mengenali sihir yang mengalir di tubuh kalian. Meskipun kalian bisa memakai sihir lainnya, namun tetap yang akan dikenali adalah sihir asli kalian.” Penjelasan dari Master Ellen sebelum kelas dimulai.
Dengan kata lain, aku tidak akan mendapatkan warna seragam apapun. Karena dasar dari seragam akademi ini adalah putih dengan garis hitam. Maka jika siswa memiliki sihir api, garis hitam itu akan berubah menjadi merah. Begitu seterusnya. Kalau begitu, aku yang memiliki sihir cahaya, tidak akan mendapatkan warna apapun.
“Saya akan memanggil satu persatu nama kalian untuk maju dan mengenali sihir kalian.” Master Ellen berdiri di depan semua siswa dengan sebuah meja di sampingnya. Tugas siswa hanyalah meletakkan tangan mereka ke tengah-tengah lingkaran sihir dan berkonsentrasi.
“Kita mulai dari absen pertama. Silakan, Roger.”
Seorang laki-laki bertubuh gempal berdiri, kemudian berjalan menuruni tribun. Dia duduk di paling atas. Tepat di depan meja, dia mengulurkan tangan kanannya. Dengan mata terpejam, dia mulai berkonsentrasi.
Cahaya yang tidak begitu menyilaukan muncul dari lingkaran sihir, mengubah garis hitam di seragam laki-laki itu dengan warna ungu. Aku penasaran berapa banyak sihir yang dimiliki sekolah ini. Jika sihir selalu bercabang-cabang layaknya akar tanaman, apakah nantinya sihir dasar akan selalu memiliki banyak cabang? Kalau begitu, hanya satu sihir yang sepertinya tidak memiliki cabang.
“Selamat, sihirmu adalah gravitasi. Kau bisa kembali ke tempat dudukmu. Berikutnya, absen nomor dua, Magenta.”
Satu persatu siswa berhasil mengenali sihir mereka dan mengubah seragam mereka menjadi warna-warna sihir milik mereka. Karena aku murid baru, maka aku yang paling terakhir. Tanpa memeriksanya pun aku sudah tahu kalau seragamku tidak akan berubah menjadi putih total.
Berdiri di depan meja dan melakukan hal yang sama dengan yang lainnya. Aku merasa cahaya lembut merambat ke telapak tanganku, seakan seperti sebuah tangan sedang menjabat tanganku. Namun hanya beberapa saat, karena setelah itu tanganku terasa dingin.
Kericuhan pelan terdengar di belakangku. Aku pun membuka mata. Karena seragam akademi memiliki lengan panjang, jadi aku bisa melihat tidak ada perubahan apapun di garis seragamku yang ada di lengan seragam.
“Ada beberapa orang yang memang belum bisa membangkitkan sihir mereka. Jangan berkecil hati, Ra. Kau bisa mencobanya di lain waktu,” ujar Master Ellen, membesarkan hatiku.
Aku kembali ke tempat dudukku diiringin dengan kekehan menyebalkan dari mereka yang sudah berhasil mengenali sihir mereka. Dominan dari mereka adalah warna merah, sihir api. Meskipun mereka memiliki sihir yang sama, namun tidak dengan cara pemakaiannya.
“Jangan dipikirkan, Ra. Cepat atau lambat kau pasti akan menemukan sihirmu.” Luna berbisik pelan.
Rasanya, semakin hari kami semakin dekat, kemana-mana Luna akan menemaniku, kecuali ke tempat ramai.
Apa sihir memang bisa ditemukan semudah itu? Bukankah sihir itu ditentukan dan bukan ditemukan?
Aku tersenyum. “Terima kasih.”
“Kita lanjutkan pembelajaran kita hari ini.” Master Ellen menginstruksi seisi kelas. Buku paket kini terbuka di depan semua siswa.
Pembelajaran berikutnya dimulai.
Aku menyimak dengan seksama, sesekali menatap garis hitam di lengan seragamku. Jika diperhatikan lagi, itu bukanlah warna hitam, melainkan warna paling gelap dari hijau. Aku ingat, sihir yang kugunakan pertama kali adalah sihir penyembuhan milik Sylvatica.
Dryad yang tinggal di kedalaman hutan dan tidak pernah keluar sekali pun. Mereka selalu memakai pakaian berwarna hijau gelap dengan manik-manik hijau terang.
Mungkin karena itu hitam di seragamku sedikit berganti ke hijau gelap. Karena terlalu gelap, sekilas terlihat seperti hitam. Apa mungkin Master Ellen menyadarinya?
-o0o-
Jika dilihat dari garis seragam yang warna-warni, aku rasa seragam paling menakjubkan jatuh kepada tiga siswa.
Pertama, Azel. Garis biru muda dengan motif salju menghiasi garis seragamnya. Kedua, Hue. Garis seragamnya berubah menjadi ungu kehitaman dengan bintik-bintik warna warni, diibaratkan seperti langit malam dengan jutaan bintang. Sihirnya adalah Melodi Alam, cabang dari sihir alam. Ketiga, Kora. Dia mendapatkan sihir lava. Garis seragamnya berubah menjadi oranye dengan garis kuning yang meliuk-liuk di atas warna oranye.
Hanya mereka yang memiliki garis seragam dengan motif. Dan itu membuat mereka benar-benar tampil berbeda.
“Apa mereka itu benar-benar memiliki sihir seperti itu sejak lahir? Aku selalu penasaran dengan itu.” Luna mengunyah roti isi, sembari menatap beberapa kakak kelas yang sedang bercengkrama di seberang kami.
Saat ini kami sedang duduk di bawah gazebo akademi, menghabiskan waktu istirahat kami dengan bersantai sambil menikmati roti isi buatan Master Gensha. Luna juga membawa roti kering dan kami saling berbagi makanan.
“Aku juga penasaran. Mayoritas siswa hanya memiliki satu garis warna, sedangkan mereka memiliki motif tersendiri.” Aku mencomot kue kering dari kotak makan yang Luna bawa kemudian memasukkannya ke dalam mulutku.
Garis seragam milik Luna berganti menjadi hijau karena dia bisa mengendalikan tanaman bahkan dia dengan mudah menumbuhkan tanaman.
Luna menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan remah roti yang menempel di sana. “Oh, ya. Misi berikutnya kau mau satu kelompok denganku, Ra? Aku dengar master mengijinkan satu kelompok dua pengamat.”
“Akan aku pikirkan lagi.”
Kami menghabiskan waktu istirahat dengan saling bertukar cerita, hingga akhirnya kami harus segera kembali ke kelas. Perbincangan sebelumnya terkait menjadi pengamat. Aku lebih dulu mendapatkan tawaran dari Darwin.
“Kak, kau selalu menjalankan misi sendirian? Kenapa?”
Fakta yang baru aku ketahui. Selama ini semenjak Darwin naik kelas tiga, dia selalu menjalankan misinya sendirian. Ketika dia datang menyelamatkanku pun dia tidak membawa teman sama sekali. Aku penasaran dengan semua itu.
Darwin tertawa canggung. “Ya, karena semua tim sudah genap jadi, aku memutuskan untuk menjalankan misi sendirian. Toh, aku juga tidak mendapatkan misi berat seperti yang lainnya.”
“Tapi tetap saja, kau sendirian. Bagaimana jika ada kejadian yang mengancam nyawamu dan tidak ada orang yang tahu?” protesku.
Kenapa dia malah meremehkan nyawanya sendiri? Dia harusnya bisa menolak untuk tidak menjalankan misi karena kurangnya anggota. Tapi, kenapa dia malah memaksakan diri.
Jawaban yang aku dapatkan darinya adalah tawa pelan. Apa mungkin ada sesuatu yang membuatnya harus menjalankan misi sendirian? Atau mungkin tidak ada yang mau satu tim dengannya? Tidak ada cara lain selain mencari tahunya sendiri.
“Baiklah. Aku akan ikut denganmu. Kapan kita mulai menjalankan misinya?”
Senyum Darwin mengembang. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya dan semua itu tergambar jelas di wajahnya.
“Mungkin minggu depan. Aku akan mengabarimu jika ada kabar terbaru.”
-o0o-
Kabar itu datang sangat cepat, terlalu cepat seakan misi kali ini sangat darurat. Darwin mengabarkan kalau kami akan berangkat tiga hari lagi. Tujuan kami adalah Kota Samoza.
“Anda hanya akan berdua dengan Darwin, Putri?” Master Gensha meletakkan handuk ke dalam tasku. Dia sedang menyiapkan perlengkapanku sebelum aku berangkat besok.
“Ya. Aku ingin tahu apa yang membuatnya menjalankan misi sendirian. Juga, mungkin aku bisa tahu apa yang membuat Vinnea menjalin kontrak dengannya.” Aku mendekat ke sofa dan duduk di sana.
Banyak hal yang ingin aku ketahui dari Darwin dan Vinnea, karena itu aku memutuskan untuk ikut.
Master Gensha berdiri, memindahkan tas ransel ke atas sofa. Dia juga memeriksa sepatu sekolahku, memastikan tidak rusak.
“Saya rasa saya sedikit mengerti alasan Vinnea meninggalkan lautan dan memilih daratan. Mungkin itu karena, anda ada di sini, putri. Tidak seperti roh sihir lainnya, Vinnea sangat menaruh hormatnya pada anda. Jika hanya itu satu-satunya cara untuk mengabdikan hidupnya demi anda, dia rela meninggalkan tempat tinggalnya sendiri.”
Aku sempat berpikir hal yang sama.
“Bukankah itu terlalu berisiko? Kerajaan yang dipimpin Vinnea akan mengalami kekosongan kekuasaan. Bagaimana para penduduk melihat hal ini?”
Master Gensha malah tertawa pelan. “Sepertinya anda harus perlu mendapatkan informasi terbaru terkait seluruh kerajaan, Puteri.”
“Apa aku tidak tahu apapun terkait hal ini, Master?” Rasanya memalukan.
Berkomentar dan tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Informasi yang ada di kepalaku hanyalah ingatan tentang tiga tahun yang lalu dan aku tidak tahu informasi terbaru lainnya.
“Boleh saja ceritakan sekarang?”
Aku mengangguk antusias. Aku harus tahu semua hal. Jika semuanya telah berubah, setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan kedepannya.
“Kerajaan yang dipimpin Vinnea kini sudah mendapatkan penerusnya yang baru. Setidaknya selama tiga tahun terakhir. Vinnea yang sebelumnya adalah ratu, dia turun jabatan menjadi pengamat. Dia mengajari penerusnya bagaimana melakukan tugas-tugas kerajaan, hingga bertemu dengan petinggi kerajaan lainnya. Hanya dalam waktu satu tahun, penerus Vinnea sudah menguasai semua yang telah diajarkannya. Dia bahkan membuat beragam terobosan baru. Karena itu, Vinnea sudah bisa lepas tangan terkait urusan tugas kerajaan. Namun dia tetap harus memantau ratu baru yang mengendalikan kerajaan.”
Aku menarik bantal sofa kemudian memeluknya. “Dipimpin lagi oleh ratu?”
Master Gensha mengangguk. “Anda ingat kalau Vinnea memiliki satu anak tunggal perempuan?”
Aku mengangguk.
“Dialah yang memimpin kerajaan sekarang. Jika dikategorikan umurnya, mungkin dia lebih tua 400 tahun dari anda, putri,” kekeh Master Gensha di akhir kalimatnya.
Jika diingat lagi, memang akulah yang memiliki umur paling kecil dari semua roh sihir. Bahkan Master Gensha yang ada di hadapanku saat ini jauh lebih tua dan hampir seumuran dengan Ratu Resha.
Ada sesuatu yang belum aku tanyakan setelah Ratu Resha pulang. Itu tentang orang yang disebutkan olehnya.
“Saat Ratu Resha datang ke sini, dia menyebutkan seseorang, Master. Dia bilang ‘dia juga ada di sini’. Apa kau tahu orang lain yang diperintahkan olehnya selain dirimu?”
Master Gensha mengulas senyum, membuat matanya menyipit dan kumisnya tertarik ke atas. “Anda masih belum menyadarinya? Dia selalu berada di dekat anda, Puteri.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments