Berkeliling kota dengan membagi ke kelompok-kelompok kecil. Aku tidak bisa dengan cepat kembali ke penginapan. Aku berkeliling bersama Azel dan Olin, menyusuri trotoar jalan kota, melewati beberapa rumah bahkan tak jarang menyapa orang-orang yang sedang menarik gerobak berisikan potongan ranting pohon.
“Kota kecil ini setidaknya dihuni dua puluh kepala keluarga. Penghasilan utama mereka adalah kayu bakar. Mereka akan menjualnya ke Pulau Valbu yang menggunakan kayu-kayu itu untuk membakar batu bata buatan mereka.” Penjelasan dari Azel, mengiringi langkah kami.
“Jadi, mereka hanya bisa mengumpulkan kayu ketika siang dan segera kembali sebelum malam? Apa kau percaya ada yang melihat monster itu, Azel?”
“Aku rasa sulit untuk mempercayainya karena mereka tidak benar-benar melihatnya langsung. Tapi, kalaupun mereka benar-benar melihatnya, mereka tidak mungkin masih hidup. Ya, kan?”
Olin menatap sekelilingnya, beberapa orang yang sedang bergotong royong membangun sesuatu. “Jadi monster itu menyerap semua mana yang ada di sini? Dengan begitu, tidak ada penyihir yang bisa masuk ke tempat ini?”
Azel berdeham pelan. “Kurang lebih seperti itu.”
Aku yang berjalan di belakang mereka, menyimak pembicaraan diantara keduanya. “Aku tidak merasakan keberadaan monster itu. Apa dia bergerak hanya pada malam hari atau sejenisnya?”
“Dari saksi Seluku kemarin, ya, begitulah. Sudah beberapa tim yang dikirimkan kesini beberapa bulan terakhir, tapi mereka tidak kembali lagi. Bahkan kapal yang menjemput mereka pun hanya disambut oleh Seluku dengan melaporkan kalau tim yang dikirim menghilang tanpa jejak.”
Ada yang aneh di sini.
“Apa mungkin sebaiknya kita coba patroli ketika malam?”
-o0o-
Malam harinya. Tiga orang yang berpatroli kembali dengan tangan kosong. Aku yang berniat ikut patroli dipaksa Azel untuk berdiam diri di dalam penginapan. Ketika malam, bahkan tanganku akan memutih karena kedinginan yang begitu menusuk. Bahkan tak jarang bibirku ikut mengering, aku kesusahan menelan makanan, hingga jatuh demam.
Di hari ke tujuh, aku tidak bisa bergerak. Hanya berbaring di atas kasur dengan tetap memakai jaket tebalku. Sedangkan yang lainnya kembali patroli. Aku merasa tidak enak hati karena hanya menjadi beban untuk mereka. Tapi, Azel dengan tegas melarangku untuk ikut patroli dengan keadaanku seperti ini.
Aku bisa melihat sorot kekhawatiran dari matanya. Entah kenapa, rasanya begitu menyakitkan ketika melihat diriku sendiri tidak bisa melakukan apapun dan hanya menjadi beban bagi mereka.
Menyebalkan.
“Seharusnya kau tidak usah memilihnya, Azel.”
“Dia hanya menjadi beban tim kita.”
“Apa yang kau pikirkan waktu itu, ha?!”
Perdebatan di luar kamar. Aku yang masih terjaga dengan jelas mendengar pembicaraan mereka. Sebagian besar dari mereka tidak suka melihatku yang tidak melakukan apapun dan malah merepotkan mereka.
“Dia tidak membantu sama sekali, Azel!”
Aku juga ingin membantu kalian, kak Gideon. Tapi tubuhku tidak sanggup… Maaf.
“Dia bahkan tidak ikut menyiapkan makanan dan malah kita yang harus menyiapkan untuknya.”
Tidak makan pun aku tidak masalah, Kak Olin. Maafkan aku.
“Aku tidak bisa menyembuhkannya dengan sihirku.”
Karena memang ini bukan luka yang bisa disembuhkan dengan sihir, Kak Inggrid. Maaf, kak.
Aku pun tidak mau kalau terus terusan seperti ini. Tapi apa yang bisa kuperbuat untuk diriku sendiri? Apa mungkin keputusanku untuk mempelajari sihir adalah salah? Memikirkannya membuat kepalaku sakit.
Aku menarik selimut sampai ke leherku, meringkuk di atas kasur dengan mencoba tidak memikirkan ucapan mereka. Mereka juga tidak salah. Setiap orang pasti akan berpikir seperti itu. Mungkin sebaiknya aku pergi menjalankan misi sendirian dibanding bersama orang lain. Kenapa aku bisa berpikir kalau semua orang akan menerimaku?
Betapa bodohnya aku.
-o0o-
Dini hari. Jam tiga pagi. Aku terbangun di tengah dinginnya malam, tubuhku menggigil, bahkan tulang-tulangku terasa kaku. Tapi aku butuh udara segar. Dengan hati-hati, aku turun dari kasur lalu keluar dari kamar.
Setiap orang pasti sedang tidur sekarang. Mereka juga tidak akan menahanku. Kamar Azel juga tertutup, dia pasti lelah ditambah lagi harus mendapatkan penolakan dari teman-temannya.
Memastikan tidak ada yang menyadari kepergiaanku, aku membuka pintu penginapan dengan hati-hati kemudian keluar dari penginapan. Udara dingin menyambutku di luar penginapan. Langit tampak lebih gelap, namun lampu jalan masih terlihat menyala memberikan sedikit pencahayaan untuk jalan.
Berkat jaket tebal yang kupakai, tubuhku hanya sedikit merasakan kedinginan. Tapi, tanganku tetap kedinginan, jadi aku harus memasukkan tanganku ke saku jaket.
Jalan-jalan pagi harusnya lebih sejuk dibandingkan saat malam. Apa ini termasuk sejuk? Bagiku ini sangat dingin. Dingin seperti sesuatu yang berhembus dari atas.
Atas?
Langkahku seketika terhenti, di tengah jalan kota yang tersusun dari paving dan dikelilingi rumah warga. Aku mendongak, menatap langit yang tidak menyuguhkan gemerlap bintang sama sekali.
“Aku menyadari beberapa hal di sini. Penjelasan tentang monster itu, saksi yang terlibat, bahkan sikap ramah kepala desa, semua itu hanyalah kebohongan. Monster yang sebenarnya adalah kau, kepala desa. Kenapa kau merahasiakan semua ini?”
Wajahku kembali turun, menatap seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di seberang sana.
“Kau menjebak semua penyihir yang ditugaskan di tempat ini untuk mengambil semua mana yang mereka punya. Kau tahu kalau kau tidak bisa hidup tanpa memakan mana penyihir dan kota ini tidak dihuni penyihir satupun. Kau menyambut mereka, kau juga yang menghilangkan mereka lalu berdalih pada awak kapal kalau penyihir akademi menghilang. Kenapa kau melakukan semua ini, Paman?”
“Kau yang tidak tahu apapun, tiba-tiba mengatakan hal aneh? Apa kau sudah tidak waras karena terlalu lama kedinginan? Apa mungkin karena kau mulai ditolak teman-temanmu, kau berpikir bisa menyelesaikannya untuk mengembalikan nama baikmu?” ejek Seluku dengan tangan bergerak-gerak.
Aku menarik keluar tanganku, lalu menggesek-gesekkan telapak tanganku. “Jadi, kau tahu sampai sejauh itu? Kalau begitu apa yang aku ucapkan benar, kan?”
“Kenyataan adalah kenyataan. Apa kau bisa membuktikan padaku kalau aku bersalah?”
Kumasukkan kembali tanganku kembali ke dalam saku jaket kemudian sedikit mengadahkan wajahku menatap langit.
Aku melihat sesuatu seperti asap biru yang bergerak terpisah-pisah. Bukan asap dari sesuatu yang terbakar, mungkin lebih mengarah ke partikel sihir yang tersisa di tempat ini.
“Semua korban saat ini sedang mengawasimu. Mereka mengatakan apa yang terjadi selama di tempat ini. Apa kau juga bisa melihat mereka?”
Seluku tertawa pelan, terdengar lembut seperti saat pertama kali kami bertemu.
“Tidak. Apa kau terlalu banyak berimajinasi, Nak? Atau mungkin kau sedang tidur berjalan?”
“Kau benar. Aku bahkan juga bisa melihat anak perempuanmu yang mengutukmu karena mengorbankan dirinya untuk perjanjianmu dengan iblis—” Perkataanku terhenti ketika sesuatu menggores pipiku.
Cukup dalam hingga luka yang terbuka mengeluarkan darah dan mengalir ke rahangku.
“Untuk ukuran gadis kecil, kau banyak bicara. Bukankah harusnya kau memberitahukan pada temanmu?”
“Kau benar, Paman. Tapi, ada satu temanku yang sangat sensitif pada semua hal yang terjadi padaku.”
Benar. Salah satu dari dua orang yang tidak peduli bagaimana orang lain memandangku, dia akan tetap berada di sisiku.
“Kerja bagus. Sisanya serahkan padaku.” Suara Azel benar-benar terdengar menenangkan. Aku merasakan sihirnya saat melewati beberapa rumah di sekitar penginapan. Apa mungkin dia belajar cara memberikan tanda seperti menanamkan sihir pada suatu benda? Sihir yang akan mengirimkan sinyal jika orang yang ditandai melewati benda tersebut.
“Apa kau akan percaya padanya begitu saja?”
“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayainya.” Azel mengangkat tangan kanannya.
Kesiur angin dingin mulai berhembus mengelilingi tubuhnya. Rasanya lebih menusuk kulit dibandingkan yang biasanya.
Apa mungkin dia sedang marah? Mana di sekitarnya mulai bergemuruh.
“Kau mengarahkan sihirmu ke orang tanpa sihir? Apa seperti itu sikap siswa akademi?” Di seberang sana, Seluku masih tidak ingin mengalah sama sekali.
Pedang es milik Azel mulai muncul.
“Peraturan akademi nomor 9: Utamakan rekan satu tim dan kembalilah ke akademi dengan selamat, apapun yang terjadi. Peraturan nomor 21: Siapapun yang mengancam rekan satu tim, harus dimusnahkan.”
“Kau yakin?” Seluku mengangkat tangan kanannya kemudian menjentikkan jarinya.
Suara yang tidak begitu keras, tapi apa yang mengikutinya adalah sesuatu di luar perkiraanku. Dua monster lain muncul dengan suara yang keras. Mereka melempar beberapa orang yang mereka bawa di ekor mereka ke depan Seluku.
Mereka tampak tidak asing bagiku. Lima orang yang berangkat bersamaku dan satu penginapan denganku. Claud dkk ada di seberang kami dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beberapa bagian tubuh mereka terluka.
“Jadi, setelah aku pergi, kau mengirimkan dua perangkat desa yang setia denganmu untuk menghabisi mereka demi menyudutkan kami?” Pedang di tangannya telah terbentuk dengan sempurna. Hanya berjarak beberapa senti di atas tanah, aura pedang itu sudah bisa membekukan tanah di bawahnya.
“Aku hanya akan memberikan dua pilihan. Kau bisa memilih siapa yang akan kau korbankan? Gadis di belakangmu atau teman-temanmu.” Seluku tidak berniat sedikit pun untuk berpindah tempat. Di depanku dan Azel berdiri Seluku, sedangkan dua monster ular lainnya berada di belakang kami.
Alasan kenapa tidak ada yang tahu bagaimana wujud monster itu karena mereka menghilang begitu tahu siapa yang menjadi monster. Bujukan dari kepala desa terkait keinginan untuk mengatasi monster atau hanya sekedar membahas pemerintahan kota mereka, membuat mereka mau tidak mau mengikuti Seluku. Saat itulah mereka masuk ke dalam perangkap dan tidak bisa kembali lagi.
Seluku dan dua rekannya, memalsukan kematian korban dengan membuat skenario kalau mereka melihat Ghalagg, monster ular piton, yang telah memakan mereka. Sedangkan pada kenyataannya, mereka bertigalah Ghalagg itu sendiri.
“…Aku tidak akan memilih.”
“Sayang sekali, ya… kalau begitu, aku akan membiarkanmu tetap hidup dan memperlihatkan kematian teman-temanmu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments