MoD #9 - Ghalagg

Berkeliling kota dengan membagi ke kelompok-kelompok kecil. Aku tidak bisa dengan cepat kembali ke penginapan. Aku berkeliling bersama Azel dan Olin, menyusuri trotoar jalan kota, melewati beberapa rumah bahkan tak jarang menyapa orang-orang yang sedang menarik gerobak berisikan potongan ranting pohon.

“Kota kecil ini setidaknya dihuni dua puluh kepala keluarga. Penghasilan utama mereka adalah kayu bakar. Mereka akan menjualnya ke Pulau Valbu yang menggunakan kayu-kayu itu untuk membakar batu bata buatan mereka.” Penjelasan dari Azel, mengiringi langkah kami.

“Jadi, mereka hanya bisa mengumpulkan kayu ketika siang dan segera kembali sebelum malam? Apa kau percaya ada yang melihat monster itu, Azel?”

“Aku rasa sulit untuk mempercayainya karena mereka tidak benar-benar melihatnya langsung. Tapi, kalaupun mereka benar-benar melihatnya, mereka tidak mungkin masih hidup. Ya, kan?”

Olin menatap sekelilingnya, beberapa orang yang sedang bergotong royong membangun sesuatu. “Jadi monster itu menyerap semua mana yang ada di sini? Dengan begitu, tidak ada penyihir yang bisa masuk ke tempat ini?”

Azel berdeham pelan. “Kurang lebih seperti itu.”

Aku yang berjalan di belakang mereka, menyimak pembicaraan diantara keduanya. “Aku tidak merasakan keberadaan monster itu. Apa dia bergerak hanya pada malam hari atau sejenisnya?”

“Dari saksi Seluku kemarin, ya, begitulah. Sudah beberapa tim yang dikirimkan kesini beberapa bulan terakhir, tapi mereka tidak kembali lagi. Bahkan kapal yang menjemput mereka pun hanya disambut oleh Seluku dengan melaporkan kalau tim yang dikirim menghilang tanpa jejak.”

Ada yang aneh di sini.

“Apa mungkin sebaiknya kita coba patroli ketika malam?”

-o0o-

Malam harinya. Tiga orang yang berpatroli kembali dengan tangan kosong. Aku yang berniat ikut patroli dipaksa Azel untuk berdiam diri di dalam penginapan. Ketika malam, bahkan tanganku akan memutih karena kedinginan yang begitu menusuk. Bahkan tak jarang bibirku ikut mengering, aku kesusahan menelan makanan, hingga jatuh demam.

Di hari ke tujuh, aku tidak bisa bergerak. Hanya berbaring di atas kasur dengan tetap memakai jaket tebalku. Sedangkan yang lainnya kembali patroli. Aku merasa tidak enak hati karena hanya menjadi beban untuk mereka. Tapi, Azel dengan tegas melarangku untuk ikut patroli dengan keadaanku seperti ini.

Aku bisa melihat sorot kekhawatiran dari matanya. Entah kenapa, rasanya begitu menyakitkan ketika melihat diriku sendiri tidak bisa melakukan apapun dan hanya menjadi beban bagi mereka.

Menyebalkan.

“Seharusnya kau tidak usah memilihnya, Azel.”

“Dia hanya menjadi beban tim kita.”

“Apa yang kau pikirkan waktu itu, ha?!”

Perdebatan di luar kamar. Aku yang masih terjaga dengan jelas mendengar pembicaraan mereka. Sebagian besar dari mereka tidak suka melihatku yang tidak melakukan apapun dan malah merepotkan mereka.

“Dia tidak membantu sama sekali, Azel!”

Aku juga ingin membantu kalian, kak Gideon. Tapi tubuhku tidak sanggup… Maaf.

“Dia bahkan tidak ikut menyiapkan makanan dan malah kita yang harus menyiapkan untuknya.”

Tidak makan pun aku tidak masalah, Kak Olin. Maafkan aku.

“Aku tidak bisa menyembuhkannya dengan sihirku.”

Karena memang ini bukan luka yang bisa disembuhkan dengan sihir, Kak Inggrid. Maaf, kak.

Aku pun tidak mau kalau terus terusan seperti ini. Tapi apa yang bisa kuperbuat untuk diriku sendiri? Apa mungkin keputusanku untuk mempelajari sihir adalah salah? Memikirkannya membuat kepalaku sakit.

Aku menarik selimut sampai ke leherku, meringkuk di atas kasur dengan mencoba tidak memikirkan ucapan mereka. Mereka juga tidak salah. Setiap orang pasti akan berpikir seperti itu. Mungkin sebaiknya aku pergi menjalankan misi sendirian dibanding bersama orang lain. Kenapa aku bisa berpikir kalau semua orang akan menerimaku?

Betapa bodohnya aku.

-o0o-

Dini hari. Jam tiga pagi. Aku terbangun di tengah dinginnya malam, tubuhku menggigil, bahkan tulang-tulangku terasa kaku. Tapi aku butuh udara segar. Dengan hati-hati, aku turun dari kasur lalu keluar dari kamar.

Setiap orang pasti sedang tidur sekarang. Mereka juga tidak akan menahanku. Kamar Azel juga tertutup, dia pasti lelah ditambah lagi harus mendapatkan penolakan dari teman-temannya.

Memastikan tidak ada yang menyadari kepergiaanku, aku membuka pintu penginapan dengan hati-hati kemudian keluar dari penginapan. Udara dingin menyambutku di luar penginapan. Langit tampak lebih gelap, namun lampu jalan masih terlihat menyala memberikan sedikit pencahayaan untuk jalan.

Berkat jaket tebal yang kupakai, tubuhku hanya sedikit merasakan kedinginan. Tapi, tanganku tetap kedinginan, jadi aku harus memasukkan tanganku ke saku jaket.

Jalan-jalan pagi harusnya lebih sejuk dibandingkan saat malam. Apa ini termasuk sejuk? Bagiku ini sangat dingin. Dingin seperti sesuatu yang berhembus dari atas.

Atas?

Langkahku seketika terhenti, di tengah jalan kota yang tersusun dari paving dan dikelilingi rumah warga. Aku mendongak, menatap langit yang tidak menyuguhkan gemerlap bintang sama sekali.

“Aku menyadari beberapa hal di sini. Penjelasan tentang monster itu, saksi yang terlibat, bahkan sikap ramah kepala desa, semua itu hanyalah kebohongan. Monster yang sebenarnya adalah kau, kepala desa. Kenapa kau merahasiakan semua ini?”

Wajahku kembali turun, menatap seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di seberang sana.

“Kau menjebak semua penyihir yang ditugaskan di tempat ini untuk mengambil semua mana yang mereka punya. Kau tahu kalau kau tidak bisa hidup tanpa memakan mana penyihir dan kota ini tidak dihuni penyihir satupun. Kau menyambut mereka, kau juga yang menghilangkan mereka lalu berdalih pada awak kapal kalau penyihir akademi menghilang. Kenapa kau melakukan semua ini, Paman?”

“Kau yang tidak tahu apapun, tiba-tiba mengatakan hal aneh? Apa kau sudah tidak waras karena terlalu lama kedinginan? Apa mungkin karena kau mulai ditolak teman-temanmu, kau berpikir bisa menyelesaikannya untuk mengembalikan nama baikmu?” ejek Seluku dengan tangan bergerak-gerak.

Aku menarik keluar tanganku, lalu menggesek-gesekkan telapak tanganku. “Jadi, kau tahu sampai sejauh itu? Kalau begitu apa yang aku ucapkan benar, kan?”

“Kenyataan adalah kenyataan. Apa kau bisa membuktikan padaku kalau aku bersalah?”

Kumasukkan kembali tanganku kembali ke dalam saku jaket kemudian sedikit mengadahkan wajahku menatap langit.

Aku melihat sesuatu seperti asap biru yang bergerak terpisah-pisah. Bukan asap dari sesuatu yang terbakar, mungkin lebih mengarah ke partikel sihir yang tersisa di tempat ini.

“Semua korban saat ini sedang mengawasimu. Mereka mengatakan apa yang terjadi selama di tempat ini. Apa kau juga bisa melihat mereka?”

Seluku tertawa pelan, terdengar lembut seperti saat pertama kali kami bertemu.

“Tidak. Apa kau terlalu banyak berimajinasi, Nak? Atau mungkin kau sedang tidur berjalan?”

“Kau benar. Aku bahkan juga bisa melihat anak perempuanmu yang mengutukmu karena mengorbankan dirinya untuk perjanjianmu dengan iblis—” Perkataanku terhenti ketika sesuatu menggores pipiku.

Cukup dalam hingga luka yang terbuka mengeluarkan darah dan mengalir ke rahangku.

“Untuk ukuran gadis kecil, kau banyak bicara. Bukankah harusnya kau memberitahukan pada temanmu?”

“Kau benar, Paman. Tapi, ada satu temanku yang sangat sensitif pada semua hal yang terjadi padaku.”

Benar. Salah satu dari dua orang yang tidak peduli bagaimana orang lain memandangku, dia akan tetap berada di sisiku.

“Kerja bagus. Sisanya serahkan padaku.” Suara Azel benar-benar terdengar menenangkan. Aku merasakan sihirnya saat melewati beberapa rumah di sekitar penginapan. Apa mungkin dia belajar cara memberikan tanda seperti menanamkan sihir pada suatu benda? Sihir yang akan mengirimkan sinyal jika orang yang ditandai melewati benda tersebut.

“Apa kau akan percaya padanya begitu saja?”

“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayainya.” Azel mengangkat tangan kanannya.

Kesiur angin dingin mulai berhembus mengelilingi tubuhnya. Rasanya lebih menusuk kulit dibandingkan yang biasanya.

Apa mungkin dia sedang marah? Mana di sekitarnya mulai bergemuruh.

“Kau mengarahkan sihirmu ke orang tanpa sihir? Apa seperti itu sikap siswa akademi?” Di seberang sana, Seluku masih tidak ingin mengalah sama sekali.

Pedang es milik Azel mulai muncul.

“Peraturan akademi nomor 9: Utamakan rekan satu tim dan kembalilah ke akademi dengan selamat, apapun yang terjadi. Peraturan nomor 21: Siapapun yang mengancam rekan satu tim, harus dimusnahkan.”

“Kau yakin?” Seluku mengangkat tangan kanannya kemudian menjentikkan jarinya.

Suara yang tidak begitu keras, tapi apa yang mengikutinya adalah sesuatu di luar perkiraanku. Dua monster lain muncul dengan suara yang keras. Mereka melempar beberapa orang yang mereka bawa di ekor mereka ke depan Seluku.

Mereka tampak tidak asing bagiku. Lima orang yang berangkat bersamaku dan satu penginapan denganku. Claud dkk ada di seberang kami dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beberapa bagian tubuh mereka terluka.

“Jadi, setelah aku pergi, kau mengirimkan dua perangkat desa yang setia denganmu untuk menghabisi mereka demi menyudutkan kami?” Pedang di tangannya telah terbentuk dengan sempurna. Hanya berjarak beberapa senti di atas tanah, aura pedang itu sudah bisa membekukan tanah di bawahnya.

“Aku hanya akan memberikan dua pilihan. Kau bisa memilih siapa yang akan kau korbankan? Gadis di belakangmu atau teman-temanmu.” Seluku tidak berniat sedikit pun untuk berpindah tempat. Di depanku dan Azel berdiri Seluku, sedangkan dua monster ular lainnya berada di belakang kami.

Alasan kenapa tidak ada yang tahu bagaimana wujud monster itu karena mereka menghilang begitu tahu siapa yang menjadi monster. Bujukan dari kepala desa terkait keinginan untuk mengatasi monster atau hanya sekedar membahas pemerintahan kota mereka, membuat mereka mau tidak mau mengikuti Seluku. Saat itulah mereka masuk ke dalam perangkap dan tidak bisa kembali lagi.

Seluku dan dua rekannya, memalsukan kematian korban dengan membuat skenario kalau mereka melihat Ghalagg, monster ular piton, yang telah memakan mereka. Sedangkan pada kenyataannya, mereka bertigalah Ghalagg itu sendiri.

“…Aku tidak akan memilih.”

“Sayang sekali, ya… kalau begitu, aku akan membiarkanmu tetap hidup dan memperlihatkan kematian teman-temanmu.”

Episodes
1 MoD #1 - Aku
2 MoD #2 - Gramgramillo
3 MoD #3 - Pertemuan pertama
4 MoD #4 - Master Gensha
5 MoD #5 - Azel
6 MoD #6 - Tim Azel
7 MoD #7 - Manis
8 MoD #8 - Pulau Domase
9 MoD #9 - Ghalagg
10 MoD #10 - Sortin
11 MoD #11 - Bolehkah..?
12 MoD #12 - Mimpi yang aneh
13 MoD #13 - Ratu Resha
14 MoD #14 - Misi berikutnya
15 MoD #15 - Dia juga Darwin (?)
16 MoD #16 - Kontrak Baru
17 MoD #17 - Maaf
18 MoD #18 - Thandazani
19 MoD #19 - Kisah itu
20 MoD #20 - Si Kembar
21 MoD #21 - Hubungan
22 MoD #22 - Wind Breaker
23 MoD #23 - Awal
24 MoD #24 - Emosi
25 MoD #25 - Zukol
26 MoD #26 - Pertarungan (1)
27 MoD #27 - Pertarungan (2)
28 MoD #28 - Pertarungan (3)
29 MoD #29 - Dia yang dirindukan
30 MoD #30 - Iblis ketiga, Darzi
31 MoD #31 - Pertemuan itu
32 MoD #32 - Pertemuan kedua
33 MoD #33 - Memantau
34 MoD #34 - Ellen
35 MoD #35 - Saat itu
36 MoD #36 - Rencana berikutnya
37 MoD #37 - Jalan-jalan
38 MoD #38 - Menyambut sejarah
39 MoD #39 - Pengorbanan
40 MoD #40 - Sejarah Baru
41 MoD #41 - Selamat tinggal, Luna
42 MoD #42 - Bagaimana Jika(?)
43 MoD #43 - Codename 'Ota'
44 MoD #44 - Koloseum
45 MoD #45 - Tamu
46 MoD #46 - Siapa kau?
47 MoD #47 - Kesepakatan
48 MoD #48 - Guncangan emosi
49 MoD #49 - Kondisi Warga
50 MoD #50 - Wind of Heal
51 MoD #51 - Dunia yang kau inginkan
52 MoD #52 - Desa Yafga
53 MoD #53 - Kondisi ratu
54 MoD #54 - Jarak
55 MoD #55 - Bagaimana caraku menghiburmu?
56 MoD #56 - Bukankah kita sama?
57 MoD #57 - Suasana Mencekik
58 MoD #58 - Jangan mendekat
59 MoD #59 - Suho
60 MoD #60 - Berkumpul
61 MoD #61 - Tolong dia
62 MoD #62 - Di luar perkiraan
63 MoD #63 - Keluarga
64 MoD #64 - Rumit
65 MoD #65 - Laporan
66 MoD #66 - Curhat
67 MoD #67 - Hari yang seperti biasa
Episodes

Updated 67 Episodes

1
MoD #1 - Aku
2
MoD #2 - Gramgramillo
3
MoD #3 - Pertemuan pertama
4
MoD #4 - Master Gensha
5
MoD #5 - Azel
6
MoD #6 - Tim Azel
7
MoD #7 - Manis
8
MoD #8 - Pulau Domase
9
MoD #9 - Ghalagg
10
MoD #10 - Sortin
11
MoD #11 - Bolehkah..?
12
MoD #12 - Mimpi yang aneh
13
MoD #13 - Ratu Resha
14
MoD #14 - Misi berikutnya
15
MoD #15 - Dia juga Darwin (?)
16
MoD #16 - Kontrak Baru
17
MoD #17 - Maaf
18
MoD #18 - Thandazani
19
MoD #19 - Kisah itu
20
MoD #20 - Si Kembar
21
MoD #21 - Hubungan
22
MoD #22 - Wind Breaker
23
MoD #23 - Awal
24
MoD #24 - Emosi
25
MoD #25 - Zukol
26
MoD #26 - Pertarungan (1)
27
MoD #27 - Pertarungan (2)
28
MoD #28 - Pertarungan (3)
29
MoD #29 - Dia yang dirindukan
30
MoD #30 - Iblis ketiga, Darzi
31
MoD #31 - Pertemuan itu
32
MoD #32 - Pertemuan kedua
33
MoD #33 - Memantau
34
MoD #34 - Ellen
35
MoD #35 - Saat itu
36
MoD #36 - Rencana berikutnya
37
MoD #37 - Jalan-jalan
38
MoD #38 - Menyambut sejarah
39
MoD #39 - Pengorbanan
40
MoD #40 - Sejarah Baru
41
MoD #41 - Selamat tinggal, Luna
42
MoD #42 - Bagaimana Jika(?)
43
MoD #43 - Codename 'Ota'
44
MoD #44 - Koloseum
45
MoD #45 - Tamu
46
MoD #46 - Siapa kau?
47
MoD #47 - Kesepakatan
48
MoD #48 - Guncangan emosi
49
MoD #49 - Kondisi Warga
50
MoD #50 - Wind of Heal
51
MoD #51 - Dunia yang kau inginkan
52
MoD #52 - Desa Yafga
53
MoD #53 - Kondisi ratu
54
MoD #54 - Jarak
55
MoD #55 - Bagaimana caraku menghiburmu?
56
MoD #56 - Bukankah kita sama?
57
MoD #57 - Suasana Mencekik
58
MoD #58 - Jangan mendekat
59
MoD #59 - Suho
60
MoD #60 - Berkumpul
61
MoD #61 - Tolong dia
62
MoD #62 - Di luar perkiraan
63
MoD #63 - Keluarga
64
MoD #64 - Rumit
65
MoD #65 - Laporan
66
MoD #66 - Curhat
67
MoD #67 - Hari yang seperti biasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!