Aku tidak menemukan laki-laki yang menolongku tadi. Dia menghilang namun anggota timnya masih di sana, membantu penyihir untuk menyingkirkan puing-puing bangunan yang berserakan. Aku merasa pernah bertemu laki-laki itu, tapi di mana dan kapan?
“Tidak banyak, El. Aku harap kau menerimanya.” Sepuluh lembar uang disodorkan pada Master Ellen.
Merasa tidak enak hati, Master Ellen memilih menolak. “Tidak. Tidak perlu, Master. Uangku masih cukup kok. Sebaiknya Master simpan uang itu untuk keperluan lainnya.”
Master Gensha menarik tangan Master Ellen kemudian meletakkan uang ke tangannya. “Ambil saja. Anggap saja balasan karena kau dan muridmu sudah menyelamatkan Kiara.”
Tidak bisa menolak lagi, Master Ellen menggenggam uang di tangannya kemudian membungkuk. “Terima kasih banyak.”
“Bagaimana kalau kita pulang sekarang, Kiara? Aku masih harus mengurus beberapa hal.” Master Gensha melempar pertanyaannya padaku.
Aku hanya bisa mengangguk. Berpamitan dengan Master Ellen, sebelum akhirnya pergi bersama Master Gensha. Kira-kira tiga tahun yang lalu pertemuan terakhir kami. Bahkan kami tidak saling bicara. Dia selalu sibuk dengan urusannya sebagai pelayan.
Rasanya canggung.
“Maafkan laki-laki tua ini yang selalu saja telat, Putri.” Master Gensha membuka pembicaraan. Logatnya mulai berubah, lebih kalem lagi.
“Tapi kali ini kau datang tepat waktu, Master. Aku rasa kau bisa berbicara normal padaku, Master.” Aku tertawa pelan setelah mendengar perubahan nada ucapan Master Gensha. Padahal di depan Master Ellen dia bisa bicara normal.
“Saya rasa hanya bisa melakukannya di depan orang lain, Puteri,” kekeh Master Gensha. Dia berbelok masuk ke dalam gang rumah. Aku yang berjalan di sebelahnya hanya bisa diam dan mengikutinya. Benar juga, apa mungkin laki-laki itu juga diperintah oleh Master?
“Master, apa kau kenal laki-laki yang memakai sihir es itu?”
“Ya.” Dia hanya menjawab singkat.
Aku menoleh, karena dia tidak menyambung kalimatnya. “Siapa namanya?”
Master Gensha tersenyum kemudian berhenti. “Besok anda akan mengetahuinya. Untuk saat ini, saya sarankan untuk istirahat.”
Tangannya terbuka, bergerak menunjuk sebuah rumah mewah di depannya.
Rumah dua lantai yang semua cat dindingnya warna putih. Gerbang besi menjadi pintu masuk utama ke rumah tersebut. Beberapa tanaman hias ditanam di taman depan rumah untuk mempercantik suasana rumah.
Halamannya pun sangat luas dengan beberapa lampu taman dan juga bangku.
“Silakan.” Master Gensha membuka gerbang dan mempersilakan bagiku untuk masuk.
Sembari melangkah masuk, aku menoleh ke sana kemari menatap pagar tanaman setinggi setengah meter yang ditanam dari pagar sampai ke depan rumah.
“Apa kau sendiri yang membangun rumah ini, Master?”
“Ya. Walaupun masih kurang megah dibandingkan istana utama. Jika kau kurang nyaman, kita bisa pindah ke rumah yang lebih besar, Putri.” Master Gensha mengikuti dari belakang.
Aku menggeleng, tidak setuju. “Tidak. Tidak perlu. Ini sudah cukup.”
Master Gensha berjalan mendahului untuk membuka pintu rumahnya. Pintu cokelat terang dengan gagang pintu perak terbuka ke dalam. Udara dingin dari pendingin ruangan berhembus menyambutku.
“ACnya terlalu dingin. Saya akan mengaturnya ulang.”
Bahkan tanpa aku minta pun dia tahu apa yang aku inginkan. “Terima kasih.”
Aku berjalan masuk, menapak di lantai keramik yang berkilau. Ruang tamu menjadi ruangan pertama yang menyambutku, layaknya rumah pada umumnya. Di belakang ruang tamu terdapat sekat pilar lebar yang memberi batas untuk ruang tamu dan ruang santai.
“Apa kau tinggal di sini sendirian, Master?” Aku memilih duduk di sofa panjang dengan meja kaca di depannya, sedangkan di seberang sana adalah televisi besar.
“Ada satu orang lagi yang sering main ke sini.” Master Gensha menuju dapur yang mana berlawanan dengan ruang santai dan tidak terlihat adanya sekat, hanya ada meja panjang yang menjadi pembatas akhir dapur.
“Dia tinggal di sini?”
Master Gensha meraih remote AC kemudian mengubah suhunya agar tidak terlalu dingin.
Setelah itu, dia pindah ke dapur dan membuka kulkas. “Tidak. Dia hanya kemari karena bosan, Putri. Saya rasa mungkin mulai sekarang dia akan jarang ke sini.”
Menatap beberapa saat apa yang ada di dalamnya, dia pun menarik keluar mangkuk berisikan buh-buahan. Kemudian meletakkannya ke atas meja dapur.
Aku menarik bantal sofa kemudian memeluknya. Mendengarnya saja membuat berpikir kalau keberadaanku di rumah ini tidak diterima olehnya. “Kenapa? Apa aku mengganggunya?”
“Bukan seperti itu, Putri. Dia hanya sedikit pemalu. Dia juga ada di sana, salah satu orang yang menolongmu.” Master Gensha menjawab sambil mengupas apel.
“Yang mana satu, Master? Yang ada di sekitarku tadi ada banyak,” gerutuku pelan, mengangkat kakiku ke sofa dan duduk bersila.
Master Gensha malah tertawa pelan. Dia menata potongan apel ke piring kemudian membawanya mendekat padaku. “Lain waktu anda pasti bertemu dengannya. Menunggu makan siang siap, silakan nikmati buah yang saya potong.”
Aku mengangguk, mengulurkan tanganku mengambil satu potong apel. “Terima kasih.”
Master Gensha kembali ke dapur, memakai apron putih dan mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan. “Ini pertama kalinya bagi saya memasak untuk anda, Putri. Apa anda alergi sesuatu?”
“Aku rasa tidak. Hanya saja, aku tidak suka makanan pedas.” Aku kembali mengambil potongan apel kemudian mengunyahnya pelan.
“Baiklah.” Setelah itu, Master Gensha sibuk dengan pisau di tangannya.
Memotong-motong sayuran menjadi kecil-kecil kemudian menyisihkan ke mangkuk kaca. Begitu seterusnya hingga dia pindah ke depan kompor.
“Omong-omong, Master, bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Saya ditugaskan di kota ini sejak setahun yang lalu. Ratu Resha merasakan sesuatu yang aneh di kota ini, karena itu beliau mengutus saya untuk mencari tahu hal yang mengganggunya.”
Menghabiskan satu potong lagi, aku mengambil potongan yang tersisa kemudian memakannya. “Sesuatu seperti iblis?”
“Saya rasa seperti itu.”
Aku berdeham panjang sembari mengunyah apel di dalam mulutku. “Master, apa kau tahu monster kelabang yang muncul kemarin malam di akademi?”
“Ya. Ketika saya tiba, Ellen sudah bisa mengatasinya. Apa anda berpikir monster itu memang berasal dari akademi? Seperti ada seseorang yang mengembangkannya?”
Aku mengangguk, menatap sisa apel di tanganku. “Aku pikir setelah dia dikalahnya, kawanannya akan muncul, tapi itu tidak terjadi. Jadi, mungkin saja dia dikembangkan oleh seseorang karenanya dia tidak bisa memanggil bala bantuan. Monster yang menyerang warga juga muncul tapi tidak ada yang setingkat dengan monster kelabang itu.”
Master Gensha menuangkan potongan kentang ke air yang mendidih, kemudian mengaduknya pelan. “Anda benar, Putri. Saya tidak sempat membantu menumbangkan monster itu, tapi saya menemukan orang di balik kemunculan monster itu.”
Melempar pelan sisa apel di tanganku ke dalam mulutku, aku menoleh. “Benarkah? Apa sekarang dia di penjara?”
“Semua kejahatan harus diadili. Itu peraturan di kota ini.”
Tanpa bertanya dua kali, aku tahu kalau Master Gensha menyingkirkan orang itu dengan caranya. Tidak ada potongan apel lagi, aku pun menunggu Master Gensha selesai memasak dengan berbaring di sofa yang empuk.
“Master, kau tidak ke akademi?”
“Dan, meninggalkan anda sendirian di sini?” kekeh Master Gensha.
Aku ingin segera bisa mengendalikan sihirku, setidaknya aku harus bisa melindungi diriku sendiri dan tidak merepotkan orang lain.
-o0o-
“Bagaimana kalau mereka tahu sihirku, Master?” Aku duduk memeluk bantal sofa.
Beberapa saat yang lalu, kami membicarakan tentang akademi.
Dia ingin aku membaur dengan orang-orang. Karena dengan begitu, Master Gensha bisa melindungiku selama kami di tempat yang sama.
Master Gensha yang berdiri di samping sofa menjawab lembut. “Saya dengar banyak siswa yang juga tidak memiliki sihir, puteri. Mereka bisa masuk akademi karena peringkat. Tes yang diberikan pun terbagi menjadi dua. Saya akan menjadi wali anda dan memberitahu guru akademi tentang tes akademi anda.”
Seperti itulah pembicaraanku dengan Master Gensha tadi malam. Lalu sekarang aku berdiri di depan sebuah kelas yang nantinya akan menjadi kelasku. Rasanya aku lebih gugup daripada ketika harus menghadap Ratu Resha.
Pintu di depanku terbuka, aku sempat terperanjat. Master Ellen tersenyum kemudian mempersilakan bagiku untuk masuk.
“Masuklah.”
Sekali menghela napas pelan, aku memantapkan langkah memasuki kelas. Sudah pasti semua mata menatap ke arahku. Jika tebakanku benar, total siswa di kelas ini adalah 27 siswa. Ditambah aku, berarti ada 28 siswa.
Aku berdiri di depan kelas, menatap wajah asing yang belum pernah kutemui. Beberapa diantara mereka berbisik, sesekali tertawa pelan.
“Silakan perkenalkan dirimu, Ra,” pinta Master Ellen.
“Hai, teman-teman. Salam kenal. Namaku Kiara Loffy. Kalian bisa memanggilku Kiara. Terima kasih.” Aku memperkenalkan diri secara singkat.
“Mulai sekarang Kiara akan menjadi anggota dari kelas ini. Kalian tolong bantu dia, ya.”
Master Ellen kembali mengambil atensi setelah kelas sempat berisik. “Kau bisa duduk di bangku paling belakang, Ra.”
Hanya ada satu bangku yang masih kosong dan itu tepat di sebelah gadis berambut hijau teduh. Aku bisa merasakan kalau dia memiliki sihir tanaman, hanya dengan menatap matanya.
Aku pun nurut dan berjalan mendekat ke bangkuku. “Hai,” sapaku.
Gadis itu hanya tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Apa dia tidak mau berbicara dengan siswa baru? Atau mungkin dia hanya tidak ingin diganggu?
Sepanjang pelajaran, aku mencoba menyesuaikan diri dengan kelas. Memahami deretan kalimat yang tercetak di buku tebal di depanku. Pelajaran pertama tentang sihir.
“Sihir sudah digunakan sejak lebih dari dua abad yang lalu. Jenisnya pun mulai beragam dan semakin mengembang. Sekarang atribut sihir hampir mencapai 20 jenis atau bahkan lebih. Sihir berkembang sesuai dengan penggunanya. Tidak menutup kemungkinan satu sihir berkembang menjadi beberapa sihir namun dengan sihir dasar yang sama. Kalian bisa membaca penjelasan sihir di perpustakaan akademi atau kalau ingin yang lebih lengkap ada di perpustakaan sihir yang ada di tengah kota. Saya lanjutkan dengan penjelasan sekilas mengenai penggunaan sihir.”
Master Elen menjelaskan hingga jam pelajaran selesai. Begitu selesai, dia keluar dari kelas. Pelajaran pertama selesai. Satu hari mendapatkan dua pelajaran dengan satu jam istirahat dan sekarang semua siswa mulai meninggalkan kelas.
Karena aku tidak membawa uang saku, alhasil aku hanya diam di kelas. Gadis di sampingku juga hanya diam dan masih saja berkutat dengan buku di depannya.
“Hai, aku Kiara. Siapa namamu?” Rasanya canggung kalau hanya diam saja. Meskipun mungkin dia tidak ingin menanggapiku, setidaknya aku sudah berusaha.
“Luna.” Dia menjawab singkat, membalikkan bukunya dan kembali menulis. “Bicara saja dengan orang lain, jangan denganku,” imbuhnya.
Aku menoleh, menatap seisi kelas yang sudah kosong. “Memangnya aku harus bicara sama siapa?”
Luna mengangkat wajahnya dan menatap sekelilingnya, setelah itu dia kembali menunduk. “Aku rasa kau harus mencoba membaur dengan mereka, jika tidak, kau tidak akan memiliki teman.”
“Kalau begitu, kau bisa menjadi teman pertamaku. Lagipula aku terbiasa sendiri, jadi tidak peduli kalau tidak ada yang mau berteman denganku.”
Tidak ada jawaban apapun dari Luna. Aku pun hanya bisa diam dan tidak memulai pembicaraan lagi. Sepertinya mencari teman itu sulit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments