“Anda ingin saya mengajari anda mengendalikan sihir?”
Aku mengangguk mantap, memeluk bantal sofa, menatap ke arah Master Gensha yang baru saja meletakkan sepiring dim-sum ke atas meja. “Aku rasa aku tidak bisa melakukannya sendiri, Master. Setidaknya kau bisa membantuku kalau sihirku lepas kendali.”
“Anda memiliki sihir yang memukau, Putri. Anda pasti bisa mengendalikannya.” Master Gensha menyanggah.
Aku memeluk bantal sofa semakin erat. “Sihirku bahkan belum bangkit, Master. kalau saja sudah bangkit, mungkin aku bisa menyelamatkan orang tuaku. Ratu Resha bilang kalau sihirku bisa mengubah malam menjadi siang, begitu juga sebaliknya. Tapi, jangankan mengubah malam, mengendalikannya saja aku tidak bisa. Berhentilah menyanjungku yang tidak bisa melakukan apapun, Master.”
Sebagai calon ratu, aku tidak bisa berpangku tangan dan melihat orang-orang yang kusayangi terluka karena melindungiku.
“Maafkan saya, Puteri. Saya tidak bermaksud membuat anda semakin terpuruk. Jika saya bisa membantu, saya akan dengan suka rela melakukannya.” Master Gensha menekuk lututnya dan menundukkan kepalanya.
Aku tidak ingin membalas apapun, menyembunyikan wajahku ke bantal.
“Kalau saya boleh bicara, sihir cahaya adalah sihir yang unik. Dia tidak akan bangkit kecuali penggunanya berhasil menguasai beberapa jenis sihir sekaligus. Apakah anda tahu kalau roda warna-warni diputar dengan cepat, dia akan menghasilkan warna putih?”
Aku sedikit mengangkat wajahku, mengintip Master Gensha yang masih berlutut di seberang sana.
“Jika sihir diibaratkan dengan warna-warna itu, maka sihir cahaya merupakan perwujudan dari semua sihir itu. Sihir-sihir yang anda pelajari akan menyatu dalam tubuh anda dan sihir cahaya akan bangkit dengan sendirinya.
Tidak seperti sihir pada umumnya, sihir cahaya memiliki waktu kebangkitan yang sangat lama, mengingat pemiliknya harus bisa menguasai berbagai sihir,” jelas Master Gensha lebih lanjut.
“Jadi, aku harus mulai dari satu sihir lebih dulu?”
Master Gensha mengangkat wajahnya menatapku. “Karena tidak ada yang instan di dunia ini, dan sepertinya anda harus melewati banyak hal untuk bisa ke tujuan anda, putri. Apakah anda tetap ingin membangkitkan sihir anda?”
Aku mengangguk mantap.
“Hingga sihir anda benar-benar bangkit, anda tidak akan terdeteksi sebagai pemilik sihir cahaya oleh iblis tingkat rendah-menengah. Tapi, jika sihir anda sudah bangkit, anda mungkin akan lebih banyak mendapatkan incaran dari iblis tingkat tinggi, apakah anda tetap ingin melakukannya? Meskipun nantinya anda akan lebih sering terluka?”
Aku meletakkan bantal sofa ke sampingku kemudian berdiri menghampiri Master Gensha. Berdiri jarak lima langkah darinya. “Tujuanku melakukannya agar saat kau dan yang lainnya terluka, aku bisa melindungi kalian. Kalau saja aku bisa sedikit meringankan beban kalian atau bahkan bisa berdiri sejajar dengan kalian, aku akan melakukan apapun. Karena berdiri di tempat tinggi sendirian itu menakutkan. Bantu aku, Master.”
Master Gensha tersenyum dan kembali menundukkan kepalanya. “Sesuai perintah anda, putri.”
-o0o-
“Putri, anda perlu tahu kalau di kota ini ada orang lain yang tahu sihir anda selain saya.” Master Gensha meletakkan spagetti ke depanku, kemudian sedikit menarik dirinya menjaga jarak dari meja makan.
Aku yang berniat menarik piring seketika terhenti. Mengerjapkan mata berulang kali, memastikan apa yang aku dengar tidak salah. “Kenapa kau membiarkannya, Master?”
Master Gensha malah tertawa pelan. “Saya rasa dia orang yang cocok untuk mendampingimu, Putri. Dan karena dia juga memiliki hubungan dengan Ratu Resha, jadi mustahil kalau dia tidak tahu.”
Eh? Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Ada orang lain yang tahu sihirku dan dia ada di kota ini. Siapa orang itu? Bagaimana reaksiku ketika bertemu dengannya?
“Besok saya akan mengenalkannya pada anda.”
.
.
.
Keesokan harinya.
Sungguh aku tidak bisa berkata-kata lagi. Menunduk, memainkan jari jemariku di pangkuanku. Siapa yang menyangka kalau orang yang dimaksud Master Gensha itu adalah Kak Azel?!!! Apa dunia sesempit ini?!!
Ah… wajahku pasti merah lagi!!
“Kau yakin hanya pesan itu? Kau mau aku pesankan kentang goreng?”
Aku menggeleng. “Cukup.”
Ya, kami sedang berada di sebuah kafe. Setelah mengantarku, Master Gensha pergi. Dia bilang kalau akan menyiapkan makan malam dan memintaku untuk pulang sebelum malam. Dan sekarang tinggallah aku dan Azel di satu meja yang sama.
“Kenapa kau terus menunduk, Ra? Wajahku serem?”
Merasa seseorang menyentuh poni rambutku, aku mengangkat wajah. Ya, pelakunya tidak lain adalah Azel.
Dia tersenyum dengan tangan kiri menopang dagunya. “Apa aku masih terlihat serem?”
Rasanya aku seperti pernah melihat senyum yang sama. Seorang anak kecil laki-laki yang mencoba menghiburku ketika kakiku terluka.
Kapan kejadian itu? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
Apa dia hanya tersenyum ketika bersamaku?
Singkirkan dulu perasaan aneh ini, aku harus bertanya padanya. “Kak, kau yakin mau membantuku? Bukankah kau masih harus menjalan misi juga?”
“Kalau begitu, aku hanya perlu membawaku ketika aku dapat misi. Apa kau sudah memilih sihir pertamamu?” Azel mengaduk pelan latte pesanannya. Dia bahkan tidak mengalihkan wajahnya dariku.
Aku menggeleng pelan, sedikit menyeruput jus alpukat pesananku. “Aku belum memikirkannya.”
“Bagaimana kalau setelah ini kau ikut denganku? Ke tempat latihan.”
-o0o-
Tempat latihan yang dimaksud adalah sebuah stadion yang ada di dekat akademi. Luasnya mungkin hanya 10meter persegi. Bagian dalamnya tidak memiliki tempat duduk sama sekali dan hanya ada ruangan yang luas.
Azel menjelaskan jika bangunan itu merupakan milik akademi dan masih ada banyak lagi bangunan seperti itu yang berdiri di sekitarnya. Jadi bisa dibilang satu kompleks berisikan stadion latihan.
“Timku selalu menggunakan stadion ini. Kami sering memakainya ketika libur sekolah.” Azel mengiringi langkahku yang pelan, sesekali menatapku yang sibuk mengamati bangunan setinggi sepuluh meter di sekitarku.
“Aku pikir akan banyak siswi yang menunggumu di sini.” Faktanya tidak ada satu orang pun sepanjang jalan. Karena Azel itu terkenal harusnya banyak yang ingin melihatnya berlatih.
“Kenapa? Kau cemburu?” goda Azel.
Spontan aku menoleh dan membantah.
“Tidak! Berhenti menggodaku, kak!”
Azel hanya tertawa kecil sambil menepuk-nepuk puncak rambutku. Dia mengajakku untuk masuk ke dalam stadion latihannya.
Tidak ada suara apapun dari luar, tapi begitu masuk ke dalam sangat berisik. Pertarungan penyihir satu lawan satu menggelegar di dalam ruangan.
Termasuk Azel, jumlah siswa yang ada di dalam ruangan adalah enam. Empat laki-laki dan dua perempuan. Es, api, petir, sihir pemanggil, penyembuhan, dan ketahanan tubuh. Komposisi tim yang luar biasa.
“Tetaplah di belakang pelindung, agar mereka tidak bisa melukaimu.” Azel berdiri dengan tetap menjaga jarak dari sebuah pelindung transparan yang bersinar redup.
Tontonan di depan kami, siswa yang memiliki ketahanan tubuh melawan siswa dengan sihir petir.
Debaman terus menerus terdengar seiring berpindahnya siswa dengan ketahanan tubuh itu. Dia dikejar oleh bola petir yang terus mengejarnya tanpa henti. Secara teknis, dia tipe penyihir jarak dekat, sedangkan lawannya penyihir jarak jauh.
Selama dia bisa mengikir jarak dengan penyihir petir itu, dia bisa memenangkannya. Tapi, penyihir petir itu tahu kelemahannya dan memilih terus melancarkan serangannya dan mendorong lawannya untuk menjauh.
“Jarang melihatmu telat, Azel.”
Dua siswi berseragam akademi melangkah mendekat. Sihir penyembuhan mengubah seragamnya menjadi aqua dan sihir pemanggil mengubah seragamnya menjadi pistachio (sejenis dengan warna kuning).
“Dan, siapa ini? Kenalanmu?” satu siswi berambut pendek merah melangkah mendekatiku, memamerkan senyum ramahnya.
“Begitulah. Aku mengajaknya karena dia ingin melihat beberapa sihir.” Azel menjawab untukku.
Aku mengangguk. “Salam kenal, kak. Aku Kiara, kelas satu.”
“Salam kenal. Aku Rissa.” Siswi berambut merah memperkenalkan dirinya.
Kemudian di sebelahnya, gadis berambut panjang yang dikepang. “Aku Inggrid. Salam kenal.”
Satu lagi laki-laki yang berdiri mengamati kedua temannya yang sedang bertarung. Dari keenam siswa yang ada di ruangan ini, hanya Azel yang memiliki aura sangat kuat. Tidak banyak di kota ini yang memiliki aura setara dengan Azel.
Setahuku hanya Master Gensha, selain itu tidak ada. Bahkan Master Ellen pun masih di bawah kedua orang itu.
“Apa kau akan membawanya bersama kita saat misi?” Inggrid bertanya pada Azel.
“Padahal kita belum diminta untuk mencari ‘pengamat’ dan kau sudah memutuskannya sendiri?” sindir Rissa.
“Setidaknya mempersiapkannya lebih dulu tidak ada yang salah, bukan?” Azel menoleh ke arah tiga laki-laki yang berdebat di seberang kami.
Ah, tanpa sadar pertarungan mereka sudah selesai. Siapa pemenangnya, aku rasa mereka sedang memperdebatkan hal itu.
“Hei! Kalian kemarilah!” teriak Azel.
“Ra, kau memiliki sihir apa? Mungkin sama sepertiku?” Inggrid mengangkat tangan kirinya memamerkan sihir penyembuhan yang berbentu gumpalan cahaya hijau.
“Kita akan tahu saat semuanya sudah jelas.” Azel menyahut.
Sihir pertama yang akan aku coba akan menjadi sihir yang dikenal oleh orang-orang. Tapi, jika di lingkup sekolah yang selalu mengedepankan sihir, aku rasa kelak warna seragamku tidak akan berubah karena pada dasarnya sihir yang mengalir dalam tubuhku adalah sihir cahaya.
“Aku perkenalkan, dia Gideon. Sebelahnya Olin, dan terakhir Claud.” Azel memperkenalkan tiga laki-laki yang mendekat.
Yang rambutnya keriting namanya Gideon, dia pemilik sihir ketahanan tubuh. Olin, rambutnya warna ungu dan sedikit lurus keatas, pemilik sihir petir. Dan Claud, dengan potongan rambut rapi dan disisir ke belakang dan berkamata, pemilik sihir api.
Aku mengangguk. “Salam kenal. Aku Kiara.”
“Apa dia siswi baru? Aku baru pertama kali melihatnya.” Claud bertanya sambil menaikkan kacamatanya.
Azel menoleh. “Baru beberapa hari terakhir.”
“Kau yakin akademi mengijinkan kita memilih sendiri ‘pengamat’ tim?” Olin melipat tangannya, menatapku dan Azel bergantian.
“Aku yang akan mengurusnya. Kita akan membawanya bersama kita, dua minggu lagi.”
-o0o-
“Kau tidak perlu mengantarku sampai rumah, kak.” Aku tidak enak hati melihat Kak Azel harus mengantarku, sedangkan kos yang ditempatinya berlawanan arah dengan rumah Master Gensha.
“Tidak masalah. Aku akan lebih cemas kalau kau pulang sendirian.” Azel memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat yang dipakainya. “Saat malam, usahakan tidak keluar rumah. Suhu di tempat ini terlalu dingin untukmu,” sambungnya.
Bahkan aku belum pernah mengatakan apapun padanya tapi bagaimana dia tahu?
“Aku tidak pernah bilang itu ke Kak Azel…” gumamku pelan.
Tanggapan darinya adalah tawa kecil dengan tangan kanan terangkat dan menepuk-nepuk puncak rambutku pelan. “Master Gensha pasti sudah tahu juga. Apa siang ini juga kau masih kedinginan?”
Azel menarik tangannya, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hari ini aku memakai sweater putih bergaris dengan rok selutut. Entah bagaimana dan siapa yang sudah menyiapkan semua pakaianku di dalam lemari kamarku. Jika Master Gensha, bukankah itu memalukan?
“Hanya sedikit. Aku masih belum bisa menyesuaikan diri di kota ini.”
“Saat menjalankan misi, kau harus membawa jaket tebal. Tempat misi biasanya di luar pulau,” ujar Azel.
Aku mengangguk. “Apa yang harus aku siapkan lainnya?”
“Master Gensha akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu repot-repot menyiapkan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Panthom
Next thor
2023-08-29
1