“Sesekali cobalah untuk makan di kantin, Puteri. Bawa uang ini.”
Begitulah pesan Master Gensha ketika makan malam. Dua lembar uang warna biru kini berada di dalam genggamanku. Lalu, di depanku antrean panjang di depan meja penjual nasi goreng. Aku mau mengajak Luna, tapi dia menolak dengan alasan tidak suka di tempat ramai.
Karena aku penasaran dengan masakan di kantin, aku pun jalan sendirian ke kantin yang lokasinya ada di paling ujung lantai dua. Antrean berikut, berikutnya, dan berikutnya. Setiap yang selesai antre mereka membawa nampan berisikan sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk.
Ah, iya, di kanting yang luasnya mencapai 10meter persegi ini, terdapat tiga penjual makanan. Bahkan penjual makanan ringan pun disediakan.
Kini tiba giliranku. Aku berdiri di depan wanita dengan celemek putih dan penutup kepala berwarna senada. Dia tersenyum.
“Nasi goreng? Kau ingin minumnya apa?”
Begitulah yang ditanyakannya padaku. Aku rasa semua yang antre mendapatkan pertanyaan yang sama.
Jadi di tempat ini, nasi goreng akan dihidangkan paket komplit dengan aneka topping. Namun untuk minuman, mereka membiarkan setiap siswa memilih. Cukup simpel. Juga minumannya terbagi menjadi tiga, yaitu es teh, es jeruk, dan jus jambu.
“Jus jambu.”
“Tunggu, ya.”
Aku meletakkan dua lembar uang yang aku bawa ke kotak yang digunakan untuk menerima uang dari tiap siswa yang membeli.
Wanita di depanku dengan cekatan menuangkan nasi kedalam mangkuk kemudian memadatkannya dan menuangkannya ke atas piring. Sedikit menepuk-nepuk mangkuk agar nasi yang padat dapat dikeluarkan tanpa merusak bentuk setengah bola.
Dia menambahkan setengah telur matang dan beberapa irisan ayam goreng. Kemudian memindahkan piring ke atas nampan dan sekarang dia menekan wadah jus jambu dengan gelas kaca di bawahnya.
Segelas jus jambu sudah siap. Nampan berisikan sepiring nasi goreng dan segelas jus disodorkan padaku. Aku berterima kasih kemudian membawa nampan itu ke deretan meja panjang.
Terdapat lima meja panjang dengan dikelilingi oleh kursi. Tiga meja penuh, dan aku yang tidak mengenal apapun memilih duduk di meja yang benar-benar kosong. Meja paling ujung dan duduk membelakangi mereka yang duduk di belakang sana.
Makanan yang sering dan selalu aku makan adalah buatan tangan Master Gensha. Dan kali ini untuk pertama kalinya aku makan di kantin akademi. Warna merah dari saus bercampur menjadi satu bersamaan dengan daun bawang dan juga wortel.
Aku memegang sendok dan mencicipi sedikit nasi goreng di depanku.
Aku tidak suka pedas dan nasi goreng ini sangat pas di lidahku. Makanan di kantin, tidak buruk juga. Yang buruk adalah sorot mata yang dengan terang-terangan menatap ke arahku.
Kenapa? Aku bahkan tidak ingat pernah melakukan kejahatan pada mereka. Atau mungkin karena warna rambutku yang pirang? Seharusnya aku bisa mengubah warna rambutku, tapi itu hanya bisa bertahan sehari saja.
“Boleh aku gabung?”
Mendengar suara Azel, aku mendongak. Dia berdiri di sebelahku kemudian bergerak ke kursi di seberangku dan duduk di sana. Dia meletakkan nampan berisikan semangkuk mie kuah dan segelas jus jeruk. Dia tidak memakannya dan malah menopang dagunya menatapku.
“Kau tidak makan?”
“Nunggu biar sedikit dingin. Lanjutkan makanmu.”
Padahal aku ingin menahan diri untuk tidak melanjutkan makan, tapi karena dia sudah mengijinkanku, jadi aku akan melanjutkan makan. Sesendok demi sesendok nasi goreng masuk ke dalam mulutku.
“Kita akan memulai misinya sebentar lagi. Katakan padaku kalau kau masih belum siap.” Azel memulai pembicaraan.
“Kira-kira di mana lokasinya?”
“Pulau Domase. Kurang lebih 150kilometer dari sini. Kita akan naik kapal pagi hari, dan kemungkinan tiba di sana besok sore.”
Aku hanya manggut-manggut, mengingat apa yang dijelaskannya.
“Aku akan menjemputmu saat waktunya tiba.”
-o0o-
Azel benar-benar menepati ucapannya. Jam tiga dini hari dia sudah duduk di sofa ruang tamu ditemani Master Gensha. Mereka berbincang-bincang seperti kawan lama yang baru bertemu.
Dua minggu sebelum kelas satu dan dua menjadi ‘pengamat’, kepala sekolah mengumpulkan semua siswa dan memberikan pengumuman di aula utama.
“Untuk kelas satu dan dua, persiapkan diri kalian. Kalian akan menjadi pengamat untuk kelas tiga dan empat. Waktunya tersisa dua minggu lagi. Persiapkan diri kalian, matangkan sihir kalian. Tugas pengamat adalah untuk memberikan laporan terkait hasil misi dari kakak kelas kalian. Keselamatan kalian akan menjadi prioritas utama setiap tim yang kalian ikuti. Sebaliknya, kalian juga bisa membantu jikalau kakak kelas kalian kesusahan menjalankan misi. Jaga diri kalian baik-baik.”
Pidatonya menjadi pembukaan untuk kelas satu dan dua bersiap terjun ke tengah masyarakat. Entah misi apa yang akan kami terima, kami harus mempersiapkan diri.
Mayoritas hanya membasmi monster tingkat rendah menengah yang merisaukan warga. Dari catatan tidak pernah sekali pun para siswa berhadapan dengan monster tingkat tinggi. Jika pun ada monster tingkat tinggi, misi akan diambil alih oleh para master.
Dengan celana panjang, kemeja panjang dan juga jaket mantel selutut, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga menghampiri Azel dan Master Gensha.
Ah, iya, Master Gensha meminjamkanku tas ajaibnya untukku menyimpan semua barang tanpa terlihat membawa banyak barang. Tas praktis yang bisa menampung apapun.
Melihatku mendekat dua orang yang sedang berbincang seketika menoleh, keduanya sama-sama memamerkan senyum manis mereka. Master Gensha berdiri lalu menyambutku.
“Sangat cocok. Kalau jaketnya kurang tebal, saya sudah menyiapkan jaket lainnya di dalam tas.”
Aku mengangguk. Dia menyiapkan semuanya bahkan sebelum aku mengatakannya.
Master Gensha menyerahkan tas ransel padaku. “Paling lama misinya hanya berlangsung seminggu. Selama itu, Nak Azel yang akan bertugas menjaga anda.”
Sekali lagi aku mengangguk sambil menggendong tasku. Terasa ringan di punggungku, seakan beban di dalamnya tidak ada.
“Kita berangkat sekarang.” Azel menghampiriku.
Setelah pengumuman siapa saja yang menjadi pengamat tim kelas tiga, banyak siswa yang iri padaku yang bisa ikut menjadi pengamat di timnya Azel. Bahkan Luna yang pernah memperingatkanku waktu itu juga ikut terkejut dan tidak percaya.
“Kau yakin gabung dengan tim mereka, Ra?” sergah Luna padaku. Kami dalam perjalanan kembali ke kelas setelah mengikuti pembukaan di aula. Akhir-akhir ini kami sering pergi kemana pun berdua, kecuali tempat ramai seperti kantin. Dan, ya, hubungan pertemanan kami semakin dekat.
Waktu itu aku hanya bisa mengangguk. Secara tidak langsung aku juga terlibat dalam keputusan tim mana yang akan aku ikuti.
Karena keinginanku untuk bisa mengendalikan sihir, aku harus ikut timnya Azel karena hanya dia yang lebih dipercaya oleh Master Gensha.
“Pastikan kau selalu berada di tempat yang aman, Ra. Aku dengar timnya mereka sering bertemu dengan monster tingkat tinggi. Kau harus berhati-hati.”
Aku baru tahu itu. Tapi itu juga tidak jelas benar-benar terjadi. Bagiku hanya ini satu-satunya cara untuk melihat secara langsung bagaimana penyihir memusnahkan monster dari jarak dekat. Dan mungkin aku bisa belajar banyak dari mereka.
Aku berjalan di samping Azel keluar dari rumah. Tempat pertemua kami adalah di pelabuhan dan itu sangat jauh dari tempat kami.
“Tanganmu, Ra.” Azel menyodorkan tangannya padaku.
Aku yang tidak mengerti, hanya melakukan apa yang dimintanya. Memegang tangan kirinya dan tubuhku perlahan mulai mengambang. Kakiku sudah tidak menapak di tanah, begitu juga dengan Azel. Aku sedikit panik ketika tubuhku hampir terjungkal karena tidak bisa mempertahankan keseimbangan.
“Kita akan terbang,” kekeh Azel seraya merangkul bahuku.
Dengan perlahan, tubuh kami bergerak maju, sesuai dengan keinginan Azel. Ini pertama kalinya aku terbang. Rasanya tubuhku begitu ringan, aku bahkan bisa melihat deretan rumah di bawah sana. Dan Azel membawaku terbang tinggi seakan mendekat ke ribuan bintang di atas kepala kami.
“Indah,” kagumku, menatap langit malam yang membentang luas dengan taburan bintang yang indah. Aku yang kedinginan merasa lebih hangat ketika berada di ketinggian.
“Katakan padaku kalau kau ingin terbang lagi. Aku akan menemanimu.” Azel menyahut.
Mendengar ucapannya, aku justru tertawa.
“Bukankah lebih baik mengajariku terbang, kak?”
“Aku pikir akan menyenangkan jika kita terbang bersama, Ra. Malam yang gelap ini terasa lebih indah, kan?”
Dia benar. Malam yang menakutkan waktu itu, kini perlahan mulai teralihkan. Azel selalu bisa merebut perhatianku. Apa Azel selalu melakukan hal yang sama pada gadis lain?
Kenapa rasanya tidak nyaman ketika membayangkan dia bersama dengan gadis lain?
“Kak, apa kau juga melakukan hal seperti ini dengan gadis lain?” Aku bertanya pelan.
“Tidak. Aku hanya ingin melakukannya denganmu.” Azel memegang rambutku dengan tangannya, sedangkan tangan kirinya merangkulku. Dia membawa rambutku ke wajahnya kemudian menciumnya.
“Hal-hal yang spesial hanya akan aku lakukan dengan orang yang spesial juga. Jadi, aku tidak ingin melakukannya dengan orang lain, selain dirimu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments