Debaman hingga kepulan debu terus muncul seiring intensnya pertarungan. Azel bisa bertahan lebih lama berkat Gideon dan Olin yang membantunya. Ketahanan tubuh Gideon membuatnya bisa bertahan sekalipun harus berulang kali dihantam ke tanah.
Sortin kembali mengangkat tangannya. Kali ini dia lebih serius, mengeluarkan pedang petirnya yang tebal dan lebar kemudian mengayunkannya. Sekali ayunan, gelombang petir menyambar apapun yang ada di depannya. Tak ingin kalah, Olin melakukan hal yang sama, mengadu petir biru miliknya dengan petir ungu lawannya.
“Jangan berpikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama.” Olin mengangkat tangannya tinggi, puluhan duri petir terbentuk di sekelilingnya. Dia menjentikkan jarinya dan puluhan duri itu melesat ke arah Sortin.
Masih dengan pedang yang sama. Sortin menghindari duri-duri yang melesat tiada henti ke arahnya. Sesekali menebas dengan pedangnya dan lebih banyak menghindar karena petir itu akan menyambar dan meledak ketika pedangnya menyentuhnya.
“Phoniex!” Rissa dengan kekuatan pemanggilannya, dia menggunakan kertas pemanggil untuk memanggil Phoniex.
Makhluk mitologi yang katanya terbuat dari api dan akan meledak begitu mengenai targetnya. Tapi, yang dilakukan Rissa hanyalah membuat salinannya namun dia tidak bisa meniru kemampuan aslinya.
“Bagaimana kalau aku mengurusmu lebih dulu?” Sortin melotot ke arah Rissa. Dia menggerakkan tangannya, bahkan dengan jarak yang jauh, dia bisa meledakkan tempat yang menjadi pijakan Rissa dengan mudah.
BUM!!
“Rissa!” Inggrid mencoba untuk membantu, namun Sortin tidak membiarkannya menyembuhkan Rissa.
Sortin juga meledakkan tempat Inggrid berlari.
Olin yang berada tidak jauh darinya mencoba untuk mengalihkan Sortin dari dua temannya. Begitu juga dengan Azel yang segera membuatkan pelindung untuk Rissa dan Inggrid.
“Kau masih punya aku di sini!” Dengan es pijakan yang dibuat oleh Azel, Gideon bisa menggunakannya untuk tumpuan dan langsung melesat lurus tepat di atas Sortin.
Sortin mengangkat tangan kanannya ke atas dan sebuah barrier transparan terbentuk di atas tangannya. “Kau tidak mungkin bisa menggoresku dengan kekuatanmu. Kau tahu berusaha itu juga ada batasnya.”
Gideon menyeringai. Kini gilirannya mengangkat tangan kirinya. Pedang es dengan aura sihir petir yang menyelimutinya. Dia menusukkan pedang itu ke barrier yang diciptakan Sortin. Dua sihir menjadi satu. Ditambah dengan kekuatan Gideon, barrier yang kuat itu mulai retak.
Barrier itu pecah dan Gideon berhasil mendorong pedangnya hingga tepat di atas dada Sortin. Tidak ada raut panik sama sekali. Sortin menatap lawannya tanpa ekspresi sedikit pun. Dia dengan tangan kosong memegang pedang es itu dengan mudah, tidak memedulikan tangannya yang membeku.
Berbanding dengannya, Gideon yang tidak bisa menarik pedang itu mendadak merasakan perasaan dingin yang belum pernah dirasakannya.
“Waktu bermain sudah selesai.”
-o0o-
“Sebelah sini!!” Aku bergegas membantu beberapa orang yang berlarian tanpa arah.
Claud yang berada di sekitarku menggunkaan barrier apinya untuk berjaga jikalau ada petir yang meleset ke arah kami.
Para penduduk bahkan saling tolong-menolong, memberitahukan semuanya untuk segera mengungsi. Aku pikir mereka tidak akan bisa bergerak sendiri kecuali dengan kepala desa, ternyata salah.
“Apa Seluku sudah mati?”
“Aku dengar seperti itu.”
“Dia sudah tidak ada lagi di sini.”
“Seluku sialan! Aku harusnya melihat kematiannya. Dia sudah mengambil anakku!”
Perbincangan antar sesama penduduk. Aku yang juga ada di sana hanya mendengar dan tidak berniat menyela. Sepertinya mereka dendam dengan Seluku, tapi kenapa mereka hanya diam saja? Karena mereka tidak bisa menggunakan sihir? Atau memang Seluku mengancam mereka?
Mengamankan warga terakhir kemudian aku mendekat ke Claud. “Kau perlu bantuan?”
Claud yang tidak memakai kacamatanya terlihat lebih sipit. “Bantuan seperti apa yang akan aku dapatkan darimu? Penyembuhan?”
Dia benar.
“Berkat bantuanmu, evakuasinya berjalan cepat. Terima kasih.” Memujinya disaat sepertinya kurasa sudah tepat.
Claud menyungging senyum bangga. “Banyak warga yang selamat juga termasuk misi. Jadi—”
BRAK!!!
“Kak Claud!!”
Bagaimana bisa dia ada di sini? Apa dia mengalahkan Azel dan yang lainnya? Tunggu dulu…
Dengan ragu-ragu, aku menoleh ke kananku. Aku tidak bisa berkata apapun. Di seberang sana, sebongkah es yang besar terlihat dengan jelas, sangat jelas karena tingginya melebihi rumah pada umumnya. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi.
“Aku rasa ini sudah selesai. Aku lelah bermain dengan anak-anak.”
Aku tidak bisa bergerak. Dia ada di depanku, dengan baju yang sedikit lusuh dan sayatan kecil di pipinya. Sekelas iblis namun masih diperingkat paling rendah, bahkan dengan lima penyihir tingkat menengah, dia masih tidak tertandingi.
Beberapa warga segera berlari menjauh. Mereka tidak ingin terlibat dalam pertarungan apapun. Mereka saling membantu warga lainnya untuk segera menjauh.
“Jadi, bagaimana kalau kau ikut denganku ke kastil?”
“Bawahanmu waktu itu berniat membunuhku dan sekarang kau menawarkan padaku?”
Menjauh darinya itu mustahil. Aku akan mencoba mengulur waktu sampai matahari terbit.
“Aku tidak memiliki bawahan. Apa maksudmu seseorang mengincarmu lebih dulu daripada aku?”
Kenapa dia malah balik bertanya? Juga, bukankah semua iblis harusnya saling berkomunikasi dengan baik ya?
“Itu sedikit aneh. Lebih aneh kalau aku bicara santai denganmu setelah kau menghabisi teman-temanku.” Aku tertawa canggung.
Lihatlah dia sedang ada di depanku saat ini, bicara layaknya seorang rekan lama.
“Sepertinya ada yang salah di sini. Untuk saat ini ikutlah denganku dengan suka rela, aku bisa menjamin keselamatanmu.” Manik ungu di kedua matanya menatapku tanpa ekspresi. Aku tidak berpikir dia lebih tenang dibandingkan iblis yang mengincarku waktu itu.
“Untuk apa? Bukankah iblis sangat tidak suka dengan sihirku?”
Sortin mengalihkan wajahnya kemudian kembali menatapku. “Karena itu perintah.”
“Siapa yang menyuruhmu?” Jika dengan pembicaraan seperti ini aku bisa mengetahui siapa yang memerintahkan mereka untuk menangkapku dan mungkin saja aku bisa tahu akar masalah di dunia sihir.
“Aku tidak berhak untuk memberitahumu. Untuk saat ini aku akan mundur.” Sortin menatap es yang terbelah dan akhirnya pecah. Juga, dia merasakan panas di sebelah kanannya.
“Sampai ketemu lagi.” Dalam sekejap mata Sortin menghilang dari pandanganku. Benar-benar tidak terasa lagi kalau sebelumnya ada iblis tingkat menengah di depanku.
Lagi? Apa maksudnya ‘lagi’?
“Uhuk! Uhuk! Sial, sakit sekali.” Claud berjalan pelan mendekatiku.
Aku segera membantunya dan memintanya untuk duduk. “Aku akan mengobatimu.”
Mengulurkan tanganku lalu berkonsentrasi. Kali ini tidak perlu meminjam kekuatan dryad karena hanya pengobatan tingkat menengah yang mudah untuk dilakukan.
“Dia pergi, Ra?” Claud menggerakkan bahunya, memutar memeriksa persendiannya.
Begitu selesai, aku ikut duduk di depannya. “Aku sendiri tidak tahu,” jawabku pelan.
Aku berharap Claud tidak mendengar apapun yang kami bicarakan. Bagaimana jika dia mengatakan semuanya? Akan sangat merepotkan kalau teman-teman lainnya tahu.
“Kiara! Claud! Kalian baik-baik saja?”
Rombangan Azel berlari mendekat.
Azel dengan wajah paniknya, mengingatkanku pada ucapan Claud sebelumnya.
“Kalau sepertinya Azel menyukaimu.”
Cepat-cepat aku menggeleng, menghilangkan suara Claud dari kepalaku. Jangan memikirkan hal yang aneh. Seperti yang dikatakan Luna, Azel itu sangat arogan, mana mungkin dia menyukai orang yang bahkan tidak bisa memakai sihirnya.
“Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” Claud menatap satu persatu teman-temannya dan tidak ada diantara mereka yang tidak berdebu. Yang paling parah adalah Gideon. Mendapatkan banyak luka lebam dan juga goresan.
“Duduklah. Kiara bisa mengobati kalian.” Claud menepuk tanah di depannya, mengisyaratkan bagi teman-temannya untuk duduk.
Mereka duduk melingkar dan Azel duduk tepat di sebelahku. Keadaan tubuhnya tidak separah Gideon hanya saja sepertinya efek dari penggunaan sihirnya berpengaruh pada tubuhnya. Rahang kirinya diselimuti es dan juga telapak tangannya.
“Bisakah kalian saling berpegangan tangan? Aku akan menyembuhkan kalian secara bersamaan,” pintaku.
Azel memegang tangan kananku, sedangkan Rissa di tangan kiriku. Mereka benar-benar saling berpegangan tangan, begitu juga dengan Claud. Rasanya tangan Azel jauh lebih dingin dibandingkan tangan Rissa. Apa mungkin itu karena efek sihir?
Waktunya berkonsentrasi. Aku memejamkan mata. “Heal,” gumamku lirih.
Gelompang sihir mengalir lewat tangan yang saling terhubung. Sihir hangat yang mengalir ke dalam tubuh, menyembuhkan tiap luka yang terbuka. Bahkan sanggup untuk melelehkan es yang terbentuk di tangan dan rahang Azel.
Gideon yang terluka parah bahkan kini mulai kembali seperti sebelumnya tanpa luka sedikit pun. Hanya butuh satu menit hingga semua luka teman-temanku pulih.
“Lukaku pulih!” Gideon berteriak girang. Dia melompat dan berdiri, mencoba mengayunkan tangan dan kakinya yang sebelumnya penuh dengan lebam.
“Sihirmu jauh lebih tinggi dibandingkanku, Ra. Keren! Bisa aku belajar darimu?” Inggrid menyahut dengan riang. Matanya berbinar.
Harusnya aku yang belajar darimu. Kenapa malah terbalik?
Claud mengawali berdiri. “Kita harus menemui para penduduk dan menjelaskan. Kita juga harus membantu perbaikan rumah yang rusak.”
“Akan aku bantu.” Olin berdiri.
“Aku juga.” Rissa dan Inggrid ikut berdiri.
Mereka menunggu Azel berdiri namun tak kunjung berdiri.
“Aku akan menyusul bersama Kiara.” Hanya itu yang Azel ucapkan.
Seakan memahami kondisi Azel, Claud mengajak teman-temannya untuk bergerak lebih dulu. Mereka berlima meninggalkanku dan Azel sendirian. Kondisi tubuh Azel sudah pulih, tapi dia terlihat lebih murung.
“Bisa temani aku sebentar, Ra?” Nada suaranya pun terlihat lebih pelan. Azel berdiri, menarik tanganku pelan untuk segera berdiri.
“Kau baik-baik saja, kak?” Melihatnya seperti ini aku merasa cemas.
Azel tidak menjawab. Dia malah berjalan dengan menggenggam tanganku agar mengikutinya. Sikapnya aneh. Raut wajahnya terlihat murung. Tangannya masih dingin dan ekspresinya pun terlihat kosong.
Kami berjalan di sekitar rumah warga yang sudah kosong. Hanya ada lampu jalan dan langit yang perlahan mulai terang. Azel terus membawaku berjalan, hingga kami berbelok masuk ke dalam gang rumah yang lebih kecil.
Gangnya tidak terlalu sempit hanya saja cahaya lampu tidak bisa menjangkau sampai ke tengah gang, namun semburat jingga di pagi hari sedikit memberikan pencahayaan.
Aku tidak tahu apa yang ingin dilakukan Azel dan dia tiba-tiba berhenti.
Dia tidak kerasukan Ghalag, kan? Atau pertarungannya tadi membuatnya seperti ini?
“Boleh aku memelukmu, Ra?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Panthom
flower for you
2023-09-03
0