Selesai sarapan Master Ellen berangkat ke akademi. Sedangkan aku, diam di rumah sendirian. Aku ingin memberi kabar ke Ratu Resha. Tapi, aku tidak bisa sembarangan mengirim pesan. Bagaimana jika seseorang tahu? Itu akan lebih merepotkan. Sepertinya, aku harus bersabar lebih dulu.
Yang kulakukan sepanjang hari adalah berdiam diri di kamar sambil membaca buku. Sesekali memainkan bolpen dengan sihir telekinesis, menggerakkannya di udara. Sihir tingkat dasar, sihir menggerakkan benda.
Aku rasa semua penyihir bisa melakukannya. Bahkan kemarin, penyihir yang membantu Master Ellen memindahkan bangkai monster dengan sihir.
Dengan sihir ini, aku bahkan bisa mengambil benda yang jauh, tanpa harus berpindah tempat. Buku berikutnya yang aku baca adalah buku panduan Akademi Sihir Gramgramillo.
Akademi Sihir Gramgramillo, akademi satu-satunya di Pulau Gramgramillo. Bisa dibilang akademi tersebut merupakan sekolah menengah atas yang mana siswanya berusia 15-19 tahun. Karena akademi ini satu-satunya, maka bersekolah di sana juga membutuhkan waktu empat tahun.
Setiap murid dipersiapkan untuk bisa membantu masyarakat. Karena itu, tidak banyak pelajaran normal yang ditambahkan. Pokok pelajaran di akademi tersebut adalah sihir, budaya, adab, dan roh sihir, sisanya mereka akan menjalankan misi kecil-kecilan untuk tugas mereka.
“Letakkan tangan di atas lingkaran sihir. Kau akan tahu atribut sihir apa yang cocok denganmu. Sihirmu akan mengubah baju sihir yang kau pakai. Merah untuk atribut api. Hijau untuk penyembuh. Orange untuk tanah. Kuning untuk listrik. Hmmm….”
Aku membalikkan halaman buku, membaca kelanjutan paragraf yang aku baca. Empat paragraf panjang tiada henti. Yang menarik adalah kotak dialog yang ada di pojokan halaman.
“Sihir yang tidak memiliki atribut sihir dan satu-satunya sihir langka di dunia ini, yaitu Sihir Cahaya.”
Kalau di akademi siswa diminta memeriksa atribut sihir untuk perubahan seragam mereka, apa jadinya jika aku juga melakukan hal yang sama namun tidak ada hasilnya?
Apa mereka akan langsung berpikir aku memiliki sihir cahaya? Bukankah itu akan malah merepotkan?
Kuturunkan buku ke kasur kemudian mengangkat tanganku. Bagiku, sihir cahaya itu bukan sihir tunggal yang berfokus pada cahaya. Melainkan, sihir gabungan dari sebuah jenis sihir yang ada dengan menjadikan cahaya sebagai pusat dari semua sihir.
“Api.”
Kobaran api kecil muncul di atas telapak tanganku. Sihir yang banyak dimiliki oleh orang-orang.
“Air.”
Api menghilang digantikan gumpalan air yang bergerak ke naik-turun. Jenis sihir ini bisa tergantung penggunanya. Bahkan air yang tenang pun bisa melukai orang lain. Pun juga bisa menyembuhkan.
“Metal.”
Air menggumpal padat dengan warna perak. Aku rasa sihir Master Ellen sama seperti ini. Sedikit menggerakkan jariku dan bentuk dari metal tersebut berubah menjadi belati.
Tanganku bergerak turun dan aku berganti rebahan di atas kasur. “Meskipun aku bisa semua jenis sihir, tapi tetap saja yang akan diuji adalah atribut sihir asli. Bagaimana caraku menyembunyikan hal ini?”
Oh, ya, yang kemarin. Monster kelabang itu, seakan memang muncul ketika aku di sana. Apa mungkin dia merasakan sihirku? Jika seperti itu, dia pasti sudah memberikan sinyalnya ke pemiliknya. Dengan kata lain, sesuatu pasti akan terjadi lagi di—
BUM!!
Aku segera bangkit dari kasur. Tanahnya bergetar. Tidak mungkin itu gempa bumi, tapi lebih seperti tanah dihentakkan oleh sesuatu yang berat. Belum sempat mencari tahu, apa yang menggetarkan tanah muncul, tepatnya menghancurkan kamarku.
Cepat-cepat aku keluar dari kamar, mencari tempat yang mungkin bisa digunakan untuk bersembunyi. Aku rasa itu monster tipe raksasa, hanya dengan mengayunkan lengannya, dia bisa merusak apapun di depannya. Dan juga—
Dia mengangkat rumah ini!!!
Pijakanku tidak stabil, lantainya miring, perabotan rumah mulai bergerak ke sembarang arah. Guncangannya semakin kuat, seakan monster itu ingin mengeluarkan semua yang ada di rumah ini. Merasa tidak aman jika tetap di dalam rumah, aku segera berpegangan pada lemari dan ikut terjun ke luar.
Monster itu bahkan menutupi matahari yang bersinar terik. Bukan hanya satu, melainkan tiga. Mereka merusak rumah warga, menghancurkan aspal, bahkan menelan warga.
Sebelum lemari menghantam tanah, aku segera melompat turun. Teriakan histeris memenuhi sekitar. Ya, mau dilihat dari manapun manusia hanya akan terlihat seperti semut di hadapan monster itu.
“Ke arah sini!!” teriakan penyihir terdengar, mencoba membantu mengevakuasi warga.
Aku ikut berlari ke arah mereka. Tepat di belakangku, monster itu membanting rumah milik Master Ellen layaknya membanting mainan. Tanah kembali berguncang ketika rumah itu menghantan tanah, alhasil aku harus tersungkur ke tanah.
Jika melihat bagaimana monster berpikir, ada dua kemungkinan. Pertama, dia bergerak sesuai perintah dengan mengincar target mereka. Kedua, mereka mengincar siapapun yang lemah. Karena pada dasarnya, monster akan menghindari berurusan langsung dengan mereka yang kuat, karena sama saja dengan bunuh diri.
Namun, jika monster itu tipe menengah ke atas, mereka akan mengincar yang paling kuat.
Dan sepertinya, monster raksasa ini mengincarku. Dan dia berhasil menangkapku.
Ukurannya benar-benar besar, tingginya mencapai 200kaki, hampir sama tingginya dengan gedung. Wajahnya terlihat mengerikan dengan codet di pipi mereka. Matanya hitam dengan pupil merah. Aku yang berada di dalam genggamannya, merasa begitu kecil.
Tanganku sakit. Sepertinya ada pecahan kaca yang menusuk tanganku. Raksasa ini pasti tidak sengaja menyeret serta pecahan kaca ketika menangkapku. Aku bisa melelehkan tangan besar ini, jika dengan lava harusnya bi—
Tangan yang menggenggam tubuhku seketika terpotong dan aku meluncur jatuh ke bawah. Aku rasa aku tidak bisa terbang! Dan bukan aku yang memotong tangan itu!
Seseorang menyambar tubuhku, menggendongku turun dengan selamat.
Memberanikan diri menatap orang yang menggendongku, aku rasa aku seperti pernah bertemu dengannya. Remaja laki-laki dengan rambut perak dan sepasang mata biru yang terlihat seperti berlian.
Siapa?
Dia menurunkan perlahan. “Bersembunyilah di belakangku.”
Tanpa perintah dua kali, aku berpindah tempat ke belakangnya. Dia tinggi, bahunya juga lebar. Mungkin dia berumur sekitar 19 tahun. Aku yang tidak begitu tinggi ini hanya setinggi ketiaknya. Apa aku sependek itu?
“ROARRRR!!!”
Tekanan angin yang sangat kuat datang dari arah depan. Laki-laki di depanku mengangkat tangan kirinya, tameng tidak terlihat menghalau hembusan angin yang mengarah pada kami. Jika diperhatikan lagi, hanya tersisa satu monster dari tiga monster yang mengamuk. Beberapa penyihir berhasil menghanguskan mereka semua, kini tersisa satu di depanku.
Monster itu berhasil dikekang dengan sihir tanaman milik salah satu penyihir. Aku rasa dia hebat bisa mempertahankan tanamannya sekalipun targetnya memberontak. Penyihir lainnya segera bergabung membantu. Koordinasi yang hebat.
“Maaf saja, karena aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama dua kali.” Laki-laki di depanku menurunkan tangannya, bersamaan dengan itu sebuah pedang muncul. Pedang yang terbuat dari es. Meskipun ujungnya tidak menyentuh tanah, tapi hanya dengan energi yang dikeluarkan sudah bisa membekukan tanah tanpa menyentuhnya.
Belum selesai mengamati pedang itu, tiba-tiba pedang dan pemiliknya menghilang. Pergerakannya terlalu cepat, aku bahkan tidak bisa mengikutinya dan dia sudah ada di atas kepala monster raksasa itu. Dia mengangkat pedangnya. Hanya dengan sekali serang, raksasa itu terbelah menjadi dua dan membeku.
Sungguh sihir yang menakjubkan. Aku kira tidak banyak penyihir yang menguasai sihir tingkat lanjut sepertinya. Seorang penyihir yang mempelajari sihir tingkat lanjut biasanya bisa mengubah sihir mereka menjadi senjata, aku rasa Master Ellen pernah memperlihatkannya juga. Disamping atribut sihirnya yaitu Metal. Dia juga bisa mengubah sihirnya menjadi senjata.
“Kau terlalu berlebihan, Ketua. Bukankah dengan sihir biasa sudah cukup?”
Beberapa penyihir mulai mendekati laki-laki itu. Aku rasa mereka semua adalah teman laki-laki itu.
“Apa mungkin kau cuma mau pamer?”
“Aha-ha. Mana mungkin ketua suka sama seseorang.”
Gelak tawa terdengar meskipun jarakku dengan mereka sekitar 50meter. Laki-laki yang dikelilingi teman-temannya sempat menatap ke arahku cukup lama.
“Mereka selalu berisik, ya. Tapi, setidaknya mereka menjalankan tugas dengan baik.”
Mendengar suara yang familiar, aku spontan menoleh. Seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekat. Rambutnya hampir semuanya putih, bahkan kumisnya juga. Dia memakai pakaian pelayan, hitam-putih. Dia tersenyum dan matanya hampir sepenuhnya tertutup.
Master Gensha…
Keluarga Sephiran, keluarga besar yang dilatih untuk menjadi pendamping Ratu Resha dan memenuhi semua kebutuhannya.
Mereka adalah Combat Butler. Tipe penyihir yang bisa menyamar sebagai pelayan, namun juga bisa melakukan kekerasan seperti yang diinginkan atasan mereka. Kalau aku tidak salah, hanya tiga orang yang ada di sisi Ratu Resha, mereka adalah Viona, Lory, dan Gensha. Aku bertemu mereka tiga tahun yang lalu.
Lalu kenapa Master Gensha ada di tempat ini?
“Apa kau terluka?”
Cepat-cepat aku menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja.”
“Benarkah? Coba lihat tanganmu.” Master Gensha menunjuk tangan kananku.
Ah, benar juga. Aku lupa kalau tanganku terluka, ketika raksasa itu menggenggamku. Tidak banyak, tapi darahnya mengalir.
“Ulurkan tanganmu. Biar aku sembuhkan.”
Menuruti ucapan Master Gensha, aku mengulurkan tanganku yang terluka padanya.
Dia memegang tanganku dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya berada di atas tanganku. Cahaya hijau bersinar redup dari tangan Master Gensha yang terbungkus sarung tangan. Hal yang sama juga terjadi pada luka di tanganku. Sedikit demi sedikit menutup luka itu hingga tidak terlihat pernah ada luka di sana.
“Kiara! Kau baik-baik saja?”
Teriakan Master Ellen dari seberang sana, membuatku menoleh. Dia berlari mendekat.
Keadaanya sudah kacau. Rambutnya yang disanggul rapi kini acak-acakan. Ah benar juga, apa aku harus minta maaf karena secara tidak langsung menghancurkan rumahnya?
Selesai diobati, aku menarik kembali tanganku. “Aku baik-baik saja. Tapi, rumahmu…” Aku beralih menatap puing-puing rumah milik Master Ellen. Bahkan jika memakai sihir pembalik waktu, aku rasa itu tidak bisa mengubah apapun.
Master Ellen mendengkus pelan. Pundaknya turun perlahan dengan mata yang masih menatap ke arah rumahnya yang sudah tidak berbentuk. “Aku rasa aku harus pindah ke rumah yang baru. Aku bisa membawamu serta denganku, Ra. Kau mau ikut?”
“Maaf, permisi.” Master Gensha menyela dengan mengangkat rendah tangannya.
Master Ellen yang baru menyadari keberadaan Master Gensha segera menundukkan kepalanya. “Master! Maaf tidak memperhatikanmu!”
Master? Apa dia baru saja memanggilnya master?
Master Gensha tertawa pelan, matanya kembali menyipit. “Tidak apa. Oh, ya. Aku akan menampung Kiara di tempatku, El.”
Master Ellen seketika mengangkat wajahnya, menatap laki-laki yang jauh lebih tua darinya.
Berulang kali mengedipkan matanya. “Kerabat yang Master bicarakan waktu itu, itu Kiara?”
Kerabat?
“Oh, kau masih mengingatnya? Terima kasih sudah mau meminjamkan rumahmu pada Kiara. Aku akan membayar uang ganti rugi atas rumahmu.” Master Gensha merogoh saku celanannya mengeluarkan dompet.
Mari tunggu mereka selesai bicara. Omong-omong …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments