MoD #8 - Pulau Domase

Kami tiba di pelabuhan. Tiga kapal terbang siap mengantar kami. Tidak sendirian, banyak tim yang berangkat di pagi ini. Aku tidak menyangka akan sebanyak ini.

Jika dikelompokkan mungkin ada sekitar sepuluh tim dengan jumlah satu tim enam orang.

Aku hanya diam di samping Rissa, menunggu Azel yang sedang pengarahan dengan master.

“Hai, Ra.”

Mendengar namaku dipanggil, aku menoleh dan mendapati Darwin berdiri di seberangku. Kira-kira berapa lama kami tidak bertemu, ya? Sepertinya terakhir kali di malam pertemuanku bersama Master Ellen.

Dia melangkah mendekat. “Bagaimana kabarmu? Aku sangat jarang bertemu denganmu, Ra.”

“Aku baik. Kau masih sibuk dengan misi-misimu, kak?”

Darwin mengangguk. “Begitulah. Mungkin setelah ini, aku akan mengurangi mengambil misi berat. Vinnea sangat merindukanmu, Ra.”

Vinnea muncul di samping Darwin. Dia dengan gaun indahnya selalu terlihat sangat cantik. Dia tersenyum ke arahku.

“Sekarang kau tinggal sama siapa, Ra?”

“Di rumah Master Gensha.”

Darwin mengangkat alisnya. “Kau kerabat beliau?”

Aku mengangguk patah-patah. “Ya, begitulah.”

Darwin tersenyum lega. “Syukurlah. Dan, saat ini kau satu tim dengan siapa?”

“Waktunya berangkat, Ra.”

Mendengar suara Azel di dekatku, aku hampir terlonjak kaget. Aku bahkan tidak mendengar langkah kakinya dan orang yang harusnya berada di dekatku adalah Rissa. Tapi sekarang Rissa sedang berdiskusi dengan Claud.

Azel menatap Darwin dengan eskpresi datarnya. Aku tidak perlu memperkenalkan mereka, kan? Karena mereka satu angkatan, jadi seharusnya mereka saling kenal.

Apalagi Azel selalu terkenal, jadi tidak mungkin Darwin tidak mengenal Azel. Minimal dia pasti sudah tahu orangnya.

Rasanya atmosfer di sekitarku terasa lebih dingin. Azel berganti menatap Vinnea yang masih berdiri di samping Darwin.

Tunggu dulu, apa Azel bisa melihat Vinnea juga? Bukan itu yang aneh, melainkan Vinnea yang menunduk hormat padanya.

Apa ini? Aku tidak bisa memahami mereka.

“Kita berangkat sekarang.” Azel menggenggam tanganku kemudian menarikku untuk mengikutinya.

Aku bahkan tidak sempat berbicara satu kata pun. Tapi, di belakang sana, Darwin pun ikut berbalik dan kembali bersama timnya. Vinnea yang terakhir, dia melambaikan tangannya dengan senyum lebar.

Apa? Apa maksud senyum itu?

“Ra, kau kenal laki-laki tadi?” Azel membuka suara sambil melepaskan tanganku.

Aku mengangguk, membenarkan. “Dia yang menolongku waktu itu. Aku berterima kasih karena dia datang tepat waktu, karena aku sudah hampir menyerah. Apa kau juga berteman dengannya, Kak?”

“Tidak. Aku tidak begitu suka dengan laki-laki itu,” sergah Azel, mengarahkanku untuk masuk ke dalam kapal bergantian dengan yang lainnya.

“Padahal dia baik loh.” Aku berjalan di belakang Claud yang dengan hati-hati memasuki kapal. Dan, di belakangku Azel berjalan paling akhir.

“Aku tetap tidak suka,” tegas Azel.

Aku hanya berdeham panjang dan tidak melanjutkan pembicaraan. Sebenarnya aku sangat ingin bertanya kenapa dia bisa melihat Vinnea. Tapi, sepertinya tempat dan situasi saat ini tidak cocok untuk menanyakan hal itu.

Semua siswa memasuki kapal masing-masing. Karena satu kapal berisikan banyak siswa, maka kami sudah dibagikan kamar per tim. Aku satu kamar dengan Rissa dan Inggrid. Harusnya hanya bisa berdua, tapi mereka menolak ketika salah satu master menawarkan untuk satu kamar dengan tim lain.

Setelah menaruh barang, Rissa dan Inggrid tidur di satu kasur yang sama. Dia membiarkanku memakai kasur yang tersisa sendirian. Ukuran kasur lumayan lebar jadi masih cukup untuk dua orang.

Sedangkan, aku masih duduk di atas kasur. Kira-kira sejauh apa pulau yang akan kami tuju. Jika Kota Gramgramillo masih terasa dingin bagiku sekalipun tempat itu penuh dengan penyihir dan mana, bagaimana dengan tempat lain. Jadi mungkin itu alasan lain Master Gensha menyiapkan jaket mantel yang lebih tebal.

Tapi, apa itu cukup?

Perjalanan panjang benar-benar harus dilewati. Beberapa kali kapal berhenti untuk menurunkan penumpang, namun aku dan rombongan masih senantiasa berada di dalam kapal. Hingga akhirnya hanya tersisa kami bertujuh di dalam kapal.

Di kapal ini bahkan disediakan makanan. Kami bahkan diperbolehkan untuk istirahat sejenak ketika kapan menurunkan satu tim.

Kami diberikan waktu satu jam untuk jalan-jalan di sekitar pulau, kemudian setelah itu kami kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan.

Seperti yang dikatakan Azel waktu itu, perjalanan memakan waktu sampai sehari semalam.

“Kita akan segera tiba. Bawa barang bawaan kalian dan kita akan turun.”

Aku ikut bersiap bersama Rissa dan Inggrid. Menggendong tasku kemudian keluar dari kamar. Kami tiba di sebuah pulau ketika matahari sudah menyingsing. Tidak ada pulau lain sejauh mata memandang, hanya ada hamparan langit senja.

Perlahan kapal merapat ke dermaga. Beberapa orang sudah menunggu kami di sana, melambaikan tangan. Seorang awak kapal melompat turun dengan membawa tali tambat kemudian mengikatnya di patokan di dermaga.

Dua orang ikut menyusul turun, membantu satu teman mereka untuk menarik kapan agar merapat ke dermaga dengan baik. Mereka mengikat tiap tali ke patokan kemudian menyiapkan jembatan kayu untuk kami.

Begitu selesai, mereka melambaikan tangan mengisyaratkan untuk kami segera turun. Azel menggeser pintu di sisi luar kapal, kemudian turun lebih dulu. Claud memintaku dan dua gadis lainnya untuk turun lebih dulu. Diikuti Olin dan Gideon. Terakhir Claud, menutup kembali pintu kemudian menyusul kami.

Tiga orang penduduk asli menyambut kami, mereka adalah kepala desa dan dua perangkat desa. Kepala desa menyebutkan namanya Seluku. Kemudian dua orang yang mendampinginnya bernama Eku dan Dipa.

Azel berbincang dengan mereka, sesekali memperkenalkan kami.

Pembicaraan mereka berakhir. Seluku mengajak kami masuk ke dalam desa untuk menjelaskan lebih lanjut tentang misi kami. Claud sempat berpamitan dengan awak kapal dan mereka pun kembali naik ke kapal dan menarik semua tali kemudian pergi.

Suasana desa sudah mulai sepi. Seluku bilang kalau sudah petang semua warga harus masuk ke dalam rumah masing-masing. Terror monster terlalu menakutkan membuat mereka tidak berani keluar rumah. Di dalam rumah tidak menjami mereka aman, tapi hal itu akan meminimalisir hilangnya nyawa.

Monster yang menghuni atau menjadikan desa sebagai makanan mereka. Menyerap mana, menghancurkan peternakan, merusak struktur tanah, hingga yang paling ekstrem adalah memakan manusia.

Beberapa orang yang pernah melihat moster tersebut, bersaksi bentuk monster tersebut seperti ular piton dengan ukuran berkali-kali lipat. Sisik yang tebal dan dua taring yang bisa membunuh apapun dalam sekejap.

Monster itu dinamakan Ghalagg. Karena monster itu, desa ini tidak memiliki mana dan itu membuatku menggigil. Jaket yang bisa menghangatkan ketika masih di kota Gramgramillo, kini tidak terasa hangat sama sekali.

“Ra, kau baik-baik saja?” Inggrid mendekat, memperhatikanku yang terus menerus menggesekkan kedua telapak tanganku. “Kau kedinginan?”

Aku mengangguk, meniup telapak tangaku agar sedikit menghangat.

“Aku membawa syal, kau bisa memakainya.” Rissa merogoh tasnya, menarik keluar syal merah miliknya. Dia bahkan memakaikannya ke leherku.

Tidak ada pengaruhnya sama sekali. Jika syal itu terbuat dari material yang mengandung mana, mungkin akan sedikit membantu. Tapi syal itu hanyalah kain biasa.

Aku bisa mati kedinginan jika seperti ini terus.

“Kita akan menginap di penginapan dekat sini. Ada perapiannya juga. Kau bisa menghangatkan tubuhmu di depan perapian.” Gideon memaparkan padaku. Dia menepuk-nepuk lengan seragamnya yang kusut, sesekali menatap ke arahku.

“Kau ini … bagaimana kau bisa kedinginan, sedangkan di sini hanya kau yang kedinginan. Apa kau punya alergi?”

Azel yang baru selesai berbincang dengan Seluku, kini berjalan mendekat, menepuk pundak Gideon. “Aku rasa dia sangat sensitif pada mana. Semakin banyak mana di suatu tempat dia akan hangat. Sebaliknya, jika tempat itu tidak memiliki mana sama sekali, dia akan menggigil kedinginan. Bertahanlah, kita akan buatkan api unggun untukmu.”

“Dengan kata lain, kita terbatas dalam menggunakan sihir?” Claud menaikkan kacamatanya, menyela langkah Azel yang mendahului.

“Begitulah. Misi kali ini akan memakan waktu lama. Persiapkan diri kalian.”

-o0o-

Penginapan dengan perapian di tengah-tengah ruang santai. Aku duduk di depan perapian dengan jaket tebal yang disiapkan Master Gensha untukku. Jaket yang lebih bisa menghangatkan dibandingkan yang sebelumnya.

“Aku bawa cokelat hangat.” Inggrid menggenggam mug berisikan cokelat hangat kemudian dia ikut duduk di sampingku.

Tepatnya sedikit lebih jauh dari api. Di siang yang panas terik ini, tidak ada yang mau dekat dengan api kecuali aku.

Aku sedikit memutar tubuhku, menerima mug itu. “Terima kasih. Apa yang lain masih di luar?”

Inggrid mengangguk. “Begitulah. Mereka sedangkan membantu warga, sekaligus mencari tempat persembunyian monster itu. Kau mau bergabung?”

Meskipun di luar sana matahari bersinar terang, tapi bagiku masih terasa dingin. “Aku akan menyusul setelah mengganti bajuku.”

“Azel tidak mewajibkan kau ikut. Jadi, kau tidak perlu memaksakan diri.”

Tapi, meskipun begitu, kalian yang satu tim dengannya pasti tidak suka jika aku hanya duduk diam. Aku rasa aku juga akan berpikir seperti itu jika aku seperti mereka.

“Tak apa. Aku akan segera menyusul.”

Inggrid mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan bilang ke Azel.” Lalu dia berdiri dan melangkah pergi.

Jika saja aku tahu tempat tujuan kami tidak memiliki mana, aku bisa menyiapkan pakaian yang lebih hangat. Tapi sepertinya seragam akademi sedikit hangat. Aku bisa memakainya.

Setelah menghabiskan setengah cokelat hangat, aku beranjak ke kamar. Aku memasukkan tanganku ke dalam tas ransel, mencari setelan seragam akademi. Karena akademi juga melengkapinya dengan jubah panjang, jadi sepertinya tidak akan terlalu dingin.

Tok! Tok!

“Kiara, apa kau di dalam?” suara Azel di luar kamar.

“Sebentar.” Aku segera mengaitkan kancing seragam, merapikan rok, kemudian menata rambutku.

Aku memang bisa bergerak biasa, tapi dinginnya terlalu menusuk kulit. Kalau aku memakai jaket di siang hari yang panas, orang-orang akan menganggapku aneh. Jika sebentar saja aku bisa membaur dengan mereka, mungkin aku akan menemukan cara untuk menemukan monster yang menyerap semua mana di kota kecil ini.

Begitu selesai, aku membuka pintu kamar dan tentu saja Azel masih berdiri di depan pintu.

Dia selangkah lebih dekat, memegang pundakku. “Kau tidak perlu memaksakan diri, kau paham itu?”

Wow! Dia benar-benar mencemaskanku. Sikapnya sebelas-duabelas dengan Master Gensha. Tapi, bagaimana dia tahu kalau aku bisa kedinginan karena kurangnya mana? Apa Master Gensha juga mengatakan padanya?

“Kalau untuk beberapa jam ke depan aku masih bisa bertahan. Aku akan kembali ke sini kalau sudah benar-benar merasa kedinginan.”

Episodes
1 MoD #1 - Aku
2 MoD #2 - Gramgramillo
3 MoD #3 - Pertemuan pertama
4 MoD #4 - Master Gensha
5 MoD #5 - Azel
6 MoD #6 - Tim Azel
7 MoD #7 - Manis
8 MoD #8 - Pulau Domase
9 MoD #9 - Ghalagg
10 MoD #10 - Sortin
11 MoD #11 - Bolehkah..?
12 MoD #12 - Mimpi yang aneh
13 MoD #13 - Ratu Resha
14 MoD #14 - Misi berikutnya
15 MoD #15 - Dia juga Darwin (?)
16 MoD #16 - Kontrak Baru
17 MoD #17 - Maaf
18 MoD #18 - Thandazani
19 MoD #19 - Kisah itu
20 MoD #20 - Si Kembar
21 MoD #21 - Hubungan
22 MoD #22 - Wind Breaker
23 MoD #23 - Awal
24 MoD #24 - Emosi
25 MoD #25 - Zukol
26 MoD #26 - Pertarungan (1)
27 MoD #27 - Pertarungan (2)
28 MoD #28 - Pertarungan (3)
29 MoD #29 - Dia yang dirindukan
30 MoD #30 - Iblis ketiga, Darzi
31 MoD #31 - Pertemuan itu
32 MoD #32 - Pertemuan kedua
33 MoD #33 - Memantau
34 MoD #34 - Ellen
35 MoD #35 - Saat itu
36 MoD #36 - Rencana berikutnya
37 MoD #37 - Jalan-jalan
38 MoD #38 - Menyambut sejarah
39 MoD #39 - Pengorbanan
40 MoD #40 - Sejarah Baru
41 MoD #41 - Selamat tinggal, Luna
42 MoD #42 - Bagaimana Jika(?)
43 MoD #43 - Codename 'Ota'
44 MoD #44 - Koloseum
45 MoD #45 - Tamu
46 MoD #46 - Siapa kau?
47 MoD #47 - Kesepakatan
48 MoD #48 - Guncangan emosi
49 MoD #49 - Kondisi Warga
50 MoD #50 - Wind of Heal
51 MoD #51 - Dunia yang kau inginkan
52 MoD #52 - Desa Yafga
53 MoD #53 - Kondisi ratu
54 MoD #54 - Jarak
55 MoD #55 - Bagaimana caraku menghiburmu?
56 MoD #56 - Bukankah kita sama?
57 MoD #57 - Suasana Mencekik
58 MoD #58 - Jangan mendekat
59 MoD #59 - Suho
60 MoD #60 - Berkumpul
61 MoD #61 - Tolong dia
62 MoD #62 - Di luar perkiraan
63 MoD #63 - Keluarga
64 MoD #64 - Rumit
65 MoD #65 - Laporan
66 MoD #66 - Curhat
67 MoD #67 - Hari yang seperti biasa
Episodes

Updated 67 Episodes

1
MoD #1 - Aku
2
MoD #2 - Gramgramillo
3
MoD #3 - Pertemuan pertama
4
MoD #4 - Master Gensha
5
MoD #5 - Azel
6
MoD #6 - Tim Azel
7
MoD #7 - Manis
8
MoD #8 - Pulau Domase
9
MoD #9 - Ghalagg
10
MoD #10 - Sortin
11
MoD #11 - Bolehkah..?
12
MoD #12 - Mimpi yang aneh
13
MoD #13 - Ratu Resha
14
MoD #14 - Misi berikutnya
15
MoD #15 - Dia juga Darwin (?)
16
MoD #16 - Kontrak Baru
17
MoD #17 - Maaf
18
MoD #18 - Thandazani
19
MoD #19 - Kisah itu
20
MoD #20 - Si Kembar
21
MoD #21 - Hubungan
22
MoD #22 - Wind Breaker
23
MoD #23 - Awal
24
MoD #24 - Emosi
25
MoD #25 - Zukol
26
MoD #26 - Pertarungan (1)
27
MoD #27 - Pertarungan (2)
28
MoD #28 - Pertarungan (3)
29
MoD #29 - Dia yang dirindukan
30
MoD #30 - Iblis ketiga, Darzi
31
MoD #31 - Pertemuan itu
32
MoD #32 - Pertemuan kedua
33
MoD #33 - Memantau
34
MoD #34 - Ellen
35
MoD #35 - Saat itu
36
MoD #36 - Rencana berikutnya
37
MoD #37 - Jalan-jalan
38
MoD #38 - Menyambut sejarah
39
MoD #39 - Pengorbanan
40
MoD #40 - Sejarah Baru
41
MoD #41 - Selamat tinggal, Luna
42
MoD #42 - Bagaimana Jika(?)
43
MoD #43 - Codename 'Ota'
44
MoD #44 - Koloseum
45
MoD #45 - Tamu
46
MoD #46 - Siapa kau?
47
MoD #47 - Kesepakatan
48
MoD #48 - Guncangan emosi
49
MoD #49 - Kondisi Warga
50
MoD #50 - Wind of Heal
51
MoD #51 - Dunia yang kau inginkan
52
MoD #52 - Desa Yafga
53
MoD #53 - Kondisi ratu
54
MoD #54 - Jarak
55
MoD #55 - Bagaimana caraku menghiburmu?
56
MoD #56 - Bukankah kita sama?
57
MoD #57 - Suasana Mencekik
58
MoD #58 - Jangan mendekat
59
MoD #59 - Suho
60
MoD #60 - Berkumpul
61
MoD #61 - Tolong dia
62
MoD #62 - Di luar perkiraan
63
MoD #63 - Keluarga
64
MoD #64 - Rumit
65
MoD #65 - Laporan
66
MoD #66 - Curhat
67
MoD #67 - Hari yang seperti biasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!