Eh? Apa dia baru saja meminta ijin untuk memelukku? Ada apa dengan situasi saat ini?!
Aku mendadak panik dan bingung. Sedikit mendongak, berniat melarangnya namun wajah yang murung dan tatapan matanya yang gelap membuatku berpikir ulang.
Aku mengangguk ragu-ragu.
“Terima kasih.” Azel melangkah lebih dekat kemudian mengulurkan tangannya dan memelukku. Tubuhnya sangat dingin.
Mungkinkah dia melewati batas sihirnya?
“Kau baik-baik saja, kak? Tubuhmu dingin.” Aku memegang punggungnya, merasakan hal yang sama dengan tubuh bagian depannya.
Sangat dingin.
Azel memelukku semakin erat, meletakkan dagunya di pundakku.“Sepertinya aku terlalu berlebihan tadi. Tubuhmu hangat, Ra. Bisakah kau menyembuhkanku lagi?”
Mendengar ucapannya, wajahku seketika memerah. Aku mulai tidak nyaman dengan pelukannya. “B-Bisakah kau tidak mengatakan hal aneh?”
“Seperti apa?” Azel memiringkan kepalanya, mengendus leherku dengan hindungnya.
Seketika aku merinding dan spontan mendorong tubuhnya dengan kasar. “Apa yang kau lakukan?!” aku mengusap kasar leherku yang masih saja merinding akibat ulahnya.
Apa baru saja dia berbuat mesum?! Argh! Tubuhku merinding! Sebaiknya aku pergi!
Segera aku memakai tudung jaketku kemudian berlari pergi. Berada di dekatnya tidaklah aman. Aku harus menjauh untuk sementara.
Matahari pagi mulai menyapa. Menyinari setiap bangunan yang masih luluh lantah. Aku ikut membaur bersama Inggrid. Membantu memindahkan puing-puing ke pinggir jalan. Misinya sudah selesai dan hari ini kami bisa pulang.
“Kapal kita sudah tiba. Kita harus berpamitan dengan mereka.” Rissa mengabarkan setelah kembali memeriksa pelabuhan.
Aku bisa bertemu dengan Master Gensha dan mungkin aku bisa menceritakan padanya. Juga, aku akan menghindari Azel untuk beberapa hari ke depan.
Kami menyelesaikan membereskan puing-puing tengah hari. Kami banyak menerima ucapan terima kasih. Aku juga mendengar cerita sebenarnya tentang Ghalagg.
“Awalnya kami tidak percaya, tapi kami benar-benar melihatnya. Seluku membawa beberapa orang warga ke dalam rumahnya kemudian dari sana kami mendengar teriakan. Setelah itu tidak terlihat lagi kemana mereka pergi. Kami sudah lama memperhatikan Seluku, tapi kami tidak bisa melakukan apapun. Beberapa siswa akademi yang bertugas pun ditelan olehnya. Dia terus mengirim permintaan pemusnahan iblis namun tak satu pun dari siswa itu yang kembali setelah masuk ke dalam perangkapnya. Kami sangat berterima kasih pada kalian. Kami tidak memiliki apapun di tempat ini, maafkan kami karena tidak memberikan cendera mata sama sekali.”
“Tidak perlu. Gunakan uang kalian untuk membangun rumah. Maaf karena kami membuat kalian panik.” Azel bertutur kata sopan.
Dia sudah kembali seperti sedia kala, hanya saja aku tidak mau berbicara dengannya kali ini. Diam dibarisan belakang bersama Rissa adalah pilihanku.
“Tugas kami sudah selesai. Jaga diri kalian baik-baik.” Azel melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh. Aku dan yang lainnya ikut berjalan di belakangnya.
Tersenyum lebar ke arah warga yang melambaikan tangannya dengan penuh semangat, mengantar kepergian kami.
Kenapa mereka tidak mengantar sampai ke pelabuhan? Itu karena mereka masih memiliki pekerjaan yang harus segera dikerjakan. Aku rasa mereka akan sibuk untuk beberapa hari ke depan.
“Tempat ini lebih hidup dibandingkan sebelumnya.” Rissa bergumam sembari menatap sekelilingnya di mana beberapa orang sedang bahu membahu menyelesaikan pekerjaan.
Aku tidak menyangka dampaknya akan sebesar ini. Tapi mengingat pertarungan tadi pagi, sepertinya ini cukup wajar. Tidak ada korban jiwa dari warga dan itu sangat menggembirakan. Aku rasa mereka yang menjadi korban juga senang.
Gelombang partikel sihir transparan berkumpul membentuk tubuh para korban. Aku rasa hanya aku yang bisa melihatnya. Mereka tersenyum lebar, melambaikan tangannya, kemudian menghilang. Melegakan melihat mereka kembali dengan senang. Berapa totalnya korban, aku rasa hampir lima belas orang.
“Setelah misi ini, kita akan dapat libur dua hari. Dan, kau harus melapor ke master begitu kita sampai di akademi.” Rissa kembali bersuara.
Ah, iya, aku hampir melupakan tugasku.
Tiba di pelabuhan. Kapal kami sudah siap dan jembatan, juga awak kapal yang menyambut kami dengan ramah. Satu persatu dari kami naik ke kapal. Kali ini Azel menjadi yang paling terakhir.
“Kau bisa melaporkan semuanya, Ra. Termasuk iblis itu.” Azel tiba-tiba mengajakku bicara ketika aku melewatinya dan menaiki tangga pertama.
Aku hanya mengangguk. Tidak berani untuk menatapnya dan kembali berjalan. Dia mengajakku untuk bicara normal, tapi tidak mudah bagiku.
Aku rasa kami kembali asing.
-o0o-
Pulang kembali ke akademi. Aku melaporkan apa yang bisa kulaporan, kecuali perbincanganku dengan Sortin. Terlalu melelahkan mengurus pelaporan dalam sehari. Aku juga tidak mau membuang hari liburku.
“Aku capek…” Aku mendorong pintu rumah dengan lemah. Pintunya tidaklah berat, tapi karena aku kelelahan, aku jadi kesusahan untuk mendorongnya.
“Selamat datang, Putri.”
Aku mendengar suara Master Gensha dan sekilas melihat seseorang duduk di kursi ruang tamu, tapi karena kelelahan ini aku terjatuh dan pingsan di depan pintu. Setelah itu aku tidak ingat.
Aku tidak bisa mendengar apapun, memaksaku membuka mata. Aku tidak bisa melihat apapun. Sekitarku sangat gelap, bahkan lantai yang aku pijak. Aku tidak merasa sedang berada di kamarku. Ini lebih terasa seperti berada di dunia yang berbeda.
“Kiara.”
Mendengar suara seorang yang tidak asing, spontan aku menoleh. Itu bukan suara ayahku, tapi suaranya terasa familiar di telingaku.
Siluet seorang laki-laki dengan sinar ungu yang mengelilinginya. Dia berdiri memunggungiku. Di hadapannya terbelah oleh cahaya yang begitu menyilaukan. Bukan, cahaya itu bukan muncul begitu saja, melainkan dibawa oleh seorang gadis kecil berambut hitam.
“Bagaimana kau bisa sampai di sini?” Laki-laki itu berjongkok dan memeluk gadis yang berlari mendekatinya.
Tempat yang gelap seketika menjadi begitu terang. Namun aku tidak bisa melihat wajah dua orang yang sedang saling berpelukan di depanku.
Apa ini mimpiku? Tapi, kenapa aku yang masih kecil memeluk orang yang tidak aku kenal?
“Jangan terlalu dekat. Kau bisa terluka, sayang.” Laki-laki itu melepas pelukannya dan sedikit mendorong tubuh mungil gadis di depannya.
“Tapi aku kangen, Ayah.”
Ayah?!
KRAK! Merasa pijakanku tidak normal, aku menunduk dan benar saja, lantai di bawahku retak. Aku kembali menatap dua orang yang saling bercengkrama, mereka tidak melihatku sama sekali.
Aku tidak mengerti. Siapa laki-laki itu, kenapa aku tidak mengingatnya. Aku tidak pernah melihatnya, kenapa aku yang masih kecil memanggilnya ayah? Kenapa? Kenapa?
Beragam pertanyaan memenuhi kepalaku hingga tanpa sadar lantai di bawah telah pecah. Tubuhku terjatuh begitu saja. Jatuh ke dalam kegelapan tanpa batas.
“Argh!” Aku terbangun dari tidur dengan keadaan terengah-engah. Mataku memutar, memandang seisi ruangan yang terang. Aku berada di kamarku sendiri, perabotan, perlengkapan, hingga aroma parfum, semuanya milikku.
Lalu, mimpi apa tadi?
“Oh! Anda sudah bangun, Putri?”
Mendengar suara Master Gensha, aku menoleh. Dia baru saja membuka pintu kemudian melangkah masuk.
“Berapa lama aku tertidur?”
“Sekitar 30 jam,” kekeh Master Gensha.
“30 jam?!!” Aku memekik terkejut. Dan spontan menatap ke luar jendela yang mana sudah malam. Aku kembali menatap Master Gensha yang hanya tersenyum.
“Kenapa kau tidak membangunkanku, master?”
“Anda sepertinya kecapekan, jadi saya tidak berani membangunkan anda.”
Dia benar. Kepalaku masih terasa berat. Jangan lupakan mimpi itu yang terasa asing dan familiar secara bersamaan.
“Anda ingin makan malam, Putri?”
“Sudah malam, ya? Aku akan membersihkan tubuhku lebih dulu. Setelah itu, aku akan turun.” Aku turun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju lemari pakaian.
Master Gensha menunduk sebelum akhir keluar dari kamar.
Tidak habis pikir aku tertidur selama 30 jam, sudah jelas lebih dari sehari. Kenapa? Ataukah karena aku memakai sihir milik dryad? Sepertinya aku harus bertanya ke Master Gensha.
Menghabiskan hampir dua puluh menit untuk membersihkan diri, aku keluar dari kamar dan turun ke lantai satu untuk makan malam. Rumah ini selalu hangat, sekalipun Master Gensha menyalakan pendingin ruangan. Sekalipun masih terasa sedikit dingin, namun tidak sedingin Pulau Domase.
Walaupun masih dari jarak yang jauh, aku bisa mencium aroma sup hangat. Aku melangkah semakin dekat dan tersenyum begitu melihat Master Gensha yang telah selesai menata makan malam.
“Bukankah ini terlalu banyak, master?” Aku duduk di kursi yang baru saja ditarik oleh Master Gensha.
“Saya rasa ini sangat pas untuk orang yang baru bangun setelah tidur seharian penuh,” balas Master Gensha.
Aku tertawa pelan. “Semua masakanmu memang enak, Master. Seminggu lebih aku tidak merasakan masakanmu sama sekali. Rasanya sangat berbeda.”
“Misi anda di Pulau Domase, apa di sana sangat dingin? Anda bahkan pulang dengan jaket tebal.”
Sembari mengunyah potongan kentang di dalam mulutku, aku menjawab. “Di sana tidak ada mana sama sekali. Aku bahkan sampai demam, Master.”
Master Gensha yang berdiri di seberang meja menyentuh dagunya. “Jadi, monster itu menyerap mana? Tipe melata?”
Aku mengangguk. “Dia bisa menyamar menjadi manusia untuk mencari mangsanya. Aku rasa dia menjalin kontrak dengan iblis. Iblis tingkat menengah yang bisa membuat anak buahnya sendiri.”
Master Gensha bergumam pelan. “Mungkinkah dari teritori ke sepuluh? Karena iblis tingkat tinggi tidak mungkin mau berurusan dengan manusia. Apa anda memakai sihir penyembuhan, Puteri?”
“Ya. Sylvatica. Sihir tingkat rendah yang biasanya dipakai orang-orang. Hanya saja, sepertinya aku terlalu berlebihan dan tubuhku jadi berat.”
“Sepertinya karena itulah anda tertidur lama. Jika ingin melakukannya lagi, anda harus dalam keadaan prima. Sylvatica memang sihir dikhususkan untuk sihir penyembuhan, tapi sepertinya ketika dia mendengarmu yang mau meminjam kekuatannya, tanpa sadar dia memberikan tekanan lebih pada tubuh anda.”
“Aku tidak berpikir sejauh itu. Waktu itu tidak ada cara lain untuk menyembuhkan teman-temanku secara bersamaan dan yang ada dipikiranku hanyalah Sylvatica. Jadi, aku memakainya. Aku meminjamnya setelah aku terluka, jadi mungkin itu juga termasuk hal yang memberatkan tubuhku.”
Aku mendorong pelan mangkuk sup untuk menjauh kemudian giliran memakan nasi dan ayam goreng balado.
“Lain kali berhati-hatilah, Puteri. Di luar rumah adalah tempat yang sangat berbahaya,” pesan Master Gensha.
Dia tidak bertanya alasan aku terluka, apa dia sudah tahu sebelumnya? Apa mungkin Azel datang kemari ketika aku tidur dan menceritakannya padanya?
“Ohya, Saat di sana aku dan yang lainnya juga bertemu dengan iblis tingkat lima, Master. Namanya Sortin,” lanjutku.
“Dia datang dengan sendirinya?”
Aku mengangguk. Mengganti mangkuk sup dengan piring berisikan nasi dan ayam goreng. “Kami sempat berbincang. Dia bahkan bilang kalau tidak tahu jika ada orang yang mengincarku. Alih-alih mengajakku secara paksa, dia malah menawarkannya padaku. Bukankah itu aneh?”
Master Gensha mengangguk setuju. “Pada dasarnya, semua iblis tidak memiliki niatan untuk mengajak baik-baik. Jika bisa dilakukan dengan jalur kekerasan, mereka tidak akan segan melakukannya. Apa dia mengatakan siapa yang menyuruhnya?”
Aku menggeleng.
“Iblis tingkat tinggi sangat sulit untuk dikenali. Terkadang ada beberapa kasus di mana dia bisa menyembunyikan auranya sendiri bahkan sampai ke titik yang mana dia terlihat seperti manusia biasa. Anda harus lebih berhati-hati lagi, Putri.”
Iblis menyamar menjadi manusia? Kalau begitu...
Aku mengangkat wajah, menatap Master Gensha yang juga menatapku. “Sebelum aku pingsan, aku melihat seseorang duduk di ruang tamu rumah ini, Master. Apa dia kenalanmu? Aku merasa tidak asing dengan auranya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments