BUM!!! BUM!!
Seluruh bangunan bergetar. Kepanikan mulai melanda seisi gedung. Semua siswa berhamburan keluar dari gedung sekolah.
Alarm dari lonceng berbunyi sangat nyaring, mengusik sepanjang lorong. Jika invasi sudah dimulai, sudah pasti banyak iblis tingkat menengah hingga rendah yang memenuhi seisi pulau. Kepanikan akan melanda satu pulau.
[BAGI SELURUH SISWA SEGERA MELAKUKAN EVAKUASI. IKUTI ARAHAN MASTER DAN BERLINDUNGLAH.]
Suara dari pengeras suara terdengar tergesa-gesa, menambah kepanikan lainnya.
Tak jauh berbeda dengan lorong sekolah UKS yang juga dilanda kepanikan. Bagi mereka yang tidak terluka parah, mereka segera ikut evakuasi bersama yang lainnya. Sedangkan yang terluka parah, dibantu oleh rekannya untuk segera mengungsi.
Getaran mulai terasa lebih sering, seakan gedung ini akan dirobohkan. Para master bergerak cepat untuk membantu evakuasi. Master Ellen juga membantu.
Tempat teraman jika ada musuh di dalam sebuah ruangan adalah halaman yang luas yang tidak tertutupi apapun, meskipun begitu kau akan ditemukan dengan mudah.
“Tinggalkan aku, Ra,” lirih Luna yang meringis kesakitan.
Aku belum menanyakan apa yang terjadi padanya, karena itu aku tidak mau meninggalkannya.
“Jangan banyak bicara.” Aku membantu Luna untuk duduk dan perlahan membawanya pergi.
Karena sihir Sylvatica sangat memakan banyak mana, jadi aku tidak ingin menggunakannya. Untuk sekarang, menyembuhkan Luna secara bertahap akan sangat membantu.
Aku meletakkan tangan kanan Luna ke pundakku kemudian kami berjalan keluar dari UKS. Tangan kiriku yang merangkul pinggang Luna bersinar redup. Aku harus menyembuhkannya sampai dia bisa berjalan dan memakai kekuatannya.
“Cepat!!” Master Ellen melambaikan tangannya. Dia berpegangan pada jendela agar keseimbangannya tetap terjaga.
Tenaga Luna perlahan mulai pulih, dia bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih. Masalahnya adalah sesuatu yang bergerak dari lantai satu hingga lantai tiga. Lantainya mulai retak.
Ini tidak baik!
Cepat-cepat aku menggenggam tangan Luna kemudian mendorongnya sejauh mungkin ke arah Master Ellen. Lantainya terbelah menjadi dua, tepat di sisi yang kupijak mulai ambles.
“Kiara!!!”
Pijakanku tidak stabil layaknya seperti monster raksasa yang berusaha mengeluarkan semua seisi rumah. Tapi kali ini lebih parah, karena terlalu dekat dengan permukaan tanah dan aku bisa mati kapan pun.
Setidaknya aku harus keluar dari tempat ini. Melompat dari puing-puing yang meluncur turun hingga aku bisa benar-benar melompat keluar sebelum reruntuhan itu. Tumpukan puing-puing bangunan terlihat menggunung. Satu sisi lainnya masih terlihat berdiri dengan kokoh.
Tidak terlihat adanya monster di sekitar akademi. Aku hanya mendengar teriakan warga dari kejauhan. Kalau monsternya tidak terlihat di atas permukaan tanah, maka hanya ada satu kemungkinan yaitu mereka ada di dalam tanah.
Iblis ke dua belas. Malroch, penguasa Ogre. Binatang buas berwarna hijau yang bisa berdiri dengan kedua kakinya dan memakai senjata. Tanah di sekitarku pecah dan muncullah sekian banyak Ogre dengan mata hitam dengan kobaran api ungu. Melihat warna ungu di dalam mata itu, mengingatkanku dengan Sortin. Namun milik Sortin jauh lebih terang.
Tapi, bagaimana jika mereka bekerja sama? Apa aku bisa percaya pada iblis yang tiba-tiba bersikap baik padaku?
“Habisi semua orang, jangan sisakan satu pun.” Seorang wanita berpakaian coboy lengkap dengan topi lebarnya berdiri diantara para Ogre itu. Warna rambutnya hitam dengan panjang mencapai pinggangnya. Dia membawa cambuk di tangan kanannya dan pistol di tangan kirinya.
Apa dia kidal?
“Maju.” Dia juga tidak terlihat akan berbelas kasihan.
Sebaiknya aku menjauh dari pekarangan akademi, mencari bala bantuan yang sekiranya bisa membantu. Berlari mencari celah dari banyaknya Ogre yang mengayunkan senjatanya dengan brutal.
Tangan mereka sangat kekar dengan garis merah terlukis di sana. Jadi, mereka bisa dengan mudah mengayunkan senjata di tangannya ke arah mana pun.
Ogre, mereka tidak terlalu pintar, namun insting mereka lebih tajam jika menyangkut mencari mangsa. Hanya dengan mencium darah manusia, mereka bisa tahu ke arah mana mereka harus pergi.
Aku melompat menghindari tebasan pedang besar yang diarahkan ke kakiku. Meskipun aku tidak bisa menggunakan sihirku tapi setidaknya aku tahu cara untuk menyelamatkan diri.
Menapak di kepala Ogre di dekatku kemudian menjadikannya sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi. Aku perlu melihat seberapa banyak mereka yang bergerak ke arahku. Dengan sedikit melayang di udara aku bisa melihat jumlah mereka yang hampir mencapai lima puluh.
Aku hanya melompat ke udara, tapi kenapa tubuhku tidak langsung jatuh?!
Menoleh ke sana kemari namun tidak menemukan siapapun. Tapi ada bayangan manusia yang melayang di atasku. Dia berdiri tepat di titik buta. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi dilihat dari figur tubuhnya dia seorang laki-laki dengan jas yang berkibar di tubuhnya.
“Kau hebat bisa lolos dari mereka. Tetaplah di sini dan belajarlah.” Laki-laki itu melayang turun perlahan, kemudian berhenti di sebelahku.
Dia mungkin seumuran dengan Master Ellen. Rambutnya yang sangat rapi dengan kacamata tipis yang bertengger di hidungnya. Terlihat gurat marah di dahinya. Apa mungkin karena bangunan akademi terbelah? Atau mungkin karena iblis itu?
“Hujan asam.” Laki-laki itu bergumam pelan, meskipun begitu aku masih bisa mendengarnya.
Gumpalan air asam melayang di udara, sejauh radius seratus meter. Tidak seperti air biasa yang transparan, air asam yang menjadi sihirnya berwarna merah. Hanya dengan arahan jari telunjuknya, gumpalan air asam melesat dengan cepat menembus tiap targetnya.
Kepala, kaki, jantung, hingga lambung. Air asam itu menembus tubuh ogre itu dengan cepat dan akurat, tepat di titik vital target. Tidak ada yang berhasil lolos dengan serangan brutal seperti itu.
Namun hanya ada satu orang yang bisa menepis semua serangan itu, yaitu wanita coboy.
“Pergilah ke utara. Kau bisa menemukan tenda pengungsi di sana, teman-temanmu pasti ada di sana.” Laki-laki itu menatap ke arahku kemudian menggerakkan tangannya.
Tubuhku yang melayang perlahan bergerak semakin jauh. Dia bisa menggerakkan tubuhku dengan sangat mudah. Apa aku seenteng itu?
“Jangan remehkan aku!!”
Cambuk wanita itu memanjang ke atas, seakan mencoba untuk meraihku yang berada di ketinggian. Namun, meleset karena air asam berhasil membelokkannya dan membuatnya mencambuk bangunan sekitar.
Laki-laki itu kuat. Aura di sekitarnya mulai berubah. Aku yang sudah kembali menapak di tanah ingin segera pergi, tapi tontonan di depanku, aku tertarik untuk melihatnya. Di sisi lain, aku harus memastikan kondisi Luna. Laki-laki itu bilang ke utara. Mungkin saja Luna ada di sana.
Berlari dengan jalan memutar, sebisa mungkin menghindari monster. Sejauh mata memandang, di luar akademi tidak ada warga lain. Kemungkinan besar mereka sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Kebanyakan yang menyebar adalah penyihir, mencoba menyingkirkan semua monster-monster itu.
Pulau ini hampir semua penduduknya adalah penyihir, jadi sekalipun ada monster yang akan menyerang, mereka pasti bisa mengatasi sendiri, meskipun dalam taraf tertentu. Tapi, bukan berarti para iblis itu datang tanpa perencanaan. Setidaknya aku merasakan beberapa aura kuat dari banyaknya iblis tingkat rendah.
Lalu, apa tujuan mereka?
“Kau mau pergi kemana?”
Mendengar suara seseorang, aku yang berlari seketika berhenti. Saat ini aku sedang berada di trotoar jalan raya besar. Tepat sebelah kiriku jalan raya, sedangkan sebelah kanan adalah perumahan warga. Tidak ada keberadaan siapapun di jarak jangkauan mataku, kalau begitu pemilik suara itu pasti berada di atas.
Merasa sesuatu sedang mendekat dengan kecepatan tinggi, aku segera menarik tubuhku ke kiri. Ledakan besar terjadi begitu aku menjauh. Itu dari anak panah yang melesat ke arahku.
Panah yang terbuat dari kegelapan yang dipadatkan dan akan meledak tepat ketika panah itu menyentuh benda.
Jadi, memang benar ada banyak iblis tingkat menengah, selain wanita koboy tadi. Kali ini muncul lagi seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Dia tidak butuh busur, karena dia hanya perlu mengulurkan tangan kirinya dan benang transparan akan muncul di atas punggung tangannya.
“Kau tidak boleh mengambilnya sendirian, Rave.” Laki-laki lainnya muncul tepat di belakangku dengan jarak yang jauh. Dia tidak jauh berbeda dengan laki-laki yang berdiri jauh di seberangku.
Kembar?!
“Bukankah tugasmu di sebelah, Rail?”
Suara mereka bahkan mirip. Yang membedakan adalah rambut hitam dan biru. Juga, kepribadian yang berkebalikan.
“Tidak mau! Yang di sini lebih menarik.”
Aku menoleh dengan perlahan namun langsung terhenti ketika sebilah belati yang terbungkus kegelapan tepat menempel di leherku. Aku rasa namanya Rail. Dia sangat cepat dan dia sudah berdiri di depanku dengan mata penuh intimidasi.
“Beri tahu aku, kenapa semua mana terlihat menyelimuti tubuhmu? Apa yang kau lakukan di masa lalu?” Rail tersenyum lebar, wajahnya benar-benar semakin gelap. Yang terlihat hanyalah cahaya dari matanya dan senyumnya.
Tingkat intimidasi yang hampir sama seperti Sortin. Mana mungkin aku bisa melawan mereka. Dua lawan satu. Apalagi aku yang belum sepenuhnya bisa mengendalikan sihir ini pasti akan menjadi bulan-bulanan mereka.
“Apa tujuan kalian?”
Melakukan negosiasi sepertinya tidak akan berhasil. Tapi, setidaknya aku ingin tahu apakah mereka ada hubungannya dengan Sortin atau tidak. Atau malah semua ini berhubungan dengan kepala sekolah.
“Kami sedang mencari penyihir diantara kalian semua untuk dijadikan murid. Bagaimana kalau kau jadi murid kami? Ini penawaran yang tidak buruk untukmu.” Yang menjawab bukanlah Rail, melainkan Rave. Dia ikut mendekat dan berdiri di belakang Rail.
Rave membuka tudung pakaiannya, diikuti oleh Rail. Aku bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Mereka terlihat seumuran dengan Azel.
“Hanya itu? Malroch tidak meminta kalian untuk menguasai pulau ini?”
Dua laki-laki kembar itu saling pandang kemudian mereka menatap serius ke arahku. Rail bahkan menarik kembali belati dari leherku. Apa? Apa pertanyaanku salah?
“Malroch?”
Rail menyeringai lebar dengan kelopak mata melebar. “Apa dia ada di sini?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Panthom
tiap hari up. Yay!!!
2023-09-12
0