Bab 17.

Saat mentari telah tenggelam, ibu dan anak yang baru saja turun gunung itu mendekati sebuah jalan. Ini bukan jalan raya yang dipenuhi aspal seperti kota-kota besar, jalan ini hanya berlapis tanah yang mungkin akan becek ketika hujan turun.

"Ibu, apakah kota King Hell masih jauh?"

Allison bertanya kepada ibunya, dia mengamati bunga-bunga yang tertata rapi di sepanjang jalan itu. Bunga itu sangat terawat namun anehnya ada tumbuhan beracun di sela-sela bunga-bunga itu.

"Tidak Allison, kita hanya perlu menunggu pedati dan meminta mereka mengantar ke Distrik King Hell,"

Mendengar hal itu Allison terdiam dia tidak lagi bertanya hanya mengikuti arah kaki ibunya. Sementara Anisley sibuk dengan gula-gula yang dibelinya dari pedagang yang kebetulan melintas.

Tak lama kemudian sebuah kereta kuda melintas, Belle menjegal mereka kemudian bertanya apakah bersedia mengantar mereka ke distrik King Hell.

Setelah mendapatkan jawaban dia bergegas membawa barang-barang masuk dan meminta Anisley dan Allison untuk naik.

"Hendak apa ke kota King Hell nyonya?,"

"Untuk memberi anak-anak pendidikan tuan,"

Setelah mendapatkan jawaban kereta kuda itu melaju meninggalkan tempat dimana Belle dan kedua anaknya berdiri. Suara tapak kaki kuda memecah keheningan petang itu.

"Nona, jangan berjalan disini saat malam hari. Katanya orang-orang dari bukit Gumiho akan mencari mangsa saat malam hari,"

mendengar hal itu Belle tersenyum sementara Anisley mulai bertanya-tanya, rasa ingin tahunya sangat tinggi namun dia juga tidak berani menyebutkan asal usulnya. Dia gadis yang cerdas akan sangat berbahaya jika orang-orang tau dari mana mereka berasal.

"Paman kata nenekku di bukit Gumiho ada rubah yang memiliki ekor sembilan, apakah itu benar paman?,"

Belle dan Allison yang mendengar itu memerah, jangan-jangan Anisley ingin mengatakan dari mana mereka berasal. Namun sesuai sifat Anisley dia bukan bocah yang ceroboh.

"Haha nona kecil jangan percaya, kalau rubah memang ada karena itu hutan belantara. Kalau Rubah ekor sembilan atau Gumiho itu hanya mitos, mitos yang membuat lembah itu menakutkan karena katanya ada sekelompok bandit yang menghuni tempat itu,"

Anisley tersenyum ternyata yang membuat orang-orang menjauh dari lembah Gumiho bukan tentang monster atau siluman namun karena labirin dan mitos bandit yang bersemayam di tempat itu.

Kereta kuda melaju dengan kecepatan sedang, bintang di langit malam sudah mulai terlihat begitu juga dengan kunang-kunang.

"Nona, inilah kota King Hell." tutur sang pengemudi saat mereka memasuki sebuah gerbang kota, disana ada lampu obor yang terbuat dari minyak. Ada juga lentera-lentera yang menggantung di sana sini.

"Paman, apakah paman tau dimana letak paviliun Lingyuan?"

"tujuan nyonya ada di rumah minum itu ya, akan saya antarkan,"

Rumah minum? Aneh sekali orang-orang jaman ini memanggil rumah bordil sebagai rumah minum.

"Paman tapi kata bibiku tempat itu adalah rumah bordil bagaimana bisa dibilang rumah minum?!"

"Nona anda tidak tau ya? Tempat itu memang di sebut rumah bordil. Namun apakah ada rumah bordil yang tidak menyediakan layanan kamar? Gadis-gadis disana sangat cantik."

"Paman namaku Julia Yoree, bibiku menyuruhku untuk mengelola tempat itu. Jika paman butuh bantuan silahkan cari saya di tempat itu,"

"Baik nona,"

beberapa keping perak diberikan kepada pengemudi kereta kuda itu. Sebenarnya itu terlalu banyak karena biasanya dia hanya mendapatkan sekitar 25 keping uang perunggu sementara 1 perak sama dengan 10 keping perunggu sementara 1 keping emas berarti 100 keping perak.

Setelah mendapatkan upah dan mengucapkan terima kasih pengemudi atau kusir kereta itu juga pergi bersama dengan kereta kudanya.

Paviliun Lingyuan sebuah rumah bordil yang berada di kota King Hell, namun berbeda pada aslinya nama rumah bordil seharusnya tidak cocok untuk tempat itu karena disana hanya ada penari bukan teman tidur.

Orang-orang bisa minum sampai mabuk, namun setelah itu orang-orang di paviliun Lingyuan tidak pernah mengurusi apa yang harus dilakukan orang - orang mabuk itu.

Penyamaran mereka di mulai, Belle melangkahkan kaki kedalam tempat itu dan tepat di depan matanya di sajikan pemandangan orang-orang yang sibuk bernyanyi -nyanyi , mabuk dan melihat para penari.

"Sungguh ini bukan penampungan orang gila bu?" tanya Allison sambil menatap ke segala arah.

Seseorang mendekati mereka kemudian bertanya apa maksud kedatangan mereka kemari, jika hanya ingin bersenang-senang tidak seharusnya membawa anak karena itu akan merusak moral mereka.

"Katakan pada Ling Yui, aku Julia Yoree datang menyapa,"

Setelah mendengar itu orang-orang itu bergegas pergi meninggalkan Belle dan kedua anaknya, dia bergegas menuju ruang pimpinan dan mengatakan jika ada orang yang mencarinya.

Tentu saja mereka langsung percaya, karena beberapa waktu lalu sudah diberikan perintah untuk menyambut pemimpin baru yang bermarga Yoore.

"Akhirnya pemimpin baru kita datang,"

Gadis manis bernama Ling Yui itu berjalan dengan anggun menuruni tangga setapak demi setapak, dia menatap orang-orang yang ada di barisan meja sampai mata nya melihat wanita yang tengah berdiri dengan dua anak di sampingnya.

"Ling Yui memberi salam kepada pemimpin paviliun, namun sebelum Yui membawa pemimpin ke tempat tinggal bisakah beritahu kami tentang segel giok,"

Tentu saja dari nada bicaranya tidak ada keraguan, namun dia masih harus memastikan tentang asli atau tidaknya nyonya besar yang kini ada di depannya.

Belle mengeluarkan segel giok yang menandakan dia adalah pemilik atau pewaris paviliun itu setelah memastikan semuanya Ling Yui memberi hormat kepada Belle.

"Tidak perlu se formal itu, aku akan memanggilmu adik Yui. Aku minta bantuanmu untuk membantu Allison dan Anisley masuk ke sekolah,"

"Saya pasti akan membantu tuan muda dan tuam putri untuk meraih angka di King Hell School. Orang-orang pernah bilang jika beberapa orang berbakat di seluruh negara akan dikirim ke ibukota kekaisaran untuk melanjutkan study nya,"

Mendengar hal itu Belle tersenyum dalam hatinya sedikit sulit, jika Anisley atau Allison dikirim ke tempat itu mungkin saja keluarga Carlisle akan menemukan mereka dan parahnya mungkin saja Eiser Gallbaro akan membunuh mereka karena Mereka memiliki darah keluarga Gallbaro.

"pemimpin apa ada yang anda pikirkan?"

"Tidak... Tidak.... Bagus sekali kata-kata mu namun aku tidak yakin Anisley dan Allison secerdas itu,"

Ling yui menggenggam tangan Belle kemudian meyakinkan bahwa tuan muda dan tuan putri pasti bisa melakukan itu.

Ling Yui minta kepada dua orang pelayan untuk membawa Allison dan Anisley kedalam kamar tidur mereka sekaligus melayani mereka untuk membersihkan diri, dari situlah pembicaraan antara Ling Yui dan Belle tidak terdengar oleh anak-anak tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!