Sudah setahun lamanya, setahun itu pula Eiser mencari keberadaan Belle dengan segala kekuatannya, namun apa daya. Seakan-akan seluruh dunia ikut menutupi keberadaan Belle.
Mustahil dengan kekuasaan yang ia miliki tidak bisa menemukan jejak seorang wanita, namun itulah kenyataannya. Kenyataan yang tidak bisa ditutupi dari segala mata memandang.
Mungkin Belle sudah mati. Jika iya, dimana letak kuburannya. Semua orang hampir menyerah untuk memberitahu kepada Eiser, 'menyerah lah atas pencarian wanita itu'. Mungkin kata-kata itu hampir setiap hari di dengar oleh Eiser, namun karena dia keras kepala maka tidak akan mudah baginya menyerah.
"Dr. Brown, apakah kau akan mengikuti aku ke hutan Gumiho?," pertanyaan yang diajukan kepada Dr. Brown itu seakan-akan bukan sebuah paksaan.
"Tentu saja, jika kamu mati di dalamnya siapa yang akan memberiku uang. Astaga aku lupa, kau tidak akan mati semudah itu kan!"
"Tuan tidak bisa pergi!" timpal Rain sambil berjalan mendekati dua orang yang sudah sejak lama di kenalnya itu.
Rain segera melanjutkan kata-katanya karena khawatir Eiser akan salah paham dengannya, "Tuan tidak bisa pergi!. Ada banyak hal dalam pemerintahan yang masih menunggu untuk tuan sidak, begitu juga tambang permata di bukit batu. Disana banyak monster pembunuh yang membuat banyak penambang mati,"
Eiser kembali duduk benar sekali sebagai pejabat nomor satu di kekaisaran tidak mungkin bisa pergi seenaknya sendiri apalagi pejabat - pejabat bawahannya juga pasti akan berpangku tangan jika dia tidak bergerak terlebih dahulu.
Walaupun banyak orang bilang jika menjadi pejabat nomor satu adalah hal baik karena semua bisa diselesaikan oleh bawahan. Kenyataannya tidak seperti itu, Eiser benar-benar harus berkutat dengan pena dan kertas setiap harinya.
"Sial, bukan pergi mencarinya malah harus membasmi monster. Kekacauan macam apa yang kaisar lakukan! Dia bahkan tidak memerintahkan pangeran kedua atau putra mahkota untuk pergi,"
Eiser melempar barang-barang di depannya, Rain hanya diam sementara Dr. Brown hanya meniup ujung kukunya walaupun tidak dia warnai.
Kekesalan Eiser selalu membawa dampak untuk seluruh mansion, namun jika benar kaisar menurunkan Dekrit agar dia pergi membasmi monster yang tersisa tentu saja semua harus dia lakukan. Menolak dekrit atau perintah kaisar itu sama dengan pemberontakan.
"Dulu saja waktu Gumiho masih ada. Mereka bekerja keras untuk menjaga monster tidak keluar dari sarang mereka, dan kini mereka keluar dengan membabi buta. Dan parahnya ada monster tingkat dewa yang katanya berkeliaran,"
Mendengar pernyataan Rain, Eiser mulai menghela nafas panjang. Monster Kultivator bukanlah monster biasa, Kultivator sendiri dibagi menjadi beberapa tahap dan sekarang hampir tidak ada Kultivator manusia yang masih hidup tapi kenapa monster itu bisa menjadi Kultivator setengah dewa.
Kaum Gumiho yang dibilang meresahkan masyarakat nyatanya tidak seperti itu. Mereka membantu manusia dengan mengendalikan kekuatan sihir, termasuk sihir mengendalikan monster biasa atau monster Kultivator.
Sementara itu Belle masih bersama Anisley dan Allison. Belle memangku Anisley dan Allison berada dalam pelukan Laluna.
Seakan-akan mengisyaratkan kesedihan Laluna menatap sedih Allison di pelukannya.
"Seandainya nenek memiliki sihir yang lebih kuat. Kamu pasti bisa berubah menjadi manusia tanpa kultivasi ataupun darah manusia ayahmu nak,"
"Bibi, itu bukan salahmu. Semua pasti ada jalan keluarnya,"
"oh iya Belle. Aku harus pergi memberantas monster jahat, katanya ada monster setengah dewa di sana. Jadi jangan keluar dari tempat ini apakah kau paham? Jika kau butuh sesuatu kamu bisa minta tolong kepada penduduk desa,"
penduduk desa yang di maksud tentu saja sama seperti Belle mereka berasal dari ras campuran. Namun rata-rata dari mereka sudah kehilangan sanak saudara karena pembantaian kaum Gumiho.
"Bibi aku akan menuruti kata-katamu. Namun kembalilah dengan selamat, aku tidak ingin kehilangan ibuku untuk kedua kalinya,"
Laluna tersenyum tidak apa-apa jika dia dianggap sebagai ibu pengganti oleh Belle. Setidaknya dia bisa menjaga keturunan dari bangsanya, sehingga tidak benar-benar punah pada masanya.
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Aku paling tau kekuatanku,"
Belle menghela nafas melihat itu, wanita kedua yang paling menyayanginya akan pergi melakukan sebuah hal yang sangat berbahaya. Namun kenapa? Kenapa manusia selalu menganggap Gumiho adalah monster terkutuk yang perlu dibasmi padahal mereka telah dibantu membasmi monster-monster tersebut.
"Hati-hatilah bibi. Karena diluar masih banyak orang yang menganggap Gumiho itu monster,"
"Aku tidak pernah mendengar cerita ini dari siapapun baik ayah, ibu atau ibu tiriku. Karena Gumiho hanya makhluk fantasi yang tidak di percaya oleh orang-orang, sehingga aku sendiri tidak yakin akan keberadaan mereka sampai bertemu kamu. Namun siapa sangka, ibuku adalah bagian dari kaummu."
"Kamu tidak perlu meyakini kami Belle. Yang harus kamu tau kamu adalah bagian dari kami, aku harus bersiap."
Laluna mengangkat Allison dari pangkuannya dengan sangat lembut, bayi itu masih kecil bahkan belum bisa duduk sendiri namun mereka sangat sehat dan tenang seakan-akan tau keadaan mereka sejak kecil.
Allison sendiri sangat suka melihat benda-benda yang berkaitan dengan kultivasi ataupun sihir mungkin karena darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah Gumiho sementara Anisley berbeda, dia justru lebih suka dengan benda-benda yang cantik layaknya manusia biasa.
"Bibi jika Allison bisa memiliki sihir Gumiho, apakah dia bisa membantumu menangkap monster?"
"Belle, baik itu Anisley ataupun Allison, mereka memiliki darah Gumiho. Jadi mereka berdua bisa, berbeda kesenangan bukan berarti mereka berbeda,"
Laluna menyerahkan Allison kepada ibunya dia mengecup kening dua bayi mungil tersebut kemudian memberi perintah kepada para penjaga lembah Gumiho untuk melindungi Belle dan anak-anak dalam segala hal walaupun nyawa taruhannya.
Mereka semua setuju, bagi mereka pewaris lebih penting dari segala hal dan mereka yakin jika lahirnya Allison adalah tanda bahwa bangkitnya kaum Gumiho di negara ini.
"Kaisar tidak menyukai Gumiho. Jadi yang paling aku inginkan dari kalian jangan menarik perhatian, sangat tidak masuk akal jika aku selamat namun kalian tidak," ucap Belle.
Rubah-rubah siluman itu benar-benar kagum, mereka tidak percaya manusia yang dia lindungi adalah darah Gumiho namun karena kebaikan hati Belle mereka semua menjadi sangat menyayangi Belle. Hidup berdampingan dengan para Rubah bukan berati hanya makan daging mentah, mereka menyediakan makanan yang berlimpah mulai dari daging dan sayur atau buah yang dipetik dari sekitar hutan Gumiho dan Belle sangat mencintai hidup di tempat itu.
"Ingat jika kalian mencari makanan jangan pernah mendekati kota,"
Tutur Belle yang dijawab auman oleh semua rubah itu, dan mereka semua bersiap melindungi Belle seperti perintah Laluna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments