Ini bukan lagi pagi hari, namun sudah bisa dibilang siang hari. Karena semalam terlalu lelah, Belle bangun kesiangan. Namun kenapa tadi sepertinya dia melihat fajar dan matahari.
Ilusi keindahan yang tercipta, mungkin hal itu karena Belle terlalu lelah.
"Nona Belinda, apakah anda akan kembali ke kediaman Carlisle?"
Eiser bertanya sambil memotong steak yang ada di depannya. Hal itu tentu membuat Belle menghentikan proses makannya.
"Saya tidak tau tuan, saya takut ayah saya marah karena saya tidak pulang semalaman,"
"Nona Belinda, bagaimana jika anda bekerjasama denganku, aku akan mengantarmu pulang. Lalu kamu hanya perlu menjawab, tidak berani membantah anda,"
Sebenarnya Belle masih sangat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Eiser, dengan cara seperti itu bisakah Eiser menggoyahkan hati tuan besar Carlisle.
Biarpun tidak sebesar pemegang kekuasaan tertinggi yaitu kerajaan Kalavera. Namun Keluarga Carlisle merupakan salah satu keluarga terkemuka di benua ini, orang-orang selalu memakai topeng demi bisa menjilat ayah dari Belinda. Namun, bagaimana dengan orang di depan matanya itu? dia bahkan tidak bergeming dengan nama keluarga Carlisle.
"Tu-an, tapi ayah saya bukan orang yang ramah,"
"Dia akan menjadi ramah kepada saya,"
Kata-kata ambigu itu keluar begitu saja dari mulut Eiser Gallbaro. Setahu Belle, Ayahnya adalah orang yang tidak takut untuk digantung namun bagaimana Eiser bisa bersikap se tenang itu mengenai ayahnya. Mungkin saja dia belum tau sifat ayah Belle. itulah yang saat ini ada di pikiran wanita muda tersebut.
Namun kenyataannya tidak seperti itu, Gallbaro dan Carlisle memiliki hubungan yang erat, walaupun Eiser tidak mengenal Belle karena dia tidak memperhatikan keluarga-keluarga bawahannya namun hal yang tidak bisa di pungkiri adalah setengah dari kekuatan Carlisle atau 1500 dari 3000 pasukan keluarga itu adalah milik Eiser. Jika pria tua itu tidak memberikan putrinya dan Eiser menarik mundur 1500 pasukan, kekacauan yang tidak terduga pasti akan datang di Mansion keluarga Carlisle.
"Tuan asal anda bisa membawa-ku pergi dari Carlisle, aku bisa mengabdi pada Gallbaro,"
senyuman misterius terlihat di bibir Eiser, entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria 28 tahun tersebut. namun Belle sudah tidak lagi perduli dengan hal itu, kali ini dia hanya ingin terbebas dari rasa takut itu
Kenyataan pahit yang dia alami membuat dirinya tau setidaknya kejadian semalam bukanlah kejadian buruk karena setidaknya dia menghabiskan malam dengan orang yang cukup gagah dan tampan. Bukan orang tua seperti yang selama ini selalu di perkenalkan ibu tirinya kepadanya.
Selesai makan Eiser mengelap mulutnya ia juga meneguk air yang sudah di sediakan. Dia menatap ke arah Belle yang tengah meneguk air putih di dalam gelasnya.
"Kamu tidak bisa makan seperti ini? Kulihat kamu terlalu banyak minum air Nona Belinda?"
"Tuan bisa memanggilku Belle. Biasanya aku dirumah hanya makan remahan roti sisa, ini bukan cerita yang bagus namun semua itu terjadi setelah ibuku meninggal. Seperti yang tuan tau aku nyaris tidak pernah keluar kecuali saat kabur seperti waktu itu,"
Eiser tertegun bagaimana bisa ada wanita yang begitu tenang saat menceritakan masalalu nya yang kelam. Seperti ada kobaran api yang memercik dalam tubuh Belle.
"Apa yang membuat kamu setenang ini?"
Belle tersenyum, ini pertama kalinya ada orang yang bertanya seperti itu, "Tentu saja harta ibuku tuan. Seperti yang anda tahu, Carlisle adalah warisan mendiang kakekku atau ayah dari ibuku. Tidak mungkin anda tidak tau marga ayahku sebelum menikah,"
Gadis yang cerdas dia bahkan bisa membaca situasi dengan sangat baik.
"Tuan saya minta maaf untuk kejadian semalam,"
Eiser yang sedang minum teh tiba-tiba tersedak saat Belle mengatakan itu, pelayan yang mendengar juga berusaha menerka-nerka apa yang terjadi namun hanya dalam hati. Karena sekali dia atau mereka buka mulut mungkin akan segera pindah alam.
Eiser mengangkat tangannya menyuruh semua pelayan meninggalkan ruangan itu , hingga suasana semakin sepi dan hening.
"Kamu sengaja mengatakan itu?" tutur Eiser dengan tatapan tajam.
"Ma-af saya terlalu terburu-buru."
"Ah sudahlah! Kamu hanya perlu bersiap untuk kembali ke Carlisle,"
Belle permisi kemudian meninggalkan ruang makan itu. Eiser menutup wajahnya dengan kedua tangganya mungkin saja tampilannya saat ini sedang merona namun dia harus tetap menjaga penampilan agar tidak terlihat.
"Kelihatannya gadis itu cukup manis, harusnya dia marah dan aku yang meminta maaf karena melakukan itu saat dia mabuk. Tak kusangka dia mengatakan itu lebih dahulu,"
setelah mengatakan itu Eiser memanggil seseorang untuk masuk, orang itu adalah Rain seorang kesatria sekaligus tangan kanan Eiser. Orang yang selalu ditunjuk Eiser untuk menjalankan tugas-tugas penting namun juga seseorang yang selalu menyiapkan segala kebutuhan Eiser.
"Rain siapkan Kereta kuda kita, kita akan berperang dengan sekelompok orang tidak tau malu. kita akan pergi ke kediaman Carlisle,"
"Baik tuan,"
"Oh ya Rain. Pergilah ke istana, berikan kabar kepada tuan Carlisle untuk membayar janjinya kepada Eiser Gallbaro, katakan juga bahwa aku menunggunya,"
"Siap tuan,"
Setelah mengatakan itu Rain bergegas untuk pergi, dia menyiapkan kereta kuda yang sangat mewahl dengan sangat baik dia juga memeriksa keamanan kereta tersebut serta kuda yang akan menarik kereta itu haruslah kuda dengan kesehatan terbaik karena mungkin tidak mungkin ada penyusup masuk kedalam kediaman Gallbaro saking banyaknya orang yang tidak suka dengan atasannya itu dan melakukan hal yang mencelakai mereka.
Rain sendiri adalah nama yang dianugerahkan Eiser kepadanya, karena saat itu Eiser yang tengah berperang mendapati Rain yang hampir sekarat saat hujan. Rain yang diselamatkan oleh Eiser sudah mengangkat pedang dengan sumpahnya untuk selalu menjadi kesatria unggulan dari Gallbaro.
Dan hingga saat ini, pasukan yang dipimpin oleh Rain selalu menjadi yang utama dan pemenang pertempuran. Hidup di zaman kerajaan seperti ini memanglah sulit, pertempuran perebutan tahta atau kekuasaan sering kali terjadi. Walaupun Eiser tidak suka terjun ke medan pertempuran namun sebagai bangsawan dia tetap harus mengirim kesatria dan pasukannya untuk membantu kerajaan demi mengamankan posisinya saat ini.
Eiser tidak menjawab Dia hanya datang mendekat ke arah Belle kemudian mengulurkan tangan, Belle yang merupakan bangsawan juga pasti tau tentang etiket itu. Dia meraih tangan Eiser dan berjalan di samping pria tersebut. Aneh sekali Belle bahkan tidakk merasa benci atau tertekan dia justru merasa amat sangat tenang dan aman.
Sepanjang mereka berjalan para pelayan juga menyapa mereka dengan ramah, tempat itu hampir seperti Kastil bukan lagi sebuah mansion.
Di depan mata mereka sudah tersedia sebuah kereta mewah dengan Rain di samping kereta itu, dia juga akan bertugas sebagai pengawal dan juga pengemudi kereta itu.
“Rain, kamu sudah bisa pergi melaksanakan tugasmu,”
“Baik tuan,”
Belle yang tidak tau apa-apa hanya diam, orang seperti Eiser tentu saja seharusnya sangat sibuk tapi dia justru akan pergi seperti ini.
“Apa tidak,......”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments