Benar-benar orang yang sulit dipercaya, Belle menghabiskan hari-harinya hanya dengan berlatih pedang dan obat-obatan. Mengapa dia tidak membangkitkan darah siluman yang melekat dalam dirinya.
Tidak semudah itu untuk membangkitkan inti suci dalam tubuh yang ternoda, bukan Belle yang ternoda namun karena dia keturunan ras campuran membuat dia harus melakukan upaya ekstra untuk membangkitkan kekuatan suci dan berubah menjadi Gumiho seutuhnya.
"Nona, tuan dan nona muda sudah mulai belajar berjalan. Namun kenapa Lady Laluna belum kembali juga,"
Seseorang tengah mendekati Belle yang sedang menjemur ramuan, sekarang hanya itu yang dia kerjakan. Ramuan yang ada di lembah Gumiho selalu menarik minat orang-orang sehingga perburuannya sangat liar. Namun karena adanya labirin formasi yang ada di dalam hutan itu membuat orang-orang itu berhenti mencari cara masuk kedalam hutan.
Kini sebagian besar orang-orang dari lembah Gumiho berprofesi sebagai dokter atau tabib. Namun Belle memilih mengumpulkan bahan obat dan mengeringkannya kemudian dijual dengan cara dititipkan kepada dokter yang turun gunung untuk mengobati pasien.
"Nona, kamu selalu mengumpulkan tael emas dan perak. Untuk apa semua itu?"
Belle menoleh ke arah orang yang bertanya itu, Lily adalah seorang gadis desa dibawah gubug tempat Belle tinggal namun dia mau naik ke atas untuk menemani Belle merawat Allison dan Anisley.
"Lily, kamu lihat? Dua anak bandel itu sudah tumbuh besar. Aku harus memberinya sekolah yang baik,"
Sambil tersenyum Belle mengatakan itu kemudian kembali memilah dan memilih bahan-bahan jangan sampai kualitasnya rusak begitu saja.
"Nona, jika Anisley bersekolah bagaimana dengan Allison. Oh tidak maksudku, dia tidak akan keluar dengan seperti ini,"
"Aku mengerti ke khawatiran mu Lily. Namun bibi sudah berjanji untuk mencari cara merubah Allison,"
Mendengar itu Lily hanya diam, walau sudah setahun berlalu dan Laluna belum kembali namun Belle masih tetap yakin bibinya itu akan baik-baik saja.
Namun disisi lain Laluna bertemu dengan Eiser dan pasukannya. Sebagai ras Gumiho tentu saja dia akan diburu ketika terlihat, namun penyamarannya setara dengan kultivator tingkat tinggi membuat orang - orang tidak sadar jika di dekatnya adalah ras Gumiho.
"Apa kamu adalah Eiser Gallbaro?,"
Laluna mendekati Eiser yang terluka dengan anak panah menancap di dadanya. Eiser hanya menatap wanita genit di depannya tanpa berkata.
"Jawab iya atau bukan?!"
"Tuanku Eiser Gallbaro. Untuk apa anda mendekatinya? Dia pasti tidak tertarik dengan wanita macam siluman seperti anda,"
"Ha Ha Ha... Benar sekali! aku adalah siluman, aku bisa menyembuhkan tuanmu. Namun kamu salah anak muda, Tuanmu sangat menyukai siluman seperti aku,"
Sorot mata Laluna menyemburat ke langit, bintang-bintang bertebaran dengan indahnya di langit ditambah kunang-kunang yang memancarkan cahaya dengan indah.
"Gawat... Seekor monster raksasa berlari kemari, segera tinggalkan tempat ini tuan!"
Seorang prajurit lari tunggang-langgang mendekati Eiser walaupun tubuhnya penuh dengan darah namun dia masih berusaha untuk memberitahu Eiser tentang itu.
"Kamu pergi, cari pohon acrodia. Naiklah ke atasnya, monster itu tidak akan menyentuh pohon suci,"
Mendengar hal itu pria itu ternganga, "lalu bagaimana dengan tuan Eiser, Dr Brown dan Rain?"
"bodoh cepat pergi jangan pernah bertanya apapun,"
Pria itu hanya bisa percaya kepada Laluna, dia tidak ingin mati di tempat itu walaupun sudah mengabadikan hidupnya, bukan tanpa alasan itu karena di luar sana masih banyak saudara sesama prajurit untuk dia tolong. Hah, sudah setahun lamanya perang itu terjadi. Namun monster itu seperti tidak habisnya mereka menyerang dengan semakin ganas.
"Bahkan seekor monster bisa menyerang menggunakan panah. Apakah kalian percaya itu?,"
"Itu bukan monster, tapi adalah pembunuh,"
"Benar sekali, aku akan menolong kalian jika Eiser Gallbaro rela memberikan sedikit darahnya untukku,"
"Kau untuk apa darah tuan ku?"
Rain mulai tidak bisa mengendalikan amarahnya dia mengumpat dan mengatakan bahwa Laluna adalah Pisikopat yang sebenarnya ingin membunuhnya.
"Cucuku membutuhkan darahnya, aku ingin kamu tau itu. Bukankah ini bagus, aku menyelamatkan kalian dan kalian menyelamatkan cucuku,"
"Jika hanya seperti itu, kenapa bukan darahku saja,"
Rain tak bisa mengendalikan amarahnya, sementara monster semakin mendekat.
"Setuju atau aku tinggalkan kalian disini?!"
Akhirnya dengan berat hati Dr. Brown dan Rain setuju, tentu saja jika mereka bertiga mati bersama semuanya tidak akan baik-baik saja karena kekaisaran akan semakin terguncang.
Monster mendekat dengan sempurna, saat itu juga Laluna berubah menjadi rubah ekor sembilan. Siluman benar-benar masih ada siluman di depan mata mereka, namun satu kibasan ekornya membuat seluruh monster yang menyerang kehilangan kekuatan dan tidak berdaya, mereka mati seketika seperti terkena racun.
"Aku sudah membunuh monster itu. Sekarang tepati janjimu,"
"Sebenarnya aku tidak percaya jika siluman itu ada. Namun aku melihat itu dengan jelas? apa kamu tidak ingin membunuh kami? Bukankah siluman sangat suka dengan manusia,"
"Manusia itu sangat membosankan, kalian hidup hanya sebentar."
Laluna mendekati Eiser kemudian mengambil sedikit darah dalam botol kecil. Kemudian dia mencabut anak panah yang tertancap di dada Eiser, darah menyembur keluar namun berapa saat kemudian luka berangsur pulih.
"Gumiho hanya tinggal aku sendiri, itu karena kekejaman manusia. Namun jika nanti kalian bertemu cucu angkat ku tolong perlakuan mereka dengan baik. Mereka hanya manusia yang diadopsi oleh siluman, aku menunjukkan kekuatan bukan karena dendam. Ini hanya rasa terima kasih untuk kalian,"
Setelah mengatakan itu Laluna melesat pergi, sementara Rain masih menatap bayangannya yang sudah tidak terlihat lagi oleh mata telanjang.
Dr. Brown memeriksa tubuh Eiser, dia benar-benar tidak tau Eiser bahkan lebih sehat dari sebelumnya.
"Rain apakah nanti kita perlu memberitahu jika kita menukar darahnya dengan nyawanya?"
Dr. Brown bertanya kepada Rain yang masih menatap ke seberang arah. Jika kita merahasiakan itu, bukankah sama saja dengan minta di penggal.
"Kalian bilang apa tadi?"
Eiser tiba-tiba bangun hal itu mengejutkan dua orang di dekatnya itu. "Rain segera bikin api unggun," perintah Dr. Brown.
Rain melakukan itu dia menyiapkan segala hal tentang api, kemudian membakar ranting-ranting kering dan menyalakan api.
"Kita tidak punya pilihan lain Eiser,"
"Bodoh, kenapa kamu tidak bertanya kemana dia pergi? Mungkin saja cucu yang dia bicarakan adalah anakku." ucap Eiser sambil memegang kepala dan menangis. Sudah dua tahun berlalu tapi Eiser belum melupakan Belle, satu satunya petunjuk bahkan sudah pergi tanpa jejak. Eiser tidak bisa menyalahkan kedua orang kepercayaannya itu.
"Eiser taukah kamu. Bahwa wanita itu adalah siluman rubah ekor sembilan,"
"Apa......"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments