Malam semakin sunyi entah kenapa pandangan Belle tertuju pada kelap kelip langit malam. Sesekali dia menghela nafas sembari menatap langit malam yang indah itu, anggur yang dia inginkan juga sudah tersedia di sebuah meja kecil.
“Kamu sangat menyukai tempat ini nona Belinda?”
Suara langkah kaki terdengar mengiringi pertanyaan itu, langkah kaki besar dan berat juga berirama siapa lagi kalau bukan Eiser sang penguasa.
“Anda sangat hebat tuan. Anda memiliki tempat sempurna di sini,” Tatapan mata indah itu tetap tertuju pada langit malam, rambut berwarna hitam legam dengan mata berwarna emas.
“Benar, aku memang menginginkan tempat ini. Lihat nona, betapa luasnya dunia ini, Bukan hanya tempat ini. Namun dunia ini harus berada dalam gengaman ku. ”
"Aku suka dengan ambisimu tuan. Jika kamu sudah menguasai dunia, tolong jangan lupakan aku!."
Eiser menunjuk ke depan dengan serius, Belle-pun melihat kemana arah jari telunjuk itu, lampu yang berkelap kelip. Inikah pemandangan malam di kota tempat tinggalnya. cukup menakjubkan namun karena selama ini dia jarang keluar rumah kecuali pas sekolah tentu saja dia tidak tahu keindahan yang semacam itu.
"Tuan apakah menurut mu hidupku ini cukup sial. hampir setiap hari saat ada kesempatan, aku harus berlari. aku tidak mau dijual tuan! namun sekeras apapun aku mengadu, ayah hanya percaya sama istri baru nya,"
Ia melanjutkan ceritanya dengan benar walaupun ia sudah merasa cukup mabuk namun itu belum cukup untuknya melupakan kesedihan itu.
"Sebenarnya bukan termasuk baru, dia masuk ke kediaman Carlisle saat aku masih kecil, wajar saja jika ayah menganggap dia ibu yang baik. Karena dia selalu memperhatikan makan pakaian dan juga pendidikanku. Namun disisi lain dia sangat ingin menyingkirkan aku dari dalam hidup ayah. Ahh... terlahir dari keluarga kaya memang tidak mudah! "
Belle terus mengoceh, gelas demi gelas anggur sudah dia teguk. Entah seberapa banyak, tapi dia benar-benar sudah mulai mabuk. Eiser tidak melakukan sesuatu dia hanya berdiri di samping Belle yang menatap ke atas awan.
"Andaikan aku bisa bebas seperti bintang-bintang, aku bisa bermain sepuas mungkin,"
Eiser tersenyum, ada yang salah dengan kata-kata Belle, bintang memang sangat indah di atas sana namun dia tidak se 'bebas ucapan Belle. Bintang bebas hanya pada tempatnya, para bintang tidak bisa pergi dari langit.
Mata Belle semakin kabur, pandangannya juga sama. Tanpa sengaja dia menyentuh lengan Eiser, tuan kenapa panas sekali disini. Belle berontak dia melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, padahal saat itu posisi mereka masih berada di atas balkon. Sangat berbahaya jika ada orang yang melihat dari bawah pakaian Belle yang berantakan.
Tanpa pikir panjang Eiser menggendong tubuh Belle kembali ke dalam kamar, "Nyaman, sangat nyaman," lirih Belle sambil meraba-raba dada kekar Eiser.
"Nona jangan bermain api jika kamu takut terbakar," ucap Eiser gusar.
Namun Eiser tidak bisa berbuat apa-apa, wanita itu tiba-tiba menarik dan menindihnya saat Eiser berusaha untuk meletakkannya diatas kasur.
Belle berusaha untuk mencium bibir tebal itu, namun sayang sekali dia bahkan tidak tau caranya berciuman.
"Dengan kemampuan seperti ini berani memprovokasi aku?,"
Keadaan sudah tidak bisa lagi di kondisikan, Eiser juga hanyalah manusia biasa dia tidak bisa terlalu lama menahan apalagi saat belahan dada Belle terbuka dengan begitu lebar. Dua buah bukit kembar yang indah dan berukuran cukup besar, bibir tipis berwarna pink, leher mulus dan selangka yang bagus. Siapa yang tidak bernafsu melihat semua itu.
"Nona, jika kau mau. aku bisa menuruti itu,!"
Eiser Gallbaro mulai mencumbu gadis itu, ia mencium bibir tipis itu dengan ganas membuat Belle sendiri nyaris kehabisan nafas. Kemudian dia membuka semua kain yang menutup bagian tubuh Belle, menyisakan gadis itu telanjang tanpa sehelai benang 'pun.
Tubuh yang sangat sempurna, Eiser tidak menyia-nyiakan seinci pun tubuh mungil Belle, ia mencium dan meninggalkan tanda di setiap bagian yang ia inginkan. Sementara Belle hanya menikmati hal itu, ia mengerang dan mendesah pelan menyisakan panasnya ruangan itu saat ini.
"Emmm... tuan... emmmm... "
Malam itu menjadi sangat panas, karena Belle mabuk semua terjadi begitu saja dan dua insan tersebut sama-sama menikmati malam yang menggairahkan di atas kasur besar itu. Tidak ada penolakan, entah kemana harga diri yang dia perjuangkan saat ini. Semuanya terasa lenyap begitu saja..
"Arghhhhhh.... Sakitt... tuan pelan-pelan!" pelik Belinda.
Belle berteriak kesakitan saat Eiser mencoba menerobos, mereka berdua benar-benar kehilangan akal sehat saat itu. Namun aneh selalu dengan Eiser, dia tidak menolak Belle dia juga tidak melempar Belle seperti para wanita yang berusaha naik ke atas ranjangnya.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja," lirih Eiser di telinga Belle.
Setitik air mata meleleh karena rasa sakit yang terasa, namun tak lama kemudian hanya terdengar desahan desahan panas di kamar itu. Untung saja kamar itu kedap suara, sehingga dinding pun tak mampu mendengarnya.
"Emmm.. ahh.. emmm.. aku mau lagi."
Cukup selama 22 tahun Belle menjaga kehormatannya, kini mahkota suci itu telah jebol di pelukan seseorang yang ia tolong dan menolongnya. Malam panas itu hampir berakhir saat menjelang pagi, Belle tertidur lelap karena kelelahan sementara Eiser masih memiliki tenaga untuk bangun dan meninggalkan tempat itu.
Fajar telah tiba mentari telah terbit di ufuk timur, samar-samar Belle membuka matanya kemudian dia membuka lebar matanya. Kenangan semalam masih terlihat jelas di ingatannya, dia juga mengingat dia yang mabuk dan memprovokasi Eiser.
"Argh, aku kehilangan kontrol hanya karena anggur merah, ini menyebalkan!" gerutu Belle.
Belle berusaha untuk bangkit, namun rasanya pinggang nya hampir patah bagian vital juga terasa sangat nyeri sekali, dia berusaha menopang kakinya yang terasa sangat lemas.
Sakit sekali dari pangkal paha hingga pinggang dan punggung rasanya hampir remuk, wajar saja hal itu terjadi hampir semalam suntuk, "Argh... apakah dia binatang buas? mengapa dia terlihat baik-baik saja sementara aku menderita seperti ini!"
Terdengar suara pintu di buka, Belle menutupi tubuhnya dengan selimut. Sangat tidak pantas jika pelayan melihatnya seperti itu.
"Rupanya kamu sudah bangun, lekas mandi aku menunggumu untuk sarapan," tutur keras Eiser. Pria itu masih sangat egois.
"Tuan, kamu masih sempat bicara seperti itu setelah membuatku seperti ini,"
Belle sangat gusar, sebenarnya dia ingin meminta maaf karena telah membangunkan hasrat Eiser namun saat ini dia adalah korban yang lebih parah sementara pria di depannya justru berdiri tanpa merasakan apapun.
"Sudah jangan manja nona," jawab Eiser sambil berbalik pergi.
"Tu-an, sakit." tutur Belle dengan suara lirih namun cukup untuk di dengar Eiser. Eiser lupa Belle hanya wanita biasa, bagaimana wanita itu bisa menahan kejamnya semalam.
Eiser mendekati ranjang tempat Belle berbaring, wanita itu merona setelah mengatakan itu. Namun saat itu lebih baik jika Eiser yang membantunya daripada orang lain, karena dia tidak ingin menjadi biang gosip.
Eiser mengangkat tubuh Belle dan menggendongnya ke dalam air yang sudah disiapkan oleh pelayan. Bak besar itu terisi penuh dengan air hangat dan kelopak mawar.
Tidak bicara apapun, ya Eiser tidak bicara apapun. Mungkin saja dia malu, namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu dan malah bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Belle membasuh tubuhnya, namun tetap saja berapa kali pun dia menggosok tubuhnya tanda cinta yang diberikan Eiser di berbagai belahan tubuhnya tidak hilang sama sekali.
Eiser tidak bergeming, dia hanya menatap Belle yang menggosok tubuhnya itu.
"Sampai kapan kamu akan menyakiti tubuhmu dengan cara seperti itu?"
"Hah, tuan? Mengapa anda masih disini?" tanya Belle sambil masuk ke dalam bak mandi.
"Apa tadi kamu mendengar aku keluar?"
Belle melupakan itu, dia hanya fokus dengan bekas semalam. Belle yang malu-malu seperti itu justru membuat Eiser tanpa sadar tersenyum.
"Sudahlah bagian mana yang belum pernah kulihat,"
Belle kesal dengan hal itu, dia ingin berteriak "Sungguh kamu tidak tau malu," namun sebenarnya semuanya dimulai oleh dia sendiri sehingga Belle hanya menyimpan semuanya sendirian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments