Bab 14.

Fajar menyingsing mentari telah terbit dengan indahnya di ufuk timur. Laluna telah kembali dari medan perang kini wanita itu tengah duduk di samping Belle yang masih tertidur lelap.

Walaupun wajahnya seusia Belle namun Laluna adalah Kultivator dan juga Siluman jadi mungkin saja usianya sebenarnya jauh lebih tua dari penampilannya.

Belle membuka matanya pagi itu, dua bocah kecil masih meringkuk tepat di depan matanya.

"Bibi, kamu sudah kembali? Apakah kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan yang sama terus di ucapkan Belle kepada wanita di depannya itu. Laluna hanya tersenyum melihat Belle menggerayangi tubuhnya kemudian memeluknya dengan lembut.

Setahun sudah berlalu dan kini dia kembali, "Aku kembali untuk ini,"

Laluna mengeluarkan botol cairan, cairan yang tidak lain adalah darah dari Eiser tersebut. Belle memang nampak terkejut namun dia berusaha untuk tetap

tenang, anak-anaknya yang masih tidur mungkin saja akan terganggu jika dia berisik.

“Ini adalah darah dari Eiser Gallbaro, dengan menggunakan ini kita bisa merubah Allison menjadi tubuh manusia sepenuhnya. Ingat hanya tubuh manusia, jika naluri Rubah bangkit dia akan berubah di bulan purnama,”

Laluna baru saja kembali berperang namun dia langsung mengerjakan urusan itu ketika dia kembali. Apakah belle sudah menyusahkannya terlalu jauh.

“Bibi maafkan aku. Aku membuatmu susah sejak datang kemari,”

“aku justru senang bisa melakukan ini. Setidaknya aku bisa menjagamu walaupun aku tidak bisa menjaga ibumu,"

Laluna tersenyum kemudian dia menatap Allison yang masih tertidur lelap sambil meringkuk. Sementara Anisley tertidur sambil merentangkan tangan.

"Mereka sangat lucu saat tertidur. Anisley, dulu mendiang nenekmu selalu berharap memiliki cucu perempuan dan sekarang akhirnya kamu lahir!"

"Bibi, bukankah ibuku perempuan. Mengapa dia ingin memiliki cucu perempuan?"

Laluna tersenyum kemudian menatap ke arah luar, "Karena kami ras Gumiho. Laki-laki adalah penduduk yang paling rentan di bunuh. Karena dari lahir mereka memiliki kekuatan dan tubuh Gumiho, contohnya Allison. Kalau perempuan jika beruntung dia bisa langsung berwujud manusia dan tidak menimbulkan kecurigaan saat berinteraksi dengan manusia. Namun kami bukan orang-orang yang beruntung itu, kami harus bertapa untuk mendapatkan wujud ini,"

Belle mulai sadar demi mewujudkan tubuh ini mereka mengorbankan banyak hal. Termasuk ibunya demi memberikan dia kebahagiaan sampai rela memotong ekornya agar tidak kembali menjadi Gumiho walaupun rasa sakit menyerang tubuhnya sampai dia wafat pada akhirnya.

Dalam ritual memulihkan wujud Allison dibutuhkan darah dari ayah dan anak tersebut sehingga tidak bisa di palsukan.

Pepatah mengatakan darah lebih kental daripada air sehingga kecuali orang yang bersangkutan tidak ada yang bisa menggantikan darah ritual.

"Belle aku membutuhkan darah dari Allison. Namun dia masih sangat kecil, bagaimana cara kita mengambilnya?,"

Belle tersenyum kemudian menatap putranya yang memiliki telinga, ekor tangan dan kaki mirip rubah namun bertubuh campuran, itulah yang di sebut ras campuran.

"Bibi aku akan melakukannya, Allison pasti akan memaafkan aku jika tau aku melakukan ini demi kebaikannya,"

Laluna mengangguk kemudian Belle mengangkat tubuh mungil Allison hingga mata bocah kecil itu terbangun dan langsung berbinar.

"Allison maafkan ibu. Demi membuatmu lebih bahagia kedepannya ibu harus melakukan ini,"

Allison bukan bayi biasa dia tau apa yang di maksudkan ibunya sehingga dia begitu cepat paham situasi dan memeluk ibunya. Jika Allison adalah rubah sesungguhnya harusnya satu tahun sudah usia matang untuk seekor rubah.

Allison anak yang sangat baik dia bahkan tidak menangis saat belle mengambil beberapa tetes

darahnya. Belle sebenarnya sangat heran Allison tidak menangis sedikitpun, namun saat ini itu tidaklah penting yang paling penting adalah menyempurnakan tubuh allison agar dia bisa dia bawa ke desa untuk pergi ke sekolah.

Fajar benar-benar sudah terbit, mentari bahkan sudah terlihat cukup tinggi. Tidak ada alasan bagi

Belle dan laluna untuk menunda ritual itu, sehingga laluna memerintahkan salah satu bawahannya mengumpulkan tujuh orang dari desa untuk melaksanakan ritual tersebut, ritual itu tidak boleh gagal karena itu adalah kesempatan sekali seumur hidup jika gagal semuanya pasti akan berakhir itu sebabnya Laluna mengumpulkan beberapa orang tetua desa.

Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi merah. Mungkin orang-orang dari kejauhan akan menyadari hal itu walaupun tidak mungkin ada yang berani masuk kedalam lembah Gumiho namun rasa penasaran manusia selalu tidak berujung.

Belle sedikit terkejut karena langit merah hanya ada di sekitar lereng lembah Gumiho, dia ingin bertanya namun seorang pria tua menghentikannya.

"Ini sangat lumrah bagi kami jika akan mengalami pergantian pemimpin, mungkin Allison adalah pemimpin ras kami yang selanjutnya,"

Setelah mengatakan itu pria tua itu bergegas masuk kedalam rumah suci, rumah itu hanya di khususkan untuk urusan urusan penting seperti ritual yang kali ini akan dihadapi Allison.

"Allison, ikut nenek. Sementara kamu jaga Anisley,"

Belle menyerahkan Allison kedalam pelukan Laluna, bocah itu nampak pasrah begitu saja tidak memberontak.

"Mungkin akan ada sedikit rasa sakit, tapi nenek yakin kamu pasti bisa tahan."

Allison hanya tersenyum dan tertawa dia memainkan ujung rambut Laluna yang menjuntai.

Semua hal sudah siap, ritual dimulai. Entah kenapa petir dan guntur di langit betebaran, langit yang tadi hanya merah darah kini gelap gulita bagaikan ada gerhana matahari.

Burung gagak terbang malang melintang di udara, suara binatang-binatang mulai terdengar bersahut-sahutan.

"Ada apa ini? Mengapa langit seperti ini. Apakah Allison baik-baik saja?!"

Belle merasa sangat khawatir sekaligus penasaran, namun seperti yang dipesan Laluna dia tidak boleh mengganggu ritual itu apapun yang terjadi.

Sudah satu jam yang lalu ritual itu dimulai entah kenapa ritual ini terasa sangat lama bagi Belle. Memang wajar ritual itu sangat lama namun dia tidak bisa membiarkan Allison berada dalam bahaya.

Langit berwarna gelap gulita, seperti gerhana matahari sedang terjadi. Namun saat ini langit justru gelap semuanya tidak hanya diatas lembah Gumiho.

Belle mendekap Anisley dalam pelukannya, harap-harap cemas dengan keadaan Allison didalam sana.

"Kakakmu pasti akan baik-baik saja. Iya kan Anisley,"

Namun Anisley yang belum bisa bicara itu hanya mengangguk dan tersenyum, memang anak yang terlahir dengan gen yang baik selalu berada di atas rata-rata. Bahkan mereka yang tidak mampu untuk mengontrol dirinya justru mampu menenangkan orang lain

Lima jam sudah berlalu, langit sudah mulai terang benderang. Laluna keluar dari tempat tersebut diiringi oleh tetua yang tadi membantunya. Langit masih sedikit gelap namun mereka justru tertawa bahagia.

"Bibi apa yang terjadi?...."

Belle sedikit penasaran namun Laluna hanya tersenyum tanpa memberitahu apapun.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!