Bab 16.

Novel ini adalah kisah perpaduan peradaban, meskipun latar belakang kisah ini adalah sebuah kerajaan, namun di tempat ini orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi sudah memiliki kendaraan bermotor seperti mobil. sementara orang-orang yang memiliki status menengah kebawah bisa naik kereta bawah tanah, kereta kuda, pedati atau-pun tandu.

tidak ada unta disini karena ini bukanlah negara dengan bagian gurun pasir, sebuah kerajaan yang di pimpin oleh seorang kaisar, kaisar memiliki seorang permaisuri dan beberapa orang selir.

tentu saja yang namanya harem sudah pasti tidak luput dari kekacauan, rebutan tahta dan perang antar saudara sangat umum terjadi di sini.

kekaisaran tinggi Kalavera, walupun di sekelilingnya sudah dibangun gedung-gedung megah seperti Gallbaro Group dan Eiser sebagai pemimpinnya, namun negara yang masih berwujud kekaisaran ini tentu saja banyak pro dan kontra apalagi bagi seorang pangeran yang mendirikan gedung pencakar langit sebagai induk dari perusahaannya.

Kini Eiser yang menjadi seorang pejabat utama dibawah hidung kaisar tentu saja tidak bisa sepenuh hati menjalankan bisnis tambah permata dan emas dibawah naungan Gallbaro Group. Dia masih harus menjalankan perintah atau misi dari ayahnya untuk membasmi monster dan menumpas kejahatan.

Monster dan Gumiho hanyalah sebuah lelucon bagi masyarakat sipil Kekaisaran Kalavera, namun orang-orang di selatan yang disebut Distrik King Hell sangat meyakini bahwa monster dan Gumiho itu nyata adanya karena mereka adalah kota kecil terdekat dari lembah Gumiho.

Distrik King Hell diabaikan oleh pemerintah karena rata-rata penduduknya hanya petani dan penjual obat atau ramuan. Mereka tidak memiliki pendidikan yang layak ataupun kemampuan yang bagus, namun anehnya kota ini sangat kaya orang-orang nya sangat suka menghabiskan uang tanpa pikir panjang dan kota ini adalah tempat terbaik untuk mendirikan bisnis karena tidak di pedulikan oleh pemerintah atau pejabat.

ditempat ini orang yang memiliki sedikit kemampuan dalam ilmu kanuragan atau tenaga dalam sudah dianggap Kultivator, sementara petarung kelas bawah sampai atas disebut sebagai pendekar. Mereka rata-rata sombong dan mendominasi, namun mereka tidak pernah menyakiti penduduk itu sebabnya kota King Hell sangat tenang.

"Tuan kita harus segera meninggalkan hutan Gumiho, labirin disini sangat menyesatkan. Kita bisa mati jika tetap disini,"

"Sial, bahkan labirin ini sangat sulit untuk dipecahkan,"

"Ayolah jangan konyol aku tidak ingin mati disini,"

Eiser, Dr. Brown dan tentu saja Rain sedang mencoba menelusuri hutan Gumiho, namun seperti manusia yang lainnya mereka kesulitan untuk memecahkan labirin formasi hutan ini.

--------- ****** ------

Belle mengemasi barang-barangnya, Allison dan Anisley tidak memiliki marga di belakang nama mereka, hal itu mungkin saja akan menjadi bumerang untuk masa depannya. Namun marga apa yang harus dia sandang tidak mungkin Carlisle karena dia pasti akan dianggap penipu. Tidak mungkin juga Gallbaro karena dia bukan keturunan kaisar, bukan juga istri Eiser.

"Belle apa yang sedang kamu pikirkan?"

Laluna bertanya sambil memasuki ruang istirahat Belle, dia mendapati Belle tengah berkemas untuk pergi ke desa.

"Bibi, bukankah Allison dan Anisley harus memiliki marga. Aku sedang berfikir untuk itu,"

Laluna tersenyum kemudian melangkah maju, "Yoree. Ini adalah marga dari mendiang pemimpin kami, juga marga ibumu,"

Yoree, terdengar sangat asing bahkan mungkin orang-orang tidak pernah tau tentang itu namun masa bodoh dengan hal itu yang paling penting adalah memberikan identitas kepada dua anak itu.

Karena pagi telah tiba dan persiapan sudah cukup matang, Belle membangunkan Anisley dan Allison. Allison adalah anak pertamanya, dia lahir lebih dulu daripada adiknya Anisley.

Setelah dua orang buah hatinya itu telah terbangun dia menyuruh bocah kecil itu untuk membersihkan muka di belakang. Anisley terheran-heran mendapati barang-barang nya sudah terkemas dengan sangat rapi, namun dia tidak bertanya pada ibunya dan memilih mengikuti Allison pergi ke sumur untuk mencuci muka.

"Allison ada yang aneh, mengapa barang-barang kita dikemas?"

"Aku tidak tau, nanti kita tanya ibu,"

Mereka mencuci muka dan membersihkan diri. Allison membantu Anisley untuk menyisir dan mengikat rambut. walaupun umur mereka sama tapi tempramen mereka sangat berbeda entah menurun dari siapa.

"Allison dan Anisley, kemari lah. Ibu akan membawa kalian turun lembah untuk sekolah, kita akan tinggal di kota King Hell. Ingat panggil Ibu Julia Yoree, dan kalian adalah Allison dan Anisley Yoree, ingat kalian harus merahasiakan nama asli ibu jika tidak ingin dalam masalah,"

"Kami mengerti ibu,"

Mereka berdua masih terlalu kecil namun ingin berfikir dewasa, mereka tidak bertanya kenapa, karena mereka tau semakin banyak yang mereka ketahui semakin tidak baik untuk masa depan mereka. Jika memang kondisi nya baik mereka tentu saja tidak ada pelarian sampai ke lembah Gumiho.

"Jika ada yang bertanya dari mana kita berasal, jawablah dari kota yang jauh. Jika ada yang bertanya dimana ayah kalian, bilang saja sudah mati,"

Walaupun Anisley tidak paham dia mengangguk, dia akan bertanya kepada Allison apa artinya itu namun saat ini yang paling penting mereka bisa pergi dari lembah ini dan hidup seperti orang pada umumnya.

"Sembunyikan identitas kalian dengan baik, orang-orang pada masyarakat luas tidak sebaik kelihatannya. jika ada orang yang bertanya siapa ibumu, jawab Julia Yoree. apakah kalian mengerti?"

"Tentu saja kami mengerti ibu, jangan khawatir,"

Belle mengusap kedua kepala bocah itu, walaupun Allison tidak suka di usap seperti anak kecil dia tidak akan berontak jika ibunya yang melakukan itu sementara Anisley sangat suka dengan hal itu.

"Allison dan Anisley, kalian harus mempelajari ilmu yang saya berikan. Jika kalian libur sekolah, kalian bisa datang kesini untuk berlatih denganku,"

Mendengar hal itu Allison membuka matanya lebar-lebar dia berfikir Laluna akan ikut dengan mereka.

"Nenek, apakah nenek tidak ikut bersama kami?"

"tidak nak, nenek ada banyak hal yang perlu di lakukan,"

Senyum di bibir Allison memudar, dia tidak tau jika hal itu sama dengan berpisah dengan Laluna. Tapi Laluna selalu meyakinkan dua bocah itu bahwa perpisahan itu hanya sementara dan mereka harus belajar dengan rajin agar bisa memindahkan penduduk lembah Gumiho termasuk dirinya.

Dengan kata-kata itu semangat Allison membara, mau sedewasa apapun dia dia tidak akan tau hal apa yang terjadi di masa depan. Yang perlu dia lakukan saat ini adalah terus berusaha melakukan yang terbaik, tidak peduli dimana dia tinggal dan darimana dia berasal. Kedua bocah itu bahkan tidak pernah bertanya dimana ayahnya dan siapa nama ayah mereka, bagi mereka sosok ayah sudah lama mati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!