Lima tahun telah berlalu, sejak saat itu Allison tumbuh dengan baik layaknya seorang manusia. Kedua bocah itu juga sudah lancar membaca menulis dan berbicara. Sementara Belle dia sudah menguasai banyak sekali teknik bela diri dari Laluna, meskipun lima tahun adalah waktu yang sebentar Belle yang merupakan keturunan gumiho mampu mempelajari-nya dengan sangat cepat dan sudah pasti diatas rata-rata manusia pada umumnya.
“Ibu, kapan kami akan masuk sekolah?”
Anisley bertanya sambil memeluk tubuh ibunya, sementara Belle menatap Allison yang tengah belajar teknik bela diri ringan, Allison yang sama seperti ibunya memiliki tubuh yang sangat baik sehingga memiliki teknik dasar yang cukup kuat.
"Sebelum kamu ingin sekolah, setidaknya kamu harus belajar melindungi diri sendiri Anisley. kalau ada orang jahat kamu harus membantu-ku biar kita tidak kalah,"
Anisley menyilangkan tangannya di dada, dia benar-benar egois seperti ayahnya sementara Allison dia bisa mengendalikan emosinya dan memiliki jiwa pemimpin yang bagus semua diatur dengan sangat baik walaupun dia masih cukup muda.
"Aku tidak mau, bukankah nenek bilang kamu harus melindungi aku,"
Allison menghentikan ayunan pedangnya kemudian mendekati Anisley yang masih mendekap perut Belle dengan sangat manja.
"Bukankah kamu sangat ingin menjadi tuan putri? Jika kamu ingin menjadi tuan putri kamu tidak boleh lemah. kalau kamu lemah kamu akan disiksa seperti tuan putri pada negeri dongeng,"
Anisley mendengarkan ocehan tidak masuk akal dari Allison, namun begitu dia tetap menurut untuk belajar teknik bela diri tahap pertama.
Mereka baru berusia lima tahun, mungkin jika dihitung dari sejak Belle memutuskan untuk keluar dari Mansion Eiser waktu itu suasana sangat dingin karena musim dingin telah datang.
Apa yang di lakukan Eiser sekarang? Mungkin pria itu sudah memiliki pujaan hatinya.
Belle menatap kedua putra dan putrinya yang tengah bermain pedang itu jika dilatih dengan baik mereka bisa menjadi pendekar yang tangguh.
Laluna kembali dengan barang-barang di tangannya, tudung dari bambu tersebut menutup wajahnya namun mereka yang mengenalnya dengan sangat baik pasti tau jika dibalik tudung itu adalah Kultivator wanita yang hebat.
"Nenek kamu sudah kembali?" teriak Anisley kegirangan, sementara Allison menggelengkan kepalanya sambil mendengus melihat tingkah konyol adik perempuannya itu.
"Anisley kamu tidak bisa pergi begitu saja ketika sedang berlatih," tutur Allison namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Anisley. Gadis itu langsung berlari mendekati Laluna yang tengah meletakkan barang belanjaannya. Allison mengikuti dari belakang, walaupun dia tidak berbicara apapun dia juga berharap ada oleh-oleh untuknya.
"Nenek bawa boneka untuk Anisley, dan buku untuk Allison,"
Anisley kegirangan sementara Allison tersenyum, buku memang lebih berguna untuknya daripada sekedar mainan. Dia tidak bisa memaksa Anisley untuk mengikuti jalan pikirannya, namun sebagai kakak dia ingin mengatakan kepada Anisley bahwa apapun keputusan adiknya selama itu baik dia akan mendengarkannya.
Allison membuka buku yang diserahkan kepadanya oleh Laluna, sementara Anisley dengan girangnya memeluk boneka mungil yang diberikan Laluna.
"Nenek bukankah ini tehnik kultivasi? Mengapa nenek memberikan benda berharga kepadaku? Apakah nenek memberikan barang yang salah,"
Dengan tenang Allison bertanya, namun matanya tetap menatap isi buku itu walaupun bibirnya sedang bertanya.
"Tidak itu untukmu. Tapi berjanjilah untuk menjadi orang yang bijak dan berguna,"
Allison mengangguk, "Sepertinya aku bisa mempelajari ini dengan Anisley,"
Laluna menggeleng kemudian mendekati bocah laki-laki itu, "tidak Allison, Anisley akan belajar teknik jarum boneka denganku. Tidak sepertimu, Anisley menyukai keindahan,"
Allison mengangguk dan terdiam, apapun teknik bela diri yang mereka pelajari sudah pasti orang tua tau yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Allison mempelajari teknik-teknik itu dengan cermat, apapun yang tidak bisa dia pelajari dia bertanya kepada Laluna dan wanita itu pasti menjawab pertanyaan nya dengan sangat baik.
Malam sudah tiba, mentari telah tengelam dibalik cakrawala. Anisley dan Allison telah terlelap dalam mimpi indahnya, boneka mungil dari Laluna ikut tertidur dalam pelukannya.
"Belle mari sini, aku ingin berbicara kepadamu. Jika kamu ingin membawa mereka turun dan belajar ada banyak desa dibawah sana yang memilki beberapa pendidikan setara dengan di kota,"
Belle menghela nafas berat kemudian mendekati Laluna, "Bibi sebenarnya aku tidak ingin pergi dari sini,"
"Jangan egois, anakmu perlu belajar. Diluar sana tidak ada yang berbicara tentang Eiser, mungkin pria itu sudah berumah tangga,"
Laluna berkata benar sebagai seorang ibu bagaimana mungkin dia bisa egois seperti itu, dia hanya memikirkan perasaannya sendiri dan tidak memikirkan perasaan anak-anak nya.
"Bibi, aku akan mendirikan sebuah rumah bordil. Disana hanya menyediakan minuman keras dan lain-lain tidak ada jasa tidur dengan tamu, serta membuka penginapan,"
"Tapi di desa-desa itu tidak dilewati mobil mewah penguasa Belle. Mungkin hanya ada kereta kuda, pedati ataupun kuda biasa,"
"Tidak apa-apa bibi,"
"Kamu bisa menjalankan apapun selama itu baik tidak perlu bertanya kepadaku,"
Belle menghela nafas, mendirikan sebuah bisnis tentu saja tidaklah mudah, selain punya uang dia harus memiliki wawasan luas tentang bisnis. Namun untuk merebut kembali kekuasaan keluarga Carlisle tentu saja dia harus memperkuat dirinya dengan bekal yang lebih baik.
Belle menatap putra dan putrinya yang telah tertidur lelap, dalam pandangan matanya dia harus memperjuangkan kebahagiaan dua orang yang ada di depan nya itu.
"Belle, jangan terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri. Anak-anak mu akan paham tentang semua ini, kamu memang manusia dan tidak bisa berubah menjadi salah satu diantara kami. Namun kamu tetap bagian dari kami,"
Belle memeluk Laluna, wanita yang sudah enam tahun memperlakukan dia seperti anak sendiri. Walaupun di dunia ini masih serba terbatas tapi mereka pasti melakukan yang terbaik.
"Kaum ini sudah dianggap punah dari sejak raja dinasti sebelumnya, akan menggegerkan dunia jika mereka tau kami masih ada. Aku mengambil resiko itu demi kalian bahagia,"
Belle terdiam, yang dimaksud oleh Laluna pasti berkaitan dengan darah Eiser Gallbaro yang mereka gunakan untuk memurnikan tubuh Allison menjadi seorang manusia seutuhnya. Walaupun mungkin Allison bisa kembali menjadi seekor rubah jika bulan purnama namun pasti ada jalan untuk merubah itu semua.
"Bibi aku percaya kamu sangat menyayangi kami. Berjanjilah untuk umur panjang maka aku akan membawamu tinggal di kota besar,"
Laluna tidak menjawab itu dia hanya tersenyum sambil terus memeluk Belle, sepertinya dia sangat merindukan saudarinya yang tak lain adalah ibu Belle.
"Sangat bahagia bisa bersamamu Belle, walaupun enam tahun cukup sangat namun aku sangat bahagia, aku tidak boleh egois demi kepentingan ku sendiri,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments