19

Pagi ini, aku bangun dengan kepala yang terasa berat. Rasa-rasanya, suhu badanku juga menghangat. Namun, saat mengingat jika ada janji dengan Mas Rafe, aku seketika beranjak dari kasur. Setelah merebus air, aku pun mandi dengan air hangat. Dingin sekali.

Rupanya, Mas Rafe sudah datang sebelum janji temu kami. Lelaki itu berdiri di depan pintu, mengenakan pakaian kerja. Di tangannya ada sebuah paper bag yang kemudian dia berikan kepadaku.

Aku tersentak mundur kala merasakan sentuhan telapak tangan Mas Rafe yang dingin di keningku.

"Suhu badanmu hangat," ujar lelaki itu pelan.

"Aku sudah minum obat," balasku dengan suara tidak kalah pelan.

Mas Rafe mengangguk. "Kamu sudah siap? Kita berangkat sekarang. Nanti sarapan di mobil saja," katanya dengan tatapan lekat.

Aku gantian mengangguk. "Ya, aku sudah siap."

Aku pikir, Mas Rafe sendiri yang menjadi sopir pagi ini. Ternyata, Pak Gio sudah berada di dalam mobil bersama sopir Mas Rafe.

Sesuai yang diucapkan Mas Rafe, kami pun sarapan bersama di dalam kabin. Lelaki itu bahkan tidak menawari dua orang lain yang ada bersama kami. Saat aku menawarkan dengan sopan, Mas Rafe justru melarangku.

"Biarkan saja. Mereka sudah sarapan."

Aku mengedikkan bahu dengan acuh, kemudian melanjutkan makanku. Jika dipikir ulang, interaksi kami sekarang terkesan lebih akrab. Lebih banyak bicara, dan bertindak secara natural.

Sesampainya di rumah Oma, aku pun turun disusul Mas Rafe. Rupanya, Oma telah menunggu.

"Apa kamu sudah izin kalau tidak kerja hari ini?"

Pertanyaan Mas Rafe kontan saja membuatku terkejut. Aku lupa jika belum izin ke kantor.

"Nanti sekalian periksa ke dokter saja, dan minta surat keterangan sakit. Titip pesan saja ke temanmu." Mas Rafe memberi saran yang langsung aku setujui.

Aku mengirimkan pesan kepada Diah, lalu ke bagian HRD mengabarkan juga jika hari ini akan ke klinik terdekat untuk memeriksakan diri. Setelahnya, aku menonaktifkan ponsel dan memasukkan benda pipih itu ke dalam tas.

Mas Rafe mangajakku ke kemar untuk melihat keadaan Oma. Begitu pandangan kami bertemu, Oma yang tengah duduk di pinggir ranjang itu pun berdiri menyambut kedatanganku. Senyumnya lebar dengan wajah pucat.

"Oma apa kabar?" tanyaku saat pelukan kami terurai.

"Sudah lebih baik karena ketemu sama kamu, Medina." Oma berbicara dengan suara lemah. Keceriaan yang beberapa hari lalu aku lihat dari wajahnya, kini tampak memudar. Aku sedih melihat keadaannya itu.

"Oma harus semangat sehat. Nanti Medina temani ya," kataku memberi penghiburan.

Ada perasaan sedikit menyesal setelah aku mengatakan kalimat itu, sebab respons yang Oma berikan.

"Iya. Nanti setelah kalian menikah, kalian tinggal di sini bersama Oma. Oma pasti senang dan tidak akan kesepian lagi." Senyum Oma tampak semakin lebar.

Aku menelan ludah dengan susah payah, melirik kepada lelaki yang berdiri di sampingku yang sedari tadi tidak juga mengucapkan sepatah kata pun.

"Oma duduk lagi ya," ujar Mas Rafe kemudian. Dia mendekati Oma, menuntun wanita yang terlihat semakin lemah di usianya yang tidak lagi muda itu menuju ranjang.

Mas Rafe mengangkat kaki Oma ke atas ranjang, meletakkan bantal di belakang punggung Oma dan menutupi kaki dengan selimut.

"Oma sudah sarapan?" tanya Mas Rafe lembut. Kedua tangannya memijit kaki Oma secara bergantian.

"Mau sarapan di taman belakang." Lantas, tatapan Oma beralih padaku. "Temani Oma ya, Medina," katanya memohon.

Sebenarnya, aku ingin beristirahat. Kepala ini terasa masih sangat berat, ditambah setelah meminum obat yang diberikan Mas Rafe tadi, membuat mataku ikutan berat. Namun, aku juga tidak kuasa menolak permintaan Oma. Maka, kepalaku mengangguk dengan senyum lebar.

"Oma sarapan dulu di belakang sama Medina. Setelah sarapan, aku akan mengantar Medina ke klinik untuk diperiksa." Mas Rafe memberi tahu.

"Medina sakit ya?" Oma menatap aku dan Mas Rafe secara bergantian.

"Hanya demam, Oma. Kemarin main hujanan." Aku menjawab dengan senyum salah tingkah.

"Langsung panggil Dokter Daud ke sini saja, Rafe. Biar Medina periksa di sini. Nanti malam, nginep sini aja. Besok kerja dari sini." Oma berbicara dengan semangat. Seolah, kekutannya telah kembali.

Mas Rafe menoleh, menatapku meminta persetujuan. Aku bingung harus menanggapi Oma dengan respons yang bagaimana.

"Baju kerjanya bisa beli aja, Rafe. Enggak bakalan repot." Oma seolah tahu dengan isi pikiran kami. Walaupun, tidak sepenuhnya benar, tetapi apa yang Oma ucapkan membuatku dan Mas Rafe tidak bisa berkutik untuk membantah permintaan itu.

Suara ketukan di pintu kamar terdengar. Pelayan datang mengantarkan sarapan dan obat untuk Oma.

"Cepat, telepon Dokter Daud. Biar Oma sama Medina saja. Kamu juga butuh bekerja. Setelah itu, kamu langsung ke kantor saja." Oma berkata dengan ekspresi datar.

"Jadi, Oma ngusir aku?" goda Mas Rafe.

"Iya. Oma mau sama cucu mantu Oma saja," kata Oma kemudian dibantu pelayan berpindah duduk ke kursi roda.

Aku mendorong Oma keluar dari kamar menuju taman belakang, sedangkan pelayan membantu membawakan sarapan yang telah disediakan.

Sesampainya di taman belakang, aku menatap pintu mencari keberadaan Mas Rafe. Apa lelaki itu sudah pergi bekerja?

"Rafe belum berangkat. Dia pasti akan berpamitan jika berangkat bekerja. Rafe munggu Dokter Daud selesai memeriksa kamu dulu, Medina."

Wajah Oma dihiasi senyum. Penjelasan itu membuatku mengerti bahwa betapa Oma sangat memahami cucu lelakinya itu. Oma dan Mas Rafe saling menyayangi dengan tulus. Mereka saling mengerti dan memahami maksud masing-masing sebelum dikatakan.

Benar kata Oma, Mas Rafe datang bersama seseorang memakai sneli. Mereka terlihat sangat akrab. Lelaki yang dipanggil Dokter Daud itu juga menyapa Oma dan mengobrol akrab.

"Jadi, Tuan Jarvas kita ini sudah ada yang punya ya," kata sang dokter dengan tawa renyah.

"Akhirnya, Dokter. Rafe tidak jomlo lagi. Sudah ada gandengan jika pergi ke pesta," timpal Oma dengan tawa renyah yang sama.

Kedua orang itu terlihat sangat kompak dalam meledek Mas Rafe. Lelaki yang dibicarakan justru bersikap santai, seolah tidak mendengar apa pun. Wajah Mas Rafe tampak tidak keberatan.

Lagipula, tentu tidak ada hal apa pun yang berpengaruh dari apa yang dibicarakan Oma dan sang dokter. Pasalnya, apa yang kedua orang itu bicarakan tentu tidaklah benar.

Aku dan Mas Rafe tidak memiliki hubungan apa pun selain perjanjian yang kami sepakati di atas kontrak. Tidak ada hal yang berubah dari hati Mas Rafe. Hati lelaki itu masih utuh, tidak tersentuh.

"Mari, Dokter, saya antarkan ke kamar untuk memeriksakan keadaan Medina," kata Mas Rafe kemudian menghentikan obrolan seru antara sang dokter dan Oma.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!