Perlahan, aku turun dari ranjang. Entah ke mana perginya Ibu setelah dari kamar ini tadi. Aku bergegas melangkah ke kamar mandi. Saat melewati arah dapur, samar-samar aku mendengar suara percakapan di dalam kamar Ibu. Namun, aku tidak berniat untuk menguping pembicaraan itu, langkah ini pun terus melaju ke kamar mandi.
Aku mandi sembari menangkan diri, tidak ingin Ibu melihat bagaimana kacaunya diri ini. Aku membasahi rambutku, memakai lulur dan sengaja berlama di dalam kamar mandi agar jejak air mata ini benar-benar hilang dari wajahku.
Aku langsung berganti pakaian di kamar mandi, dan merapikan diri. Setelah dirasa cukup, barulah aku keluar.
Di dapur, aku melihat Mas Bagas yang duduk di kursi dengan wajah kacau. Di samping lelaki itu, Ayudia tampak menangis. Entah apa yang mereka bicarakan, aku juga tidak akan peduli dan tidak ingin mencari tahu.
Saat aku melewati mereka, Mas Bagas menoleh. Lelaki itu langsung berdiri. Wajah kacaunya kini bertambah dengan wajah penuh harap.
"Mey, maafkan aku ...." Suaranya bergetar dengan wajah merah.
"Mas Bagas." Ayudia ikut berdiri. Adik perempuanku itu menatap Mas Bagas dengan tatapan sendu. Dia tidak melihat ke arahku barang sedetik pun.
"Kita bicara di ruang tamu." Aku berkata lirih dengan ekspresi dingin. Betapa aku berusaha keras untuk tetap berada di antara keduanya.
Sebelum melangkah menuju ruang tamu, aku lebih dulu ke kamar Ibu. Dengan suara pelan, aku meminta izin agar Ibu mau ke ruang tamu.
Aku tidak mendapati wajah terkejut dari wanita itu. Tampaknya, Ibu sudah memahami apa yang terjadi di antara kami, anak-anaknya ini.
"Ibu, aku mau minta izin untuk bercerai dengan Mas Bagas. Dan, tolong izinkan Mas Bagas menikahi Ayudia." Aku berkata dengan suara beegetar. Mau bagaimana pun aku mencoba tegar, perasaan ini tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
"Medina. Aku tidak mau bercerai dari kamu. Sudah aku katakan kalau aku khilaf, dan hanya sekali ini aku lakukan. Tidakkah kamu mengerti?"
Bukan Ibu yang menjawab permintaan izinku, tetapi Mas Bagas yang bersuara dengan wajah merah padam. Ekspresinya pun tampak kaku. Lelaki itu tetap menolak keinginanku untuk berpisah.
"Mas, aku cinta sama kamu." Kali ini suara Ayudia yang terdengar. Suaranya lirih, bergetar oleh tangisan.
Aku merasa miris mengetahui fakta ini. Ayudia mencintai Mas Bagas, suamiku. Sejak kapan?
"Ayu, kamu tahu sendiri kalau kemarin itu karena khilaf. Aku enggak mungkin sama kamu. Aku cinta sama Medina, kakak kamu." Mas Bagas menolak dengan tegas pernyataan cinta Ayudia.
"Sudah cukup." Ibu akhirnya bersuara, menengahi perdebatan ini. Mata teduhnya kini terlihat sendu. Aku tahu, dia pasti juga terluka dengan apa yang terjadi dalam keluarga ini.
Tatapan Ibu beralih kepadaku. "Medina, suami kamu sudah mengakui kesalahannya dan mengaku jika dia khilaf. Ibu tahu benar bagaimana perasaan kamu sekarang. Tapi, Ibu juga akan mendukung apa pun pilihan kamu. Apalagi jika nanti ternyata Ayudia hamil, dia butuh seorang lelaki yang bertanggung jawab."
"Tapi, Ibu. Aku dan Medina sudah menikah selama tiga tahun. Dan selama ini, kami baik-baik saja. Medina juga belum kunjung hamil, mungkin itu saja terjadi juga pada Ayudia, kan?" Bagas mengajukan aksi protesnya.
Aku tidak percaya bahwa lelaki itu bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu.
"Aku enggak mau, Mas. Kamu sudah mengkhianati pernikahan kita. Dan, Ayudia juga bukanlah wanita murahan yang bisa kamu tiduri lalu kamu lupakan begitu saja. Aku enggak bisa bersama lagi sama kamu." Aku berkata tegas agar lelaki itu tahu bahwa keputusan yang aku ambil sudah bulat.
"Tapi, Mey ...."
"Maaf, aku enggak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku harap kamu mengerti dengan perasaan aku." Aku kembali berkata, dan menegaskan bahwa ucapanku tidak bisa dibantah.
***
Sejak perbincangan hari itu, Mas Bagas memilih keluar dari rumah ini. Selama proses perceraian, aku memilih untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Tidak sanggup rasanya jika harus tetap tinggal di kota ini. Aku akan merantau, mencoba menggadaikan ijazah strata satu-ku di tempat yang membuatku bisa melupakan masa lalu.
Tidak ada yang berubah dengan hubungan kami. Aku tetap berjanji untuk menanggung biaya pendidikan mereka sebagaimana Ibu yang berjuang untuk pendidikanku.
Suara ketukan di pintu kamar terdengar. Aku menoleh dan mendapati Ibu melangkah masuk.
"Kamu lagi sibuk?" tanya Ibu.
"Enggak, sih, Bu. Aku lagi beres-beres berkas aja." Aku menyusul Ibu yang duduk di pinggir ranjang.
"Apa kamu serius akan keluar dari pabrik itu dan mencari pekerjaan lain?" Ibu bertanya, matanya menatapku lurus.
"Iya, Bu. Aku ingin cari pengalaman baru dan pekerjaan baru yang gajinya lebih besar. Lagian, Farrel mau kuliah. Aku mau kedua adikku bisa kuliah semua." Aku menjelaskan dengan alasan yang paling masuk akal.
"Kamu ... enggak dendam sama Ayudia, kan?" Ibu meraih tanganku, meletakkan di atas pangkuannya.
"Enggaklah, Bu. Ayudia juga adikku, walaupun kami beda ibu. Enggak ada di pikiran aku kalau kami cuma satu ayah saja. Aku sudah cukup beruntung karena Ibu sudah mau merawatku sampai sebesar ini. Setelah Ayah pergi, hanya kalian keluargaku. Semua kebaikan dan kebersamaan yang sudah aku lalui enggak akan sebanding dengan perasaan sedih ini." Aku mengulas senyum membalas genggaman tangan Ibu.
"Terima kasih untuk perasaan cinta yang kamu miliki pada keluarga ini. Ibu sayang sekali sama kamu. Ibu berharap ... kamu akan mendapatkan kehidupan yang bahagia di masa yang akan datang." Ibu memelukku.
Lisanku mengaminkan ucapan Ibu, tetapi tidak dengan hatiku. Sebab, aku sudah tidak percaya lagi dengan kehidupan bahagia yang akan aku temui. Bagiku sekarang, Medina sudah mati. Dan, sosok yang sekarang adalah sosok raga yang tidak lagi memiliki hati untuk perasaan itu. Tidak ada.
Suara nada dering berbunyi mengalihkan fokus kami. Aku menatap ponsel di atas nakas, lalu segera mengambil benda pipih itu. Nama Ayudia berpendar di layar.
Aku menyerahkan ponsel kepada Ibu, tetapi wanita itu memintaku untuk menjawab panggilan tersebut. Sesaat, aku bergeming, menatap layar yang berpendar sampai menggelap. Sejujurnya, aku bingung apa yang harus aku katakan pada Ayudia. Sejak kembalinya dia ke kota, aku memang sengaja menghindar berkomunikasi dengannya.
Tampaknya, kali ini aku tidak bisa menghindar lagi. Ponselku kembali menyala, dan Ibu memaksaku untuk menjawab panggilan itu. Dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan, aku pun menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan itu.
Suara isak tangis yang pertama kali aku dengar saat menempelkan benda pipih ini ke telinga. Tanpa bisa ditahan, aku menanyakan apa yang terjadi. Aku juga khawatir.
"Mbak, aku hamil."
Kalimat itu seperti sebilah pendang yang menghunus tepat di jantungku. Rupanya, belumlah keluar akta ceraiku dengan Mas Bagas, Ayudia sudah dinyatakan hamil. Jika begini, sanggupkah aku melihat keduanya menikah?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments