14

Hening kembali menyergap saat mobil telah melaju. Jalanan yang sepi dengan pohon rindang di kanan dan kiri semakin membuat suasana kian mencekam. Sesekali aku akan melirik lelaki yang duduk di sampingku itu, tatapannya lurus ke depan. Dia tampak fokus pada jalanan yang dilalui, seolah hanya dirinya sendiri yang berada di dalam kabin. Tidak ada orang lain lagi.

Beberapa kali berkendara bersama Tuan Jarvas, oh bukan Tuan Jarvas melainkan Mas Refe. Aku harus terbiasa mengubah panggilannya agar tidak salah lagi.

Selama aku berkendara dengan Mas Refe, lelaki itu tidak pernah sekali pun menyalakan musik. Keadaan kabin selalu saja sunyi senyap. Hanya sesekali saja kami berbincang jika ada keperluan yang memang harus dibicarakan.

Mas Rafe tampaknya memang tipe lelaki yang cukup pendiam, tetapi bukan yang dingin. Dia cukup hangat dan memiliki perhatian yang cukup. Aku terbilang cukup nyaman saat bersamanya. Dia sopan, tidak arogan dan sangat tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik.

Mobil melewati gerbang tinggi yang telah terbuka. Tampaknya, pemilik rumah memang sudah menunggu kedatangan kami.

"Mas Rafe ... tinggal di sini?" Aku kontan bertanya saat mobil berhenti.

Akan sangat sayang sekali jika rumah sebesar ini hanya dihuni oleh Oma seorang saja. Betapa kesepiannya wanita itu jika tinggal sendirian.

"Enggak. Tapi, aku sering berkunjung." Mas Rafe menjawab pertanyaanku sebelum mematikan mesin mobil. Dia melepas sabuk pengamannya, lalu membuka pintu. "Kita turun."

Aku pun melakukan hal yang sama. Ah, ada satu hal yang aku lupakan karena sibuk dengan kesibukanku sendiri tadi. Aku lupa membawa buah tangan untuk Oma.

"Mas ...." Aku memanggil Mas Rafe yang telah berjalan lebih dulu. Lelaki itu berhenti, menoleh dan menatapku dengan tatapan penuh tanya.

"Kita enggak bawa oleh-oleh." Aku berkata dengan suara amat pelan. Rasanya akan malu sekali jika didengar oleh orang lain. Walaupun tidak terlihat ada seseorang di halaman seluas ini, selain penjaga gerbang di post penjaga tadi.

"Kamu oleh-olehnya. Ayo! Kita sudah ditunggu sama Oma." Mas Refe mengulurkan tangan. Dengan perasaan malu, aku meraih uluran tangan itu. Dia menempatkan tanganku melingkar di lengannya.

Aku tahu, apa yang dilakukan Mas Rafe ini demi melancarkan sandiwara kami. Akan sangat aneh jika di depan Oma, aku justru bersikap canggung dan kaku saat berinteraksi dengan lelaki itu. Kami pun berjalan beriringan menuju pintu utama.

"Kamu jangan khawatir. Oma adalah orang super baik di dunia," ujar Mas Rafe menenangkan. Ada rasa bangga yang aku tangkap dari suaranya.

"Iya." Aku membalas pelan.

Saat memasuki rumah besar nan megah itu, hal pertama yang aku rasakan adalah perasaan kagum sekaligus takut. Guci-guci antik nan besar tampak berjejer di dekat dinding, seakan tengah menyambut kedatangan kami. Beberapa pelayan dengan seragam khusus mengangguk sopan, aku tanpa canggung membalas anggukan itu.

"Selamat malam, Tuan. Oma sudah menunggu di ruang makan," ujar para pelayan secara bersamaan. Kedua tangan mereka bertaut di atas perut. Gerak mereka terlihat kaku dan seragam, seolah mereka memang sudah dilatih demikian.

Ya, saat ini memang sudah cukup malam. Lebih tepatnya, waktu sudah menunjuk di angka tujuh malam. Sudah waktunya makan malam.

"Terima kasih. Kalian boleh kembali ke tempat," sahut Mas Rafe.

Kemudian kami pun berjalan melewati ruang tamu yang luas itu, lalu melewati ruangan lain yang tidak kalah megah. Dengan dipandu seorang pelayan yang terlihat lebih tua dibanding yang lain, aku pikir wanita itu adalah kepala para pelayan. Kami sampai di ruangan makan yang pernah aku lihat di film kerajaan. Kursi yang tinggi berjajar rapi mengelilingi meja yang besar, banyak hidangan tersaji di sana. Sungguh pemandangan langka yang aku saksikan dengan mata kepala sendiri.

"Oma, Tuan Rafe dan calon istri sudah datang," kata wanita itu memberitahu kedatangan kami.

Oma menoleh dan seketika berdiri menyambut kedatangan kami. Senyumnya merekah sempurna menambah keanggunan, kecantikan yang terpahat sempurna di wajahnya. Rambutnya berpotong pendek dengan warna yang telah memutih. Wajahnya telah keriput menunjukkan usianya yang sudah sepuh. Oma bahkan menggunakan tongkat untuk berjalan. Namun, wajah cantiknya masih terpancar jelas.

Aku yakin, betapa cantik nan rupawan wajah Oma di kala muda. Sepertinya, wajah lelaki di sampingku ini diturunkan dari Oma. Aku melirik ke atas, membandingkan wajah dua orang beda generasi itu.

"Halo, Oma. Aku datang!" Mas Rafe melepaskan lingkaran tanganku di lengannya dengan pelan. Lantas, dia merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan Oma yang berjalan ke arah kami. Lelaki itu juga berjalan mendekati sang oma. Siapa sangka, sang oma justru melewatinya tanpa ekspresi dan kini malah memeluk diriku yang kaku karena terkejut.

"Akhirnya kamu diajak Rafe ke sini. Ayo kita makan dulu! Ini sudah waktunya makan malam." Oma tersenyum cerah. Dia mengurai pelukan, lalu menggandengku menuju kursi makan.

"Sumi, layani dia!" katanya memberi perintah kepada pelayan yang berdiri berjejer di dinding ruangan ini.

"Oma. Aku kangen, lho. Kok, enggak balas peluk?" Mas Rafe berkata dengan suara yang terdengar manja. Namun, ekspresinya tetap datar. Aku mengulum senyum melihat tingkah lelaki itu.

"Iya, makan dulu. Nanti baru peluk Oma. Jangan sampai anak gadis orang kamu buat kelaparan, Rafe." Oma berujar dengan mata mendelik, memberi peringatan kepada Mas Rafe. Namun, saat lelaki itu memeluknya dari samping, Oma membalas pelukan itu dengan tangan melingkar dari depan, dan menepuk secara perlahan.

'Aku bukan seorang gadis, Oma melainkan seorang janda. Apakah Oma akan tetap tersenyum seperti ini jika mengetahui keadaanku yang sesungguhnya? Terlebih jika mengetahui bahwa selama pernikahan aku belum bisa memberikan keturunan, tetapi justru suamiku itu bisa menghamili wanita lain.'

Aku melanjutkan kalimat Oma itu di dalam hati, dan perasaan sendu seketika menusuk dadaku seperti jarum.

"Ayo makanlah ... siapa nama kamu?" tanya Oma menatapku dengan intens.

"Medina, Oma. Nama saya Medina." Aku menjawab dengan sopan.

"Nama yang bagus." Oma mengangguk berulang kali. Sementara itu, Mas Rafe telah duduk di kursi di samping Oma. Kami duduk berseberangan.

"Ayo, makan yang banyak Medina! Oma belum tahu makanan kesukaanmu, jadi Oma minta kepada koki untuk menyiapkan semua makanan ini," ujar Oma menjelaskan yang tentu saja membuatku takjub.

Oma menoleh, menatap Mas Rafe dengan tatapan tajam. "Jangan bilang kamu tidak tahu makanan kesukaan calon istrimu, Rafe. Sebagai lelaki kamu wajib memperlakukan wanita dengan sangat baik."

"Saya memang pemakan segalanya, Oma. Tidak ada makanan favorit tertentu, apa saja saya suka." Aku cepat membalas ucapan Oma. Ya, memang apa yang aku katakan benar adanya.

"Kamu wanita yang baik, Medina." Oma menatapku dengan lembut.

Aku mengangguk dengan perasaan gugup. Saat aku mendongak, tatapan Mas Rafe tertuju kepadaku. Lelaki itu menampilkan senyum yang menawan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!