17

Aku berusaha keras untuk mengabaikan tatapan aneh dan bisik-bisik dari teman kantor. Selama mereka tidak langsung membicarakannya kepadaku, aku tidak akan ambil pusing. Biarkan saja. Toh, ketika aku membutuhkan uang, mereka tidak ada yang mau membantu. Untuk apa aku tanggapi perlakuan tidak baik mereka. Selam mereka juga tidak menyakiti aku secara fisik.

Waktu jam istirahat tiba, seperti biasanya aku akan makan di kantor bersama Diah. Hari itu, entah ada angin dari mana tiba-tiba saja Pak Burhan yang menjadi topik utama beberapa hari ini mendekatiku.

"Halo, Medina! Saya makan di sini ya," katanya dengan senyum aneh. Lantas, dia langsung saja duduk di hadapanku.

"Saya di sini, lho, Pak. Bukan hanya Medina saja." Diah berkata dengan ketus.

Pak Burhan terkekeh pelan. "Oh iya, saya enggak lihat tadi," katanya santai. Tatapan lelaki itu terus tertuju padaku, tidak menoleh pada lawan bicaranya.

Pelayan datang membawakan pesanan Pak Burhan. Semangkuk bakso dan dua es campur. Lelaki itu mendorong segelas es campur ke hadapanku.

"Untuk kamu," katanya dengan senyum yang tetap terlihat aneh. Dan, aku tidak suka dengan tatapannya itu.

"Saya enggak sekalian dikasih, Pak?" Suara Diah kembali terdengar. Dia menunjukkan ketidaksukaannya kepada lelaki itu.

"Kamu pesan sendiri ya, Diah." Pak Burhan mulai menyantap baksonya. Namun, sesekali tatapannya masih tertuju padaku.

Menerima tatapan aneh dari Pak Burhan membuat selera makanku menguap. Isi piringku masih setengah, tetapi rasanya aku sudah tidak sanggup menelannya lagi.

Aku menahan lengan Diah yang mau beranjak dari kursi.

"Makan punyaku aja, Diah. Aku sudah kenyang." Aku berkata sambil menarik lengannya. Lantas aku menggeser es campur punyaku yang masih utuh.

"Lho, saya, kan, belikan spesial untuk kamu, Medina. Kenapa kamu berikan kepada teman kamu?" cecar Pak Burhan dengan tatapan nyalang.

"Saya sudah kenyang, Pak. Perut saya sudah tidak muat lagi untuk diisi makanan." Aku berkata sopan memberikan penjelasan.

"Oh, kamu mau menjaga berat badan ya." Lelaki it7 mengangguk berulang kali. Matanya menyipit.

Aku mengernyit. Rasanya tidak pantas kalimat itu dikatakan oleh seorang lelaki yang bahkan tidak memiliki hubungan pribadi di antara kami. Dia bukan memaklumi, tetapi lebih ke menyindir secara terang-terangan.

"Aku tahu, kamu harus tetap menjaga penampilan agar tidak terlihat jika sudah pernah jadi bekasan orang." Lelaki itu kembali berkata yang sukses membuat dadaku bergemuruh karena amarah.

Belum sempat aku mengucapkan kata saat Diah lebih dulu berucap, "Omongan Bapak mirip sekali dengan nyinyiran ibu-ibu tukang gosip."

"Kamu tidak sopan sama saya, Diah." Pak Burhan menatap tajam. Sekian menit kami duduk bersama, untuk pertama kalinya lelaki itu menatap Diah sebagai lawan bicaranya.

"Sudah, ayo, kita kembali ke ruangan." Aku lebih dulu berdiri, menarik Diah agar mengikutiku.

Aku bernapas lega saat Diah mengikuti langkahku meninggalkan meja itu. Setelah mengucapkan permisi dan mengangguk sopan, aku melangkah lebar.

"Medina, jangan sok jual mahal. Aku bisa membayarmu lebih dari lelaki yang pernah menjemputmu waktu itu." Pak Burhan berkata pelan dengan penuh penekanan. Suaranya itu berhasil menusuk telinga dan hatiku. Kepalaku sampai berdenyuy karenanya.

"Kau!" Diah berdesis tajam. Dia menoleh dengan tatapan tajamnya. Aku segera menarik lengannya sembari menggeleng, menahan gerakannya yang hendak menghampiri Pak Burhan.

Ini bukan masalahnya Diah. Ini masalahku. Dan, sudah seharusnya aku yang menghadapinya sendiri.

Aku menepuk bahu Diah, mengulas senyum tipis sebelum melangkah menghampiri Pak Burhan yang masih duduk. Dia menyeringai. Sebuah seriangan yang pernah aku temui waktu pertama kali menyari pekerjaan dulu. Bedanya, lelaki di hadapanku ini bukanlah lelaki berperut buncit. Dia juga teegolong memiliki paras yang rupawan dan perangai yang baik sebelum hari ini.

"Apa pun yang saya lakukan, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Bapak. Saya harap, Anda bisa bersikap profesional dan bisa menjadi sosok yang bisa dihargai sesuai dengan jabatan Anda." Aku berdiri dengan percaya diri. Tidak sekali pun aku merasa terusik dengan kalimat penghinaan yang dia lontarkan. Namun, sebagai seorang wanita yang punya harga diri aku wajib memberi tahu lelaki itu.

Jika setiap penghinaan membuatku sakit hati, kemudian menciptakan depresi. Akan ada berapa banyak orang yang harus aku hadapi nantinya. Toh, tidak semua orang seperti mereka. Lebih baik aku fokus pada orang-orang yang memperlakukan aku dengan baik.

Setelah mengatakan kalimat itu, aku pun berbalik arah meninggalkan Pak Burhan yang diam.

"Kenapa kamu susah sekali didekati?" gumam lelaki itu yang masih bisa aku dengar.

Aku tidak merespons. Aku anggap kalimat Pak Burhan sebagai angin lalu. Lebih baik sekarang kembali bekerja karena waktu istirahat telah habis. Aku enggak mau dapat peringatan hanya gara-gara hal sepele seperti ini.

Sesampainya di ruangan, aku kembali fokus pada pekerjaan. Aku pikir, masalah hari ini sudah selesai. Rupanya, ada yang menemuiku sepulang dari kantor.

Wanita itu mengaku sebagai istrinya Pak Burhan. Aku awalnya bingung kenapa istrinya datang menemuiku. Namun, aku tetap berusaha bersikap sopan.

Siapa sangaka, wanita itu justru menamparku dan mencaci maki aku.

"Saya sudah tahu siapa kamu!" Wanita itu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku.

Aku memundurkan langkah, menahan perih di pipi kiri. Beberapa orang yang lewat tampak memperhatikan aku dengan tatapan ingin tahu. Sebagian yang lain, menatapku dengan tatapan jijik.

"Kamu jangan coba-coba untuk memggoda suami saya. Atau, saya akan laporkan kamu ke polisi," ancam wanita itu lagi.

Aku tersenyum simpul. Kali ini maju beberapa langkah sampai jarakku dengan wanita itu semakin merapat. Aku pastikan jika wanita itu sudah salah sasaran.

"Saya tidak pernah menggoda suami Anda. Jika benar dia tergoda dengan wanita lain, benahi diri Anda sendiri. Atau, Jangan-jangan suami Anda yang memang mudah tergoda dengan wanita lain." Aku berujar tegas, penuh penekanan dengan tatapan tajam.

"Kau," desis wanita itu. Yang bahkan aku tidak tahu namanya. Karena memang aku tidak pernah mencari tahu atau mengurusi urusan orang lain.

Wanita yang memakai pakaian modis serba merah itu, mengangkat tangan. Namun, kali ini aku tidak tinggal diam. Aku mencengkeram pergelangan tangannya yang melingkar gelang berlian di sana.

"Jangan memyentuh saya lagi." Aku berkata sinis, lalu mengempaskan tangan wanita itu.

Di tengah ketegangan ini, suara seseorang berseru. "Mama!"

Dia Pak Burhan, lari tergopoh-gopoh menghampiri sang istri yang kini berwajah merah padam.

"Apa yang terjadi? Kenapa Mama bisa ke sini dan marah sama Medina?" tanya lelaki itu dengan tatapan khawatir.

Aku melangkah mundur. Tidak ingin memperpanjang masalah ini, aku pun melangkah pergi.

Aku jadi penasaran. Dari mana wanita itu tahu tentang diriku? Sementara, aku tidak pernah berinteraksi secara intens dengan suaminya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!