Pada akhirnya, pernikahan itu pun dilaksanakan. Ayudia tampak cantik dalam balutan kebaya putih. Walaupun hanya bisa dilakukan secara sederhana, tidak semeriah seperti saat aku menikah dulu, tetapi kebahagiaan terpancar di wajah calon pengantin wanitanya.
Jangan tanya bagaimana hatiku. Entah seperti apa bentuknya kini. Aku sendiri yang mengurus pernikahan ini. Tersebab akta cerai kami belum keluar, pencatatan atas pernikahan ini pun ditunda.
Tidak ada lamaran resmi. Semua terjadi begitu saja dan sangat cepat. Ya, memang tampak sekali jika buru-buru. Kepastian tanggal pernikahan mereka pun hanya berkabar lewat telepon saja.
Dadaku terasa sakit karena jantung berdebar dengan sangat hebat. Akad nikah sebentar lagi akan dilaksanakan. Farrel telah duduk di lantai beralaskan karpet menghadap meja tempat perjanjian sakral itu diucapkan.
Langkahku semakin melambat, bahkan genggaman di tangan Ayudia sampai terlepas. Rasanya, aku tidak kuasa mengantarkan adik perempuanku itu ke tempat akad.
"Apa Mbak Medina baik-baik aja?" Ayudia menoleh, mendapati diriku yang kini menatap ke arah calon suaminya. Nahasnya, Mas Bagas juga tengah menatap ke arahku. "Mbak ...."
Aku mengerjap cepat, menoleh dan mengulas senyum.
"Mbak, please ... aku pingin banget nikah ditemani Mbak Medina," kata Ayudia lagi penuh permohonan.
Aku mengangguk sekali, lalu kembali menggandeng lengan Ayudia. Aku sudah berjanji akan menuruti permintaannya maka aku pun akan memenuhi janji itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Medina binti Zulkifli."
Semua mata kini tertuju kepadaku. Tidak banyak orang yang hadir di sini, hanya penghulu, dua orang saksi, keluargaku dan keluarga mempelai laki-laki. Namun, rasanya aku seperti dipojokkan oleh seluruh alam semesta karena pengantin laki-laki justru salah mengucapkan nama.
Aku bisa melihat bagaimana kedua orang tua Mas Bagas menegur anak laki-laki mereka. Wajah keduanya merah padam terutama sang ayah. Sementara itu, di sampingku pengantin wanitanya kini terisak dengan uaraian air mata. Aku yakin, air mata yang mengalir itu bukanlah air mata kebahagiaan. Siapa yang tidak sakit hati jika di acara ijab kabul, calon pengantin justru salah mengucapkan nama pengantinnya?
Sampai pelafalan yang ketiga kalinya, barulah Mas Bagas menyebutkan nama Ayudia dengan benar.
"Sah!"
Saksi berucap dengan lantang. Dan, bersamaan dengan itu aku tidak lagi bisa membendung air mata. Aku memeluk Ayudia yang kini semakin menangis. Kami pun saling berpelukan dalam tangis yang berbeda. Ya. Dia dengan kebahagiaannya akhirnya bisa menjadi istri seorang Bagas Mahesa. Dan, aku dengan kehancuranku.
Setelah acara selesai, aku bergegas berpamitan. Kepala ini rasanya sakit sekali. Aku ingin berbaring barang sejenak di kamar. Alih-alih masuk ke kamarku sendiri, aku memilih ke kamar Farrel. Tidak lupa, aku mengunci pintu agar tidak ada tiba-tiba masuk.
Entah berapa lama aku terlelap. Rasanya lebih baik. Semalam, aku memang tidak bisa memejamkan mata. Ayudia yang akan menikah, tetapi aku yang gugup bukan kepalang.
Aku duduk bersandar kepala ranjang. Tanganku mulai bergerak melepaskan kancing kebaya satu per satu, lalu berlanjut melepaskan bawahan sampai hanya bersisa celana panjang dan baju manset panjang saja. Aku menyampirkan pakaian kebayaku itu ke kepala tempat tidur, lalu memilih untuk berbaring lagi.
Perutku tiba-tiba saja berbunyi. Padahal, nafsu makanku sedang tidak ada. Dari semalam, aku memang belum memasukkan sesuap nasi pun ke mulutku. Hanya minum air putih dan teh manis saja sebagai penambah energi.
Aku turun dari ranjang, lalu melangkah menuju lemari pakaian milik Farrel untuk mencari kaus miliknya. Lumayan, ada beberapa kaus pendek yang berukuran jumbo di dalam lemari kayu ini.
Aku keluar kamar, dan mendapati Ayudia dan Mas Bagas tengah berbicara serius di dapur. Tidak ada siapa pun di sana, hanya ada mereka berdua saja, membuatku mengurungkan niat mencari makanan.
Lantas, aku berusaha bersikap cuek dan pura-pura tidak mendengar perdebatan mereka. Walaupun, ada namaku yang menjadi topik perdebatan sepasang suami istri itu. Aku memilih melangkah cepat menuju ruang tamu, mencari seseorang yang mungkin bisa aku temui. Rupanya, tidak ada satu pun orang.
"Ke mana perginya Farrel dan Ibu?" gumamku pelan.
Oh, kalau Ibu bisa saja berada di dalam kamar. Aku menoleh ke jam yang menempel di dinding. Waktu sudah lumayan sore. Lama juga aku tidur tadi.
Aku memutuskan untuk keluar rumah, ternyata Ferrel sedang berdiri di pagar.
"Kamu lagi ngapain, Dek?" tanyaku sembari berjalan mendekati remaja lelaki itu.
Farrel menoleh, lalu kembali menatap depan entah ke mana. "Lihat jalanan, Mbak. Mau masuk ke kamar, eh, kamar dikunci. Mau ke kamar Ibu, juga dikunci. Jadilah aku kayak orang hilang begini," ujarnya yang kontan membuatku terkekeh pelan.
"Sorri. Tadi Mbak ngantuk berat, langsung masuk ke kamarmu aja. Tapi Mbak udah izin, lho, tadi." Aku membalas dengen penjelasan sebagai pembelaan diri.
"Iya, tapi bukan izin untuk ngurung diri di kamar aku, kan?" balasnya lagi.
"Iya ... iya. Beneran ngantuk banget, lho. Nih, lihat!" Aku memaksa Farrel agar menatapku. Lantas, aku pun memajukan wajah. "Kelihatan, kan, wajah bangun tidurnya?"
"Iya. Kelihatan." Ekspresi wajah Farrel begitu datar. Enggak asyik banget untuk digodain. "Kelihatan bengkaknya," sambungnya dan langsung mendapatkan pukulan dariku.
Farrel tidak mengaduh apalagi menjerit kesakitan. Benar-benar tidak asyik untuk digodain bocah satu ini. Dia hanya mengelus bahunya yang aku pukul tadi, tanpa menoleh ke arahku.
"Cari makan di luar, yuk, Mbak! Aku lapar," ajaknya kemudian.
"Di rumah banyak makanan. Ngapain makan di luar?"
Farrel mengedikkan bahu. "Lagi pingin makan di luar aja. Ayok!" ajaknya lagi. Kali ini dengan menggandeng tanganku, lebih tepatnya menarikku agar mengikuti langkahnya keluar dari pagar.
Tanpa menutup pagar terlebih dahulu, kami pun melangkah mencari makan. Menyusuri jalanan sampai ke jalan besar. Tetap saja sepi. Mana ada makanan yang di jual di dekat sini. Ini bukan kota besar yang banyak menjual makanan jadi.
"Mbak, kalau aku langsung cari kerja setelah lulus sekolah gimana? Kayaknya malas mau kuliah."
Ucapan Farrel yang tiba-tiba itu membuatku mengerem mendadak. Dia menoleh, menatapku bingung. Bukankah seharusnya aku yang menatapnya bingung?
"Kamu harus kuliah. Kita bertiga harus kuliah--"
"Untuk apa, Mbak?" sela Farrel cepat.
"Untuk membanggakan Ayah dan Ibu. Untuk membanggaku aku sebagai mbak kamu. Untuk mengubah mindset kamu agar semakin berwawasan luas." Aku menjelaskan dengan emosi yang mulai memanas di dalam dada.
"Untuk apa juga? Banggain anak, tuh, enggak nunggu anaknya kuliah dulu, suksea dulu. Banyak juga orang kuliah tapi enggak kerja."
Wah, benar-benar, nih, bocah.
"Farrel, dengerin Mbak Mey!" Aku menarik tangan Farrel mengajalnya duduk di pinggir jalan. "Mbak mau kamu punya ilmu yang tinggi. Kalaupun ke depannya kamu enggak kerja, rezeki kamu seret, jangan sampai. Aamiin. Enggak masalah, yang penting udah usaha. Setidaknya, kamu punya pengalaman baru, teman baru, lingkungan baru dan wawasan baru agar jiwamu lebih matang. Jangan ambil contoh yang buruk, ambil contoh yang baik untuk dijadikan pedoman hidup. Lagipula, Mbak akan sangat menyesal kalau kamu enggak lanjut kuliah."
Aku berbicara panjang kali lebar. Aku harap, Farrel bisa tetap fokus pada pendidikannya. Setidaknya, aku selalu berpikir bahwa pendidikan itu penting baik itu pendidikan formal maupun non formal.
Ya, setidaknya apa yang kami bicarakan saat ini cukup mampu mengalihkan keterpurukan hatiku. Aku harus bangkit demi Farrel dan demi masa depan kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments