13

Aku masuk ke dalam mobil dengan sopir yang tidak aku kenali. Kabin amat sunyi mencekam, sampai kendaraan roda empat itu berhenti di depan lobi kantor Tuan Jarvas.

Ini kedua kalinya aku ke sini, dan kedua kalinya pula aku menatap takjub gedung tinggi ini. Rasanya, jantungku berdebar kencang. Terlebih saat kaki melangkah masuk. Entah oleh apakah gerangan. Karena gedung megah ini atau karena akan bertemu dengan pemiliknya. Entahlah.

Aku tidak bisa menjabarkan perasaanku sendiri secara spesifik.

Selanjutnya, aku berjalan ke arah meja informasi melaporkan diri atas kehadiranku dan memberitahu jika sudah ada janji temu dengan Tuan Jarvas.

Tatapan yang aku terima cukup mengejutkan. Wanita yang bertugas di balik meja tidak langsung menanggapi apa yang telah aku katakan. Dia justru melihatku dari atas ke bawah dengan tatapan aneh. Dia seperti tengah menelisik dan menilai bahwa orang seperti aku ini tidaklah pantas bertemu dengan atasan mereka.

"Ada apa, Agnes?" Wanita yang lain bertanya. Tatapannya lebih terlihat manusiawi. Rambutnya yang ikal sebahu. Keduanya mengenakan pakaian seragam yang cukup seksi.

"Ini, ada perempuan yang mau ketemu sama boss besar." Wanita bernama Agnes itu mengendik.

"Coba teleponkan dulu ke sekretaris boss besar, dia sudah ada janji belum?" Wanita berambut ikal itu mengambil gagang telepon, tetapi dicegah oleh Agnes.

"Dia udah bilang, sih, kalau udah ada janji sama boss besar. Tapi aku enggak yakin, deh. Masak boss besar yang tampan itu mau ketemu sama wanita udik begini?" Lantas, tatapan Agnes menoleh ke luar. "Cepat keluar! Atau saya panggilkan pihak keamanan untuk ngusir kamu." Dia mengusirku dengan telunjuk yang teracung ke udara.

"Heh, jangan begitu. Kita tanyakan langsung ke sekretaris boss besar, jangan sampai ada kesalahan." Wanita berambut ikal itu berkata pelan, memperingatkan Agnes yang terlihat kesal.

"Baik kalau begitu. Kalian tidak perlu bertengkar karena saya. Permisi." Aku mengangguk sopan. Saat hendak berbalik pergi, mataku bersitatap dengan Pak Gio yang berjalan ke arah kami.

Tatapan Pak Gio lurus ke depan, seperti tengah mengamati sesuatu. Dia berjalan dengan tubuh tegap, persis seperti saat aku bertemu dengan lelaki itu untuk pertama kali.

"Ada apa?" tanya Pak Gio dengan suara tegas dan tatapan tajam.

Aku mengikuti arah pandang lelaki itu. Di sana dua wanita itu tampak menciut. Wanita berambut ikal sudah membuka mulut, hendak menjelaskan saat Agnes sudah lebih dulu berbicara.

"Ini, Pak, ada wanita yang mau bertemu dengan boss besar. Kami ragu kalau boss besar mau bertemu dengan dia. Sekarang sudah banyak yang ngaku kenal karena boss besar memang terkenal ...." Agnes menyelipkan rambut di belakang telinga dengan senyum terkulum dan kepala menunduk.

"Apa kalian sudah menanyakan langsung kepada Hana?" tanya Pak Gio masih dengan ekspresi datarnya. Dia tidak melirikku sama sekali.

"Belum, Pak," jawab wanita berambut ikal yang aku tahu bernama Nova lewat name tag yang baru dipasangnya di leher.

"Seharusnya kalian tanyakan dulu kepada sekretaris boss besar, baru bisa memutuskan menerima atau mengusir tamu yang datang," ujar Pak Gio memberi peringatan.

"Sebelum pulang, kalian harus menghadap pihak HRD." Setelah memberi ultimatum itu, Pak Gio menoleh padaku. "Ayo ikuti saya!" katanya kemudian berjalan mendahului.

Sebelum memutuskan untuk mengikuti langkah Pak Gio, aku memilih berpamitan pada dua wanita itu. Wajah mereka tampak merah padam. Setelah mengangguk hormat, barulah aku berlari kecil mengejar langkah Pak Gio yang sudah jauh di depan.

Aku masuk ke dalam lift yang bertuliskan khusus CEO. Perasaan takjub itu kembali merekah di dalam dadaku, Tuan Jarvas bahkan memiliki liff nya sendiri untuk naik turun ke ruangannya. Luar biasa. Tapi, memang wajar, sih, pemilik gedung sehebat ini sudah pastilah dia memiliki kekuasaan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang kecil seperti aku.

Pintu lift terbuka, Pak Gio keluar lebih dulu. Seperti sepanjang perjalanan kami menuju lantai ini yang tidak ada percakapan apa pun, kami layaknya dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama yang lain, dia pun keluar tanpa terucap kata apa pun.

Semakin mendekati ruangan Tuan Jarvas, semakin berdegup dengan kencang jantungku ini.

"Boss, Medina sudah datang," ujar Pak Gio saat pintu ruangan besar itu telah dibuka.

Aku yang semua berdiri di belakang Pak Gio, bergeser menunjukkan diri. Aku tersenyum sopan sambil mengangguk sopan.

"Selamat sore, Tuan," sapaku ramah yang dibalas dengan tatapannya yang hangat.

Tatapan kami bertemu sejenak saja, karena setelahnya Tuan Jarvas menatap Pak Gio dan meminta lelaki itu pergi.

"Sampai jumpa besok, Gio," ujar Tuan Jarvas saat Pak Gio berpamitan.

Seperti seorang yang dikejar oleh waktu, itulah yang aku lihat dari Tuan Jarvas. Dia mengajakku keluar dengan langkah terburu-buru. Kami melewati jalan yang berbeda dari yang aku lewati bersama Pak Gio tadi.

Tuan Jarvas masuk ke mobilnya dan aku pun menyusul. Melihat gelagatnya yang tampak serius itu membuatku tidak bisa berkutik. Akan lebih baik jika aku hanya menurut saja tanpa banyak bertanya.

"Pertama-tama, kita akan ke butik lalu ke salon," kata Tuan Jarvas memecah kesunyian di dalam kabin ini.

Sontak saja, aku menatap pakaian yang aku kenakan. Wajar jika aku mendapatkan tatapan cemooh dari karyawan tadi. Tuan Jarvas saja secera tidak langsung telah menunjukkan jika pakaian yang aku kenakan ini tidak layak.

"Saya tidak bermaksud menghina, Medina. Tapi, saya hanya akan memberikan yang terbaik. Terlebih nanti saya akan memperkenalkan kamu kepada Oma saya. Akan aneh jika Oma mendapati kamu mengenakan pakaian kerja seperti ini," kata Tuan Jarvas selanjutnya, menjelaskan alasannya membawaku ke butik dan salon. Tampaknya, lelaki itu bisa membaca isi kepalaku.

Jadi, aku akan dikenalkan dengan Oma nya. Itu berarti, sandiwara ini akan segera dimulai.

"Baik, Tuan. Saya mengerti." Aku berbicara pelan dan mengangguk sopan.

Rupanya, bukan hanya pakaian dan penampilanku saja yang diubah. Tuan Jarvas juga membawaku ke toko perhiasan. Dia membelikan kalung juga anting untuk aku kenakan.

"Bagaimana saya bisa membayar semua ini, Tuan?" Bisik aku bertanya yang dibalas dengan kekehan pelan.

"Kamu membayarnya dengan menjadi istri saya, Medina." Kalimatnya sangat benar sekaligus menusuk. Kenyataan itu seolah telah menamparku dengan telak.

Aku mengulas senyum yang tidak sampai mata, karena status istri bayaran cukup menyakitkan. Namun, apa hendak dikata. Di kala keputusan ini telah aku ambil dengan kesadaran penuh. Aku juga tidak akan mungkin bisa membatalkan kontrak di antara kami, karena aku tidak akan sanggup membayar kembali uang yang telah Tuan Jarvas berikan.

"Oh iya, nanti di hadapan Oma jangan panggil saya dengan sebutan Tuan. Panggil saya dengan Mas Rafe. Kita juga akan mengubah kata saya dengan aku. Oma bisa curiga kalau kita masih bersikap formal." Tuan Jarvas menjelaskan dengan panjang lebar, dan aku hanya bisa membalas dengan anggukan persetujuan.

Di dalam hati, aku mengeja nama panggilan lelaki itu.

Mas Refe.

Panggilan yang manis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!