Kami berangkat menggunakan ojek online. Memang jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup menguras tenaga jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Sesampainya di warung makan itu aku langsung diminta untuk menemui sang pemilik. Aku menurut, lalu bergegas mengikuti seorang pelayan yang mengantarku ke ruangan khusus.
Warung makan ini terbilang cukup besar. Ada beberapa orang yang tampak sedang bekerja. Mereka berbagi tugas, ada yang menyapu kemudian mengepel, ada yang menurunkan kursi dari atas meja, aku juga bisa mencium bau masakan yang menyengat di hidung.
"Masuk aja, bos ada di dalam," ujar wanita yang mengenakan seragam itu. Dia pun segera pergi setelah mendapatkan anggukan kepala dariku.
Setelah masuk ke warung ini, aku tidak melihat Mawar. Mungkin dia memang sudah sibuk bekerja di bagiannya.
Aku mengetuk pintu, lalu mendorong pintu di hadapan. Seorang lelaki berdiri memunggungi.
"Selamat pagi, Bos," sapaku sopan.
Seorang lelaki yang memiliki perut buncit berbalik. Dia menatapku dengan tatapan menelisik. Aku sampai gemetar takut dibuatnya. Rasanya, aku sedang dikuliti.
Untuk beberapa saat, lelaki itu tidak juga mengeluarkan suara. Matanya tidak pula terlepas dari tubuhku. Tatapan itu bergerak ke atas ke bawah, berulang kali seperti tengah memindai diri ini.
"Saya Medina, Bos. Calon karyawan baru di sini." Aku berinisiatif memecahkan keheningan ini. Walaupun, suara ini terdengar bergetar.
"Kamu bisa apa?" tanya lelaki yang aku taksir berusia sekitar empat puluhan tahun itu.
"Saya bisa bersih-bersih. Saya juga bisa di bagian kasir. Kala mau ditempatkan di bagian dapur juga bisa." Aku menjelaskan dengan terputus-putus.
Lelaki itu tidak langsung menanggapi ucapanku. Ia melipat kedua tangan di dada dengan kakinya yang menyilang.
"Aku baca berkasmu." Dia tersenyum tipis. "Kamu sudah menikah."
"Iya. Saya seorang janda cerai," balasku memberi tahu.
Aku pikir, tidak ada yang salah dengan status baru yang aku sandang sekarang. Walaupun, kata Diah statusku itu merupakan aib, tetapi aku juga bukan orang yang bisa menutupi selamanya.
Aib dari status jandaku adalah karena aku diselingkuhi. Itu menunjukkan bahwa aku adalah seorang wanita yang gagal. Selain diselingkuhi, aku juga terbukti mandul. Wanita yang tidak sempurna. Miris sekali.
"Kenapa kamu cerai?" tanya lelaki itu peduli pada kisah hidupku.
"Suaminya saya selingkuh dengan adik saya. Saya tidak punya anak setelah kami menikah selama tiga tahun."
"Dan adik kamu itu sekarang hamil?" Dia menebak jalan cerita hidupku. Sayangnya, tebakan itu sepenuhnua adalah benar.
"Da ... dari mana Bos tahu?" Aku yakin, tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku ini.
Lelaki itu terkekeh pelan. "Itu sudah cerita biasa, Medina. Wanita diselingkuhi karena tidak punya anak, lalu si lelaki punya anak dari wanita lain. Tapi, cerita kamu cukup tragis karena suami kamu itu justru selingkuh dengan adik kamu sendiri."
"Dia bilang khilaf dan itu untuk pertama kalinya--"
"Haha. Dan kamu percaya. Semua lelaki juga begitu. Ngakunya khilaf. Khilaf sampai wanitanya hamil." Lelaki itu kembali tertawa. Kali ini, tawanya begitu lepas. Seakan, dia yang memiliki banyak beban dan begitu saja melepaskan bebannya itu.
"Saya juga yang salah karena terlalu sibuk bekerja." Aku berujar lirih, lalu mengangguk dalam.
Rasa sakit di dalam hatiku seolah tengah memggerogiti jiwa. Karena kejadian itu pula, kepercayaan diri yang aku miliki seolah telah terkikis habis.
"Bukan kamu yang salah, tapi lelaki itu. Dia tidak bisa melihat ketulusan dan kecantikan yang kamu miliki sampai dia tergoda dengan wanita lain." Kalimat lelaki itu sedikit banyak telah mengantarkan ketenangan ke dalam diriku. Kalimat inilah yang aku butuhkan beberapa hari terakhir ini.
Aku mendongak, mendapati pemilik warung makan ini telah berdiri di hadapanku. Jarak kami hanya tinggal beberapa jengkal saja.
Penglihatanku yang salah atau pikiranku yang terlalu bodoh. Aku melihat kilat gelap nan menggoda di matanya. Persis seperti saat seorang lelaki yang menginginkan wanitanya.
Aku memundurkan langkah, memberi jarak yang kurasa mulai tidak aman ini. Namun, lelaki itu terus bergerak maju dengan senyum tipis di bibirnya.
"Aku yakin, dia akan menyesal karena telah melepaskan kamu, menyia-nyiakan wanita seperti kamu. Di luaran sana akan ada seseorang yang mencintai dan berusaha membahagiakan kamu, Medina." Tangannya terulur mengelus bahuku. Gerakannya membuat perasaanku jijik.
Aku menggeliat, menepis tangan lelaki itu. Dia justru semakin mengerskan sentuhannya, menahan gerakanku yang terus berusaha menghindar.
"Apa yang mau Bos lakukan?" tanyaku dengan keberanian yang mulai terkikis. Aku mencengkeram tali tas selempangku.
"Aku akan menawarkan pekerjaan untukmu. Kamu sedang membutuhkannya bukan? Sebagai seorang janda yang baru ditinggal selingkuh oleh suaminya, kamu pasti ingin menunjukkan pada mereka kalau kamu bisa berhasil dan menjadi wanita yang sukses. Jangan mau ditindas sama mereka itu. Kamu cantik, pintar dan ... seksi." Satu tangan yang lain menyentuh daguku. Sontak saja aku memalingkan wajah.
"Kamu ingin kerja di bagian apa? Pilih saja sendiri." Lelaki itu melepaskan cengkeramannya di bahuku. Dia mundur, memberi jarak di antara kami.
"Hmm, tapi kamu cocoknya jadi kasir aja. Nanti kamu khusus kerja di bagian kasir, enggak usah roliing seperti yang sebelumnya." Dia meletakkan jari telunjuk di dagu, sedang memikirkan sesuatu.
"Selain memegang uang warung, kamu juga bisa, kan, megang uang pribadi aku? Jangan khawatirkan soal gaji. Kamu akan mendapatkan lebih, plus bonus." Penjelasan itu membuat senyumku terbit.
"Terima kasih." Aku berucap lirih. "Jadi, kapan saya bisa mulai kerjanya, Bos?" tanyaku hati-hati. Sudah lama aku berada di dalam ruangan ini.
"Hari ini juga bisa. Pertama-tama, kita chek in dulu. Oh, atau kamu sudah enggak tahan lagi. Kita bisa langsung di sini. Apalagi, kamu, kan, janda, pasti tidak akan bisa menahannya terlalu lama." Tatap mata itu kini menggelap, seringai di bibirnya membuat bayangan buruk yang sempat hilang tadi muncul kembali.
"A ... apa maksud Anda, Bos?" tanyaku dengan tatapan nanar.
"Jangan sok polos, Janda Cantik."
Demi apa pun, aku benci dengan panggilan itu.
Aku mengangkat tangan, menahan pergerakan lelaki berperut buncit itu yang mulai maju lagi.
"Jangan mendekat!" seruku panik.
"Jangan sok jual mahal dan pura-pura bodoh. Teman yang membawa kamu ke sini juga melakukannya kepadaku. Kami bersenang-senang. Dan, aku yakin bisa menyenangkan kamu juga. Kamu akan mendapatkan bayaran yang memuaskan."
"Saya bukan pelacur!" pekikku tidak terima. "Maaf, Anda salah orang."
Aku hendak berbalik meninggalkan ruangan ini, tetapi lenganku segera dicekal oleh lelaki itu.
"Lepas!" seruku tegas. Wajahku sudah menegang marah.
"Hanya sekali dan kamu akan mendapatkan gaji pertama kamu, Medina. Atau kamu hanya akan menjadi tukang bersih-bersih yang cuma dapat satu ciuman dariku."
Jijik sekali aku mendengarnya.
Aku melepaskan cengkeraman tangannya di lenganku, sampai rasanya sangat sakit. Lantas, segera keluar dari tempat itu.
Betapa terkejutnya aku setelah keluar dari ruangan itu, beberapa pengunjung lelaki sudah datang dan pemandangan yang aku lihat sangatlah membuatku muak. Mereka dengan santainya memangku para pelayan warung makan itu.
Tidak ingin berlama-lama dan tidak ingin merusak mataku, aku segera berlari keluar dari warung makan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments