9

Tidak terasa, setahun sudah aku bekerja di pabrik roti ini. Tidak ada masalah yang berarti selama aku bekerja. Dan, itu juga berarti bahwa satu tahun lagi masa kontrak kerjaku untuk menjadi karyawan tetap.

Aku terus berusaha menjadi karyawan yang baik. Walaupun tidak menjadi yang terbaik, aku terus berusaha memberikan yang terbaik. Mengingat aku pernah dilecehkan sebelumnya di tempat lain, dan susahnya mencari pekerjaan di kota besar membuatku berhati-hati dalam bekerja.

"Mey, kamu pulang masih naik angkutan umum?" Dona, teman satu devisi denganku. Kami cukup akrab beberapa bulan terakhir ini.

"Iya." Aku menjawab dengan senyum tipis.

"Coba nyicil motor. Lumayan, gaji juga udah cukup. Bisa hemat ongkos sama bisa punya kendaraan sendiri." Dona memutar kunci motornya.

Kami sedang berjalan menuju parkiran. Jam kerja telah berakhir.

"Entarlah dipikirkan lagi." Aku menjawab santai.

"Jangan-jangan, kamu enggak bisa mengendarai motor." Dona terkekeh pelan, lalu melambaikan tangan. Dia berbelok menuju kendaraan roda duanya terparkir, sedangkan aku terus berjalan menuju jalan raya tempat aku biasa menunggu kendaraan yang aku naiki.

Selama perjalanan, aku cukup merenungkan apa yang dikatakan Dona. Sepertinya, aku memang membutuhkan kendaraan roda dua itu. Hanya saja, gajiku sudah dipotong untuk mengirimi Ibu dan biaya sekolah Farrel. Aku sangsi jika untuk menyicil motor akan cukup.

Aku menghela napas panjang. Sepertinya, naik kendaraan umum menjadi pilihan yang tepat untuk aku saat ini.

Sesampainya di kamar, aku pun langsung merebahkan diri. Tas aku geletakkan begitu saja di atas lantai. Sementara diriku memeluk guling. Mataku terbuka, menatap langit-langit kamar. Sudah dua mingguan aku dan Ibu tidak saling bertukar kabar. Memikirkan Ibu, aku pun mengambil ponsel di dalam tas berencana untuk menghubungi ibu tiriku itu.

Belum sempat aku mencari nama Ibu di kontak ponsel saat nama Farrel berpendar di layar. Aku mengernyit heran, tetapi langsung menggeser ikon ijo di layar menjawab panggilan adikku itu.

"Ha--"

Belum genap suaraku keluar menyapa seseorang di sebarang saat suara di sana terdangar mengkhawatirkan. Itu suara Ibu.

"Medina. Apa kamu punya uang? Ayudia sedang berada di rumah sakit, dia mau melahirkan. Tapi, karena kondisi kehamilannya membuat adik kamu enggak bisa lahiran normal. Dia harus operasi sesar." Suara Ibu terdengar begitu cepat, dalam satu tarikan napas. "Apa kamu bisa membantu adikmu?"

Aku terbengong. Di mana aku harus mencari uang sebanyak itu?

"Bagas tidak punya uang sebanyak itu. Pekerjaannya yang hanya sebagai buruh tidak bisa diandalkan. Dia lebih--"

"Oke, Bu. Akan aku usahakan secepatnya ada uang itu."Aku menyela ucapan Ibu dengan cepat dan tergesa. Sampai-sampai, napasku pun tersengal.

Aku sudah tidak ingin menerima kabar apa pun tentang mantan suamiku itu. Biarlah, lebih baik aku menyanggupi apa yang Ibu pinta.

"Baiklah, Medina. Terima kasih banyak. Ibu tutup teleponnya, nanti Ibu telepon lagi ya."

Tanpa menunggu balasan ucapan dariku, Ibu memutuskan panggilan. Wanita itu bahkan tidak perlu repot untuk menanyakan kabarku saat ini.

Aku menggeleng berulang kali, menghalau perasaan sedih yang hinggap di dalam hati. Tidak memiliki sosok ibu kandung sedari kecil, seharusnya cukup membuat hatiku kebal. Nyatanya, air mata ini tetap saja menetes mengingat setiap kesedihan yang aku alami.

Aku bangun dari duduk. Otak ini sibuk memikirkan cara untuk mendapatkan uang itu. Besok aku akan menemani Ibu Tari untuk menanyakan soal pinjaman.

Aku memejamkan mata, ingin sekali terlelap untuk menghabiskan waktu. Kepala ini tiba-tiba menjadi berat memikirkan masalah keluarga. Ingin membiarkan begitu saja, tetapi Ibu telah merawatku sekian tahun lamanya.

Ponsel kembali berdering, nama Farrel kembali berpendar di layar ponsel. Sesaat aku ragu, tetapi pada akhirnya aku menjawab panggilan itu.

"Halo, Mbak Medina. Lagi apa? Mbak apa kabar?"

Suara Farrel terdengar. Dia menyapa dengan suara riang dan menanyakan kabar. Sikap yang dia lakukan cukup menghangatkan hatiku.

Aku mengulas senyum tipis. "Mbak Medina baik. Farrel apa kabar juga? Lagi terima telepon. Ada apa?" tanyaku langsung tanpa embel-embel. Aku yakin jika dia ada maksud menghubungi aku, bukan hanya sekadar menanyakan kabar saja.

"Aku baik juga, Mbak. Aku lagi di rumah sakit, tadi Ibu pinjam hp aku. Ibu minta uang ya sama Mbak Medina?" cecar Farrel mendesak.

"Iya wajar kalau Ibu minta uangnya ke Mbak Medina, Farrel. Mbak kan anaknya juga dan udah kerja. Kamu tenang aja, nanti Mbak usahakan kok, doakan ya, uanganya segera dapat. Gimana kondisi Mbak Ayudia?"

Saat berteleponan dengan Ibu, aku tidak sempat menanyakan kondisi Ayudia.

"Mbak Ayudia punya suami dan punya keluargq, enggak seharusnya merepotkan Mbak Medina terus. Terlebih dengan keadaan yang telah terjadi di masa lalu. Apa mereka enggak punya malu?" ketus Farrel.

"Udah. Selagi Mbak Medina bisa bantu, akan Mbak bantu. Kamu jangan marah-marah. Ingat jaga sikap di depan Ibu."

"Mbak Medina juga baik banget jadi orang." Setelah aku tenangkan, barulah panggilan diputus.

Menilik kondisi yang tidak kondusif ini, aku memutuskan untuk menelepon Ibu Tari.

"Kamu ke kantor saja, Medina. Saya masih di kantor."

Ibu Tari tidak menjawab panggilanku, tetapi justru mengirimkan pesan.

"Eh, ke kantor pusat ya. Saya lagi rapat di kantor pusat."

Pesan selanjutnya dikirim bersama dengan alamat lokasi.

Tidak ingin berlama-lama, aku segera meluncur menggunakan ojek online. Jaraknya cukup lumayan jauh, sekitar dua jam. Aku sampai jam tujuh malam.

Kantor besar ini masih ramai orang. Apa memang begini bekerja di kantor pusat? Tidak ada waktu pulang dan libur?

Aku disuruh menunggu di lobi. Beberapa menit menunggu, Ibu Tari mengirim pesan agar aku menuju lantai lima belas.

Aku masuk ke lift, lalu saat keluar aku bertemu dengan dua orang lelaki yang sedang bercakap-cakap. Aku sengaja bersembunyi karena satu di antara dua lelaki itu, aku mengenalinya.

"Anda harus menyewa seseorang untuk dijadikan istri, Boss. Tidak perlu dari kalangan atas. Akan lebih aman kalau dari kalangan tidak dikenal." Dia lelaki yang aku kenal, yang berbicara.

"Carikan sekarang! Saya enggak mau menunggu lama. Besok malam harus dikenalkan kepada Oma." Lelaki yang dipanggil boss itu berlalu pergi.

Entah pikiran dari mana, aku berlari menghampiri lelaki itu. Lelaki yang hari itu mewawancarai aku u tuk bekerja di pabrik roti.

"Pak, Anda butuh istri sewaan. Saya bersedia." Entah dapat keberanian dari mana, aku menawarkan diri.

Lelaki itu bengong, mungkin sedang memikirkan sesuatu atau malah menganggap aku gila.

"Saya tidak sengaja mendengar obrolan bapak dengan lelaki tadi. Dan kebetulan saya juga sedang butuh uang. Saya yakin, saya memenuhi kriteria yang kalian cari." Aku berkata yakin.

"Ikut ke ruangan saya."

Aku mengikuti lelaki itu.

Terpopuler

Comments

🌷𝙈𝙗𝙖 𝙔𝙪𝙡 ☪

🌷𝙈𝙗𝙖 𝙔𝙪𝙡 ☪

ga ngerti jln pikir medina demi menolong ayudia yg telah merebut suaninya sampe dia merendahkan n menawarkan diri pd bosnya... telalu baik apa ogeb ???
farrel aja yg msh remaja waras cara berpikirnya ...

2023-09-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!