5

Sesuai dengan rencana yang sudah aku susun dengan matang bahwa hari ini aku akan meninggalkan rumah ini, kebetulan Ayudia dan Mas Bagas tidak di rumah. Mereka berencana akan tinggal di sini menemani Ibu. Untuk semantara keduanya menginap di rumah orang tua Mas Bagas sambil mengakrabkan diri dengan keluarga di sana.

Semalam, aku sudah menghubungi Diah. Rencana kepergianku ini tidak lepas dari bantuan teman kerjaku itu.

Tidak ingin ketinggalan, Farrel sudah bangun pagi-pagi sekali dan menggedor kamarku. Remaja itu berulang kali memastikan niat kepindahanku ini. Dia juga masih berusaha membujuk agar aku mau menggagalkan rencana ini.

"Kalau gitu, Mbak Mey jangan halangi aku kalau aku mau nyusul Mbak nanti." Putus Farrel dengan tekad bulatnya.

Pada akhirnya, aku pun tidak lagi bisa menolak permintaannya. Sebagai syaray agar lelaki itu mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Bersama Farrel, aku ke termenial. Di sana, Diah sudah menunggu. Diah telah memesankan tiket bus untukku berangkat.

"Di kota nanti, jangan lupa untuk hati-hati ya. Di sana sangat ramai dan tentu sangat berbeda dengan di sini. Di sana kota besar bukan kota kecil kayak tempat tinggal kita." Diah memberi wejangan, air matanya mengalir membasahi pipi dan menular padaku.

"Aku doakan kamu akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan bahagia. Kamu berhak bahagia, Medina," katanya lagi dan aku balas dengan anggukan berulang kali.

"Makasih, Diah." Aku berujar sambil berurai air mata, lalu memeluknya dengan pelukan yang erat.

Setelahnya, aku menoleh kepada Farrel yang tengah menatapku dengan berurai air mata juga. Aku melangkah mendekat, lalu merentangkan kedua tangan agar bocah itu menyambut pelukanku.

"Titip Ibu, ya. Mbak tunggu kelulusan dan kehadiran kamu. Oke?" Aku berujar dengan suara bergetar.

Farrel mengangguk berulang kali. Ia menghapus air matanya menggunakan punggung tangan.

"Aku sedih lihat Mbak kayak gini," sahut Farrel dengan suara bergetar.

"Mbak akan bahagia saat kamu lulus sekolah dan lanjut kuliah--"

"Iya ... iya, tunggu aku di sana. Aku akan lulus dan kuliah. Aku janji. Aku janji."

Aku menepuk bahu Farrel berulang kali, lalu memeluknya sekali lagi sebelum melangkah masuk ke bis karena namaku sudah dipanggil petugas. Bis sebentar lagi akan berangkat.

Diah dan Farrel melambaikan tangan. Aku membalas lambaian tangan mereka. Bis melaju perlahan keluar dari terminal menuju jalanan. Perjalanan panjangku pun dimulai.

Aku menoleh ke belakang, tubuh Diah dan Farrel tidak lagi terlihat. Lantas, aku menoleh ke depan. Aku akan meninggalkan semua duka itu di sepanjang jalan, tidak ingin membawa juga tidak ingin mengenangnya. Biarlah semuanya berakhir bersamaan perjalanan yang aku tempuh ini.

***

Aku tinggal di sebuah indekos yang sederhana, di dalam gang sempit di belakang gedung tinggi. Diah memenuhi janjinya untuk menghubungi temannya di kota ini. Selain membantuku mendapatkan pekerjaan, Diah juga membantuku mendapatkan tempat tinggal.

Dengan uang yang aku miliki, cukup untukku membayar indekos selama dua bulan. Sisanya, aku gunakan untuk makan dan ongkos, serta jaga-jaga jika ada dana dadakan.

Besok aku akan pergi ke tempat kerjaku, sebuah warung makan yang kata Diah cukup ramai. Namun, pertama-tama aku akan menemui teman Diah yang sudah lebih dulu kerja di sana.

Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, aku pun segera merebahkan diri. Tubuhku ini sudah terasa amat lelah. Belum sempat mata ini terpejam, dering ponsel terdengar mengusik kantuk yang menyerang.

Nama Farrel tertera di layar yang berpendar. Tidak berpikir dua kali untukku menjawab panggilan itu.

"Mbak sudah sampai ya? Ibu menanyakan kabar Mbak Medina." Pertanyaan Farrel terdengar setelah sapaan pertamaku.

"Iya sudah sampai. Ini lagi baring. Capek benget," jawabku sambil menguap.

"Kamu hati-hati ya di sana. Jaga diri dan sering-sering kasih kabar ke Ibu."

Aku cukup kaget saat mendengar suara Ibu. Jantungku sampai bertalu lebih kencang, entah karena sebab apa.

"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati dan jaga kesehatan ya." Aku membalas dengan lembut.

Setelah itu, aku berpamitan karena memang kantuk ini tidak lagi bisa ditahan. Lantas, setelah panggilan diputus, aku pun segera memejamkan mata. Ponsel aku letakkan secara asal di samping bantal.

Aku terbangun saat merasakan perut yang lapar. Tidak ada apa pun di sini. Aku juga belum berani keluar karena belum tahu tempat ini, terlebih ini sudah malam. Walaupun kata Diah, di sini selalu ramai 24 jam, tetap saja aku masih menjadi penghuni baru.

Aku beranjak dari kasur, kakiku menapak lantai yang dingin. Untung saja aku sempat membeli air mineral dalam botol yang besar. Masih cukup untuk menghilangkan haus.

Sesaat, aku berpikir dan mencari makanan di dalam tas. Seingatku tadi dibawakan roti oleh Diah.

"Ketemu!" sorakku riang menemukan sebungkus roti di dalam tas.

Aku langsung melahap, kemudian minum yang banyak agar perut menjadi kenyang. Setelahnya, aku kembali merebahkan diri. Masih ada beberapa jam lagi hingga waktu pagi.

Suara keramaian memgantarkan kesadaranku ke dunia nyata. Aku membuka mata dan mendengar keramaian di luar sana. Ada beberapa kamar di sini, sepertinya para penghuni kamar lain sudah mulai sibuk dengan aktifitas pagi mereka.

Tidak ingin ketinggalan, aku segera bangun dan masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Aku mengenakan pakaian rapi, dan membuka ponsel. Rupanya banyak panggilan dari Diah yang tidak terjawab, lalu aku membuka pesan dan membaca pesan dari wanita itu. Dia mengabarkan kalau temannya bisa aku temui jam setengah tujuh sebelum dia berangkat bekerja.

Gawat! Lima menit lagi.

Beruntung Diah memberikan kontak temannya itu. Aku pun langsung menelepon.

"Ya, halo!" sapa suara wanita dari seberang sana.

Aku begitu saja bernapas lega. "Halo, ini saya Medina temannya Diah yang akan bekerja di warung makan. Apakah kita bisa ketemu sekarang?" Aku langsung berbicara tanpa berniat berbasa-basi.

"Oh, lo, Medina. Ya, ke kamar gue ya. Gue lagi siap-siap," sahut wanita itu yang langsung aku setujui.

Aku langsung bersiap dan keluar dari kamar. Kamar wanita itu berjarak dua kamar dari kamarku. Begitu sampai kamarnya, aku pun langsung mengetuk pintu.

"Lo udah datang. Sudah tahu nama gue, kan?" Dia membuka pintu masuk ke kamarnya lagi, membiarkanku berdiri di depan pintu kamarnya.

"Iya. Mawar, kan? Diah udah kasih tahu nama kamu ke saya." Aku menjawab, masih berdiri di depan kamarnya.

"Masuk aja. Gue lagi siap-siap. Entar kita berangkat bareng," jawabnya lagi kemudian menghadap cermin. Mawar memakai lipstik, lalu menyisir rambut.

Penampilan Mawar seakan tidak menunjukkan kalau dia bekerja di warung makan. Penampilannya terlalu seksi. Aku cepat-cepat membuang pikiran buruk yang mulai mendominasi. Tidak seharusnya aku menilai orang lain di pertemuan pertama kami.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!