Aku merasa bahwa waktu berjalan begitu lambat. Aku masih menikmati makan malamku. Kegugupan yang aku rasakan ini membuat semakin lama aku menghabiskannya. Di hadapanku sang tuan telah duduk santai, mangkuknya telah kosong tidak bersisa.
Dengan dibantu minum air putih dalam gelas, aku menelan sisa-sisa makanan di piring. Dan, saat suapan terakhir aku makan dengan tergesa membuatku tersedak.
"Hati-hati." Sang tuan berkata pelan. Aku pikir, dia cukup perhatian untuk seseorang yang baru dikenal.
Setelah batukku reda, aku segera menelan makanan yang tersisa di dalam mulut, meneguk habis air putih di gelas. Aku juga bergegas membereskan meja.
Pak Gio datang membawa sebuah map yang membuatku penasaran apa isinya. Aku rasa surat perjanjian kontrak di antara aku dan sang tuan.
Benar dugaanku, saat Pak Gio memberikan berkas itu kepadaku dan langsung aku baca dengan seksama.
Aku mendelik tidak percaya jika kontrak menjadi istrinya itu berjalan selama lima tahun. Ini terlalu lama.
"Apa ini tidak terlalu lama, Tuan?" tanyaku sambil mendongak.
Lelaki itu menatapku tajam, dia tidak bergeming dan tidak merespons pertanyaan yang aku ajukan. Aku pun memutuskan untuk kembali melanjutkan apa yang aku baca.
"Pihak istri tidak boleh membatalkan kontrak perjanjian ini. Jika mengajukan pembatalan, harus membayar denda dua kali lipat dari semua uang yang telah diterima."
Aku meneguk ludah. Bayar uang dua kali lipat. Ini sangat memberatkan.
Mataku terus turun, membaca bagian yang lain.
"Pihak istri wajib melayani jika pihak suami meminta haknya di ranjang."
"Jika pihak istri hamil, hak asuh anak jatuh pada pihak suami jika mereka berpisah lima tahun yang akan datang, jika pihak istri berselingkuh. Begitu pula sebaliknya."
"Baik pihak istri maupun suami sama-sama wajib untuk setia dan menjaga kehormatan pasangan di mana pun berada."
"Baik pihak istri maupun suami dilarang membocorkan kontrak perjanjian ini kepada siapa pun."
"Pihak suami menghadiahkan sebuah rumah, kendaraan dan jaminan perekonomian."
"Pihak istri berhak menuntut nafkah bulanan kepada pihak suami sesuai dengan kebutuhan."
"Hal-hal lain bisa ditambahkan atau diubah sesuai kewenangan pihak suami."
Kemudian, aku mengeja nama seseorang yang secara mendadak akan menjadi suamiku itu. Rafe Qenan Jarvas.
Aku ingat nama yang terpampang di depan gedung ini, 'Jarvas Corp.' Lantas, nama pabrik tempat aku bekerja pun ada Jarvas-nya. Rupanya, memang dialah pemilik tempat aku bekerja sekarang.
"Ada pertanyaan? Tapi tidak dengan sanggahan." Tuan Jarvas berkata dengan tegas.
Aku tidak memiliki pertanyaan, tetapi memiliki sanggahan. Bagaimana mungkin, kontrak pernikahan ini terjadi selama lima tahun. Itu terlalu lama buatku.
"Soal uang nafkah bulanan. Apa dua puluh lima juta per bulan cukup?"
"Ha? Apa, Tuan?" Aku bertanya dengan raut yang entah. Pasti wajahku terlihat sangat bodoh sekarang. Buktinya, Pak Gia yang berdiri di samping sofa Tuan Jarvas menahan senyum melihatku.
"Kamu sangat memdengar apa yang saya katakan Medina," ujar Tuan Jarvas serius.
Seketika, mulutku yang semula menganga pun terkatup rapat. Aku menggeleng.
"Setelah tanda tangan, saya akan memberikan uang seratus lima puluh juta sebagai uang muka dan sebagai bukti kesepakatan perjanjian ini." Tuan Jarvas menandatangani berkas di bagian namanya. Ada beberapa salinan di sana.
Selanjutnya, Tuan Jarvas menyodorkan berkas itu kehadapanku untuk ditandatangani. Terakhir, dia mengambil satu kertas dan diberikannya kepadaku.
"Untuk kamu simpan. Berkas yang lain akan menyusul besok." Tuan Jarvas memberikan berkas miliknya kepada Pak Gio.
Aku kembali mengamati surat yang aku pegang. "Apakah ini kuat di mata hukum?" tanyaku ingin tahu.
"Tentu saja. Ada tanda tanganku di sana." Tuan Jarvas mengedikkan dagu yang aku balas dengan anggukan kepala. Tidak akan ada gunanya aku mendebat lelaki itu. Lebih baik, aku percaya apa yang dia katakan.
Tuan Jarvas memegang ponsel, mengetik sesuatu di sana. "Sebutkan nomor rekeningmu. Saya ingin meminta langsung kepadamu."
Oh, apakah itu tandanya bahwa Tuan Jarvas sudah tahu nomor ponselku?
Tidak ingin lelaki itu menunggu lama, aku pun bergerak cepat mengambil ponsel di dalam tas. Aku membuka catatan nomor rekening dan menyebutkan sederet angka itu kepada Tuan Jarvas.
"Periksa rekeningmu. Saya sudah mengirimkan uang yang saya janjikan."
Setelah mendengar perkataan lelaki itu, aku tidak membuang waktu lagi untuk memeriksa rekening. Benar saja, ada sejumlah uang yang telah masuk di sana. Dan, tidak ingin berlama-lama, aku pun segera melakukan transaksi mengirimkan uang lima puluh juta ke rekening Farrel. Setelahnya, aku mengirimkan pesan kepadanya tentang uang yang aku kirimkan itu.
"Mbak Medina dapat uang dari mana sebanyak itu?"
Satu pesan dikirim oleh Farrel dan berlanjut dengan sederet pesan yang lain. Selanjutnya, ponselku pun berdering. Aku pun sengaja mematikan nada dering dan berganti dengan mode silent.
"Jika itu penting, angkat saja." Tuan Jarvas berujar santai. Dia berdiri, melakukan panggilan telepon.
"Tidak, Tuan. Nanti saja biar saya telepon. Itu telepon dari adik saya." Aku berkata pelan, sengaja menjelaskan apa yang terjadi.
"Iya, Oma. Iya."
Suara Tuan Jarvas begitu lembut dan penuh kasih sayang. Seseorang di seberang sana pasti seseorang yang sangat berarti dan sangat disayanginya.
Setelah ponsel dimasukkan ke dalam saku celana, Tuan Jarvas berbalik. Dia menatapku dalam.
"Ayo saya antar pulang!" Kemudian, dia menoleh pada Pak Gio yang masih setia berdiri di ruangan ini tanpa bersuara jika tidak diminta. "Kamu pulanglah, Gio. Sampai jumpa besok."
"Baik, Boss. Permisi." Pak Gio mengangguk sopan lalu undur diri. Belum sampai langkahnya di ambang pintu, Tuan Jarvas memanggil.
"Makanannya kamu bawa saja."
"Untuk Medina saja, Tuan. Dia yang anak kos. Saya enggak perlu." Pak Gio membalas dengan anggukan hormat. Lantas, dia pun segera berlalu meninggalkan aku dalam kebingungan.
"Kamu ambil saja makanan itu, lumayan bisa untuk sarapan besok atau kamu bagikan kepada tetangga kalau enggak mau makannya." Tuan Jarvas mengambil bungkusan dari atas meja, dan dengan santainya dia memberikan kepadaku. "Ini, ambil."
"Terima kasih, Tuan." Aku membalas sembari mengangguk sopan.
"Sama-sama."
Selanjutnya, aku mengikuti langkah kaki lelaki itu dalam diam. Aku menatap punggung tegap itu. Dia tampak gagah dan wajahnya tetap terlihat segar walaupun sudah malam begini.
"Masuklah," ujarnya saat dia telah masuk ke sebuah mobil hitam yang mewah.
Aku membuka pintu penumpang bagian depan, duduk dengan canggung. Interior di dalamya terlihat memukau.
"Apa Tuan sudah tahu nomor hp saya?" tanyaku ingin tahu. Lelaki itu menjawab dengan anggukan. "Tuan juga tahu alamat tinggal saya?" tanyaku lagi yang dijawab dengan anggukan lagi.
Tidak ada lagi percakapan sampai mobil berhenti di depan gang, sebab tidak bisa masuk sampai di depan tempat aku tinggal.
"Terima kasih, Tuan." Aku mengangguk sopan.
Pintu kaca mobil terbuka, lalu Tuan Jarvas memanggilku.
"Siap-siap besok setelah bekerja datang ke kantor saya lagi."
Setelah mengucapkan itu, Tuan Jarvas menutup kaca mobil, dan kendaraan roda empat yang mewah itu pun melaju meninggalkan aku yang masih berdiri menatap kepergiannya.
"Wow, gue enggak percaya ternyata incaran lu orang yang kaya raya. Boleh juga."
Suara tepuk tangan dengan iringan cemooh menghampiriku. Mawar berdiri dengan tatapan jijik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments