12

Di pagi hari, saat aku hendak berangkat bekerja beberapa wanit mendatangi. Dan, yang membuatku cukup terkejut sekaligus marah adalah mengenai apa yang mereka tanyakan.

"Eh, gimana cara lo bisa dapat cowok kaya. Ajarin kita dong!"

"Janda emang semakin di depan. Gesit dan lincah. Emang ada orang kaya yang suka sama janda?"

"Pakai pelet apa lo?"

"Jangan-jangan dia cuma sopir?"

Lantas, mereka tertawa secara bersamaan. Tawa penuh ejekan yang ditujukan kepadaku.

Aku masih berusaha tidak peduli. Lebih baik, aku segera berangkat karena tidak mau terlambat.

Mengabaikan mereka yang terus bersorak dan menatap aku dengan tatapan mengejek sekaligus menjijikkan, menepis setiap tangan yang berusaha menahan langkahku dengan kasar, aku berjalan cepat. Aku menghela napas panjang saat telah berhasil keluar dari tahanan para wanita itu.

Setelah masuk ke kendaraan umum, aku membuka ponsel melihat banyaknya panggilan atas nama Farrel juga pesan yang masuk secara beruntun. Semalam, setelah sampai kamar, aku memang langsung tidur. Rasanya, sangat lelah jiwa dan raga ini dan tidak akan sanggup mendengar suara Ibu maupun Farrel.

Aku melakukan panggilan, di dering pertama telepon dariku dijawab. Suara Farrel terdengar di seberang sana disertai suara bising.

"Kamu di mana, Farrel?" tanyaku dengan kening berkerut.

"Aku di sekolah." Beberapa saat kemudian, suara bising itu pun lenyap. Farrel tampaknya menyingkir mencari tempat yang sepi. "Mbak Ayudia operasi hari ini. Mbak Medina dapat uang dari mana?"

"Oh, ada dapat bantuan dari kantor--"

"Uang pinjaman ya. Kalau gitu, enggak usah transfer uang bulanan aja buatku, Mbak. Untuk bayaran spp sama jajan, enggak butuh amat. Uang Ibu juga cukup. Mbak Medina kirim untuk Ibu, kan, pakai rekeningnya Mbak Ayudia?"

"Iya. Tapi, kan, beda. Itu untuk kebutuhan masak dan keperluan sehari-hari. Uang sekolah kamu beda lagi. Udah, enggak usah dipikirkan." Aku berusaha menjelaskan.

"Lagian, entar jatah Mbak kepotong, dong. Mau bayar cicilan sama hidup di kota metropolitan kayak gitu bukannya murah. Aku tahu karena kakak tingkat aku ada yang di sana, dan aku tanya-tanya juga. Besok aku kuliah di sini aja, biar biayanya murah. Mau mengajukan beasiswa juga." Farrel berbicara random, dari ujung barat ke ujung selatan.

Aku tersenyum. Farrel sudah memikirkan banyak hal. Dia sudah bisa mengemban tanggung jawab untuk dirinya sendiri dan keluarga.

"Ya udah, enggak apa-apa. Mbak Medina nurut aja sama keputusan kamu. Yang penting kamu bertanggung jawab terhadap keputusan yang kamu ambil itu," balasku kemudian. Lantas, panggilan pun diputus setelah Farrel menyetujui nasihat yang aku berikan padanya.

Sisa perjalanan, aku menatap seorang ibu yang menggendong bayinya. Tanpa bisa dicegah, aku mengelus perutku yang rata ini. Mungkin, jika aku adalah wanita normal aku juga sudah memiliki bayi atas pernikahanku sebelumnya. Ah, berita Ayudia yang telah melahirkan cukup memggoncangkan jiwaku. Itu semakin menunjukkan bahwa diri ini adalah wanita mandul.

Aku wanita yang tidak sempurna.

Pikiran itu menusuk jiwaku. Saat aku masih dalam lamunan, tiba-tiba saja ponselku bergetar. Kali ini panggilan dari nomor asing yang tidak aku kenali. Jemariku ragu dalam menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan. Lantas, saat ponsel aku deketakan di telinga suara asing itu terdengar. Namun, apa yang dia ucapkan cukup mampu membuatku menebak siapa dia.

"Jangan lupa nanti sore. Sopir akan menjemputmu."

Kedua bibirku telah terbuka, tetapi belum sempat mengeluarkan kata saat panggilan telah diputus secara sepihak.

Dengan perasaan kesal, aku menyimpan nomor asing itu dan memberi nama 'orang aneh.'

Sesampainya di pabrik, aku langsung diminta untuk menemui Ibu Tari. Selama perjalanan menuju ruangan itu, aku berpikir keras merangkai kata agar alasan yang aku sampaikan bisa diterima akal dengan baik.

Aku mengetuk pintu. Setelah mendengar perintah untuk masuk, barulah aku membuka ruangan itu.

Ibu Tari yang semula duduk di kursi kebenarannya pun berdiri saat melihat kehadiranku. Dia memintaku duduk di kursi di depan meja kerjanya dan wanita itu pun kembali duduk.

Kedua tangan Ibu Tari saling bertaut di atas meja. Matanya fokus menatapku. Kemudian dia berkata dengan kalimat yang sukses membuatku mengeluarkan rangkaian alasan yang tadi telah aku susun.

"Jadi, katakan kenapa kemarin kamu ingin bertemu dengan saya?"

Aku menarik napas dalam, mengembuskannya secara perlahan guna menetralisir gugup yang mendera jiwa.

"Saya kemarin sebenarnya sangat butuh uang, Bu. Jadi mau tanya ke Ibu apakah bisa kalau sekiranya saya pinjam di kantor." Aku menjelaskan dengan suara pelan.

"Memangnya untuk keperluan apa? Sekarang sudah dapat belum uangnya?" Wanita itu bertanya dengan perhatian penuh.

"Adik saya di kampung mau operasi. Tapi, syukurlah dananya udah ada. Kabar pagi tadi, adik saya sudah operasi dan berjalan lancar." Aku mengulas senyum tipis. Lantas, aku mencondongkan badan sampai menempel pada meja.

"Jadi, misalnya ... misalnya, nih, Ibu, kalau saya mau pinjam uang kantor gitu bisa enggak dengan status saya yang belum karyawan tetap?" tanyaku kemudian.

Ibu Tari tersenyum. Senyum pemakluman, sangat berbeda dengan senyuman yang aku terima dari teman-teman indekos. Ibu Tari memang paling bisa memberikan perhatian kepada orang lain. Ya, walaupun wanita di hadapanku ini jangan sampai tahu kalau aku ada kontrak dengan boss besar kami.

"Kamu tahu sendiri jawabannya bukan? Fasilitas hanya diberikan kepada karyawan tetap. Dan, untuk pinjaman sekalipun tidak dalam jumlah yang besar. Perusahaan kita ini masih baru dan masih butuh banyak uang untuk pengembalian modal serta memdapatkan keuntungan. Bisa dibilang, modalnya saja belum balik gimana mau minjamin dana ke karyawan." Ibu Tari mengubah posisi duduknya. Dia bersandar pada sandaran kursi dengan kedua tangan bertaut di atas perut.

"Iya, sih. Terima kasih kalau begitu, Bu." Aku mengangguk sopan.

Merasa jika tidak ada urusan lagi, aku pun meminta izin untuk pamit keluar. Aku bergegas masuk ke ruanganku, pekerjaan telah menunggu.

Hari ini terasa berlalu dengan sangat cepat. Padahal, aku masih ingin berlama-lama bekerja. Namun, jam pulang telah tiba. Para rekan kerjaku sudah pulang satu per satu, sementara diriku masih ingin tetap tinggal. Sampai suara nada dering ponsel mengalihkan fokusku.

Nama orang aneh terpampang di layar, aku menjawab panggilan itu dengan malas.

"Waktunya sudah tiba. Segera keluar dan ada mobil yang sudah menjemput. Saya menunggu di kantor." Suaranya terdengar tegas. Tidak ada basa-basi apalagi sapaan yang menanyakan aku sedang apa.

Oh, jangan berharap, Medina!

"Baik, Tuan. Ini saya sedang keluar dari pabrik." Aku membalas dengan suara pelan. Tumben dia tidak langsung memutuskan sambungan seperti pagi tadi.

"Hati-hati di jalan."

Langkahku seketika berhenti, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku menatap layar ponsel yang telah menggelap dengan tatapan aneh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!