7

Aku menghapus air mata yang meleleh di pipi dengan kasar. Setiap usapan yang aku lakukan seperti tengah menghapus bayangan lelaki menjijikkan itu dari pelupuk mataku.

Rupanya, kisah sedih dan mengenaskan yang aku alami masih berlanjut. Aku pikir episode kesialanku telah berakhir, ternyata takdir masih ingin melihat seberapa tegar diri ini menjalani hidup. Baiklah.

Aku sadari bahwa sosok Medina yang lemah lembut itu telah menghilang. Sekarang, aku harus bisa tegar dan menghadapi semua permasalahan hidup ini sendirian. Tidak ada tempat bergantung, tidak ada pula tempat untuk bercerita. Ah, bahkan tempat untuk sekadar meletakkan kepala karena terlalu beratnya beban pikiran pun tidak ada.

Seolah, aku sedang diuji, diasah dan dibuat sedemikian rupa agar menjadi sosok yang memukau di kemudian hari. Semoga saja. Agar setiap angan yang aku tanam dalam benak, tidak lesap begitu saja.

Aku memilih berjalan, menyusuri trotoar. Menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi, keinginanku pun kembali menyala. Seolah lupa pada apa yang baru saja terjadi, pikiranku berkelana jikalau saja diri ini berada di salah satu gedung di sana, menjadi salah satu karyawan. Merintis dari karyawan rendahan pun aku siap. Yang penting, aku segera mendapatkan pekerjaan.

Aku berjalan mendekat ke salah satu gedung itu. Aku pikir jaraknya lumayan dekat, ternyata sangat jauh sekali. Sampai akhirnya, aku pun memutuskan untuk memutar haluan.

Saat kedua lutut ini merasakan letih. Saat kepala ini terasa amat berat. Saat tubuh ini meminta jatah untuk beristirahat. Aku melihat ada banner yang menginformasikan bahwa ada job fair di sana. Seketika, setiap lelah yang aku rasakan berubah menjadi semangat membara.

Aku melihat ke dalam isi tas. Semua data diri dan perlengkapan melamar pekerjaan masih tersimpan rapi di dalam amplop cokelat. Aku memang sengaja menyiapkan kalau-kalau ada kesempatan yang aku dapatkan.

Suasana gedung sangat ramai. Orang berlalu lalang seolah tiada mengenal kata capek. Di tangan mereka memagang map berwarna coklat, seperti milikku. Aku ikut mengantre ke barisan, untuk registrasi dan memilih perusahaan yang diminati sesuai dengan bidang dan ijazah yang dimiliki.

Usai melakukan registrasi, aku dipersilakan untuk melihat-lihat perusahaan yang diminati. Sayang sekali, aku hanya memiliki satu map cokelat. Aku perhatikan, satu orang bisa memasukkan beberapa surat lamaran di perusahaan yang berbeda-beda.

Aku berniat kembali lagi esok hari. Namun, rupanya hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan pameran ini. Aku terlambat di belakang jauh sekali.

Seseorang menjawil bahuku. Seketika, aku pun menoleh. Dia berkata dengan logat khas kota ini. "Lu masukin ke mana aja?"

Aku mengedikkan bahu, bingung. Hanya satu berkas yang aku miliki dan diri ini tidak ingin melewatkan kesempatan. Aku harus bisa menemukan satu perusahaan yang cocok dan bisa diterima di sana.

"Gue nyoba di perusahaan itu." Wanita itu menunjuk ke sebuah meja yang ramai pengunjung. "Susah masuknya. Entar langsung wawancara dan langsung dapat kabarnya hari itu juga. Belum ada yang masuk kayaknya. Sehari dibatasi lima puluh pelamar doang. Enggak ada kesempatan kedua juga." Dia menjelaskan panjang lebar.

Sejujurnya aku tertarik dengan tantangan itu. Namun, mengingat hanya ada satu berkas di tangan yang artinya aku hanya punya satu kesempatan. Maka, aku memutuskan untuk mencari perusahaan yang tidak terlalu diminati saja.

Aku memutuskan untuk tidak menanggapi informasi wanita itu. Selanjutnya, dia juga langsung pergi mencari tempat yang lain.

Aku kembali melihat-lihat, membaca profil juga bidang pekerjaan. Semua perusahaan tampak wah di mataku. Selain karena pengalaman mereka, juga jumlah karyawan yang lumayan banyak. Aku geleng-geleng kepala. Pengalaman yang aku miliki hanya sebagai pekerja di pabrik, rasanya kalau ada lowongon untuk pabrik aku cukup percaya diri ketimbang masuk kantor yang membutuhkan penampilan menarik.

Sesaat, mataku tertuju pada meja di pojok ruangan. Meja itu tampak sepi, terlebih karena posisinya yang cukup tersembunyi. Aku penasaran, kenapa mereka memilih lokasi yang tidak terlihat seperti itu. Hanya segelintir orang yang berdiri di depan meja.

Aku melangkah menuju meja itu. Membaca nama perusahaan yang tertera di banner "Bell bakery" dan berbagai macam gambar jenis roti terpampang.

Aku mengangguk dan tersenyum sopan, kemudian memperkenalkan diri dan memberikan berkas lamaran yang aku bawa. Beberapa saat kemudian aku diminta untuk menunggu, hingga seseorang lelaki bertubuh tinggi mendekati meja. Entah apa yang mereka bicarakan, sesekali matanya tertuju kepadaku.

"Kamu ikut saya," kata lelaki tinggi itu berdiri menjulang di hadapanku.

Aku kontan berdiri, menatap bingung dan mengikuti lelaki itu. Dia membawaku pada sebuah ruangan di dalam gedung. Hanya ada kami berdua di dalam. Aku berdiri dengan gugup.

"Silakan duduk!" katanya yang sudah lebih dulu duduk di depan meja.

Aku mendongak sesaat, lalu mengangguk sopan. Aku duduk di kursi di hadapan lelaki itu. Sementara dia membaca berkasku, aku meremas kedua tangan di pangkuan. Dalam hati, aku merapalkan banyak doa dan harapan. Semoga ada jalan terbaik dan ada rezeki untuk adik bungsuku melanjutkan kuliah.

"Perusahaan kami baru dibangun satu bulan yang lalu. Masih merintis dan memang baru berdiri. Belum banyak produksi untuk memenuhi pasar. Karena itu berpengaruh juga pada gaji. Apa Anda bersedia?" Pertanyaan lelaki itu membuatku menimbang dengan dalam.

"Kira-kira berapa gaji yang akan saya terima, Pak?" tanyaku akhirnya. Aku harus jelas dengan bilangan gaji ini.

"Gajinya UMR, tetapi tidak ada uang untuk makan siang hanya ada tunjangan dan ongkos transport saja. Bagaimana? Setelah Anda setuju dengan gajinya, baru saya jelaskan lingkup pekerjaannya." Lelaki itu menautkan kedua tangan di atas meja, matanya menatapku lekat. Terlihat sekali jika tengah menunggu keputusanku.

"Baik, Pak. Saya akan terima." Aku mengangguk setuju.

"Kamu di bagian produksi sesuai dengan pengalaman. Tapi, bukan di bagian pembuatannya melainkan bagian pembungkusan. Nanti ada karyawan yang lain yang bekerja bersama kamu. Untuk tahap ini memang kita tidak butuh produksi yang banyak, makanya hanya butuh sedikit orang saja. Jadi saya harap kamu bisa bekerja dengan ekstra dan sabar karena kontrak kamu 2 tahun. Selama kontrak kamu tidak boleh berhenti."

Aku mengangguk mendengar penjelasan itu. Setelah menandatangani surat kontrak, aku pun disuruh keluar. Besok adalah hari pertama aku kerja. Rasanya masih dalam mimpi saja.

Setelah dari ruangan itu, aku pun langsung pulang. Tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada karyawan yang masih berada di meja depan.

Aku pulang menggunakan ojek online. Sesampainya di kamar indekos, aku langsung merebahkan diri. Lelah hari ini telah berganti dengan harapan baru. Aku tersenyum menunggu hari esok dengan tidak sabar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!