Kejadian tadi sore cukup menampar kesadaranku. Sekeras apa pun aku berusaha untuk kuat, pada akhirnya air mata ini pun luruh juga.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun membasahi bumi. Alam seakan tahu jika aku tengah membutuhkan untuk menyamarkan kesedihan.
Aku biarkan tubuh ini basah, menggigil seiring air mata yang terus mengalir. Para pengendara roda dua yang lain, banyak yang berteduh. Namun, ada juga yang tetap melajukan kendaraan mereka menggunakan jas hujan untuk melindungi tubuh dari basah.
Sesampainya di indekos, aku segera memarkirkan motor kemudian membuka pintu kamar.
Kunci kamarku sampai terjatuh karena tanganku yang gemetar karena dingin. Aku sampai harus mencoba berulang kali memasukkan kunci ke lubangnya agar berhasil.
Setelah pintu terbuka, aku segera meletakkan tas yang ikutan basah ke lantai dekat pintu. Lantas, aku pun melangkah cepat menuju kamar mandi.
Aku mandi dengan membasahi rambut agar otakku yang kusut ini bisa terurai dengan baik. Namun, gigil di tubuh semakin menjadi.
Aku cepat-cepat membilas badan, lalu meraih handuk dan melilitkan ke badan. Setelahnya, segera keluar dari bilik kamar mandi menuju kasur. Aku menarik selimut, menutupi seluruh tubuh sampai menutupi kepala yang memang masih basah.
Suara dering ponsel yang memanggil-manggil berhasil mengganggu. Masih di dalam selimut, aku bergerak untuk mengambil ponsel dari dalam tas. Tanpa melihat siapa si pemanggil, aku langsung menjawab panggilan.
Belum sempat aku mendengar suara si pemanggil, ponselku justru mati. Dalam keadaan basah, aku menyambungkan daya. Beberapa saat kemudian, tanpa pikir panjang aku pun menyalakan ponsel yang mati, tetapi tidak mau menyala sama sekali. Teringat jika benda pipih ini juga kehujanan bersama tas, aku segera mencabut kabel yang tersambung.
Tiba-tiba saja, otakku berpikir yang tidak-tidak. Efek dari basahnya air hujan bisa saja membuat ponselku mati. Beruntung tidak meledak saat aku sambungkan dengan pengisi daya tadi.
Aku menghela napas panjang. Lantas, beranjak duduk. Masih dengan tangan memeluk selimut, aku mengambil pakaian dari dalam lemari.
Bergegas aku mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut menggunakan handuk. Saat akan kembali berbaring, seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Ada apa?" tanyaku setelah pintu aku buka.
"Ada seseorang yang menunggumu di depan," ujar penghuni kamar paling ujung itu.
Didera oleh rasa penasaran, aku pun melangkah ke depan masih berselimut yang menutupi tubuh.
Jantungku berdetak cepat saat melihat siapa yang berdiri di depan teras. Hujan sudah tidak sederas tadi, tetapi dinginnya masih menusuk sampai ke tulang.
"Mas ... Rafe," panggilku lirih. Dan, ketika lelaki itu berbalik, jantung ini semakin berdetak tidak keruan.
Mas Rafe menggunakan pakaian santai. Kaus panjang dengan celana jins. Entah dari mana lelaki itu? Aku tidak berniat menanyakannya.
"Aku menelponmu tadi, tapi tiba-tiba ponselmu mati."
Ah, rupanya Mas Rafe yang menghubungi aku tadi. "Kenapa, Mas?" tanyaku.
"Kenapa? Kita sudah satu pekan tidak bertemu. Aku kira kamu kabur." Lelaki itu berkata serius.
Kami masih berdiri berhadapan. Aku dilanda perasaan bingung. Haruskah aku ajak lelaki itu masuk ke kamar? Atau, membiarkan saja dia berdiri di sini.
Saat penghuni kamar lain lewat atau dengan sengaja melihat kami dari jendela, mereka berdeham tidak jelas.
"Ajak masuk aja. Kasihan di luar. Dingin. Di dalam kamar lebih hangat, lho."
Dan, masih ada beberapa kalimat serupa yang membuat telingaku berdenging. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengajak Mas Rafe masuk ke kamar. Anehnya, lelaki itu menurut saja. Dia berjalan dalam diam, membuntuti aku.
"Silakan masuk, Mas. Maaf seadanya." Aku segera membereskan handuk, juga tas yang basah. Lantas, melipat selimut yang aku gunakan.
Rupanya, tubuhku ini masih kedinginan. Dengan gerakan cepat, aku mengambil jaket yang tergantung di paku. Jaket yang rencananya akan aku cuci dua hari lalu.
"Silakan duduk, Mas," kataku lagi melihat Mas Rafe yang masih betah berdiri. Mungkin, dia bingung harus duduk di mana. Hanya ada satu kasur di sini dan karpet di atas lantai.
Orang kaya seperti Mas Rafe, bisa jadi belum pernah duduk di tempat yang keras seperti ini.
Aku mengambil minuman kemasan dalam gelas, meletakkan di atas karpet lalu duduk di sana. Akhirnya, Mas Rafe pun bergerak perlahan menuju kasur. Di duduk dengan bersila.
"Apa kamu sakit?" tanya Mas Rafe memecah keheningan kamar ini.
Pintu kamar masih aku biarkan terbuka lebar. Rasanya sangat aneh jika ditutup, sementara hanya ada kami berdua di dalamnya. Beberapa orang yang lewat sesekali mengintip ke dalam kamar.
Aku sering kali tidak tahan dengan perilaku penghuni indekos ini. Padahal yang aku tahu, di kota besar para tetangga tidak saling mengenal dan bertegur sapa. Namun, di sini walaupun tidak kenal sesama penghuni saling mengusik.
"Tutup saja pintu kamarnya. Aku juga tidak nyaman jika dilihatin orang seperti itu." Rupanya, Mas Rafe pun merasa tidak nyaman.
"Kenapa, Mas?" tanyaku mengulang.
"Aku juga tidak nyaman. Tutup saja." Mas Rafe berkata serius.
"Tapi ...." Aku hendak menolak. Namun, melihat tatapan tajamnya membuat nyaliku menciut. Akhirnya, aku pun menutup pintu kamar.
"Orang tetap akan menggosip. Baik saat kita melakukan sesuatu maupun tidak. Jadi biarkan saja," ujar Mas Rafe berkomentar.
Aku hanya diam, kembali duduk di tempatku lagi.
"Sekarang, katakan apa kamu sakit? Dan apa kegiatan yang kamu lakukan selama satu pekan ini?" tuntut Mas Rafe kemudian.
"Aku sehat, Mas. Cuma tadi memang kehujanan. Sepekan ini kerja seperti biasanya." Aku mendongak, membalas tatapan lelaki itu. "Apa boleh aku bertanya keadaan Oma?" tanyaku hati-hati.
"Oma masuk rumah sakit, tetapi sudah keluar. Sekarang sudah di rumah--"
"Kenapa Mas Rafe tidak memberi tahuku--" Seketika aku mengatupkan kedua bibir, menyadari jika telah salah berucap. "Maaf," ujarku kemudian.
"Aku ke sini karena Oma meminta bertemu denganmu. Besok ambil cuti. Aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali." Mas Rafe berujar seperti memberi perintah yang tidak bisa dibantah.
"Tapi, aku enggak bisa izin mendadak, Mas. Aku belum karyawan tetap." Aku dibuat bingung oleh lelaki itu.
"Pakai sakitmu ini sebagai alasan." Lantas, Mas Rafe melakukan panggilan. Tidak lama kemudian, seseorang datang mengantarkan paket.
Rupanya, Mas Rafe memesankan makanan dan obat penurun demam.
"Makan dan minum obat. Jangan sampai Oma melihatmu sakit," katanya datar.
"Sebenarnya, kenapa Oma ingin bertemu denganku pagi-pagi sekali. Padahal bisa dilakukan di malam hari seperti sebelumnya. Kita berangkat setelah aku pulang kerja."
"Oma ingin membicarakan tentang pernikahan kita. Oma ingin mempercepat prosesnya."
Jawaban dari Mas Rafe membuatku tersedak ludah sendiri. Seharusnya, ini sudah menjadi konsekuensi yang pasti akan terjadi. Namun, tetap saja ini berita yang mengejutkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments