2

Petir menggelegar, hujan pun semakin deras. Tidak hanya itu, angin berembus sangat kencang. Aku bisa melihat jendela kamar yang bergoyang karena belum ditutup. Dua orang yang masih bergelung itu seolah lupa dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Aku ingin menjerit, tetapi lidahku kelu untuk mengeluarkan kata. Kedua lutut ini seakan lunglai tidak mampu menopang tubuhku. Aku mengusap air mata dengan kasar, mereka tidak layak untuk ditangisi. Dengan gigil tubuh yang semakin menjadi, dan dengan sisa kekuatan yang aku miliki, aku melangkah tertatih menuju ranjang. Bertepatan dengan itu, Mas Bagas menoleh dan dia langsung terlonjak kaget.

"Mey ... Medina." Suara lelaki itu bergetar. Dia segera mengenakan pakaian.

"Mbak Medina." Ayudia juga menyadari kehadiranku. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut dengan erat, tubuhnya merapat pada sandaran ranjang.

Aku mundur selangkah demi selangkah. Lantas, aku tertawa pelan dengan air mata yang mengalir. Aku sudah tidak memiliki daya untuk menghapus air mata ini.

"Silakan dilanjutkan," kataku kemudian melangkah cepat meninggalkan kamarku.

"Medina! Medina!" seru Mas Bagas sambil mengejar langkahku.

Aku masuk ke kamar Farrel, bergegas mengunci pintu dan masuk ke dalam selimut. Tidak lagi aku pedulikan bagaimana suara Mas Bagas yang terus berteriak memanggil namaku sambil menggedor pintu berulang kali.

Ingin sekali aku memejamkan mata, tenggelam dalam gelap dan tidak ingin bangun lagi. Namun, kesadaran ini tidak juga kunjung menghilang. Isi kepalaku terlalu penuh, dada ini pun serasa ingin meledak dan aku ingin beteriak di hadapan kedua orang itu.

Aku melempar selimut secara asal. Raga ini melangkah seperti ada yang mengendalikan sendiri, di luar kesadaranku. Ada satu hal yang ingin aku lakukan sekarang ini. Lantas, aku membuka pintu kamar, mengabaikan lelaki itu. Dia mencekal tanganku, dan aku balas dengan tatapan tajam.

"Badan kamu panas, Mey. Kamu sakit?" tanya lelaki itu yang aku balas dengan tatapan dingin.

Aku menepis cekalan tangan Mas Bagas, lalu berjalan menuju tempat yang ingin aku tuju yaitu dapur. Di sana aku melihat pisau yang terletak di samping kompor, aku bergegas mengambil. Namun, belum sempat aku melangkah meninggalkan dapur, lagi-lagi Mas Bagas menghalangi langkahku.

Mataku berkilat tajam, ingin sekali aku mencabik tubuh di hadapanku ini. Namun, tiba-tiba saja tubuhku terkulai lemah. Kesadaranku semakin menipis, kemudian gelap.

Entah berapa lama aku tenggelam dalam gelap hingga akhirnya aku terbangun. Aku menoleh, mendapati Mas Bagas yang berbaring memelukku. Sesaat, aku menatap bingung. Ada perasaan hampa juga sesak yang bergumul di dalam dadaku, sampai akhirnya kesadaran itu pun berkumpul menghimpun kepingan kepingan puzzle sampai menjadi sebuah adegan nyata yang menyakitkan.

Seketika itu juga, aku mendorong tubuh yang mendekapku itu. Aku menjerit dengan air mata yang mengalir.

"Pergi!!! Pergi dari sini!!!"

Entah jam berapa sekarang. Ayudia dan Farrel berlari menghampiriku dengan mata memerah kerena mengantuk.

"Mbak, apa yang Mbak Medina lakukan? Mas Bagas baru saja tidur karena nemani Mbak Medina semalaman," ujar Ayudia memprotes sikapku.

"Aku tidak butuh. Lebih baik kalian semua segera keluar dari kamar ini." Suaraku tajam dan bergetar. Melihat bagaimana Ayudia menatap Mas Bagas, membuatku sakit.

"Mbak Medina butuh sesuatu?" Farrel bertanya dengan raut khawatir sekaligus bingung.

Aku menggeleng berulang kali. Lantas, kembali menatap tajam Mas Bagas yang masih membisu di sampingku.

"Keluar dari kamar ini," kataku ketus disertai tatapan tajam.

"Mbak Medina mimpi buruk?" Lagi, suara Ayudia terdengar.

"Tolong! Kalian semua keluar. Aku ingin sendiri." Aku mengangkat kedua tangan, menyerah dengan keadaan ini.

"Mbak masih sakit. Mas Bagas semalaman mengurusi Mbak Medina."

Rasanya kepalaku mau meledak mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ayudia.

"Kalau gitu aku yang keluar." Putusku kemudian.

"Kamu di sini aja. Biar Mas yang keluar. Kamu istirahat aja lagi." Mas Bagas berbicara lembut, tangannya memegang keningku seakan tengah memastikan keadaanku. Aku segera memalingkan wajah, enggan menerima perhatian darinya.

Setelah mereka semua keluar, aku turun dari ranjang. Emosiku kembali mencuat, menggelegak di dalam dada bagai lahar yang dimuntahkan. Aku membuang selimut, bantal dan seprai ke lantai. Tangisku pecah. Aku sampai harus menggigit ujung baju yang aku kenakan agar tidak mengganggu orang lain. Aku belum siap jika harus didatangi warga di jam segini. Memikirkan perasaan Ibu nanti, membuat jiwaku menciut.

Pagi ini, aku memutuskan untuk tidak keluar dari kamar. Mas Bagas datang membawa sarapan. Tidak berapa lama kemudian, Farrel masuk ke kamar untuk berpamitan berangkat ke sekolah.

"Mbak Medina udah sehat?" tanya bocah remaja itu.

Aku bergumam pelan sembari mengangguk. Aku tidak mungkin menampakkan kekacauan hidupku kepada bocah remaja itu, cukup biarkan dia fokus pada pelajaran di sekolahnya.

"Kalau butuh apa-apa, Mbak bisa kabari aku yaa," kata Farrel lagi sebelum keluar dari kamar.

Setelah pintu kamar ditutup, dan aku dapati Mas Bagas yang kini duduk di lantai, aku pun mendongak menatap wajahnya yang tampak bersalah.

"Dari kapan kalian melakukan itu?" tanyaku memecah keheningan di antara kami.

"Maafkan aku, Mey. Aku khilaf. Ini baru pertama kalinya ...."

"Kamu yakin?" tanyaku memastikan.

Selama ini, Ayudia memang tidak tinggal di rumah. Dia kos di dekat kampusnya untuk memudahkan proses belajarnya. Entah ada angin apa tiba-tiba Ayudia pulang, tanpa kabar terlebih dahulu dan memberikan kehancuran pada rumah tanggaku ini.

"Nanti kita bicarakan lagi saat Ibu pulang. Yang jelas, aku enggak mau terus bertahan dengan situasi ini." Aku berkata lagi. Ini adalah keputusan yang aku ambil, demi kebaikan bersama.

"Tapi, Mey--"

"Keluarlah aku mau tidur." Aku menyela ucapan lelaki itu.

"Aku kesepian, Mey. Kamu terlalu fokus pada pekerjaan dan mengabaikan aku. Apa yang kami lakukan benar-benar karena khilaf. Aku enggak sengaja dan enggak sadar--"

"Andai kamu tahu kalau aku juga kesepian, Mas. Aku kesepian karena harus menanggung semua ini sendirian. Jika aku bisa memilih, aku memilih untuk tidak berada dalam situasi ini." Aku menghapus air mataku dengan kasar. Di tempat duduknya, Mas Bagas terkesiap. Dia tampak tidak menduga dengan apa yang aku katakan. Lantas, aku pun segera naik ke ranjang, meringkuk di sana.

Beberapa saat kemudian, aku rasakan sebuah selimut dibentangkan untuk menutupi tubuhku.

"Singkirkan itu! Aku jijik." Aku berkata dengan ketus. Namun, tampaknya Mas Bagas tidak goyah. Dia mengambil selimut di dalam lemari dan menyelimuti tubuhku.

"Aku sudah mengganti selimut itu semalam," ujarnya sebelum melangkah pergi.

Aku memejamkan mata, tetapi pikiranku berjalan ke mana-mana. Sampai akhirnya, suara Ibu terdengar menanyakan keadaanku. Wanita itu duduk dipinggir ranjang, mengelua kepalaku dengan penuh kasih sayang.

Bagaimana caranya aku membicarakan masalah ini kepada Ibu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!