8

Tidur lelapku terganggu oleh suara keributan di luar. Indera pendengaranku segera menajam kala mendengar seseorang memanggil namaku.

Aku mengucek mata, memastikan tidak ada jejak lelap dari wajahku sebelum bangun dari kasur dan melangkah menuju pintu kamar.

Begitu pintu terbuka, Mawar langsung menyerobot masuk. Dia berkacak pinggang dengan wajah marah. Matanya menatap tajam, siap menyemburkan lahar panas yang bisa membakar siapa saja. Di luar, beberapa orang yang tadi berada di depan kamar kini pergi satu per satu.

Aku masuk, menutup pintu kemudian langsung masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Mawar yang menggerutu. Setelah mencuci wajah, barulah aku keluar dan siap berhadapan dengannya.

"Lo sengaja ya cari masalah sama si boss. Udah bener si boss langsung kasih kerjaan ke lo. Sok jual mahal segala." Mawar berujar dengan berapi-api. Telunjuknya teracung ke wajahku.

Aku mendongak, menegakkan diri enggan mau kalah dengan wanita itu.

"Aku mau kerja yang bener bukan menjual diri--"

"Halah, sok pula. Janda juga, elo udah enggak perawan seolah orang yang paling suci. Najis." Mawar meludah ke samping.

Jika menuruti amarah, ingin sekali aku menampar mulut busuknya itu. Namun, aku pernah menerima penghinaan lebih dari ini. Terlebih, aku tidak mau mengotori tangan suciku ini untuk menyentuh tubuhnya.

"Terserah kamu aja. Itu urusan aku mau nerima pekerjaan itu atau enggak," kataku tegas. Aku melipat kedua tangan ke dada, mataku menyipit memperhatikan tingkah wanita itu.

"Iya. Tapi sikap sok jual mahal lo itu buat gue malu. Ngerti enggak, sih. Lagian lo juga janda, enggak masalah, kan, kalau melayani si boss lagi. Enggak bakalan rugi juga yang ada malah untung karena dapat bayaran. Ketimbang jadi istri, dapat bayaran juga kagak, dikhianati yang ada." Mawar terus berkata sampai membuat telingaku berdenging.

"Kamu samain antara jadi istri dan pelacur. Gila aja. Ya beda banget, lah. Istri itu mulia. Dan aku enggak merasa rugi karena pengabdianku sebagai istri telah dikhianati. Mereka yang mengkhianati arti pernikahanlah yang merugi. Kalaupun kelihatannya mereka bahagia aku yakin di dalam hatinya ada rasa bersalah yang enggak akan bisa dibayar selama hidupnya." Napasku tersengal. Rasanya setiap kalimat yang ingin aku lontarkan sudah tidak bisa ditahan lagi.

Mawar membuka mulut, tetapi sebelum wanita itu mengeluarkan suara aku sudah lebih dulu mengucapkan kata.

"Bayaran cuma sekali, penyakit kelamin kemungkinan bisa terjadi. Jangan samakan antara aku dan kamu. Kita jelas berbeda. Aku memang janda, pernah menikah dan memang sudah enggak perawan lagi karena aku menyerahkan keperawanan aku kepada suami sah aku di mata agama dan hukum. Kalau kamu menyamakan status seorang janda dengan pelacur, sudah jelas tidak samanya."

"Jadi, lo anggap gue pelacur. Kurang ajar banget, lo!" Mawar mengangkat tangan, siap melayanglan tamparan ke wajahku.

Oh, tidak semudah itu. Tanganku bergerak cepat menahan lengannya. Tidak hanya itu, aku memcengkeram dengan erat, amat erat sampai Mawar meringis kesakitan.

"Kalau kamu tidak mau disamakan dengan pelacur, jangan coba-coba untuk menghina statusku sebagai janda. Janda itu mulia selama dia menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita terhormat. Camkan itu!" Aku mengempaskan tangan Mawar. Dan, bisa aku lihat warna kemerahan di lengannya itu. Kulitanya yang putih serta pakaian yang tanpa lengan memudahkan orang lain untuk melihat tubuhnya, ditambah dengan rok pendek ketat di atas paha. Sangat tidak sesuai dengan pekerjaannya yang sebagai seorang pelayan warung makan.

Aku menggeleng pelan. Aku tersadar jika bukan ranahku untuk menilai penampilan Mawar. Terlepas dari apa pun penampilan wanita itu, sebab diri ini tidak pernah tahu apa yang telah menimpa hidupnya. Aku juga tidak tahu bagaimana Mawar menjalani hidup dan berjuang untuk tetap bertahan sampai sekarang.

Bisa jadi, jika aku dihadapkan pada kisah orang lain, aku sendiri tidak akan mampu bertahan pada kisah itu. Sebab aku sudah memiliki kisah sendiri, maka sebaiknya aku fokus pada hidup yang dijalani.

Jikalau, aku ingin Mawar berhenti dengan pekerjaannya, belum tentu juga aku bisa membantunya untuk saat ini. Lebih baik, aku menunggu waktu yang tepat saat diri ini sudah memiliki kehidupan yang layak dan baik, aku akan mengajaknya untuk kembali di jalan yang baik dan menenangkan.

"Kalau enggak ada lagi yang mau kamu katakan, lebih baik kamu cepat keluar dari kamar aku. Aku mau istirahat, ini sudah malam. Kamu juga, kan, capek karena baru pulang. Lebih baik kamu segera istirahat juga." Aku menatap lekat wajah yang kini tempak murung itu.

"Belum dapat pekerjaan aja belagu. Gue yakin hidup lo pasti akan sulit, dan lo enggak akan dapat pekerjaan. Tidur sana di emperan, jadi gelandangan." Setelah mengatakan sumpah serapah itu, barulah Mawar keluar dari kamarku dengan mengentakkan kaki.

Mawar mengempaskan pintu kamarku yang memang tidak tertutup itu ke dinding, membuat suara debamam keras.

Aku hanya menghela napas panjang, tidak berniat menaggapi orang yang sedang kesal sendiri. Tidak jelas apa masalah yang sebenarnya tengah menimpa dirinya. Mawar mungkin juga tidak sadar bahwa apa yang dia ucapkan tadi menjadi doa bukan hanya untukku, tetapi juga untuk dirinya sendiri.

Setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan seseorang akan kembali kepada pelakunya. Begitupula dengan doa yang diucapkan. Aku juga paham betul untuk tidak mencela pelaku dosa, sebab suatu hari nanti dosa itu pun akan menjadi ujian untukku.

Setelah menutup pintu kamar, aku pun kembali ke kasur untuk melanjutkan tidur. Besok adalah hari pertama aku bekerja dan aku tidak ingin datang terlambat.

Suara alarm dari ponsel yang berbunyi sukses membangunkan tidurku. Aku memang sengaja menyetel alaram agar bisa bangun dengan cepat.

Aku bergegas menuju kamar mandi, sambil menyambar handuk yang tergantung di paku. Pagi ini aku mandi dengan membasahi rambut agar kantukku hilang dan badan bisa jadi tambah segar.

Usai berganti pakaian, aku menyambar tas. Setelah memastikan semua keperluan telah aku bawa, aku pun segera keluar dari kamar indekos, tidak lupa mengunci pintu sebelum meninggalkan kamarku.

Aku sarapan di pinggir jalan di depan gang. Di sini banyak penjual aneka makanan. Setelah perutku cukup terisi, aku pun segera berangkat menggunakan ojek online. Nanti, kalau diri ini sudah hafal jalan dan angkutan yang digunakan, aku akan naik angkutan umum agar bisa lebih hemat.

Sesampainya di depan gerbang pabrik, aku disambut oleh satpam. Setelah membayar ongkos dan memberikan helem kepada pemilik kendaraan aku pun bergegas masuk ke pabrik.

Dengan sopan aku bertanya kepada lelaki berseragam yang berdiri di pintu masuk di mana ruangan HRD. Dia membalas dengan sopan dan memgantarku ke ruangan itu.

Di ruangan HRD, aku pikir akan bertemu dengan seseorang yang aku temui kemarin. Ternyata bukan. Dia, Ibu Tari menjelaskan mengenai tugas yang aku kerjakan, lalu dia juga yang mengantarkanku ke ruangan kerja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!