Aku dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar. Karpet merah dengan bulu yang halus terbentang di atas lantai. Dinding ruangan bercat abu-abu, menambah kesan arogan sekaligus maskulin. Sofa merah dengan meja berukiran berada di tengah ruangan. Aku yakin jika pemilik ruangan ini adalah seorang penguasa, bisa jadi jika pemiliknya adalah pemilik gedung ini.
"Kamu tunggu di kursi itu."
Aku mengikuti arah telunjuk lelaki itu. Ada sebuah kursi di sudut ruangan, dan aku disuruh menunggu di sana. Baiklah, sepertinya aku memang bukan orang yang penting sehingga tidak diperbolehkan duduk di sofa merah itu.
Aku mengangguk patuh. Aku menyadari jika diri ini tidaklah sepenting itu. Aku adalah orang yang menawarkan diri menjadi istri sewaan karena tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang kebetulan sedang membutuhkan uang.
Setelah memastikan aku duduk dengan benar, lelaki itu pun melangkah keluar. Pintu tertutup dengan rapat, meninggalkan kesunyian yang menghantam jiwaku.
Pikiranku terlalu berisik. Pun tidak bisa aku abaikan begitu saja.
Hutang yang tidak bisa dibayar seumur hidup adalah hutang budi. Dan itulah yang aku rasakan sekarang ini. Sedari kecil diasuh oleh Ibu, membuatku tidak bisa mengabaikan keinginannya.
Ibu Wulan telah melimpahkan kasih sayangnya kepadaku seperti melimpahkan kasih sayangnya kepada anak sendiri. Aku tidak pernah sekali pun merasakan perbedaan di antara kami bertiga dalam pengasuh wanita itu. Selain ... selain saat aku menemukan pengkhianatan yang dilakukan Ayudia.
Ibu memintaku merelakan dua orang yang jelas menyakitiku itu tanpa memberikan balasan apa pun. Terlebih saat mengetahui bahwa Ayudia hamil. Dan, sampai saat Ibu meminta aku membantu operasi Ayudia. Sialnya, aku pun masih tidak bisa menolak.
Aku mengembuskan napas kasar. Dari dalam sini, aku tidak bisa melihat bagaimana keadaan di luar sana. Rasanya jika berada di dalam sini, aku tidak akan tahu waktu. Siang, malam atau pun pagi sama saja.
Ponselku berbunyi, suara notifikasi perpesanan masuk. Aku pun segera memeriksa pesan dari siapa itu. Rupanya, pesan dari Ibu Tari.
Aku sampai lupa jika ada janji bertemu dengannya. Padahal aku sendiri yang meminta wanita itu untuk bertemu.
"Medina, besok saja ya kita bertemu. Di kantor. Saya ada urusan mendadak."
Setelah membaca pesan itu, aku segera mengetikkan balasan.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Terima kasih."
Setelah mengirimkan pesan balasan, aku pun segera memasukkan benda pipih itu ke dalam tas. Rupanya, malam sudah semakin larut. Dan, perutku mulai keroncongan karena belum makan malam. Untunglah, pintu ruangan ini akhirnya terbuka. Dua orang lelaki berjalan masuk dengan wajah tegang.
Aku berdiri, memberi hormat. Kalau benar, lelaki yang berjalan di depan itu adalah pemilik ruangan ini dan dipanggil boss, itu berarti dia adalah atasanku juga.
"Duduklah!" Dia berbicara dengan suara tegas, tetapi lembut. Dagunya mengendik pada sofa.
Aku sejenak ragu. Kepalaku menoleh pada lelaki yang tadi mengajakku kemari. Ah, sial sekali aku lupa siapa nama lelaki itu. Dia mengangguk, dan aku pun langsung berjalan menuju sofa, duduk dengan kaku dengan kedua tangan diletakkan di atas pangkuan.
Rasa gugup mendadak hadir, mengerutkan keberanianku. Aku menundukkan kepala, enggan menatap lelaki yang kini tengah berjalan ke arah sofa. Matanya tajam seakan hendak mengulitiku.
"Gio, pesankan minum dan makan." Suara lelaki itu terdengar memecah keheningan yang menikam dadaku.
Ada perasaan menyesal menelusup. Kenapa aku begitu berani menyodorkan diri kepada orang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali?
Hutang budi memang sanggup mengalahkan segalanya. Mungkin, saat nyawa ini terlepas dari badan, barulah semua hutang terbayarkan dengan lunas.
"Perutmu terus berbunyi. Kamu belum makan malam bukan?" Pertanyaan itu boss ajukan ketika hanya tinggal kami berdua saja.
Aku mendongak. Sesaat ada perasaan aneh ketika menatap mata lelaki di hadapan. Dia tidak semengerikan yang aku bayangkan sebelumnya. Tatapannya begitu lembut, begitu pula wajahnya. Aku tebak, umur lelaki itu berada di bawahku.
"Siapa namamu? Saya dengar kamu salah satu karyawan di pabrik roti?" tanya lelaki itu. Senyumnya terukir indah di wajahnya yang rupawan.
Aku mengangguk sopan. "Benar, Tuan," kataku dengan suara pelan.
Lelaki itu melipat kakinya, kedua tangannya terlipat di atas lutut. "Sekarang, katakan kepada saya apa yang sudah kamu dengar dari pembicaraan saya dengan Gio tadi?"
Aku meneguk ludah susah payah. "Saya ... tidak mendengar banyak, Tuan. Hanya mendengar saat Tuan bilang kepada Pak Gio untuk mencarikan istri--"
"Lebih tepatnya istri sewaan," lanjut lelaki itu memotong ucapanku.
Aku mengangguk berulang kali. "Saya juga dengar kalau kriterianya itu adalah orang yang tidak dikenal. Kebetulan, saya orang baru di sini, Tuan. Tidak banyak orang yang mengenal saya." Aku berusaha menjelaskan.
"Iya. Kata Gio kamu belum genap setahun bekerja. Apa itu berarti kamu juga belum ada setahun tinggal di sini." Lelaki itu mengangguk berulang kali.
"Tapi, Tuan ...." Aku ragu untuk mengatakannya. "saya seorang janda."
"Apa yang salah dengan status janda? Apakah kamu pernah masuk penjara?"
"Oh tidak, Tuan. Amit-amit jabang bayi." Aku gelagapan, mengelus perut dengan gerakan berulang kali. Jangan sampai ada sejarah masuk ke tempat mengerikan itu.
"Berarti tidak ada masalah."
Aku masih mencerna ucapan itu saat pintu ruangan terbuka, Gio masuk dengan seorang lelaki berseragam kebersihan. Keduanya meletakkan beberapa bungkus makanan ke atas meja.
"Makanlah! Jangan sampai cacing di perutmu itu semakin mengamuk," kata lelaki itu dengan kekehan pelan.
Sebenarnya, aku ingin tertawa, tetapi masih terlalu sungkan. Akhirnya aku hanya mengulas senyum tipis dengan kepala mengangguk. Lantas, tangan ini pun bergerak membuka makanan.
"Tuan mau makan yang mana?" tanyaku hati-hati.
"Pilihkan saja, sesuai pengamatanmu melihat apa selera saya." Ucapan lelaki itu seperti sebuah ujian yang diberikan kepadaku.
"Gio, siapkan berkasnya," katanya kemudian memberi perintah kepada Pak Gio.
Aku memilihkan makanan berkuah yang masih mengepulkan uap.
"Makanan kuah yang hangat cukup baik, Tuan. Silakan!" Aku meletakkan mangkuk itu ke hadapan lelaki itu. Ada berbagai macam makanan laut di sana.
"Oke. Kamu lulus satu ujian ini. Ini adalah makanan kesukaan saya." Lelaki itu berbicara enteng. Dia pun segera mengambil sendok dan memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut.
"Kenapa kamu melihat saya seperti itu? Kamu ingin mencicipi makanan saya?" Sang Tuan sudah menyodorkan satu suapan ke hadapanku yang aku balas dengan gelengan berulang kali.
Aku gelagapan. Wajahnya yang tampak santai semakin membuatku kalang kabut. Aku yakin jika lelaki itu sedang mengujiku, mungkin masuk dalam ujian keduaku.
"Tidak, Tuan. Terima kasih. Saya makan bagian saya saja." Aku mengangguk kepala berulang kali.
"Oke," ujar lelaki itu santai kemudian melanjutkan suapannya lagi.
Jantungku bahkan hampir copot sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments