Ellie memasuki kamarnya, seperti biasa dia sangat puas dengan hasil tangan Anna yang menyulap kamarnya menjadi rapih dan bersih.
"Kya! Senang banget rasanya kalau kamarku sudah bersih seperti ini, kamu tahu nggak kemarin aku merasa seperti seekor tikus di antara tumpukkan sampah," keluh Ellie.
Anna meletakkan lap bersih di kamar mandi kamar Ellie, "Kalau tahu gitu cobalah sekali-kali kamu bersihkan kamarmu sendiri. Kalau aku pulang ke Indonesia apa yang akan kamu lakukan?"
"Tenang saja, aku akan menyewa jasa bebersih hehehe.."
Anna hanya menggeleng, sahabatnya itu memang tidak pandai bersih-bersih rumah. Namun keterampilannya di dapur patut diacungi jempol.
"Karena kamu sudah selesai, aku bawa ke sini kuenya. Kita bisa makan sambil nonton Netflox."
Anna baru sadar saat melihat ke tangan Ellie yang memegang nampang berisi beberapa slice kue dan jus jeruk.
"Pantas saja, kamarnya kotor begini. Aku paham sekarang sebabnya apa," batin Anna.
"Oh iya, Ann. Apa kata kamu nginap saja? Besok juga kita nggak ada kelas dan jam kerjamu itu siang, 'kan?" tanya Ellie.
"Iya benar sih, tapi emang boleh? Sepertinya aku terlalu sering menginap deh."
"Iya boleh dong, kenapa nggak?"
Setelah meletakkan kue di atas kasur serta jus jeruk di meja belajarnya, Ellie membuka lemari baju dan mengambil jaket over size yang kemarin baru saja dia beli.
"Ini buatmu, Ann."
"Buatku? Kamu terlalu sering memberiku hadiah, El. Kaos yang kamu kasih kapan hari itu juga masih baru loh." Anna mengambil jaket yang diulurkan oleh Ellie.
"Ini tuh beda, aku beli karena ingin punya jaket couple dengan kamu. Hehehe.."
"Oh begitu, oke deh. Makasih banyak ya, El."
"Nah gitu dong, kita ini 'kan besti jadi harus saling berbagi."
Anna tersenyum simpul satu hal yang dia syukuri selama tinggal di Amerika adalah dia bisa mengenal Ellie.
"Kamu ingat nggak pertama kali kita ketemu?" tanya Ellie tiba-tiba.
"Iya ingat, waktu itu aku benar-benar nggak punya teman satupun di kelas."
"Waktu itu aku lupa bawa dompet dan waktu itu kamu bawa bekal," sahut Ellie.
Anna tentu saja tidak akan pernah melupakan sejarah memalukan di hari pertama dia kuliah di kampusnya, saat itu demi menghemat pengeluaran Anna mencoba memasak sendiri untuk makan siangnya.
Meski skill memasaknya tidak bisa diharapkan tapi hanya itu satu-satunya cara agar uang saku dari beasiswa bisa bertahan sampai bulan depan, ketika itu Anna mendengar keluhan Ellie yang lupa bawa dompet jadi Ellie tidak bisa makan di kafetaria.
"Kamu tiba-tiba nawarin aku bekal makananmu, padahal kamu sendiri belum makan," ucap Ellie.
"Maaf, aku tidak bisa masak. Aku tidak mencicipi masakan ku waktu itu, seharusnya kamu bilang kalau rasanya nggak enak. Tapi kamu malah menghabiskan semuanya," ujar Anna.
Benar banget Anna hal itu yang membuat Anna malu setengah mati saat dia teringat kalau dia tidak mencicipi masakannya, ketika makanan tinggal beberapa suapan Anna meminta sendok yang Ellie pegang untuk merasai masakannya.
Betapa malunya Anna saat dia merasakan makanannya terlampau asin. Saat itu juga Anna melepehkan kembali apa yang dia makan dan menatap heran wajah Ellie.
"Aku tidak mungkin bilang kaya gitu, apa lagi kamu pasti susah payah masak dan malah memberikannya untukku," jawab Ellie.
"Sumpah waktu itu aku sampai kaget loh, makanan se-asin itu tapi kamu hampir menghabiskannya. Saat itu dalam hatiku mengatakan kalau kamu ini cewek bodoh," ujar Anna.
"Ih! Jahat banget deh kamu, aku itu menjaga perasaan kamu tapi kamu malah nyebut aku bodoh."
Ellie memonyongkan bibirnya, kesal juga tapi hanya sebentar saja. Dia senang melihat Anna berusaha membujuknya agar tidak merajuk lagi.
"Hahaha, lucu banget."
"Tapi Ann, kenapa kamu nggak mau panjangin rambutmu? Sayang banget loh, rambut hitam 'kan di sini jarang," ucap Anna.
"Hm, aku lebih nyaman rambut pendek. Hemat sampo juga. Oh iya, kenapa kamu nggak potong rambut juga, sebahu kayaknya cocok deh, El."
Anna meraih ujung rambut Ellie, rambut pirang yang sangat indah. Mirip boneka Barbie.
"Kamu ngeledek aku ya? Rambutku ini susah sekali tumbuhnya, lagian rambut pendek sangat tidak cocok denganku," balas Ellie.
"Yakin hanya itu saja alasannya? Bukan karena Marco yang menolakmu karena rambutmu pendek?" tanya Anna.
Marco adalah gebetan Ellie di awal semester pertama, saat itu memang Ellie berambut sebahu dan saat gadis itu menyatakan cintanya Marco menolak Ellie dengan alasan rambut Ellie tidak panjang.
"Loh kok malah Marco? Tentu saja bukanlah, aku sudah nggak ada rasa apa pun dengan Marco. Kamu sendiri gimana perasaanmu pada Rey? Dia masih setia mencintaimu loh, Ann."
"Hah? Kenapa jadi aku? Aku nggak ada perasaan apapun dengannya, aku tidak percaya lelaki yang memiliki cinta tulus. Tidak terkecuali dengan Rey."
"Tapi kalau dari apa yang aku perhatikan, Rey itu beneran tulus deh sama kamu. Buktinya dia masih mengejar kamu," imbuh Ellie.
"Entahlah, aku tidak merasakan apapun. Kamu sendiri apa ada orang yang sedang kamu suka?" Anna mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Haaa... malah aku lagi. Aku nggak ada kok, tapi_" kalimat Ellie terhenti, seketika pipinya memerah saat dia teringat Lucas.
"Wajahmu merah seperti tomat rebus, apa itu artinya ada orang yang kamu suka? Siapa? Apa aku mengenalnya?" Anna memberondong pertanyaan pada sahabatnya.
Entah kenapa firasatnya mengatakan kalau Ellie tertarik dengan Lucas, Anna juga tidak tahu kenapa dia seyakin itu.
"Ku mohon, jangan bilang kamu menyukai Lucas?" tanya Anna penuh selidik.
"B-bukan suka, kok. Memang Lucas tampan sih, mirip Idol Korea. Tapi aku hanya sekedar suka sebagai fans, bukan lawan jenis," dalih Ellie.
"Tolong jauhi Lucas, El. Dia berbahaya, dia tidak sebaik yang kamu kira. Jangan tertipu dengan ketampanannya," ujar Anna memberikan peringatan untuk kesekian kalinya.
"Tapi, Ann. Lucas baik kok, aku juga nggak bisa menjauhi orang begitu saja kalau dia tidak berbuat hal buruk padaku."
"Pokoknya kamu harus menjauhi Lucas, El. Aku tahu kamu itu baik, kamu selalu memandang orang lain sama rata. Kamu tidak pernah berpikiran jelek pada orang lain, tapi bukankah kamu juga harus berhati-hati? Jangan terlalu naif, El."
"Kenapa kamu bisa berpikir seburuk itu? Apa alasannya?" tanya Ellie tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Anna.
"Aku tahu kamu melihat dunia dengan warna-warni yang ada. Akan tetapi kenyataannya diluar sana dunia tidak bekerja seperti bagaimana cara pandang kamu, El," imbuh Anna.
"Jadi aku salah, Ann?"
"Aku nggak bisa bilang jelasnya, hanya saja Lucas itu sangat berbahaya. Jangan terlibat dengannya, percayalah kataku, El." Ada penekanan di setiap kalimat yang Anna ucapkan.
"O-oke, Anna."
Ellie tidak tahu kenapa Anna bisa selalu berburuk sangka dengan setiap lelaki di sekeliling mereka, kecuali ayah Ellie.
"Apa ada hubungannya dengan masa lalu Anna? Padahal aku juga ingin Anna bisa membuka hatinya, bisa berbaur dengan banyak orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments