Kafetaria kampus selalu ramai seperti biasa, Anna dan kedua sahabatnya juga tengah menikmati makan siang mereka.
"Kamu tahu nggak El?" tanya Rey membuka obrolan.
"Nggak tahu, kan kamu belum cerita," jawab Ellie to the point.
"Sial kamu kadang-kadang nyelekit juga ya, El."
"Loh kan bener. Kamu aja belum cerita apapun gimana aku bisa tahu? Aku ini bukan cenayang, Rey."
Rey yang menyadari kesalahannya hanya bisa berdeham, "Kemarin itu Anna panik banget, dia sampai telepon aku duluan loh. Kamu tahu sendiri 'kan Anna itu paling anti kalau di telepon, balas chat aja kalau inget."
"Iya sih, apa lagi dari kamu. Hahaha..."
"Kamu ini emang minta ku jitak, El."
Kesal juga kalau Ellie sudah mulai usil, gadis itu suka sekali menjahilinya seperti sekarang.
"Hahaha... maaf, Rey. Jadi Anna panik kenapa? Apa dia ngabarin kamu kalau dia terjatuh kemarin?" tanya Ellie.
"Kamu jatuh, Ann? Kok aku nggak tahu? Kenapa nggak bilang? Lalu apa ada yang luka?" Rey menatap penuh risau pada Anna yang dari tadi tidak beralih dari makanannya.
"Hm? Nggak apa-apa kok, cuman sedikit lecet saja lututku."
"Tolong hati-hati, Ann. Aku nggak mau kamu jatuh sakit lagi," ucap Rey. Meski Anna menolak pernyataan cintanya, namun Rey tidak bisa mengabaikan gadis yang telah mencuri hatinya.
"Iya. Akan ku ingat, Rey."
"Hellooo! Rey, kamu belum lanjutin ceritamu. Anna kenapa kemarin?"
"Oh, dia itu panik setengah ma-ti lalu menghubungiku. Katanya kamu naik taksi yang dikendarai seorang pembunuh," ujar Rey.
"Oh itu." Ellie melihat ke arah Anna yang baru saja menyelesaikan suapan terakhir nasi goreng yang dia pesan.
"Iya, kamu semalam pulang dengan selamat?" tanya Rey lagi. Rey juga sempat khawatir saat mendengar Ellie berada di dalam taksi yang kemungkinan besar pelaku tindak kejahatan.
"Aku kemarin sampai rumah dengan aman, kok. Supir taksinya menurunkan akumdisekitar rumahku, lalu Anna juga kemarin berkunjung juga," jawab Ellie.
"Syukurlah kalau gitu. Tapi maaf ya, Ellie, jujur nih aku seneng banget pas Anna telepon. Suara Anna yang memohon padaku untuk menolongnya itu sangat imut," tutur Rey sambil senyam-senyum sendiri.
"Crazy! Ngeri juga bayangan kamu, Rey," celetuk Anna. Dia memang sudah hapal kalau Rey tergila-gila dengannya, hanya saja dia tidak menyangka kalau suara paniknya terdengar imut di telinga lelaki yang duduk di depannya itu.
"Hehehe, ya begitulah. Lain kali misalkan kamu butuh bantuan jangan segan untuk menghubungi aku, Ann. Aku pasti akan datang dengan cepat."
Ellie sungguh takjub dengan semangat Rey demi mendapatkan hati Anna, lelaki itu pantang menyerah.
"Kamu yakin Lucas tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu, El?" tanya Anna, pusing juga dia jika meladeni Rey yang tidak kunjung berhenti melancarkan rayuan maut untuknya.
"Iya beneran kok, kami hanya mengobrol biasa. Tidak ada yang khusus."
"Apa saja yang kalian obrolkan?" tanya Anna penuh kecurigaan.
"Hanya obrolan biasa seperti makanan favorit, lagu kesukaan, oh Lucas juga bilang kalau kamu itu menarik," jawab Ellie.
"Apa! Kurang ajar dia, dia mau deketin Anna begitu?" Telinga Rey langsung menangkap kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ellie.
"Aku nggak tahu kok apa maksud Lucas," sahut Ellie.
"Wah parah ini! Ku mohon jangan pernah terlibat dengan cowok itu, Ann!"
Rasa cemburu yang menyelimuti Rey membuatnya tanpa sadar menggebrak meja, sehingga menarik perhatian mahasiswa lain.
"Duh, Rey. Jangan gini dong, malu dilihatin orang. Lagian tanpa kamu bilangin juga aku nggak akan terlibat dengan Lucas," ucap Anna.
Anna membiarkan Rey dan Ellie saling beradu pendapat, sementara dia sendiri tengah memikirkan hal yang lain.
"Aku memang sudah mengabari Sersan Arthur tentang Lucas yang bekerja sebagai driver taksi dan tentang Ellie yang berada di taksi Lucas kemarin. Hanya saja, Sersan Arthur mengatakan untuk tetap tenang dan mengamati saja. Selagi Lucas belum melakukan tindakan yang berbahaya jadi Sersan Arthur tidak bisa berbuat banyak," batin Anna.
Anna tidak yakin apa tujuan Lucas mendekati dirinya namun satu hal yang pasti, Lucas bisa saja mengincar Ellie. Mengingat Ellie memiliki ciri-ciri seperti beberapa korban yang sudah dibunuh oleh Lucas.
"Pokoknya kamu harus lebih berhati-hati lagi, El. Sebelum memesan taksi pastikan siapa drivernya, mungkin kemarin dia tidak melakukan apapun padamu karena aku ada bersamamu sebelumnya," ujar Anna.
"Emh, aku paham Ann."
"Aku tuh iri banget kenapa sih kalian bisa dekat tapi aku nggak bisa!" protes Rey.
"Sudah ku bilang, kalau kamu iri ya kamu harus jadi cewek," jawab Ellie sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Oh iya Ann, boleh kah aku meminta tolong sama kamu lagi?" Ellie menangkupkan telapak tangannya, tatapan mata gadis itu juga berkaca-kaca.
"Hm, pasti hal itu lagi 'kan?" tebak Anna. Tiap kali Ellie seperti itu pasti sahabatnya ini ingin memakai jasa bebersihnya.
"Hehehe, iya, Ann."
"Oke, setelah kelas usai kita pulang bareng."
"Thank you, Anna! You are my live safer!" Ellie memeluk erat Anna.
"Cih, dasar penghianat!"
Rey mengerucutkan bibirnya, dia benar-benar iri dengan Ellie.
Waktu terus berjalan hingga semua kelas hari itu berakhir, seperti yang keduanya rencanakan saat ini Anna dalam perjalanan menuju rumah Ellie.
"Mama sedang keluar, jadi aku bisa tenang," ucap Ellie.
"Pantas saja."
Anna sudah menduga, terkadang dua atau tiga kali seminggu Ellie memang memintanya untuk membersihkan kamarnya. Pada saat itu biasanya sang ibu sedang tidak ada di rumah.
Karena asik mengobrol tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, Ellie memarkirkan mobilnya di garasi samping rumahnya.
"Kamu langsung naik ke kamar ku saja ya, Ann. Nanti aku nyusul."
"Oke."
Anna membuka pintu depan dan menyusuri anak tangga menuju lantai dua, betapa kagetnya Anna saat melihat kamar Ellie yang mirip kapal pecah.
"Perasaan baru kemarin lusa aku beresin kamar kamu, El. Kok sudah begini lagi?" tanya Anna.
Ellie yang baru sampai hanya bisa tersenyum kuda, memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hm, ya sudah. Biarkan aku membersihkan kamarmu, kamu keluar dulu."
"Oke, Ann. Aku buatkan kamu kue dulu ya, setelah selesai kita bisa makan bareng," ucap Ellie.
"Oke."
Anna mengambil vacum cleaner dan beberapa alat pembersih yang biasa dia gunakan saat menggarap kamar Ellie, tentu saja Ellie tidak secara cuma-cuma memakai jasanya. Sahabatnya itu akan memberi upah yang sesuai bahkan jauh lebih tinggi dari tempat Anna bekerja, awalnya Anna menolak tapi Ellie terus memaksanya.
Hingga sampai sekarang sistem mereka masih terus berlanjut, win-win solution kalau kata Ellie.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments