Setelah kehebohan yang diciptakan oleh Anna, dua orang aparat kepolisian mendatangi kamar rawat inap Anna untuk meminta keterangan dari laporan yang mereka terima.
"Jadi menurut anda, pria ini membunuh pacarnya?" tanya salah satu polisi.
"Benar, Pak. Saya sangat yakin."
"Saya dengar anda itu mengalami demam tinggi sebelumnya? Bagaimana anda bisa sangat yakin dengan pernyataan anda? Saya rasa ingatan anda tercampur dengan adegan film horor yang anda tonton."
"Tidak mungkin, Pak. Saya ingat bagaimana kejadiannya, lelaki itu menus*k berkali-kali teman kencannya," ujar Anna. Dia tidak mau dianggap penipu.
"Huft! Baru kali ini aku ketemu sama orang yang keras kepala sepertimu. Baiklah kalau begitu, mari kita pergi ke kosan kalian. Kita bisa buktikan langsung apa yang dikatakan kamu itu benar atau tidak," ucap rekan polisi yang bernama Mark.
"Mark, jangan bicara kasar."
"Masalahnya apa yang dikatakan gadis ini sangat tidak masuk akal, Ar," jawab polisi yang bernama Mark pada rekan kerjanya Arthur.
"Tapi tetap saja, kita harus melayani laporan yang kita terima."
"Oke, saya setuju. Saya tidak takut karena saya tidak bersalah, anda pasti menyesal sebab meragukan ucapan saya ini," sahut Anna.
Tidak mungkin Anna berhalusinasi nanya karena demam yang dia alami kemarin, peristiwa itu teramat sangat nyata. Anna juga masih ingat dengan jelas bagaimana senyum di wajah Lucas, senyum seorang psikopat yang biasanya hanya dia tonton di film. Malam itu dia melihatnya secara langsung, tentu tidak mudah bagi Anna melupakan peristiwa tersebut.
Karena Anna yang terus ngeyel, mau tidak mau dua petugas kepolisian pun menuruti keinginan Anna. Anna dan Ellie satu mobil dengan Mark sementara Lucas bersama dengan Arthur.
"An, kamu tidak salah ingat kan? Mungkin saja kamu bermimpi, kebanyakan nonton cerita thriller makanya ingatanmu tumpang tindih," ujar Ellie.
"Duh, sudah ku bilang kalau aku nggak bohong. Emang kapan sih aku bohong sama kamu, El?"
"Tapi, An. Lucas itu di rumah sakit terus, dia hanya keluar sebentar itu pun ke toilet saja. Saat kamu sadar dia sudah kembali."
Ellie menghela nafas berat agaknya susah untuk meyakinkan semua orang bahwa apa yang dia katakan adalah benar, "Sudahlah, kalau benar apa yang kamu katakan. Aku yakin mayat perempuan itu masih di kamarnya."
Mark yang sedari tadi mendengarkan percakapan dua gadis itu tidak sekalipun menyela, dia hanya fokus pada lalu lintas yang padat merayap. Tentu tidak berlaku bagi mobil patroli yang dia kendarai, pengendara mobil memberi jalan bagi Mark agar bisa melaju tanpa ada hambatan.
Siapa yang mau menghalangi saat ada mobil patroli atau ambulans yang tengah on duty? Kalau tidak ingin mereka mendapat sangsi hukum yang setimpal.
ckiit...!
Akhirnya setelah 40 menit perjalanan kedua mobil patroli tersebut berhenti tepat di depan gedung kosan Mrs. Martha, Arthur bertugas untuk meminta izin pada Mrs. Martha agar bisa melakukan penyelidikan di kamar Lucas. Sebab takut mengganggu penghuni kos yang lain.
"Ada apa sebenarnya ini, An? Kenapa bisa ada polisi kemari?" tanya Mrs. Martha, ada sedikit rasa takut dari nada ucapannya.
"Mrs. Martha tenang saja. Kami hanya ingin memastikan apa yang dikatakan oleh saudari Anna," jawab Arthur.
"Benar, Mrs," ucap Anna.
"Kalau kamu bilang begitu ya aku percaya," kata Mrs. Martha.
Dengan di pimpin oleh Anna, kelima orang tersebut naik menuju lantai di mana kamar Lucas dan Anna berada. Dari tadi Lucas bungkam, dia hanya sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mark atau Arthur. Akan tetapi ekor mata Lucas beberapa kali mencuri pandang pada Anna, bahkan sudut bibirnya naik beberapa senti.
Anna menarik lengan sahabatnya, gadis itu tidak mau Ellie berdiri terlalu dekat dengan si pembunuh.
"Jadi ini kamar anda?"tanya Arthur pada Lucas.
"Benar, ini kamar saya. Sedangkan gadis ini di sebelah sini," jawab Lucas sambil menunjuk kamar sebelah kanan dari kamarnya.
"Bagaimana dengan yang sebelah kiri?" tanya Mark.
"Kalau kamar itu kosong." Anna menyela sebelum Lucas bersuara. Sebisa mungkin Anna tidak membiarkan Lucas memutar balik fakta.
"Tolong buka kamar kos anda," titah Mark.
Lucas menuruti perintah tersebut, dia kemudian mempersilakan tamu-tamunya memasuki kamarnya.
"Mana mayatnya? kamu bilang mayat itu ada di ruang tamu 'kan? Lihat? Jangankan mayat, bekas pergulatan saja tidak ada," ucap Mark. Mark dan Arthur sebelumnya sudah berbagi tugas untuk menggeledah kamar kos Lucas, namun semua tuduhan yang Anna katakan tidak terbukti sama sekali.
"Loh, kok bisa begini? Beneran semalam itu dia ngebun*h teman kencannya di sini. Seperti ini." Anna memeragakan bagaimana Lucas melakukan aksinya.
"Tapi coba lihat! Tidak ada tanda apapun, tempat ini juga sudah kami periksa secara menyeluruh tapi tidak ada apapun," ucap Arthur.
"Tapi, Pak Polisi. Saya tidak berbohong, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri."
"Tunggu, Anda bilang kemarin menderita demam 'kan?" tanya Mark.
"Benar," jawab Anna.
"Apakah kemarin Anda mengkonsumsi obat?"
"Iya, salah satu rekan kerja saya memberikan obat agar saya bisa bekerja."
"Lalu, apakah Anda tahu jenis obat apa ya b anda minum?" tanya Mark lagi.
"Eh, tidak. Saya tidak tahu jenis obat apa, rekan kerja saya meletakkan obat tersebut di dalam botol kecil polos.
"Bisa saja obat yang Anda minum itu obat penurun panas dengan dosis yang tinggi, sehingga menyebabkan Anda berhalusinasi," jawab Mark.
"Tidak! Saya tidak mungkin berhalusinasi, semua yang saya lihat itu kenyataan, Pak." Ellie masih tetap pada pendiriannya, dia sangat yakin bahwa Lucas adalah seorang pemubun*uh.
"Anna, maaf bukan aku tidak mau membelamu. Hanya saja Lucas itu tidak pernah pergi meninggalkan rumah sakit. Lucas loh yang bawa kamu ke rumah sakit, bahkan sampai aku datang pun dia masih tetap di rumah sakit. Lucas masih tetap di sana buat gantian jagain kamu," tutur Ellie.
"Tapi El, aku yakin banget. Oh bisa saja dia membereskannya sebelum dia mengurus aku yang jatuh dari berandanya."
"Saudari Anna saya rasa sudah tidak ada urusan apapun lagi, kalau begitu kami permisi dulu. Sebaiknya Anda kembali ke rumah sakit."
Tanpa menunggu jawaban dari Anna,kedua polisi tadi meninggalkan kosan tersebut.
"Maafkan atas keributan yang sahabat saya buat, Lucas," ucap Ellie.
"Iya, tidak apa."
"Kami permisi dulu, ayo, An."
Ellie menarik lengan Anna, meski gadis itu masih terus bergumam kalau apa yang dia lihat kemarin itu bukan halusinasi. Sementara Lucas mengantar kepergian dua gadis itu dengan sorot mata tajam dan sudut bibirnya tersenyum, setelah semua tamu tak diundang itu pergi, Lucas menutup pintu dan menuju kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Fenny
Thor, jangan diam aja, kasih kabar kalo ada kendala, kami akan terus menunggu!
2023-09-01
2