Sudah dua Minggu waktu berlalu, namun tidak ada hal buruk yang terjadi. Bahkan Anna sudah tidak pernah bertemu dengan Lucas sejak terakhir kali mereka berada satu lift.
"Menurut Mrs.Martha, Lucas memang sudah lama tidak pulang. Apa orang itu sudah pindah kos? Tapi Mrs.Martha tidak bilang hal itu," gumam Anna.
Saat melewati kotak surat dilantai bawah kosan pun dari tumpukan surat yang tidak tersentuh itu, sudah menjelaskan kalau Lucas tidak kembali ke kosan selama dua Minggu ini.
"Mungkin dia memang sudah pindah, syukurlah. Akan aku pastikan nanti, baru cctv yang aku pasang waktu itu bisa ku lepas."
"Eh, tapi sebaiknya tidak usah. Sekalian buat jaga-jaga saja, aku 'kan tinggal sendiri. Sangat berbahaya," gumam Anna.
Hari ini Anna ada acara pesta penyambutan mahasiswa baru di kampusnya, tempat acara tersebut di karaoke family yang terletak tidak begitu jauh dari kampus.
"Anna, sebelah sini!" Seruan dari suara yang sangat dikenal oleh Anna membuat gadis itu mendekati arah suara itu berasal.
"Maaf, aku telat, El."
"Ah, nggak masalah kok. Kami juga baru sampai kok," balas Ellie sambil menggaet lengan Anna.
"Ternyata karaoke family di sini lumayan nyentrik juga ya," ujar Anna. Anna yang tidak pernah pergi ke tempat seperti itu sebelumnya hanya dapat mengamati saja.
"Iya kan, tempatnya juga nyaman. Kamu udah pernah karaoke di sini?" tanya Ellie.
"Eh, nggak. Ini pertama kali bagiku, makanya aku agak bingung."
"Really? Kalau gitu ayok kita bersenang-senang!" sahut Rey yang datang entah dari mana.
"Kamu semangat banget ya, Rey," sindir Ellie.
"Tentu saja dong, kapan lagi aku bisa ketemu dengan Anna di luar jam kuliah?" Rey menarik turunkan alisnya, melirik ke arah Anna.
"Benar juga sih, Anna lebih banyak mengambil waktu buat partime dari pada main dengan kita," keluh Ellie.
"Kalian ini lebay banget, sudah lah. Ayok ke dalam, teman-teman sudah nunggu kita," ajak Anna.
Gadis itu berjalan mendahului kedua sahabatnya, kalau tidak demikian maka urusannya akan panjang. Apa lagi Rey yang terus berisik ingin duet dengannya, mana mau Anna bernyanyi di depan umum.
Bukan sebab Anna tidak ingin bernyanyi, hanya saja suaranya lebih cocok jadi penjual sayur keliling.
"Hai, Ellie, Anna, Rey, kalian datang bersamaan?" tanya Agnes.
"Nggak, kami papasan di depan."
"Oh kirain, ayok cepat pilih lagu mana yang mau kalian nyanyikan," ucap Delon.
Ricuh ruangan karaoke tersebut oleh obrolan teman satu departemen Anna, beberapa diantara mereka sudah menyumbangkan lagu. s
"Oh ini giliranku," ucap Ellie.
Ellie menyibak rambut hitam panjangnya dan mengambil mic, dia pun mulai bernyanyi.
Suara siulan, tepuk tangan dan pujian akan kesempurnaan nada suara nyanyian Ellie ditambah wajah Ellie yang mempesona menambah heboh.
"Dia benar-benar idola kampus," gumam Anna.
"Tempat ini terlalu berisik dan sempit, aku ingin cepat pulang," batin Anna. Minuman softdrink yang dia pesan bahkan sudah hampir habis.
"Eh, Anna. Aku boleh nanya sesuatu nggak?" Agnes yang tadi menyambutnya.
"Boleh saja, mau nanya apa?" Anna agak canggung, sebab ini adalah kali pertama Anna berbicara secara langsung dengan teman satu departemennya. Biasanya Ellie yang akan menjadi penyampai pesan.
"Kalau tidak salah kamu 'kan mahasiswa beasiswa. Apakah beasiswa itu cukup untuk semuanya? Jujur aku sedang dalam masalah ekonomi, rencananya semester depan aku ingin cari beasiswa," tutur Agnes malu-malu.
"Sebetulnya sih nggak cukup, uang beasiswa hanya mengcover biaya kuliah dan keperluan kuliah lainnya. Aku bekerja sambilan untuk menutupi kekurangan biaya hidup dan uang sewa kos, tapi mungkin ada yang memberikan beasiswa yang akan memberi uang saku bulanan di luar biaya keperluan kuliah," ujar Anna.
"Bolehkah aku tahu bagaimana caranya?" tanya Agnes lagi.
"Tentu."
Anna kemudian memberitahu langkah apa saja yang harus Agnes lakukan agar bisa mendapat beasiswa yang diinginkan.
"Ternyata kamu enak juga diajak ngobrol, aku pikir antos yang hanya mau berteman dengan Rey dan Ellie saja," ujar Agnes.
"Eh, nggak juga." Malu rasanya jika orang lain berpikir demikian terhadapnya, Anna bukannya antos tapi dia hanya minder saja. Belakangan ini Anna jauh lebih baik sejak dia mengenal Ellie.
"Anna, sekarang giliran mu," ucap Rey.
"Aku skip saja, Rey. Suaraku fals, nanti kalian malah sakit telinga."
"Wah, Rey. Kamu langsung ditolak." Beberapa lelaki di ruangan tersebut tertawa.
"Ayolah, Ann. Satu kali saja, kalau ada yang berani ngetawain kamu biar aku yang urus." Rey terus memohon agar Anna mau bernyanyi, Ellie pun turut membantu Rey.
"Baiklah, kali ini saja ya."
Mau tidak mau Anna bangun dari duduknya dan mulai memilih lagu dari band rock asal Jepang yang dia sukai. Renegades, One Oke Rock.
"Gila, selera Anna oke juga!"
Ternyata banyak yang tahu lagu tersebut, hingga sebagian dari mereka turut bernyanyi bersama dengan Anna. Cukup membuat ketegangan di hati Anna mereda.
"Loh, Ellie kemana?" tanya Anna seusai bait terakhir dari lagu yang dia nyanyikan selesai.
"Dia bilang sih ke toilet tapi kok lama juga," jawab Agnes.
"Biar aku cek," ucap Anna.
"Ann, kita bukannya mau duet?" Rey mencoba menahan Anna yang sudah di depan pintu.
"Maaf Rey, kamu duet dengan yang lain dulu ya."
"Hahaha, gila Bro, usahamu belum membuahkan hasil juga," cibir Delon.
"Sialan, kamu."
Tanpa menggubris Rey dan usikkan temannya, Anna memutuskan untuk mencari keberadaan Ellie.
"Kemana tuh anak, di kamar mandi nggak ada, kok," batin Anna.
Manik matanya menangkap sosok Ellie yang sedang berbincang dengan lelaki yang tidak dia kenal.
"Siapa dia?" tanya Anna yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Ellie.
"Anna! Ih, kamu ngagetin aja. Dia ini---"
Belum selesai Ellie menjelaskan siapa orang yang tadi berbicara dengannya, namun lelaki tadi sudah pergi duluan.
"Apa yang dia mau?" tanya Anna dengan sorot mata tajam.
"Dia bilang mau bertanya sesuatu lalu minta nomerku."
"Lalu? Kamu kasih?"
"Tadinya sih iya, tapi keburu kamu datang, Ann."
Anna menghela nafas, seperti biasa, " Ellie, kamu itu terlalu naif. Tidak semua orang di dunia ini baik. Orang yang terlihat ramah saja bisa menjadi pembunuh berantai."
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Ellie tidak paham dengan cara pikir Anna yang terkadang terlalu rumit.
"El, jangan terlalu mudah percaya dengan orang asing. Sudah berapa kali aku bilang, kamu itu cantik dan juga orang yang tidak bisa menolak permintaan orang lain. Orang seperti kamu ini akan menjadi target empuk bagi mereka yang punya niat jahat," tutur Anna.
"Tapi, Ann. Bagaimana aku bisa tahu dia orang baik atau bukan kalau aku baru bertemu dengannya?" tanya Ellie.
Anna meraup wajahnya frustasi, " Dari gelagatnya saja terkadang bisa keliatan El."
"Tapi, bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
"Itu karena aku hidup sendiri disini, jika kau hanya punya diri sendiri untuk bergantung, maka kamu akan menemukan banyak hal burung dari orang lain," ujar Anna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Tati st🍒🍒🍒
berhati2 lebih baik
2023-12-29
1