Dengan langkah goyah, Anna berjalan menuju jendela.
Brak!
Sialnya karena kondisinya yang sedang tidak fit, Anna melakukan kesalahan besar. Kakinya menyenggol perabot di ruangan tersebut.
"Aduh! Apes banget!" Anna yang kini tengah bersembunyi dibawah jendela Lucas dengan bermodalkan lengannya yang menyangga tubuh agar tidak jatuh ke bawah.
Suara benda jatuh yang berasal dari kamar kosong berhasil menghentikan aktivitas Lucas, dia menyeka darah yang menempel pada tangannya. Dengan tangan masih memegang pisau yang dia gunakan untuk menus*uk teman perempuannya, Lucas memeriksa keadaan di kamar yang sebelumnya Anna bersembunyi.
"Breng*ek siapa yang berani menyusup ke sini?" gumam Lucas. Lelaki itu kemudian melongok ke arah jendela yang terbuka lebar.
Lucas tidak menemukan orang yang mencurigakan, siapa orang yang nekad melompati jendela di kamar kosannya. Kecuali jika orang tersebut ingin menemui ajalnya lebih cepat dari yang Tuhan tentukan.
"Apa hanya perasaanku saja?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Bruk!
Suara benda jatuh yang cukup keras kembali membuat lelaki berparas rupawan itu kembali berjalan menuju jendela, dia melihat ke bawah dan mendapati seorang gadis yang tergeletak tidak bergerak sama sekali.
"Dia bukannya si tetangga sebelah? Kurang ajar! Itu artinya dia menyaksikan semua yang terjadi di sini?"
Lucas beruntung saat ini sudah larut malam sehingga keadaan di sekitar kos sepi, apa lagi kosan mereka termasuk kosan kumuh yang sangat jarang dilewati orang. Lucas bergegas menuruni anak tangga, jam segini lift tidak berfungsi. Madam Martha mengatakan hal tersebut untuk mengurangi biaya operasional dan tambahan listrik yang terus membengkak.
Dalam perjalanan menuju lantai bawah Lucas telah menghubungi ambulans dan menceritakan tentang Anna yang terjatuh dari jendela, tentu saja dia tidak menceritakan hal sebenarnya. Pelaku kejahatan mana yang dengan sukarela mengakui perbuatannya?
"Mari ikut kami ke rumah sakit, mungkin ada admistrasi yang harus anda bantu isi," pinta salah satu tim medis yang memberikan pertolongan pertama kepada Anna.
"Baik." Tanpa berpikir panjang Lucas masuk ke dalam mobil ambulans yang akan membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Lelaki itu menyembunyikan ponsel Anna yang lcd-nya pecah, tapi sepertinya masih bisa berfungsi. Saat kondisi sudah tenang, dia akan mencoba membuka kunci ponsel tersebut untuk memeriksa apakah Anna mengambil bukti kejahatannya atau tidak.
Bunyi sirine mobil ambulans memecahkan kesunyian di lali lintas malam yang tidak begitu padat, mobil tersebut terus melaju hingga berhenti tepat di depan rumah sakit yang mana dua orang dokter dan beberapa perawat langsung sigap memindahkan Anna menuju ruang pemeriksaan.
"Apakah anda walinya?" tanya salah seorang perawat.
"Bukan, saya tetangganya," jawab Lucas.
"Lalu apakah anda tahu nomor keluarga atau wali yang bisa dihubungi?"
"Saya tidak tahu, tapi saya menemukan ponsel gadis itu. Sepertinya tidak terkunci, biar saya periksa nomor yang bisa dihubungi."
"Baiklah, tolong segera hubungi," ucap perawat tadi.
"Oke."
Lucas berbohong dengan mengatakan bahwa ponsel Anna tidak terkunci, zaman sekarang sangat sedikit orang yang tidak menggunakan password pada ponsel mereka. Namun bagi Lucas masalah tersebut bukanlah hal yang sulit, dia yang sudah berkecimpung di dunia hitam IT tentu bisa dengan mudah membobol kata sandi ponsel Anna.
[Halo, apakah saya bicara dengan Ellie?] tanya Lucas saat dia berhasil membuka ponsel tersebut dan menghubungi nomor terakhir dari log panggilan.
[Benar, aku Ellie. Ada apa ya? Kamu siapa? Lalu bagaimana kamu bisa menggunakan hp sahabatku?]
[Nama saya Lucas, tetangga Anna. Anna terjatuh dari jendela kamarnya dan sekarang ada di rumah sakit X.]
[Apa? Bagaimana hal itu bisa terjadi?]
[Saya juga tidak tahu. Saat sedang makan malam, saya mendengar suara jatuh dan ternyata teman anda jatuh.]
[Baiklah, aku akan segera datang. Terima kasih sebab sudah menolong sahabatku.]
[Sama-sama.]
Sambungan telepon pun terputus saat keduanya sudah menemukan kesepakatan, Lucas membuka galeri di ponsel Anna. Lelaki itu menghela nafas lega saat dia tidak menemukan satu pun foto atau video yang terkait dengan perbuatannya beberapa saat lalu.
Lucas kemudian mengatakan pada perawat di bagian admistrasi bahwa wali dari pasien akan segera datang, untuk sementara Lucas diminta agar tetap di rumah sakit sampai wali datang.
***
Anna mengerjakan matanya beberapa kali, pandangannya masih kabur dan masih belum terbiasa dengan cahaya terang di ruangan yang asing baginya.
"Aku ada di mana?" gumam gadis itu sembari memegangi pelipisnya yang terasa pusing.
"Kamu di rumah sakit! Dasar bodoh! Kamu itu terlalu ceroboh, bagaimana mungkin dalam kondisi demam tinggi tapi kamu malah berdiri di jendela yang terbuka lebar? Kamu tahu nggak sih kalau kamu hampir mati!" teriak Ellie saat dia menyadari Anna telah sadar dari efek bius.
"E--li? Kok kamu bisa di sini? Apa maksud kamu aku jatuh dari jendela kamarku? Kamu salah, bukan itu yang terjadi," ujar Anna. Dia tidak mau dianggap ceroboh apa lagi ingin mengakhiri hidup dengan cara seperti itu.
"Sudah, kamu itu jangan banyak alasan. Untung saja Lucas, tetangga kamu itu mendengar suara kamu jatuh. Jika dia tidak segera membawamu ke rumah sakit, kamu pasti sudah mati karena ke kurangan banyak darah! Beruntung juga hanya tulang lengan tangan kanan kamu yang patah, coba kalau nyawa kamu tidak tertolong! Apa yang harus aku katakan pada ibumu?"
Ellie terus mengomeli Anna tanpa jeda sama sekali, sementara Ellie justru mematung. Wajahnya memucat, tak ubahnya seperti mayat.
"Ellie, lapor polisi cepat!" Seru Anna tiba-tiba sesaat dia melihat sosok Lucas yang baru datang.
"Polisi? Kenapa? Ada apa?" tanya Ellie bingung dengan sikap sahabatnya.
"Dia itu pembunuh! Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri, dia menus*k tubuh teman kencannya berulang kali!"
"Anna, sadar. Siapa yang kamu maksud pembunuh? Tidak ada pembunuh di sini," kata Ellie.
"Dia! Dia itu pembunuh! Lelaki itu seorang pembunuh!" jerit Anna sambil menunjuk pada Lucas yang sudah berdiri di samping Ellie.
"Ya Tuhan! Kamu itu ngigau ya? Tidak mungkin Lucas pembunuh, dia justru yang telah menyelamatkan nyawamu."
"No, Ellie. Dia itu pembunuh sungguhan, kamu harus percaya padaku. Pokoknya sekarang segera lapor polisi dan kamu jangan dekat-dekat dengannya, El!" Anna memberi peringatan pada sahabatnya.
Sorot mata tajam Anna ia berikan pada Lucas, tidak mungkin dia salah dengan penglihatannya. Anna yakin kalau Lucas itu pembunuh, sebab apa yang dia lihat beberapa saat lalu terlalu nyata jika dibilang hal tersebut adalah efek samping dari obat bius.
"Kamu ini ngaco, masa kamu menuduh orang yang telah menolong kamu sebagai seorang pembunuh sih?"
"Biarkan saja, El. Kenapa nggak lapor polisi? Aku nggak apa-apa, kok," sahut Lucas.
"Pembohong! Jangan ganggu Ellie!"
Karena Anna terus memberontak, akhirnya Ellie memanggil dokter dan menelepon polisi seperti apa yang dipinta oleh Anna. Ellie tidak habis pikir, kenapa Anna bisa meracau sedemikian rupa. Sebenarnya apa yang terjadi dalam rentang waktu dirinya tidak bertemu setelah di kampus?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Bunda Silvia
mestinya si Anna jangan langsung ngomong di depan orangnya bisa jadi rumah sudah di bersihkan dari bukti
2024-07-20
0
Mr.VANO
berarti benar ya,lucas pembunuh berantai yg di bilang ray
2023-10-15
3