Bus yang Anna naiki turun di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut, sesuai rencana yang telah disusun oleh Sersan Arthur, Anna akan membeli beberapa perlengkapan yang akan dia gunakan dalam rencana mereka.
"Baru kali ini aku pergi ke mall besar kayak gini, hah... mau tidak mau ya aku harus keluar uang banyak," keluh Anna.
Anna mengarahkan kakinya menuju bagian elektronik, seperti yang disarankan oleh Sersan Arthur dia harus membeli beberapa cctv dan alat penyadap.
"Ada yang bisa saya bantu, Ms?" Seorang karyawan toko menghampiri Anna yang nampak kebingungan.
"Hm, begini, saya mau membeli cctv dan alat penyadap yang tidak begitu mahal. Apakah ada?"
Agak ragu Anna saat menyelesaikan kalimat terakhirnya, gimanapun juga memang hanya itu kemampuan yang dia miliki.
"Oh, ada. Tapi kamera yang Anda maksud tidak bisa untuk menangkap suara atau Anda juga tidak bisa berbicara langsung melalui cctv tersebut. Untuk harganya lumayan terjangkau, bagaimana?" tanya si karyawan.
"Baik, saya mau itu."
"Mari ikut dengan saya."
Anna mengikuti karyawan tersebut, dia kemudian mendengarkan penjelasan mendetail tentang kekurangan dan kelebihan dari cctv yang akan dia beli.
Alasan utama Anna membeli penyadap juga karena itu, selain penyadap juga bisa di sembunyikan jauh lebih baik dan juga bisa dia bawa kemanapun.
Sebenarnya Anna bisa saja beli online hanya saja dia tidak yakin akan datang dengan cepat, sedangkan dia sangat membutuhkan kedua benda tersebut.
Setelah membayar sejumlah uang sesuai harga dari empat cctv dan tiga alat penyadap yang dia pilih, Anna langsung pulang ke rumah.
Selama perjalanan di dalam bus, Anna kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Sersan Arthur.
"Untuk berjaga-jaga, lebih baik kamu membeli beberapa cctv yang bisa kamu taruh di depan pintu kos mu, ruang tamu, dapur, dan kamarmu. Kalau aku perhatikan bangunan kosanmu sudah cukup tua, pemilik kosan tentu tidak akan mau mengeluarkan biaya tambahan lagi."
"Jadi kamu sendiri yang harus membeli semua cctv tersebut, ada juga kok cctv dengan harga murah. Aku bisa rekomendasikan di mana kamu bisa membelinya, oh iya kalau bisa alat penyadap juga kamu harus beli," ujar Sersan Arthur.
"Alat penyadap?" Anna mengerutkan keningnya, kenapa harus ada alat penyadap jika dia sudah memasang cctv?
"Alat penyadap ini kamu bisa bawa saat keluar dari kosan, kita tidak tau apa yang akan terjadi denganmu di luar sana jika memang Lucas Connor memang mengincarmu. Bukankah berjaga-jaga jauh lebih baik?"
Anna mengangguk setuju, benar apa yang dikatakan oleh Sersan Arthur. Karena biar bagaimanapun dia adalah saksi pembunuhan yang dilakukan oleh tetangganya yang psiko.
"Bawa lah ini, masukkan ke dalam tas atau saku bajumu. Setidaknya saat kamu dalam bahaya, kamu punya senjata untuk perlawanan diri," ucap Sersan Arthur sambil memberikan stunt gun.
"Stunt gun?"
"Kamu tahu juga ya, kalau begitu aku tidak perlu memberitahukan bagaimana cara menggunakannya," jawab Sersan Arthur.
Anna sedikit tersenyum, tentu saja dia tahu kalau hanya sebatas itu. Bukan berarti Anna tertarik dengan benda-benda demikian, namun Anna setidaknya tahu nama dan fungsi dari benda yang diberikan oleh Sersan Arthur padanya. Berkat film action, thriller, dan misteri yang sering dia tonton.
"Saya tidak menyangka akan memegang dan mungkin juga menggunakan stunt gun, hal yang sebelumnya hanya bisa aku lihat di layar kaca," gumam Anna.
"Aku harap kamu tidak sampai perlu menggunakan benda ini, apapun yang terjadi aku ada dipihakmu. Hubungi aku jika kamu menemukan sesuatu, aku juga minta maaf menempatkan mu yang warga sipil dalam masalah berbahaya seperti ini," ucap Sersan Arthur.
"Tidak masalah, toh sekarang memang hanya aku yang bisa diandalkan sekarang, bukan?" tanya Anna.
Arthur mengiyakan hal tersebut, meski dia seorang polisi akan tetapi dia tidak bisa menangkap atau menggeledah rumah orang awam tanpa surat perintah dan bukti yang kuat.
"Baiklah, aku akan kembali. Sudah waktunya aku bertugas, tolong berhati-hati mulai sekarang, Anna," pesan Sersan Arthur sebelum dia meninggalkan gadis itu.
Anna memandang punggung Sersan Arthur yang terus menjauh, dia pun keluar dari kafe tersebut. Ada banyak hal yang harus dia urus.
Lamunan Anna terhenti saat bus yang dia kendarai nyaris menabrak pengendara motor yang ugal-ugalan, suara makian beberapa penumpang menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya.
"Sebentar lagi sampai," gumam Anna ketika dia melihat keluar jendela.
Degup jantung Anna berdetak semakin kencang, antara yakin dan tidak yakin rencana mereka berhasil.
Lawan yang mereka hadapi adalah seorang pembunuh berantai yang selama beberapa tahun ini berkeliaran dengan bebas, sementara dia hanya seorang pelajar yang juga mengais rezeki di negara tersebut.
Jika perhitungan mereka salah, bisa saja justru dia yang akan habis. Nyawanya terancam.
"Ku mohon lindungi aku," ucap Anna. Gadis itu memegang erat tas ransel yang berisi cctv dan alat penyadap yang baru saja dia beli.
Bus akhirnya berhenti di halte bus yang Anna tuju, dengan langkah gontai gadis itu menuruni bus dan berjalan menuju kosannya.
Gedung kosan Anna memang sudah cukup tua, warnanya saja sudah pudar. Namun demikian bagi Anna kosannya itu adalah tempat ternyaman dan melepas lelah setelah seharian dia bergelut dengan kenyataan hidup, tapi sekarang kenyamanan yang dia rasakan dulu seolah sirna.
"Kenapa bangunan ini jadi terlihat seperti gedung kosong tempat yang biasanya ada di serial thriller, kenapa hidupku jadi sekacau ini," gumam Anna.
Anna berpapasan dengan Mrs. Martha, dia menyapa pemilik kosan tersebut dan sekedar basa basi, lalu dia izin untuk melanjutkan perjalanan.
Anna menekan angka tiga belas di lift yang dia naiki, dia merasa tidak ada bedanya dengan kelinci yang mencoba kabur atau sembunyi dari kejaran dan intaian sang pemangsa.
Anna menggenggam erat stunt gun yang dia sembunyikan di saku jaketnya, dia berjaga-jaga seandainya pintu lift terbuka dan Lucas menghadangnya maka Anna bisa langsung menyerang Lucas.
Ting!
Lift berhenti di lantai yang Anna tuju, "Syukurlah, orang itu tidak ada."
Anna mempercepat langkah kakinya, dia tidak mau berpapasan dengan Lucas. Pintu kamar lelaki itu tertutup rapat, dia tidak yakin apakah Lucas ada di rumah atau tidak.
"Aku harus cepat memasang semua cctv ini," batin Anna.
Setelah dia memasuki rumahnya, memasang kunci tambahan di pintunya, Anna langsung beraksi mengaktifkan cctv yang dia beli dan meletakkannya di tempat yang sekiranya tidak terlihat oleh orang lain selain dirinya.
Satu alat penyadap dia taruh di bawah sofa usang di ruang tamunya, sementara yang satu lagi dia pegang.
"Beres!"
Anna menghela nafas lega, dia memutuskan untuk mandi dan tidur awal hari ini. Tubuh dan pikirannya terlalu lelah.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu tidak sendiri, Ann," gumam Anna.
Meski tidak yakin apakah dia bisa tidur nyenyak malam ini, Anna sudah memastikan pisau kecil di dekat mejanya, stunt gun di bawah bantalnya dan alat penyadap di saku baju tidurnya.
"Kamu tidak sendiri Ann, jika ada apa-apa ada polisi di pihakmu. Sersan Arthur akan datang saat aku memanggilnya nanti, kamu akan baik-baik saja," gumam Anna.
Gadis itu mencoba memejamkan matanya, hingga dia terlelap dengan kewaspadaan yang terus terjaga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Tati st🍒🍒🍒
kadang para petugas tuh terkendala sama SOP
2023-12-29
0