Ellie melirik ke arah sahabatnya yang dari tadi membisu, sepertinya pikiran Anna memang sedang kalut. Ellie tahu ada banyak hal yang sedang sahabatnya itu pikirkan, selain masalah kuliah, Anna juga harus mengatur waktu agar bisa bekerja di dua tempat. Mungkin hal itu juga yang membuat Anna beberapa hari terakhir terlihat kelelahan sampai dia jatuh sakit.
Ellie hanya beruntung tetangga Anna tidak menuntut sahabatnya atas pencemaran nama baik, seandainya saja Lucas menggugat Anna karena menuduhnya sebagai pelaku tindak kriminal tanpa bukti yang jelas. Pasti urusannya akan lebih runyam lagi.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sini kunci kamarmu, biar aku yang buka kan pintunya," pinta Ellie.
"Oh, Ellie, tidak usah. Aku baik-baik saja kok, kamu pasti capek juga semalaman menjagaku. Kamu pulang saja, El. Kita ketemu besok di kampus," ucap Anna.
"Kamu yakin?"
"Iya aku yakin."
"Kamu nggak ke rumah sakit lagi?" tanya Ellie, dia tidak tega meninggalkan Anna sendirian dalam keadaan seperti itu.
"Nggak perlu, El. Lagian terlalu lama di rumah sakit juga tidak baik untuk dompetku, dokter pun bilang kalau aku sudah boleh pulang. Tinggal check up saja kedepannya dan ngelepas gips."
"Hm, gitu. Oke deh, kalau begitu aku pulang ya, kalau ada apa-apa segera kabari aku."
"Iya, tenang saja."
Setelah Ellie sudah pulang, barulah Anna masuk ke dalam kamar kosnya, " Apa benar aku yang salah?"
"Tapi kejadian semalam itu terlalu nyata untuk dikatakan sebagai halusinasi atau mimpi yang tumpang tindih, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa pernah ada pergulatan. Tidak ada juga bekas darah."
"Kalau benar apa yang aku saksikan semalam itu sebuah kesalahan, aku harus minta maaf dengan tetangga sebelah."
Anna menghela nafas berat, tubuh dan pikirannya lelah. Langkah kaki gadis itu dia arahkan ke kamar mandi, membersihkan dirinya setelah itu dia bisa tidur. Mungkin dengan begitu pikirannya jadi lebih jernih.
Ellie masih berdiri di depan bangunan kosan tempat tinggal Anna, hatinya masih tidak tenang meninggalkan Anna sendiri. Sebelum taksi yang dia pesan datang, dia masih termenung di depan kosan Anna hingga seseorang menyapanya dari arah belakang.
"Ellie? Kamu masih di sini?"
"Eh, Lucas. Iya, aku nunggu taksi. Kamu mau kemana?" tanya Ellie.
"Aku mau berangkat kerja, mau ku antar?" tanya Lucas sambil menunjuk Byson yang terparkir di tempat parkir kosan yang ada di depan mereka.
"Wah, sayang banget. Aku pakai rok, tapi terima kasih ya untuk tawarannya."
"Oke, nggak masalah."
"Hm, Lucas. Aku minta maaf ya atas apa yang Anna perbuat, tolong jangan masukkan ke hati ya. Anna gadis yang baik kok, mungkin karena terlalu capek dia jadi begitu," ujar Ellie.
"Iya, nggak masalah kok. Aku bisa paham."
"Kamu baik banget ya, Luc."
"Nggak juga kok, eh sebentar." Lucas tiba-tiba mendekatkan dirinya, hingga membuat Ellie terkesiap dan refleks menutup matanya.
"Maaf ya, El. Ada sesuatu di rambutmu." Lucas menunjukan benda yang menempel di rambut Ellie.
"Oh, terima kasih, Luc." Wajah Ellie merona, sungguh malu rasanya. Gadis itu mengira Lucas akan menciumnya.
"Karena kamu sahabat tetanggaku, sepertinya kita akan sering bertemu. Nah itu taksi yang kamu pesan sudah datang," ucap Lucas lengkap dengan senyumnya yang menawan.
Ellie tidak menyahut dia hanya mengangguk, hingga Lucas membukakan pintu penumpang taksi untuk gadis itu.
"Masuklah, sampai jumpa lain waktu," kata Lucas.
"Iya, thank's, Lucas."
Setelah Lucas berlalu, Ellie kemudian memberitahukan alamat yang hendak dia tuju pada supir taksi. Tubuh Ellie memang ada di dalam taksi, namun pikirannya melayang entah kemana. Wajah tampan Lucas terus terbayang di pelupuk mata, padahal selama ini Ellie belum pernah merasakan hal seperti itu.
"Kapan ya aku bisa ketemu dengannya lagi?" gumam Ellie.
Taksi terus membawa Ellie menuju rumahnya, mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang. Ellie kembali teringat dengan Lucas, dia sebenarnya sudah saling bertukar nomor WA namun Ellie tidak berani untuk memulai percakapan terlebih dulu.
***
"Kenapa nggak istirahat saja dulu di rumah? Kan tangan kanan kamu masih di gips, nanti nulisnya gimana?"
"Aku sudah minta izin sama dosen yang mengajar di tiap kelas yang aku ambil, mereka memperbolehkan aku untuk merekam sesi belajar."
"Oh, iya syukurlah kalau gitu." Ellie sudah menawarkan pada Anna untuk meminjamkan catatan atau membantunya mencatat pelajaran, malam sebelumnya. Akan tetapi Anna menolak dengan halus tawaran Ellie.
Keduanya kembali berbincang dengan topik yang berbeda-beda, hingga saat Rey menghampiri kedua gadis itu tidak ada satu pun yang menyadari kedatangan Rey.
"Duh, jahatnya kalian. Kok tega ngacangin aku?" sungguh Rey tepat di depan Anna. Pemuda itu memang sudah lama menyimpan hati pada Anna, namun Anna selalu menolak tiap kali Rey menyatakan cintanya.
"Lagian kamu ini dateng nggak di minta, langsung nyerebot saja," ucap Anna.
"Ann, tangan kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa bisa terluka begini?" Pertanyaan beruntun dan kehebohan Rey menarik perhatian beberapa mahasiswa yang ada di sekitar mereka.
"Calm down, Rey. Aku nggak apa-apa, oke. Kemarin hanya terkena musibah saja, tapi semuanya baik-baik saja kok."
"Apanya yang baik jika tangan kamu sampe begini? Kamu sudah ke rumah sakit? Mau ku antar ke rumah sakit langganan keluargaku?" tanya Rey masih dengan kekalutannya.
"Rey, Anna sudah dibawa ke rumah sakit. Lah itu, gips siapa yang masang kalau bukan dokter?" Ellie sangat paham dengan reaksi Anna yang kesusahan menangani Rey.
Memang Rey ini kalau masalah Anna pasti langsung heboh tak tau tempat, kalau saja Rey bukan teman mereka dari awal tentu Anna sudah menjauh.
"Eh, iya juga yah. Tapi kenapa sih bisa sampe seperti itu?" tanya Rey yang masih belum puas dengan jawaban Anna sebelumnya.
"Anna jatuh dari jendela kamar kosnya, untung saja nyawanya selamat. Bayangin aja, lantai 13 loh itu," tutur Ellie.
"What! Ya ampun, kok bisa?" Rey semakin heboh saat mendengar penyebab tangan Anna di gips.
"Sudah dong, Rey. Apa yang penting 'kan sekarang aku nggak apa-apa, patah tulang juga nanti sembuh kok. Malu tahu jadi perhatian orang-orang, ayok buruan masuk ke kelas."
Anna menarik Ellie dengan tangan kirinya, kalau lama-lama di situ bakalan jadi tontonan satu kampus gara-gara Rey yang mulai berlebihan.
"Anna! Tunggu aku dong!" teriak Rey ketika dia baru sadar gadis yang dia suka sudah berada jauh darinya.
"Kasihan juga ya si Rey, dia beneran gak mau nyerah sama kamu, Ann," gumam Ellie.
"Aku nggak punya waktu buat mikirin cinta, El. Aku hanya ingin lulus tepat waktu atau bila perlu lebih cepat, Ibuk di rumah sendirian."
"Hm, iya sih. Eh, by the way, hari ini kamu ketemu nggak dengan Lucas?"
"Nggak, emang kenapa?" tanya Anna.
"Nggak sih, cuman nanya doang kok."
"El, kalau bisa tolong jangan terlibat dengan Lucas. Firasatku nggak enak tentangnya," ucap Anna.
"Kamu masih berfikir kalau dia pembunuh ya?"
"Entahlah, El. Sudah yuk, sebelum Rey menyusul kita."
Anna tidak mau memperpanjang obrolan mengenai Lucas, pagi ini dia sebenarnya berpapasan dengan pemuda itu. Tatapan yang diberikan oleh Lucas bukan pandangan ramah, apa lagi senyum simpul yang penuh misterius Lucas membuat Anna jadi lupa niatnya untuk meminta maaf pada Lucas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Mr.VANO
ni mulai takut klo anna di bunuh lucas,,🙈🙈🙈
2023-10-15
2
thalexy
Bagus banget!!! Aku suka banget ceritanya 🥰
2023-09-02
1