Berkat suara yang Anna dengar dari depan pintu, membuat kesadaran gadis itu terjaga. Dengan sisa tenaga yang dia miliki Anna menyembunyikan dirinya di salah satu ruangan yang tidak terkunci, mungkin karena kamar kos tersebut masih baru jadi masih banyak perabot yang belum di rapikan.
"Pantas saja dari semalam orang ini berisik banget, ternyata memang banyak barangnya," gumam Anna.
Melalui celah pintu yang sengaja dia tidak tutup rapat, Anna dapat mengintip apa yang terjadi di luar ruangan. Rupanya memang benar dia salah masuk kamar kos, buktinya orang yang datang ke kamar yang dia masuki adalah tetangga barunya, Lucas. Lelaki itu tidak sendiri, ada seorang wanita yang bersama dengannya.
"Apa wanita itu pacarnya?" gumam Anna.
Sebetulnya kepala Anna sangat pusing, namun dia berusaha untuk menahannya. Dia juga tidak tahu harus melakukan apa dalam keadaannya yang seperti sekarang. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dirinya salah masuk kamar, hanya karena sakit hingga tidak bisa membedakan mana kamarnya.
"Setidaknya aku harus menunggu sampai Lucas dan pacarnya pergi dari ruang depan, jadi aku bisa keluar tanpa ketahuan oleh mereka."
Hanya itu satu-satunya cara yang terpikir oleh Anna, tidak mungkin dia kabur melalui jendela ruangan tersebut. Sebab letak kamar mereka berada di lantai sebelas, kalau dia nekat untuk keluar dari jendela yang hanya terdapat sejengkal tempat untuk berpijak. Jangankan bersembunyi bisa saja dia malah terjatuh kalau pun nyawanya selamat, dia pasti akan mengalami patah tulang yang parah.
Lamunan Anna buyar saat dia mendengar perempuan yang datang bersama Lucas mulai berbicara.
"Apa yang harus aku lakukan, Luc? Aku tidak mungkin menggugurkan kandungan ini."
"Kenapa tidak? Apa pacar kamu tidak mau bertanggung jawab?"
"Benar, Luc. Dia mengatakan bahwa aku bisa saja melakukannya dengan banyak pria, jadi dia meragukan kalau anak ini adalah anaknya." Perempuan tersebut mulai terisak, seusai menceritakan kisah pilu yang terjadi padanya.
Anna yang diam-diam mendengarkan cerita perempuan tersebut saja ikut sedih, bagaimana tidak ibunya pun mengalami hal yang sama. Anna tidak diakui oleh ayah kandungnya, lelaki yang seharusnya berperan sebagai ayah itu kabur entah kemana hingga membuat ibu Anna berjuang seorang diri sampai ibunya bertemu dengan ayah barunya.
"Sudah, kamu jangan menangis. Aku yakin kamu jujur kok, May. Pacar kamu saja yang brengsek, dia berani berbuat dan menanam benihnya lalu kabur begitu saja."
"Terima kasih Lucas, kamu mau percaya denganku. Aku bingung, aku belum cerita hal ini dengan orang tuaku. Mereka pasti murka, apa lagi ayahku dia pasti akan membunuhku, Luc."
"Sst.. Tidak mungkin ayahmu setega itu, biar gimanapun 'kan kamu ini anak tunggalnya. Sudah jangan menangis ya, malam ini kamu menginap saja disini," ucap Lucas sembari memeluk perempuan yang masih menangis tersebut.
"Andai saja waktu itu aku lebih memilih kamu, tentu aku tidak akan mengalami kejadian seperti ini," kata perempuan yang berada dalam dekapan Lucas tersebut.
"Kamu nggak boleh bilang gitu, mau kamu memilih siapapun perasaanku padamu tetap tidak akan berubah, kok." Lucas makin mengeratkan pelukannya, seolah dia meyakinkan bahwa dia akan selalu ada untuk perempuan tersebut.
Jika orang lain yang mendengar percakapan kedua insan tersebut tentu orang lain akan menganggap kalau Lucas adalah lelaki yang bijak dan mampu menenangkan hati perempuan yang terluka. Hanya saja hal itu tidak bagi Anna, entah kenapa Anna justru merasa janggal dengan semua kalimat yang diucapkan oleh Lucas.
Jika benar apa yang dikatakan oleh perempuan yang mengaku hamil dan pacarnya tidak menerima kehamilan tersebut, kenapa Lucas malah tidak mencari jalan keluar?
Memang tidak salah menenangkan hati perempuan tersebut, akan tetapi menurut Anna dengan memberikan tumpangan dirumah lelaki itu justru malah membuat keadaan makin runyam. Bagaimana jika sang pacar tiba-tiba mendatangi tempat ini dan memergoki keduanya sedang berduaan? Bukankah akan menjadi masalah yang amat besar?
Meski Anna belum pernah menjalin hubungan asmara, namun setidaknya dia mengamati dan mengambil pelajaran dari kisah teman-temannya yang memiliki pacar posesif. Kebanyakan lelaki, egonya akan tertantang saat menyaksikan kekasihnya berada dalam pelukan lelaki lain.
Anna kembali memusatkan perhatiannya pada kedua orang yang kini tengah menikmati teh, aroma teh melati yang harum menyebar ke penjuru kamar kos. Bahkan dua orang itu mulai berbincang santai, sepertinya kalimat yang terucap dari bibir Lucas ibarat sihir telah berhasil mengusir kekhawatiran dan ketakutan perempuan tersebut.
Rasa pusing kembali hinggap di kepala Anna, kepalanya seakan di hantam oleh ribuan palu. Hampir saja dia melakukan kesalahan, jika kedua tangannya tidak segera menyanggah tubuhnya dari terjatuh.
Anna mengatur nafas dan memijit pelipisnya, berharap dengan begitu rasa pusing itu sedikit hilang.
"Luc, apakah kamu mau menghabiskan malam panas bersamaku?" tanya si perempuan sembari mengalungkan kedua lengannya pada leher Lucas.
"Hm? Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan?"
"Tentu saja aku yakin, kenapa tidak? Sudah aku bilang aku menyesal karena memilih lelaki brengsek itu dari pada kamu. Jadi aku ingin melenyapkan sedikit saja rasa penyesalanku ini," bisik perempuan itu.
"Baiklah, jangan menarik kembali apa yang kamu katakan barusan. Sebab aku tidak berniat sedikitpun untuk melepaskanmu sekarang."
"Dengan senang hati aku mau menjadi tawananmu, Luc."
Bibir keduanya kemudian bertaut, seakan keduanya saling memuaskan dahaga yang selama ini mereka tahan.
"Cowok brengsek, ternyata memang tidak ada cowok yang bisa dipercaya di dunia ini," gumam Anna.
Anna memejamkan matanya dan menutup rapat kedua telinganya, dia tidak mau melihat ataupun mendengar suara yang kedua orang itu lakukan di luar sana. Anna jijik dengan apa yang dilakukan Lucas, dari mana datangnya yang awalnya mengulurkan tangan pada orang yang tengah terpuruk justru malah lelaki itu malah melakukan tindakan yang tidak beda jauh dengan pacar si perempuan?
Suara lenguhan yang semula membuat Anna enggan untuk mendengarnya, kini senyap atau lebih tepatnya berganti dengan rintihan kesakitan perempuan itu.
Anna yang penasaran membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi pada perempuan tadi, bola mata Anna terbelalak seolah hendak keluar dari tempatnya. Anna membekap mulutnya dari keterkejutan apa yang gadis itu saksikan, hampir saja dia berteriak. Saking shocknya gadis itu mengesot mundur sejauh mungkin dari balik pintu. Dia harus keluar dari kamar Lucas bagaimanapun caranya, Anna kembali memeriksa jendela diruangan yang dia jadikan sebagai tempat persembunyian. Hanya dari jendela ini dia bisa melarikan diri, tapi bagaimana kalau dia gagal? Dia bisa jatuh ke bawah sana. Terjun bebas yang bisa saja merenggut nyawanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Tati st🍒🍒🍒
kayanya di siksa kali atau lebih parah di bunuh
2023-12-29
0
Mr.VANO
mangkin penasaran aja,aku,,
2023-10-15
1
Mukmini Salasiyanti
masih 'meraba' nih,Thor
ttg ceritanya..
2023-10-13
2