"Anna, tunggu. Jangan jalan cepat-cepat," keluh Ellie yang tidak bisa mengimbangi langkah sahabatnya.
"Sorry, El. Aku udah biasa jalan cepat, lupa kalau ada kamu."
"Huh! Dasar nyebelin!"
Keduanya lalu tertawa, ya begitulah persahabatan antara Anna dan Ellie, watak Anna yang keras berbanding terbalik dengan Ellie. Namun keduanya saling melengkapi satu sama lain, malah hal tersebut yang membuat keduanya makin dekat.
"Ya ampun! Kalian ini benar-benar ya, bikin iri saja!" protes Rey yang sedari tadi mengamati keduanya bercanda gurau dari jarak jauh.
"Apaan emangnya?" tanya Ellie.
"El, kamu tahu 'kan kalau aku suka dengan Anna. Bisa dong kamu bantu aku deketin dia, kenapa malah kamu yang makin hari makin nempel sama Anna!"
"Loh loh, kok malah protes gitu. Kamu mau deket sama Anna 'kan?"
"Iya jelas lah, gimana sih!"
"Ya sudah, kamu jadi perempuan saja. Mudah 'kan?" jawab Ellie enteng, seolah apa yang dia katakan bukanlah hal yang besar.
"Sialan! Emang aku cowok apaan!"
Ellie cekikikan mendengar keluhan Rey yang seperti anak kecil dimatanya, sungguh menyenangkan mengusik Rey.
"Kalian ini bisa nggak jangan bercanda seperti itu, apa lagi di tempat umum begini. Kamu juga, Rey. Jangan berbicara seolah aku ini pelaku penyimpang ya! Aku masih normal," ujar Anna.
"Eh, nggak gitu, Ann. Habis Ellie ini, dia itu kok selalu nempel sama kamu," sungut Rey yang masih merajuk.
"Tentu saja, karena Anna itu soulmate aku!"
Anna hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan kedua sahabatnya, keduanya jika sudah bersama terlalu lama akan menjelma menjadi Tim and Jerry versi manusia.
"Sudah ayo masuk ke dalam lagi, nanti yang lain juga pada khawatir kita semua terlalu lama pergi," ajak Anna.
Gadis itu meninggalkan Ellie dan Rey yang masih berseteru, lumayan susah membuat keduanya damai.
"Kalian dari mana saja?" tanya Agnes ketika Anna baru saja masuk ke ruangan karaoke tersebut.
"Oh, aku baru saja menyelamatkan Ellie dari incaran buaya darat," jawab Anna santai. Dia kemudian kembali duduk di tempatnya, kedua rekan mereka masih menyanyikan lagu yang mereka pilih.
"Siapa lagi yang mengganggumu, El?" Agnes yang selalu penasaran dengan informasi apapun langsung menanyakan dari sumbernya langsung.
"Aku nggak kenal, tapi untunglah Anna datang."
"Hahaha... Kamu ini memang terlalu naif kalau urusan begini, coba sesekali kamu berguru dengan Rey."
"Ah, Agnes. Kalau ngajarin nggak bener, Rey yang jadi guru aku itu nantinya malah aku calon bucin akut. Lihat saja dia, berhasil juga nggak naklukin hari Anna nggak akan bisa jadi guru yang baik," protes Ellie.
"Hoo... Sekarang kamu sudah pandai berbicara ya, El. Mau aku ajarin betulan?" Ego Rey kembali tersulut, padahal dia baru saja tenang.
"Huft... Kapan lah mereka bisa bersikap dewasa," gumam Anna.
Anna mengambil ponselnya, dia tidak lagi tertarik untuk melerai pertengkaran kedua sahabatnya. Kepalanya yang ada makin tambah pusing, ada saja yang jadi bahan keributan keduanya.
karena asik dengan acara mereka, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Terlalu larut bagi Anna yang harus menggunakan transportasi umum untuk pulang ke kosannya.
"El, kita pulang yuk. Nanti aku ketinggalan bus terakhir," ajak Anna.
"Wah iya, aku nggak sadar sudah lumayan larut malam juga. Ya sudah kita pulang saja, pamit ke yang lain."
"Kami pulang dulu ya, Nes. Aku takut ketinggalan bus," ucap Anna.
"Kalian yakin mau pulang sekarang? Masih pagi loh ini," celetuk Delon.
"Pagi matamu! Sudah Ann, kalian pulang saja nggak apa-apa. Jangan ladeni Delon, toh si Rey juga sudah pulang duluan," sahut Agnes.
Iya Rey sudah pulang terlebih dahulu beberapa saat lalu, entah ada urusan apa tapi saat Rey meninggalkan ruangan karaoke dia terlihat tergesa-gesa.
"Oke deh, kalian juga jangan terlalu larut," ucap Ellie. Keduanya keluar dari tempat tersebut.
"Kamu naik apa, El? Bawa mobil?" tanya Anna.
"Nggak, aku sengaja nggak bawa mobil. Takut juga nyetir malam-malam begini," jawab Ellie.
"Lalu naik bus?"
"Hm, nggak. Aku udah pesan taksi, ini nunggu taksinya datang."
"Ellie, pokoknya kamu harus hati-hati. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi, jangan mudah memberi nomor kamu pada orang asing," tutur Anna.
"Oke. Tapi Ann, aku mau nanya deh. Kenapa orang asing bisa disebut sebagai orang asing? Bukannya masih sama-sama manusia?"
"Orang yang disebut sebagai orang asing itu jika kamu baru pertama kali bertemu dengannya."
"Lalu, kalau sudah ketemu dua kali walaupun aku belum tahu nama dia apa masih orang asing juga?" tanya Ellie lagi.
"Nggak juga sih, anggap saja bukan. Tapi kamu tetap harus waspada, ingat 'kan apa yang aku bilang?"
"Iya, ingat. Tidak semua orang yang terlihat ramah itu baik, kita tidak boleh menilai orang hanya dari luarnya saja."
"Pinter. Pokoknya inget terus apa yang aku katakan, dunia ini terlalu mengerikan untuk orang sepolos kamu, Ellie."
"Aku beruntung punya sahabat seperti kamu, kamu pintar dan pandai bicara. Tidak seperti aku yang telmi gini," ucap Ellie .
"Iya aku juga bersyukur kenal dengan kamu, Ellie."
Keduanya kembali berbincang dengan topik yang berbeda, satu hal yang unik dari Ellie yaitu gadis itu bisa sangat cerewet jika dengan Anna. Ada saja hal yang dibahas oleh Ellie, kebanyakan tentang film yang dia sukai atau fashion terkini.
Dari dulu Ellie ingin sekali bisa mendandani Anna, sebab Anna itu tipe wanita yang tomboy look. Anna selalu mengenakan baju yang oversize dan berambut pendek. Berbanding terbalik dengan dirinya, tapi disitulah letak daya tarik Anna.
"Oh, itu dia taksinya sudah datang," seru Ellie ketika sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka.
Anna hanya tersenyum simpul, mungkin dia terlalu overprotektif terhadap Ellie. Lagi pula Lucas juga tidak menampakkan diri sama sekali selama dua Minggu terakhir, sepertinya apa yang dikatakan oleh Sersan Arthur benar.
Lucas tidak akan menunjukkan diri setelah kecurigaan sebelumnya tertuju padanya, jadi setidaknya Anna bisa bernafas lega sejenak.
"Aku pulang dulu ya, Ann."
"Iya, ingat apa yang aku bilang. Supir taksi itu juga sedikit mencurigakan, kamu harus kabari orang tuamu agar mereka menunggumu di depan rumah. Aktifkan juga GPS di HP kamu agar mudah dilacak," ujar Anna masih tetap dengan caranya melindungi Ellie.
"Baiklah, aku akan ikuti saranmu."
Anna mengangguk, namun senyum di bibirnya seketika sirna tatkala sang supir menoleh kebelakang dan memberikan senyum yang mencurigakan.
Sebab pintu taksi sudah di tutup oleh Ellie, taksi itupun langsung bergerak cepat meninggalkan Anna yang terperangah dengan apa yang dia saksikan.
"Lucas Connors!" jerit Anna saat dia mulai ingat wajah supir taksi tersebut. Tidak salah lagi, sang supir taksi itu adalah Lucas tetangga kosnya yang menghilang dua Minggu ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Bunda Silvia
oalaaaaah Ellie jadi sasaran luckas
2024-07-20
0