Mentari yang baru saja keluar dari peraduannya sudah disambut oleh Anna, gadis itu telah bersiap untuk pergi menemui Sersan Arthur.
"Kamu mau pergi sekarang, Ann? Padahal hari ini kamu nggak ada kelas."
"Iya, El. Aku mau ketemu sama Mrs. Martha, ambil kunci cadangan. Terima kasih untuk semuanya ya, El."
"Apaan sih, kayak sama orang lain saja." Ellie masih mengenakan piyama, sama seperti Anna yang tidak ada kelas. Jadi rencananya nanti siang Ellie akan pergi dengan kenalannya.
"Ku antar sampai depan, Ann."
Ellie menautkan lengannya dengan lengan Anna, kedua gadis itu kemudian menuruni tangga menuju pintu gerbang.
"Orang tua kamu mana, El? Aku mau pamitan dulu."
"Oh, mereka pagi-pagi juga sudah pergi, Ann. Nggak pamitan juga nggak masalah kok, nanti aku sampaikan salam darimu."
"Hm, baiklah."
"Segera kabari aku kalau kamu sudah sampai kos," pinta Ellie.
"Sure. thank's a lot, El."
"Nah, no worries." Ellie memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya.
"Datanglah kesini kapanpun kamu ada masalah, Ann. I'm here with you," ucap Ellie lirih.
"Thank's, El."
Setelah cukup saling memberi semangat, Anna kembali melanjutkan perjalanannya. Beruntung rumah Ellie dekat dengan halte bus, jadi memudahkan Anna.
Getar ponsel Anna menyita perhatian gadis itu, setelah melihat nama pengirim pesan di aplikasi hijau, Anna segera membuka pesan tersebut.
[Perubahan tempat bertemu, aku tunggu di kafe yang dekat kantor polisi.]
Isi pesan Sersan Arthur yang mengubah tempat janjian mereka, awalnya polisi tersebut meminta bertemu di kantor polisi namun sekarang berubah.
[Oke]
Anna membalas dengan singkat, keduanya saling bertukar pesan seperlunya saja.
Bus yang akan membawa Anna ke destinasi yang dia tuju akhirnya datang, gadis itu segera memasuki bus dan duduk di bangku paling depan.
Seperti biasa, meski Anna duduk tenang dan terlihat seperti tidak memiliki beban hidup atau bahkan ke khawatiran, namun sayangnya apa yang nampak di luar tidak sama dengan apa yang ada di dalam pikiran Anna saat ini.
Berbagai pikiran negatif menghantui Anna, dia tidak yakin apakah Sersan Arthur benar membantunya, percaya dengannya atau hanya sekedar basa basi semata.
"Kenapa hidupku jadi rumit seperti ini? Dulu walaupun harus tetap banting tulang, membagi waktu antara kerja dan kuliah tali tidak seperti sekarang," gumam Anna.
Gadis yang bernama lengkap Anna Perlina itu termenung, raut wajahnya kini sudah mendung.
"Gini amat ya nasibku, punya tetangga ganteng tapi psiko. Kalau emang benar dia itu pembunuh, apa yang akan terjadi padaku nanti?"
"Tidak mudah mencari kosan yang ramah di kantong, biarpun kosan Mrs. Martha sangat tua tapi hanya di sana lah yang sesuai dengan kemampuanku."
"Aku jadi ingin pulang ke Indonesia," gumam Anna.
Dari tadi gadis itu bermonolog dengan dirinya sendiri, beruntung dia hidup di negara yang tidak begitu perduli dengan urusan orang lain. Kalau di tempat asalnya, jika ada orang yang berbicara sendiri sudah di sangka jadi orang gila.
Entah dari mana asal opini tersebut jadi patokan menjudge orang lain gila hanya dari bicara sendiri, padahal bisa saja karena orang itu tidak begitu percaya dengan orang lain.
"Oh, hampir saja aku kebablasan."
Anna yang menyadari lokasi pemberhentian kali ini segera turun dari bus, tanpa dia sadari sepasang mata yang memperhatikannya dari arah belakang.
Sorot mata itu begitu tajam mengamati gadis itu bangun dari duduknya, sampailah Anna turun dari bus. Namun pemilik sepasang mata itu tidak ikut turun di halte yang sama dengan Anna.
"Sepertinya benar di sini kafenya."
Klining....!
Bunyi lonceng di atas pintu masuk kafe setiap ada pengunjung datang, saat Anna membuka pintu tersebut. Gadis itu mencari sosok Sersan Arthur diantara orang yang tengah menikmati sarapan di kafe tersebut.
"Anna, di sini!" Seru Arthur saat dia melihat Anna tengah celingukan mencari dirinya.
Mendengar ada orang yang memanggil namanya, Anna menoleh ke sumber suara dan mendapati Sersan Arthur melambaikan tangannya. Anna bergegas menuju meja Sersan Arthur berada, setelah dia sudah berada di hadapan pemuda awal 30 tahun itu, Anna segera menarik kursi dan duduk.
"Maaf memanggil kamu pagi-pagi, mau sarapan apa?"
"Hm, kopi saja." Anna segan jika memilih menu yang lain, kafe itu nampak fancy dan dia yakin harga di daftar menu pasti mahal.
"Baiklah." Arthur memanggil pelayan kafe dan memesan kopi untuk Anna.
"Kamu masih ingat dengan laporan orang hilang yang kamu katakan kemarin?" tanya Arthur tanpa basa-basi lagi.
"Iya, tentu saja."
"Sebenarnya, aku tidak tahu apa ini saling berhubungan atau tidak. Empat tahun lalu, kakak perempuanku juga hilang."
Arthur menjeda ceritanya, setiap kali kisah itu dia ungkit ada perasaan bersalah menghinggapinya.
"Kamu tahu, kakak ku itu memiliki ciri yang sama dengan foto wanita yang hilang itu. Berambut coklat yang panjang bergelombang, bahkan senyum mereka juga mirip. Aku tidak mengaku kalau wanita itu adalah saudariku. Hanya saja mereka punya kemiripan yang sama," tutur Arthur.
"Jadi, maksud Anda keduanya bisa saja mengalami nasib yang sama?" tanya Anna, pikirannya makin berkecamuk.
"Aku tidak yakin, waktu saudariku hilang. Aku tidak punya kuasa apapun, aku sudah mengerahkan segala upaya tapi tetap tidak di temukan sampai sekarang."
"Aku pun benci dengan situasi di tempat kerja yang isinya orang-orang tidak kompeten dan suka korupsi. Aku punya satu informasi sebagai alat suap agar aku bungkam dengan kelakuan mereka," ujar Arthur.
"Apa itu?"
"Dua tahun lalu ada dua wanita yang dinyatakan hilang dengan ciri yang sama, lihatlah."
Arthur memperlihatkan sebuah file dari laptopnya, sebuah analisis tentang kesamaan antara keempat korban. Dari keempat korban tersebut hanya dua yang dinyatakan meninggal, sementara saudari Arthur dan perempuan yang di lihat oleh Anna masih belum ditemukan keberadaannya.
"Jadi, maksud Anda, Lucas itu adalah seorang pembunuh berantai? Lalu selama empat tahun ini dia dibiarkan berkeliaran?" Anna sangat kaget dengan apa yang dia baca, jika benar demikian sudah berapa orang yang nyawanya diambil oleh Lucas?
"Bukan begitu," sanggah Arthur.
"Bukan bagaimana? Anda tahu orang yang kemungkinan besar adalah pembunuh berantai itu sekarang sedang ada di sekitarku!"
"Ssst... tenanglah. Walau aku polisi, aku tidak bisa dengan seenaknya menangkap warga sipil tanpa bukti yang kuat. Apa lagi Lucas Connors adalah warga dengan kelakuan yang baik."
Lucas Connors? Apakah itu nama lengkap tetangga psikopatnya?
"Lalu, Anda ingin aku berbuat apa? Apa Anda ingin aku jadi korban selanjutnya?" tanya Anna, dia mencoba untuk bersikap tenang. Anna juga tidak mau menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.
"Kita butuh bukti, Ann. Bukti yang kuat, yang bisa menjebloskan Lucas Connors. Aku punya rencana, kamu mau dengar?"
Tanpa berfikir panjang Anna langsung mengangguk. Dia siap bekerja sama dengan Arthur untuk menangkap tetangganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Ahmadjahuri
jngab2 arthur temannya lucas
2023-12-09
1