Pagi itu, hawa dingin yang sangat menusuk batin. Berhias kabut yang sangat tebal. Dara mengerjapkan mata nya berkali kali untuk mengumpulkan kesadaran nya, lalu membangunkan ketiga sahabat nya.
Sang mentari menyapa pagi hari dengan senyum nya yang memancarkan kehangatan di kala pagi hari yang sangat dingin. Burung burung bertebaran saling bertegur sapa satu sama lain. Bercuitan dengan lantunan yang menawan melodi. Dara melangkah kan kaki nya mengikuti Pak Seto dan istrinya. Menikmati langit yang cerah terbentang awan yang indah, sungguh suasana desa di pagi hari yang asri.
Tibalah mereka di kebun teh, terlihat ibu ibu pekerja yang sudah sibuk memetik daun teh. Hari ini Dara kembali membantu Pak Seto dan istrinya mengerjakan rutinitas nya di kebun. Sedangkan ketiga sahabatnya ada kuliah pagi daring yang harus diikuti. Bastian dan orang kepercayaan mertua Dara pun sudah kembali ke kota pagi pagi sekali.
Dara mengedarkan pandangan nya ke segala arah. Celingukan mencari suami nya itu. Nampak nya baik Bryan ataupun Nayla tidak ada di kebun. Mungkin mereka belum datang. Atau bisa jadi alergi nya semalam mengharuskan pria tampan itu untuk istirahat di rumah. Dara masih berfikir positif dan tangan nya masih cekatan memetik daun teh itu.
Hari semakin siang, Namun mereka belum datang juga, artinya memang mereka tidak akan datang. Lalu kenapa, apa Nayla melarang Bryan untuk keluar rumah semenjak kejadian semalam. Kini Dara nampak cemas.
" Non Dara kenapa diam dan nampak memikirkan sesuatu " tanya Bu Seto pelan namun berhasil membuat Dara tersentak.
" Ehm... itu buk, kenapa Bryan hari ini nggak ke kebun ya buk " tanya nya dengan wajah yang sudah di tekuk.
" Bahkan Nayla juga tak ada. Dara khawatir buk, takut terjadi apa apa." jelas nya kemudian.
" Nanti sore ibu antar kesana non biar non Dara tau keadaan den Bryan " jawab Bu Seto
" Benarkah buk " kini wajah Dara nampak berbinar. Dan dijawab anggukan kepala oleh Istri pak Seto itu.
" Ya sudah kita pulang ya non, non Dara pasti sudah capek " titah Bu Seto. Lalu mereka pulang kerumah begitu juga dengan pak Seto.
Sesampai nya dirumah rupa nya ketiga sahabat Dara sudah menyiapkan makan siang. Meskipun Loly dan Yola tidak pandai memasak, namun ada Cici sahabat Dara yang bisa diandalkan. Setelah membersihkan diri, mereka melakukan makan siang bersama.
...****...
Di rumah Beni
Putra dari Mahendra Pradana ini nampak berdiam diri di kamar nya. Sejak kejadian semalam otak nya seolah dipaksa berpikir. Pikiran nya seolah terpecah menjadi dua. Antara percaya pada Nayla orang yang mengisi hari hari nya hampir tiga minggu ini. Atau gadis yang beberapa hari lalu mengaku istri nya. Bahkan semalam kembali mengungkap kan masa lalu nya. Namun sayang nya masa lalu itu tak pernah terlintas di pikiran nya. Bahkan sampai saat ini belum ada bukti yang memperkuat siapa jati diri nya sebenarnya.
" Kak " panggil Nayla dengan mengetuk pintu kamar Bryan. Masih dengan pikiran yang kalut Bryan bangkit lalu membukakan pintu untuk Nayla.
" Iya Nay " balas nya setelah pintu kamar nya terbuka.
" Bisa kita bicara sebentar kak " Tanya nya kemudian dan Bryan nampak mengangguk, lalu keluar mengikuti Nayla.
Hari ini Nayla memang sengaja tidak keluar rumah. Lebih tepat nya agar Bryan tidak bertemu dengan Dara. Selain itu mereka berdua sama sama digeluti dengan pikiran masing masing.
" Apa yang ingin kamu bicarakan Nay " tanya Bryan penuh selidik.
Nayla menghela nafas nya lalu menatap Pria di depan nya itu. Pria yang telah mengisi hari hari nya, bahkan telah mengisi kekosongan di hati gadis cantik yang bernama Nayla itu. Bahkan saat ini Nayla sangat mencintai suami Dara itu. Terlepas dari apapun status dan siapa sebenarnya pria yang dicintai itu. Nayla bertekad untuk mendapatkan pewaris keluarga Mahendra itu seutuhnya.
" Nay " kok malah diam. " Ah .... Iya kak, " kembali Nayla menghela nafas nya.
" Aku mau kita segera melangsungkan pernikahan kita kak." Ucap Nayla tegas.
Deg
Bak dihantam bebatuan yang siap menghujani tubuh nya. Satu kalimat yang membuat tubuh ini kaku seketika. Aliran darah di tubuh pria ini seakan berhenti mengalir. Satu permintaan Nayla yang membuat Bryan bungkam seketika.
" Kak " Panggil Nayla karena Bryan hanya mematung.
" Kak Bagas " kedua kali nya Nayla menyadarkan nya.
Apa yang harus Bryan katakan dalam keadaan dilema seperti ini. Mana mungkin dia akan menikah saat jati diri nya belum terungkap.
" Apakah ini tidak terlalu cepat Nay " Akhir nya hanya itu yang bisa Bryan ucapkan.
" Enggak kak, justru ini akan semakin baik. Aku tidak ingin gadis itu terus mengganggu hubungan kita. Aku yakin kita akan bahagia kak, aku sangat mencintai mu " jelas Nayla yang kini meraih tangan Bryan.
" Beri aku waktu untuk berpikir Nay " Ucap Bryan melepas genggaman tangan Nayla lalu pergi meninggalkan Nayla yang masih menunggu jawaban dari pria yang sangat dicintai nya itu.
" Sial, pasti karena gadis itu kak Bagas menolak aku" kesal Nayla dengan gemuruh di dada nya dan tangan yang mengepal sempurna.
" Hey... Kenapa anak gadis ayah." Ucap Beni yang baru pulang. Gadis itu menatap ayah nya.
" Nayla mau pernikahan ini dipercepat yah. Nayla ingin segera menjadi istri kak Bagas." Rengek putri Beni itu pada Ayah nya. Dengan mantap ayah nya itu menjawab " Ya sudah, katakan pada Bagas kalau pernikahan ini segera dilangsungkan." Bukan nya senang tapi terlihat jelas amarah pada wajah putri semata wayang Beni itu.
" Ada apa, katakan pada Ayah " ucap Beni lembut merasa suasana hati putri nya itu sedang tidak baik baik saja.
" Nayla sudah bilang sama kak Bagas tapi kak Bagas tidak memberikan jawaban yah " jelas Nayla dan berhasil membuat Beni tersulut emosi. Bisa bisa nya pria itu menolak putri nya secara tidak langsung.
" Serahkan pada Ayah. Biarlah ayah yang mengatur nya. " Kata Ayah Nayla dengan tersenyum miring.
" Maksud ayah " ucap Nayla. Gadis itu tampak menautkan kedua alis nya tanda tak mengerti.
Beni terlihat berkomat komit. Ntah apa yang dia bicarakan dengan putri nya itu.
Detik Kemudian. . .
" Tapi yah " Nayla tampak menolak namun dengan segera Beni menepis nya. " Percayalah ini yang terbaik buat kamu ." dan dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
Malam ini seperti biasa Nayla menyiapkan makan malam untuk diri nya dan dua laki laki berbeda generasi yang sama sama Nayla sayangi. Ayah nya dan pria yang berstatus calon suami nya itu. Suasana seperti biasanya. Hanya saja Bryan memang terlihat lebih diam malam ini.
Makan malam telah selesai dan seperti biasanya Nayla membersihkan meja makan nya serta mencuci piring kotor nya. Namun Beni dan Bryan belum beranjak dari duduk nya. Tak seperti biasanya Bryan beberapa kali menguap. Mungkin karena kurang istirahat dan pikiran nya yang sangat terganggu, tak heran kalau sekarang Bryan jadi mengantuk.
" Om, Nay , Aku ke kamar dulu ya. Kepala aku pusing dan ngantuk banget rasanya. " Ucap Bryan dengan tangan yang memegang kepala nya kesakitan.
" Iya kak , mau aku antar ke kamar kak " ucap Nayla menawarkan bantuan.
" Tidak perlu Nay " jawab nya dengan jalan yang sempoyongan namun berhasil masuk ke kamar nya.
" Nay , ayah pergi dulu " Pamit Beni pada putri nya dan Nayla hanya tersenyum menatap punggung ayah nya itu sudah menutup pintu rumah sederhana yang sudah 20 tahun Nayla dan Ayah nya tempati.
...****...
" Non Dara, maaf ya non. Ibu tadi lagi ada panggilan dadakan buat mijit orang " seru bu Seto yang baru memasuki rumah nya. Terlihat jelas raut wajah Bu Seto yang nampak kecewa karena tidak menepati janji nya. Padahal tadi sore istri pak Seto itu sudah berjanji akan mengantar Dara ke rumah Nayla melihat kondisi suami nya.
" Nggak apa apa buk. Kita bisa pergi lain waktu " ucap Dara tersenyum.
" Ayo non. Ibuk antar sekarang saja " ajak Bu Seto merasa kalau sebenarnya Dara ingin sekali bertemu dengan suami nya itu.
" Ibuk pasti capek. Kita pergi besok saja" tolak Dara halus. Yang bertolak belakang dengan hati nya yang sebenarnya sangat gelisah. Namun Bu Seto bisa membaca dengan jelas raut wajah gadis yang sangat merindukan suami nya itu.
" Ibu tidak capek non. Ayo kita berangkat ." Ajak Bu Seto sekali lagi yang membuat Dara mengembangkan senyum nya.
Kini Bu Seto, Dara dan ketiga sahabat nya berjalan menyusuri jalanan malam yang sedikit gelap di desa itu. Bu Seto nampak menyipitkan mata nya saat dari kejauhan terlihat rumah Pak Beni yang ramai.
" Ada apa Bu, apa yang terjadi ?" Ucap Dara dengan detak jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Mereka mempercepat langkah kaki nya agar segera sampai ke rumah Nayla yang tinggal beberapa langkah lagi.
" Ada apa pak " Tanya Bu Seto dengan raut wajah yang sudah berubah setelah mendengar suara keributan dari dalam rumah. Dara dan ketiga sahabat nya nampak sudah tak sabar mendengar jawaban dari pria paruh baya yang diajak bicara oleh Bu Seto itu.
" Itu Bu, para warga sedang menggerebek Mbak Nayla dengan seorang pria dalam satu kamar " ucap Pria paruh baya itu.
DUUUAAARRR..... !!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments